Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Analisis Pronomina Persona dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Batak Karo, dan Bahasa Jawa

I.  Pendahuluan

Secara genealogis bahasa-bahasa Austronesia di Indonesia terdiri dari tiga kelompok, yaitu kelompok Melayu-Polynesia Barat, Melayu-Polynesia Tengah, dan Halmahera Selatan-Papua Barat. Namun, secara tipologis terdapat empat kelompok (Arka, 2000). Pertama, bahasa-bahasa dengan sistem diatesis morfologis tipikal Austronesia. Kelompok ini terbagi menjadi dua sub-kelompok, yakni bahasa bertipe seperti bahasa Indonesia dan bahasa bertipe seperti bahasa Tagalog. Tipe bahasa Indonesia mendominasi di wilayah Indonesia tengah dan barat (Sulawesi tengah dan selatan, sebelah barat Sumbawa, sampai ke Sumatra dan Kalimantan). Sementara itu, bahasa Tagalog dapat ditemui di Sulawesi utara dan Kalimantan utara. Dari kelompok pertama ini, bahasa-bahasa yang sudah didokumentasikan dengan baik meliputi bahasa Karo Batak (Woollams, 2004) and bahasa Nias (Brown, 2001) di Sumatra, bahasa Jawa (Sudaryanto, 1991) dan bahasa Sunda (Hardjadibrata, 1985 dan Robins, 1983) di Jawa, Toratan di Sulawsi (Himmelmann, 2002 dan Himmelmann & Wolff, 1999), juga bahasa Bali (Arka, 1998, Arka dan Simpson, 1998, Artawa, 1994, Beratha, 1992, dan Clynes, 1995).

Kedua, bahasa-bahasa Nusantara dengan sistem diatesis campuran dengan persesuaian pronomina. Bahasa tipe ini dapat ditemui di Sulawesi Tenggara. Misalnya, bahasa Muna (Van den Berg, 1989), bahasa Wolio (Albert, 2000), dan bahasa Tukang Besi (Donohue, 1995). Bahasa tipe ini mempunyai persesuaian pronomina pada verba atasan, tetapi mempunyai sistem diatesis tipe bahasa Indonesia pada verba bawahan. Ketiga, bahasa-bahasa isolasi. Bahasa-bahasa yang tergolong dalam tipe ini terdapat di Flores, tetapi bisa juga ditemukan di Timor-timor. Bahasa tipe ini tidak mempunyai morfologi pada verbanya dan juga tidak ada afiks persesuaian. Oleh karena itu, urutan kata menjadi sangat penting dalam penentuan relasi gramatikal. Verheijen (1977), Verheijen and Grimes (1995), Arka dan Kosmas (2002) membahas bahasa Manggarai dan bahasa di Flores Barat. Arka (2000) memberikan laporan penelitian komparatif mengenai bahasa di Flores dan sekitarnya. Misalnya, Bima, Sikka, Lio, and Lamaholot. Keempat, bahasa-bahasa dengan persesuaian tanpa sistem diatesis. Bahasa tipe ini ditemukan di Indonesia bagian Timur. Misalnya, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara dan Selatan, dan Timor-timor. Termasuk dalam kelompok ini adalah bahasa-bahasa di Maluku, seperti bahasa Taba (Bowden, 2001) dan bahasa Buru (Grimes, 1991), bahasa Kambera di Sumba (Klamer, 1998), bahasa-bahasa di Timor, seperti bahasa Dawan (Arka, 2001 dan Steinhauer, 1993) dan bahasa Tetun (Van Klinken, 1999).

Dalam makalah ini, penulis mengambil data dari bahasa Indonesia, bahasa Batak Karo, dan bahasa Jawa yang terdapat dalam buku The Austronesian Languages of Asia and Madagaskar dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Penulis memilih bahasa-bahasa tersebut karena bahasa Batak Karo dan bahasa Jawa merupakan bahasa bertipe bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat memudahkan penulis dalam melakukan analisis. Aspek analisis yang akan dipilih berdasarkan ketiga bahasa tersebut adalah pronomina. Pronomina adalah kategori yang berfungsi untuk mengganti nomina.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pronomina dalam bahasa Indonesia, bahasa Batak Karo, dan bahasa Jawa. Teknik penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah teknik kepustakaan yang mengambil data dari buku The Austronesian Languages of Asia and Madagaskar dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Manfaat penulisan makalah ini untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pronomina bahasa Indonesia, bahasa Batak Karo, dan bahasa Jawa. Data yang akan digunakan dalam penulisan makalah ini adalah contoh-contoh yang digunakan dalam beberapa buku di atas. Untuk memudahkan penelitian, penulis membatasi pronomina yang akan dianalisis adalah pronomina persona.

