Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Analisis Pendekatan Struktural Kumpulan Puisi Hati Perempuan Karya Linda Djalil

I.                   Pendahuluan

Sastra adalah karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapannya (Panuti Sudjiman, 1996: 6) . Kita ketahui bahwa suatu karya sastra adalah potret dari kehidupan manusia. Sastra bertujuan sebagai alat untuk menyinggung salah satu dari sekian banyak sisi-sisi kehidupan pada zamannya. Dalam kesuastraan modern terdapat tiga jenis karya sastra. Tiga jenis tersebut adalah prosa, drama, dan puisi. Dalam makalah ini, penulis akan melakukan analisis terkait dengan salah satu karya sastra modern tersebut. Karya sastra yang dipilih untuk dilakukan analisis adalah puisi. Puisi adalah hasil penggambaran tentang suatu hal yang diungkapkan melalui bahasa dan ekspresi yang mewakili perasaan sang penyair.

Waluyo (1997:25) mengungkapkan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif serta disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan mengkonsentrasikan struktur fisik maupun batinnya. Kosasih (2003 : 207) menyatakan pula bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata yang indah dan kaya makna. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, tetapi mempunyai makna yang sangat kaya. Kata yang digunakan adalah kata konotatif yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa puisi adalah sebuah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam peristiwa atau kejadian dalam kehidupan yang diwujudkan melalui bahasa yang diperhalus serta diberi irama. Di samping itu, puisi juga dapat membangkitkan perasaan yang menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas atau secara umum bisa dikatakan menimbulkan keharuan.

Puisi dapat dikaji dengan menggunakan berbagai macam pendekatan. Salah satu pendekatan yang sering digunakan untuk menganalisis puisi adalah teori yang diungkapkan oleh Abrams. Abrams membagi pendekatan itu menjadi empat, yaitu pendekatan objektif, ekspresif, mimesis, dan pragmatik. Lima pendekatan tersebut telah dikembangkan menjadi beberapa pengembangan. Pendekatan objektif telah dikembangkan menjadi pendekatan struktural yang terdiri dari unsur intrinsik dan ekstrinsik sebuah karya sastra. Pendekatan ekspresif telah dikembangkan menjadi psikologi sastra dan antropologi sastra. Pendekatan mimesis dikembangkan menjadi  pendekatan sosiologi sastra dan sastra marxis. Terakhir, pendekatan pragmatik dikembangkan menjadi pendekatan resepsi sastra dan hermeunetika. Namun, penulis hanya akan menganalisis salah satu pendekatan, yaitu pendekatan struktural.

Dalam makalah ini, penulis mengambil data dari buku antologi puisi yang berjudul Hati Perempuan. Buku tersebut adalah buku kumpulan puisi yang dibuat oleh 22 perempuan. Penulis memilih mengambil data puisi dari buku tersebut karena buku tersebut adalah pemberian dari salah satu pengarang buku tersebut. Pengarang yang memberikan buku tersebut kepada penulis adalah Linda Djalil. Untuk memudahkan penelitian, penulis membatasi data yang dianalisis adalah kumpulan puisi karya Linda Djalil yang terdapat dalam antologi puisi Hati Perempuan. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui pendekatan struktural kumpulan puisi karya Linda Djalil. Dalam makalah ini, fokus pendekatan struktural yang akan dianalisis adalah unsur instrinsik. Unsur instrinsik puisi meliputi tema, nada, suasana, perasaan, dan amanat. Teknik penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah teknik kepustakaan yang mengambil data dari buku Pengkajian Puisi, Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra, dan Teori dan Apresiasi Puisi. Manfaat makalah ini adalah memberikan wawasan kepada pembaca mengenai unsur puisi, memperdalam pemahaman mengkaji puisi, dan ikut memberikan sumbangan dalam penelitian sastra.