II. Pronomina Persona Bahasa Indonesia, Bahasa Batak Karo, dan Bahasa Jawa.

Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain. Jika dilihat dari fungsinya dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, predikat, dan objek. Ciri lain yang dimiliki pronomina adalah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung kepada siapa yang menjadi pembicara/penulis, siapa yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan. Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia, yaitu pronomina persona, pronomina penunjuk, dan pronomina penanya. Dalam makalah ini, pronomina yang dijelaskan hanya pronomina persona. Pronomina persona adalah kata ganti yang dipakai untuk mengacu pada orang.

Persona

Makna

Tunggal

Jamak

Netral

Ekslusif

Inklusif

Pertama

Saya, aku, daku, -ku, ku-

kami

kita

Kedua

Engkau, kamu, Anda, dikau, kau-, -mu

Kalian, kamu, sekalian, Anda sekalian

Ketiga

Ia, dia, beliau, -nya

mereka

Persona pertama tunggal bahasa Indonesia adalah saya, aku, dan daku. Saya adalah bentuk yang formal dan umumnya dipakai dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Persona pertama aku lebih banyak dipakai dalam pembicaraan batin dan dalam situasi yang tidak formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara dan pendengar. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk, yaitu –ku dan ku-. Bentuk klitika –ku dipakai, antara lain, dalam konstruksi pemilikan dan dalam tulisan dilekatkan pada kata di depanya. Misalnya, kawanku, sepedaku, dan lain-lain. Bentuk terikat ku- sama sekali berbeda pemakaiannya dengan –ku. Pertama-tama, ku- dilekatkan pada kata yang terletak di belakangnya. Kedua, kata yang terletak di belakang ku- adalah verba. Misalnya, kini kutahu kau tak setia padaku. Selain persona pertama tunggal, bahasa Indonesia juga mengenal persona pertama jamak, yaitu kami dan kita. Kami bersifat ekslusif, artinya, pronominal itu mencakupi pembicara dan orang lain di pihaknya, tetapi tidak mencakupi orang lain di pihak pendengar. Misalnya, kami akan berangkat pukul enam pagi. Sebaliknya, kita bersifat inklusif, artinya, pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara, tetapi pendengar, dan mungkin pula pihak lain. Misalnya, kita akan berangkat pukul enam pagi.

Persona kedua tunggal memiliki beberapa wujud, yaitu engkau, kamu, Anda, dikau, kau-, dan –mu. Persona kedua kamu dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama. Misalnya, pukul berapa kamu berangkat ke sekolah, Nak?. Engkau dipakai oleh orang yang status sosialnya lebih tinggi. Misalnya, mengapa engkau kemarin tidak masuk?. Persona kedua tunggal -mu dipakai oleh orang yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau status sosial. Misalnya, baru jadi kepala seksi sebulan, kenapa rambutmu sudah beruban?. Dalam bahasa nonformal, engkau disingkat menjadi kau. Misalnya, Kau ikut, tidak?. Persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan, seperti halnya kata you dalam bahasa Inggris. Misalnya, pakailah sabun ini, kulit Anda akan bersih. Seperti halnya dengan daku, dikau juga dipakai dalam ragam bahasa tertentu, khusunya ragam sastra. Misalnya, yang kurindukan hanya dikau seorang. Persona kedua juga memiliki bentuk jamak, yaitu kalian dan penambahan kata sekalian, seperti Anda sekalian dan kamu sekalian. Meskipun kalian tidak terikat tata karma sosial, orang muda tidak memakai bentuk ini terhadap orang tua. Misalnya, kalian mau ke mana liburan mendatang?. Pemakaian kamu sekalian atau Anda sekalian sama dengan pemakaian untuk pronomina dasarnya, kamu dan Anda. Misalnya, hal ini terserah kepada Anda sekalian.

Ada dua macam persona ketiga tunggal, yaitu (1) ia, dia, atau –nya dan (2) beliau. Pronomina persona ketiga tunggal beliau menyatakan rasa hormat. Oleh karena itu, beliau dipakai oleh orang yang lebih muda tau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Misalnya, menteri baru saja menelepon dan mengatakan bahwa beliau tidak dapat hadir. Dari keempat pronominal persona ketiga tunggal hanya dia, -nya, dan beliau yang dapat dipakai untuk menyatakan milik. Misalnya, rumahnya di daerah Kebayoran Baru, saya tidak tahu alamat dia, dan putra beliau belajar di UI. Persona ketiga dalam bentuk –nya dipakai untuk mengubah kategori suatu verba menjadi nominal. Misalnya, tertangkapnya penjahat itu membuat desa ini aman.

Dalam buku The Austronesian Languages of Asia and Madagaskar, pronomina persona bahasa Jawa ditulis oleh Alexander K. Ogloblin.

Bentuk Proklitiks Enklitiks Sufiks
Pertama Aku, kula, kowe, panjenengan Tak=(n)dak= =ku
Kedua Kita, sampeyan Ko(k)=Tok= =mu-
Ketiga Dhewek-e, piyambakipun -(n)e-(n)ipun

Pronomina persona merupakan subtitusi dari nomina. Ada beberapa bentuk yang berbeda gaya etiketnya. Pronomina jamak tidak ditandai atau mengungkapkan leksikal dalam frase, seperti aku sakoloron ‘kami’, aku kabeh ‘kami’, awak-e dhewe ‘kami’, dheweke kabeh ‘mereka’. Pada dasarnya, bahasa Jawa tidak mempunyai pronomina persona jamak kecuali kita. Dalam bahasa Jawa, kita merupakan kata pinjaman dari bahasa Indonesia. Orang ketiga juga bisa disebut demonstrativa. Klitik bergantian dengan pronomina penuh. Proklitik dan afiks merupakan kesamaan yang tidak terpisahkan dari morfem yang berdekatan. Enklitik dapat terpisah dari host dengan atributnya. Misalnya, kanca-ku ‘teman saya’, kanca kenthel-ku ‘teman dekat saya’. Hal yang sama juga dengan sufiks –e berfungsi sebagai pronomina posesif. Misalnya, wajan-e ‘penggorengannya’, wajan emas-e ‘penggorengan emasnya’. Kemampuan untuk menjadi terpisah mungkin dipengaruhi oleh struktur frase nomina bahasa Indonesia. Sufiks orang ketiga –ipun memiliki jangkauan fungsi dan kegunaan yang lebih luas dari enklitiks genitif.  Proklitiks adalah kata ganti yang diimbuhkan di awal kata, sedangkan enklitiks adalah kata ganti yang diimbuhkan di akhir kata.

Selain bahasa Jawa, dalam buku The Austronesian Languages of Asia and Madagaskar terdapat artikel mengenai bahasa Batak Karo yang ditulis oleh Geoff Woolams. Pronomina dalam bahasa Batak Karo dibedakan menjadi pronomina posesif, pronomina agentif, dan pronomina objektif. Pronomina posesif mempunyai variasi bentuk sesuai dengan apakah kata yang melekat berakhir dengan vokal atau konsonan. Contohnya adalah agi ‘adik’, agingku ‘adik saya’, aginta ‘adik kami’, agim ‘adik kamu’. Bandingkan dengan rumah ‘rumah’, rumahku ‘rumah saya’, rumahta ‘rumah kami’, rumahmu ‘rumah kamu’. Pronomina orang kedua ada yang menunjukkan kesopanan dan kekerabatan. Kesopanan ditandai dengan kata kena, sedangkan kekerabatan ditandai dengan kata engko. Penggunaan netral kam terkadang menimbulkan masalah perbedaan dialek, tetapi sebagian besar sikap berpotensi menunjukkan sebuah pernyataan superioritas oleh pembicara ke penerima (dalam segi usia atau otoritas), atau kedekatan dan keramahan, atau kemarahan, nasihat atau penghinaan. Bentuk pronomina agentif menggunakan undergoer-konstruksi suara, sedangkan bentuk objektif ditemukan dalam konstruksi aktor-suara dan setelah preposisi.