II.                Biografi Singkat Pengarang Puisi

Pada makalah ini, penulis mengambil data dari antologi puisi Hati Perempuan. Ketertarikan penulis mengambil data dari buku tersebut karena salah satu pengarang buku tersebut memberikan secara langsung kepada penulis. Salah satu pengarang kumpulan puisi tersebut adalah Linda Djalil. Penulis bertemu dengan Linda Djalil pada acara Iluni Gathering FIB UI. Kebetulan, Linda Djalil adalah alumni dari program studi Indonesia. Penulis banyak berbincang dengan Linda Djalil. Disamping itu, Linda Djalil sedang melakukan promosi buku antologi puisi terbarunya. Penulis mendapatkan buku antologi puisi Hati Perempuan dari hasil undian berhadiah di acara tersebut.

Linda Djalil lahir tanggal 23 Juni 1958. Sejak kecil, ia menulis di Majalah Si Kuncung dan saat remaja membuat cerita pendek untuk mahalah Gadis, Femina, dan Amita. Setelah lulus SMA, beliau masuk jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Sembari kuliah, beliau menjadi wartawan lepas di majalah Tempo. Beliau sempat mengambil cuti dari aktivitas perkuliahan di UI dan bersekolah di Akademi Bahasa Asing dan meneruskan kegemaran bermain piano di Berlin. Setelah dua setengah tahun, beliau kembali meneruskan kuliah di UI dan menjadi wartawan lepas di beberapa media. Lulus dari UI, beliau menjadi wartawan tetap di Tempo hingga majalah tersebut dibredel pada masa Orde Baru. Kemudian beliau masuk ke majalah Gatra. Beliau juga menciptakan beberapa lagu. Salah satu lagu yang dibuat berjudul “Wanita” yang ditujukan kepada Titiek Puspa. Tidak hanya itu, sejumlah puisi Linda Djalil juga pernah dimuat dalam antologi The Fifties (2009), Senandoeng Radja Ketjil (2010), dan Kitab Radja-Ratoe Ali (2011). Buku kumpulan puisi tunggalnya, Cinta Balado juga pernah diterbitkan Penerbit Kompas, Jakarta. Sekarang, beliau aktif menulis di Kompasiana.

III.             Teori Pendekatan Struktural Puisi

Semua karya sastra adalah struktur. Struktur yang dimaksud adalah setiap karya sastra memiliki unsur yang mempunyai sistem. Semua unsur tersebut saling memiliki hubungan timbal balik. Semua unsur tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Hal tersebut disebabkan satu unsur mempunyai peranan penting dalam mendukung karya sastra. Hal tersebut disebabkan jika satu unsur hilang, maka tidak akan tercipta karya sastra. Dalam pengertian struktur ini terlihat adanya rangkaian kesatuan yang meliputi tiga ide dasar, yaitu ide kesatuan, transformasi, dan pengaturan diri sendiri.  Analisis struktural puisi adalah analisis puisi ke dalam unsur dan fungsinya dalam struktur puisi. Selain itu, tiap unsur tersebut mempunyai makna jika dikaitkan dengan unsur lainnya. Dengan kata lain, sebuah unsur tidak akan memiliki makna jika tidak disertakan dengan unsur yang lain.

Karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks. Pemahaman karya sastra dapat diketahui berdasarkan analisis terhadap karya sastra tersebut. Karya sastra merupakan perpaduan unsur yang tidak dapat terpisahkan satu sama lain.  Pemahaman menyeluruh mengenai puisi dapat dilakukan dengan memperhatikan hubungan antarunsur. Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari analisis keseluruhan karya sastra. Pendekatan struktural bertujuan membongkar dan memaparkan secara mendalam hubungan semua unsur maupun aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984). Unsur-unsur puisi tersebut adalah tema, nada, suasana, perasaan, dan amanat.

Tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya (Waluyo 2003: 17). Tema mengacu pada penyair. Pembaca harus mengetahui latar belakang penyair supaya tidak salah menafsirkan tema puisi tersebut. Hal tersebut disebabkan tema bersifat khusus (diacu dari penyair), objektif (semua pembaca harus menafsirkan sama), dan lugas (bukan makna kiasan yang diambil dari konotasinya). Seperti halnya karya sastra prosa, puisi juga berfungsi untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarangnya. Dengan demikian puisi pun mempunyai tema atau pokok permasalahan. Pemahaman puisi lebih sulit dibandingkan karya sastra lain. Untuk mengetahuinya diperlukan kecerdasan dan kejelian kita sebagai pembacanya untuk menafsirkan kiasan-kiasan atau perlambang-perlambang yang dipergunakan penyair (Suharianto 2005: 38-39).

Menurut Suharianto (2005: 47) nada dan suasana seperti yang dirasakan, semata-mata bukan disebabkan oleh makna kata yang dipakai penyairnya, melainkan juga oleh dukungan pilihan bunyi kata-katanya. Bahkan, unsur terakhir tersebut yang terasa amat dominan karena adanya asonansi-asonansi maupun aliterasi-aliterasi yang sengaja dipasang penyair secara horisontal maupun vertikal. Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca. Dari sikap itu terciptalah suasana puisi. Ada puisi yang bernada sinis, protes, menggurui, memberontak, main-main, serius (sungguh-sungguh), patriotik, belas kasih (memelas), takut, mencekam, santai,masa bodoh, pesimis, humor (bergurau), mencemooh, kharismatik, filosofis, khusyuk, dan sebagainya (Waluyo 2003: 37).

Waluyo (2003: 39-40) menerangkan bahwa puisi mengungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan penyair akan dapat kita tangkap  kalau puisi itu dibaca keras dalam poetry reading atau deklamasi. Membaca puisi dengan suara keras akan lebih membantu kita menemukan perasaan penyair yang melatarbelakangi terciptanya puisi tersebut. Perasaan yang menjiwai puisi bisa perasan gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung, patah hati, sombong, tercekam, cemburu, kesepian, takut, dan menyesal.

Aspek terakhir adalah amanat. Amanat, pesan atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat puisi. Cara menyimpulkan amanat puisi sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal. Meskipun ditentukan berdasarkan cara pandang pembaca, amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi puisi yang dikemukakan penyair (Waluyo 2003: 40).

IV.             Analisis Pendekatan Struktural Kumpulan Puisi Karya Linda Djalil

Pada buku Hati Perempuan, terdapat kumpulan puisi karya Linda Djalil. Kumpulan puisi tersebut berjumlah dua belas puisi. Puisi tersebut adalah Mariam, Akhirnya, Lidah Perempuan itu, Gelap Sekali di Sini, Semua Tanpa Pamrih, Selembar Daun, Istri Buta Tuli, Rinduku, Pria itu, Asrama dan Asmara, Ibu yang Pelacur itu, dan Cerita Lama di Sentong. Sebelum melakukan berbagai pendekatan, terlebih dahulu puisi diteliti dengan pendekatan struktural. Pendekatan struktural tersebut terdiri dari empat hakikat puisi, yaitu tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat.

Pada puisi pertama yang muncul adalah puisi berjudul Mariam. Dalam puisi tersebut pengarang ingin mengangkat tema perempuan. Hal ini didasarkan oleh judul buku, yaitu Hati Perempuan sehingga penulis menganggap bahwa pengarang akan mengangkat sesuatu yang bertema perempuan di awal kumpulan puisinya. Hal tersebut dilakukan supaya pembaca mengetahui korelasi kumpulan puisi pengarang dalam antologi puisi tersebut. Tema perempuan dalam puisi yang berjudul Mariam terlihat pada kutipan berikut:

Mariam

kamu gila sejak dulu

masih hidupkah kamu (Hati Perempuan, 2011: 131)

Dalam kutipan tersebut terlihat bahwa pengarang mengungkapkan tokoh yang bernama Mariam. Objek pengarang dalam puisi tersebut adalah Mariam, maka seluruh isi puisi bercerita tentang Mariam. Oleh karena itu, tema yang diangkat dalam puisi tersebut adalah perempuan. Selain tema, puisi tersebut mempunyai nada dan suasana memelas atau belas kasih. Nada dan suasana tersebut digambarkan pengarang dengan berbagai perbuatan Mariam yang kurang terpuji. Perbuatan-perbuatan Mariam yang diungkapkan pengarang membuat nada dan suasana puisi menjadi memelas. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

jangan salahkan dia

bila otak tak waras dipelihara

bergajulan di tengah kota (Hati Perempuan, 2011: 131)

Dengan adanya larik Jangan salahkan dia membuat puisi tersebut mengandung nada dan suasana yang memelas atau belas kasih. Pengarang memberitahukan kepada pembaca bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Mariam bukan salahnya seorang diri. Hal tersebut disebabkan pula pengaruh lingkungan yang membawanya kepada perbuatan tercela tersebut. Berdasarkan nada dan suasana tersebut, perasan yang ditimbulkan pengarang dalam puisi tersebut adalah sedih. Perasaan tersebut terlihat dari keprihatinan pengarang kepada Mariam. Pengarang merasa sedih dengan adanya Mariam dan segala perbuatannya tersebut. Perasaan sedih tergambar di akhir larik puisi. Berikut kutipannya:

berpindah ke Monas

terjun dari atas

menjadi kepingan kenangan

selamanya (Hati Perempuan, 2011: 131)

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa akhir dari perjalanan hidup Mariam yang menyedihkan. Mariam bunuh diri dengan cara terjun dari atas Monas. Larik Menjadi kepingan kenangan merupakan larik yang mengungkapkan kesedihan pengarang terhadap Mariam. Amanat yang dapat diperoleh dari puisi yang berjudul Mariam adalah perbuatan tercela yang dilakukan oleh manusia bukan merupakan kesalahan manusia tersebut. Perbuatan tercela tersebut dibentuk oleh lingkungan sekitar yang menjadikan manusia tersebut berperilaku buruk. Jangan hanya melihat permasalahan dari satu sisi, tetapi dari berbagai sisi. Hal tersebut berbeda dengan puisi yang berjudul Akhirnya. Puisi tersebut mempunyai tema cinta. Tema tersebut juga terdapat dalam puisi yang berjudul Asrama dan Asmara. Kedua puisi tersebut menggambarkan nada dan suasana bahagia. Meskipun demikian, letak suasana bahagia kedua puisi berbeda. Dalam puisi yang berjudul Akhirnya, tokoh aku mengungkapkan kegembiraannya dalam pelukan tokoh kamu, sedangkan puisi yang berjudul Asrama dan Asmara menceritakan keinginan untuk keluar dari asrama mencari asmara di tengah kesibukan sebagai pelajar.  Berikut kutipannya:

tubuh ini lemas

dalam pelukanmu

maka kita telah lupa

urusan setengah tahun

yang tertunda (Hati perempuan, 2011: 132)

Dari kutipan puisi yang berjudul Akhirnya tersebut dapat diketahui pula amanat yang terkandung dalam puisi tersebut. Amanat puisi tersebut adalah cinta telah membutakan manusia. Perasaan senang membuat manusia lupa akan urusan yang lainnya. Dunia dianggap milik berdua. Asal ada kekasih, maka hidup akan indah. Padahal, ada hal lainnya yang terlewat karena pusat perhatian berada pada kecintaan terhadap lawan jenis. Amanat yang berbeda diungkapkan dalam puisi yang berjudul Asrama dan Asmara. Puisi tersebut mempunyai amanat bahwa manusia harus mengejar asmara yang semakin melebar. Jangan biarkan asrama menjadi penghalang asmara yang sedang berkobar. Jika hanya diam di tempat tidak berbuat apapun, maka cinta tidak akan datang. Berikut kutipannya:

tak berkelip

sebab asmara makin melebar

keluar

keluar dari asrama

rebutlah asmara !! (Hati Perempuan, 2011: 140)

Ada pula puisi yang mengungkapkan tema perilaku. Puisi yang berjudul Lidah Perempuan itu mengungkapkan perilaku perempuan yang mempunyai lidah yang tajam. Ketajaman lidah tersebut membuat luka di hati lawan bicaranya. Nada dan suasana yang ditampilkan pengarang adalah sinis. Pengarang seolah-olah mengutuk perbuatan perempuan yang mempunyai lidah seperti pisau. Hal tersebut membuat pengarang memberikan amanat dalam puisi tersebut bahwa manusia harus bisa menjaga ucapan karena hal tersebut mencerminkan martabat si empunya ucapan.  Berikut kutipannya:

lidah sebegitu tajam

menghujat sesame saingan

yang dianggap ancaman

menyilet sudut hati

sampai luka menganga (Hati Perempuan, 2011: 133)

Kemudian perilaku yang juga ditampilkan pengarang dalam kumpulan puisi adalah perilaku istri. Hal tersebut terlihat dalam puisi yang berjudul Istri Buta Tuli. Nada dan suasana yang digambarkan pun serius. Penulis beranggapan bahwa pada tahun 2011 maraknya kasus korupsi yang terjadi membuat pengarang merasa prihatin. Pengarang ingin menyampaikan bahwa istri tersangka kasus korupsi harus peduli terhadap perbuatan yang dilakukan suami. Rezeki yang diperoleh suami harus dipertanyakan asalnya. Memang, istri harus patuh terhadap suami, tetapi jangan sampai tidak peduli terhadap perbuatan yang dilakukan suami. Sesuatu yang tidak baik adalah sesuatu yang dibenci Tuhan. Berikut kutipannya:

turuti imam keluarga

berbakti kepada yang dimuliakan

sejauh sandang serba tercukupi

sungguh ada yang terlupa

cara itu tak mungkin menjadi mulia

di mata Dia (Hati Perempuan, 2011: 137)

Selain perilaku istri, pengarang juga menampilkan tema perilaku suami. Tema tersebut terlihat pada puisi yang berjudul Pria Itu. Perilaku suami yang digambarkan pengarang adalah perselingkuhan. Perselingkuhan tersebut disebabkan tidak tercukupinya kebutuhan lahir dan batin suami. Namun, pada akhirnya suami tersebut menyadari bahwa perbuatannya hanyalah perselingkuhan semu dan tetap akan kembali kepada istri. Nada dan suasana puisi tersebut adalah mencemooh. Pengarang mencemooh suami yang melakukan perselingkuhan. Amanat yang diberikan pengarang adalah kebahagiaan tidak bisa diukur dengan kepuasan batin. Meskipun suami bosan terhadap istri, tetapi hanya istri yang mau menerima apa adanya suami. Berikut kutipannya:

bosan

duh perempuan itu

bergaya itu-itu saja

di atas ranjang

dan suara erangan (Hati Perempuan, 2011: 139)

Tidak hanya perilaku, pengarang juga membuat puisi bertema kenangan pada dua puisi, yaitu puisi yang berjudul Selembar Daun dan Cerita Lama di Sentong. Pada puisi yang berjudul Selembar Daun, pengarang mengungkapkan bahwa selembar daun menjadi sumber kenangan di masa lalu. Daun yang diselipkan di dalam buku mengingatkan kembali kepada kenangan. Namun, kenangan tersebut adalah kenangan pahit di masa lalu. Hal tersebut membuat luka lama kembali muncul walaupun sudah lama berlalu. Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa amanat puisi tersebut adalah jangan menyimpan kenangan pahit karena akan muncul kembali rasa pahitnya. Berikut kutipannya:

selembar daun

tak mampu lagi berkisah

karena cinta melayang jauh

ke pucuk pohon kelapa

tertancap duri pohon mawar

perih

sirna (Hati Perempuan, 2011: 136)

Kenangan yang dimunculkan pengarang pada puisi yang berjudul Cerita Lama di Sentong berbeda dengan puisi Selembar Daun. Puisi Cerita Lama di Sentong mengungkapkan kenangan manis. Nada dan suasana yang digambarkan adalah santai. Kenangan teringat kembali saat memasuki tempat yang bersejarah dalam kehidupan tokoh dalam puisi. Tempat kenangan tersebut bernama Sentong. Puisi tersebut juga memperlihatkan kehidupan seorang wartawan. Hal tersebut ditandai dengan adanya suara mesin ketik. Dalam puisi tersebut, pengarang ingin menyampaikan amanat bahwa kenangan akan tetap membekas dalam ingatan, terutama kenangan manis. Berikut kutipannya:

ruangan itu bernama Sentong

tempat kita berpelukan

berpegang tangan

jauh dari hiruk pikuk luar

suara mesin ketik

melahirkan berita (Hati Perempuan, 2011: 142)

Ada pula puisi yang menampilkan tema kehinaan. Terlihat dari tema, nada dan suasana yang ditampilkan adalah mencemooh. Hal tersebut terlihat pada puisi