Independen Posesif Agentif Objektif
Pertama AkuKitaKami =(ng)ku=(n)taKami Ku=Si=Kami AkuKitaKami
Kedua KamEngkoKena =ndu=m(u)Kena =ndu=m(u)kena KamEngkoKena
Ketiga Ia =na =na, =sa =sa / =ca

III. Analisis Perbandingan Pronomina Persona Bahasa Indonesia, Bahasa Batak Karo, dan Bahasa Jawa

Pronomina persona adalah kata ganti yang dipakai untuk mengacu pada orang. Dalam bahasa Indonesia, bahasa Batak Karo dan bahasa Jawa dibedakan menjadi tiga jenis kata ganti. Kata ganti tersebut adalah kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua, dan kata ganti orang ketiga. Meskipun demikian, ketiga bahasa tersebut mempunyai perbedaan penamaan yang terdapat dalam tabel pronomina personanya masing-masing. Bahasa Indonesia mempunyai makna tunggal dan jamak. Makna jamak dibedakan lagi menjadi netral, inklusif, dan ekslusif. Bentuk pronomina persona bahasa Batak Karo dibedakan menjadi independen, posesif, agentif, dan objektif, sedangkan bentuk pronomina persona bahasa Jawa dibedakan menjadi proklitiks, enklitiks, dan sufiks. Proklitiks adalah kata ganti yang diimbuhkan di awal kata, enklitiks adalah kata ganti yang diimbuhkan di akhir kata, dan sufiks adalah kata ganti orang ketiga yang diimbuhkan di akhir kata. Pronomina posesif mempunyai variasi bentuk sesuai dengan apakah kata yang melekat berakhir dengan vokal atau konsonan, pronomina agentif menggunakan undergoer-konstruksi suara, sedangkan bentuk objektif ditemukan dalam konstruksi aktor-suara dan setelah preposisi.

Selain itu, ketiga bahasa tersebut mempunyai kesamaan penamaan orang pertama, yaitu aku. Kemudian, kata kita juga terdapat dalam bahasa Indonesia, bahasa Batak Karo, dan bahasa Jawa. Kata kita dalam ketiga bahasa tersebut masuk ke dalam kategori kata ganti orang pertama. Bahasa Indonesia ada yang hanya sama dengan bahasa Batak Karo, yaitu kami. Kata kami terdapat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo, tetapi tidak terdapat dalam bahasa Jawa. Kata kami dalam bahasa Jawa adalah awak-e dhewe. Pronomina orang kedua bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo hampir sama, tetapi berbeda. Perbedaan hanya terdapat dalam huruf belakangnya saja. Dalam bahasa Indonesia pronomina orang kedua adalah kamu, sedangkan dalam bahasa Batak Karo adalah kam. Hal yang membedakan adalah penghilangan huruf u dalam kata ganti orang kedua bahasa Batak Karo.

Dalam bahasa Indonesia, bahasa Batak Karo dan bahasa Jawa sama-sama menggunakan kata ganti –ku. Kata ganti tersebut merupakan variasi bentuk dari kata aku. Meskipun ketiga bahasa menggunakan kata ganti –ku, tetapi penamaan kategori -ku berbeda-beda. Dalam bahasa Indonesia, -ku merupakan kata ganti orang pertama tunggal. Dalam bahasa Batak Karo, -ku adalah kata ganti orang pertama posesif, sedangkan dalam bahasa Jawa –ku termasuk kategori enklitiks. Meskipun demikian, penggunaan –ku dalam ketiga bahasa tersebut sama-sama mengganti kata aku dan diimbuhkan di akhir kata. Ada pula kata ganti aku yang diimbuhkan di awal kata, yaitu ku-. Kata ganti ku- hanya terdapat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo. Dalam bahasa Jawa kata ganti aku yang diimbuhkan di awal kata adalah tak-. Kategori kata ganti ku- dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Batak Karo. Kata ganti ku- bahasa Indonesia termasuk dalam kategori kata ganti orang pertama tunggal, sedangkan kata ganti ku- dalam bahasa Batak Karo termasuk dalam kategori pronomina posesif.

Dalam bahasa Batak Karo kata kita mempunyai variasi bentuk sesuai dengan posisi penempatannya. Jika kata kita diletakkan di awal kata, maka kata kita akan diganti menjadi si- dan jika kata ganti kita diletakkan di akhir kata, maka kata kita akan diganti menjadi –ta. Hal tersebut tidak terdapat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Berbeda dengan kata kita, kata ganti orang kedua dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa memiliki variasi bentuk yang serupa. Hal tersebut disebabkan kita dalam bahasa Jawa merupakan kata pinjaman dari bahasa Indonesia. Bahasa Batak Karo juga mempunyai variasi bentuk kata ganti orang kedua, tetapi berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Variasi bentuk kata ganti orang kedua dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa adalah –mu, sedangkan variasi bentuk kata ganti orang kedua bahasa Batak Karo adalah –ndu.

Kata ganti orang ketiga bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo memiliki kemiripan, yaitu ia. Kata ganti orang ketiga dalam bahasa Indonesia memiliki jumlah lebih dari satu, sedangkan bahasa Batak Karo hanya memiliki satu kata ganti orang ketiga. Lain halnya bahasa Jawa yang memiliki lebih dari satu kata ganti orang ketiga walaupun tidak ada yang sama dengan bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo. Kata ganti orang ketiga bahasa Jawa adalah dhewek-e dan piyambakipun. Meskipun bahasa Indonesia dan bahasa Jawa tidak mempunyai kesamaan kata ganti orang ketiga, tetapi mempunyai kesamaan fungsi penggunaannya. Dalam bahasa Indonesia, ada dua macam persona ketiga tunggal, yaitu (1) ia, dia, atau –nya dan (2) beliau. Pronomina persona ketiga tunggal beliau menyatakan rasa hormat. Oleh karena itu, beliau dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Hal tersebut sama dengan piyambakipun dalam bahasa Jawa. Adanya perbedaan penggunaan kata ganti tergantung dengan hubungan pemakai bahasa tersebut juga terdapat dalam bahasa Batak Karo. Dalam bahasa Batak Karo, kata ganti kedua dibedakan menjadi dua bentuk. Kata ganti orang kedua yang menunjukkan kesopanan adalah kena, sedangkan kata ganti orang kedua yang menunjukkan hubungan kekerabatan adalah engko.

IV.  Penutup

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia, bahasa Batak Karo, dan bahasa Jawa memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaan bahasa Indonesia, bahasa Batak Karo, dan bahasa Jawa adalah memiliki tiga jenis kata ganti, yaitu kata ganti orang pertama, kata ganti orang kedua, dan kata ganti orang ketiga. Kemudian memiliki persamaan penamaan kata ganti orang pertama, yaitu aku dan kita. Tidak hanya itu, ketiga bahasa tersebut menggunakan kata ganti –ku. Penggunaan –ku dalam ketiga bahasa tersebut sama-sama mengganti kata aku dan diimbuhkan di akhir kata. Ada pula persamaan yang hanya terdapat dalam dua bahasa. Misalnya, kata kami terdapat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo, tetapi tidak terdapat dalam bahasa Jawa. Selanjutnya, kata ganti ku- hanya terdapat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo. Kata ganti orang kedua dalam bahasa Jawa dan Indonesia menggunakan –mu. Kata ganti orang ketiga bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo juga memiliki kemiripan, yaitu ia. Persamaan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa juga terlihat dari fungsi penggunaannya. Kata ganti orang ketiga dalam bahasa Indonesia beliau dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Hal tersebut sama dengan piyambakipun dalam bahasa Jawa.

Perbedaan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Batak Karo banyak terlihat dari kata ganti yang digunakan. Selain itu, ketiga bahasa tersebut juga mempunyai perbedaan penamaan yang terdapat dalam tabel pronomina personanya. Bahasa Indonesia mempunyai makna tunggal dan jamak. Makna jamak dibedakan lagi menjadi netral, inklusif, dan ekslusif. Bentuk pronomina persona bahasa Batak Karo dibedakan menjadi independen, posesif, agentif, dan objektif, sedangkan bentuk pronomina persona bahasa Jawa dibedakan menjadi proklitiks, enklitiks, dan sufiks. Kata kami dalam bahasa Jawa adalah awak-e dhewe. Hal tersebut berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa Batak Karo. Dalam bahasa Indonesia pronomina orang kedua adalah kamu, sedangkan dalam bahasa Batak Karo adalah kam. Perbedaan hanya terdapat dalam huruf belakangnya saja. Dalam bahasa Indonesia, -ku merupakan kata ganti orang pertama tunggal. Dalam bahasa Batak Karo, -ku adalah kata ganti orang pertama posesif, sedangkan dalam bahasa Jawa –ku termasuk kategori enklitiks. Kata ganti ku- bahasa Indonesia termasuk dalam kategori kata ganti orang pertama tunggal, sedangkan kata ganti ku- dalam bahasa Batak Karo termasuk dalam kategori pronomina posesif.

Daftar Pustaka

Adeelar, Alexander, dan Nikoulas P.Hammelmann (Ed.).n 2005. The Austronesian Languages of Asia and Madagaskar. London: Routledge Taylor and Francis Group

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 21, 2013 by in Makalah.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: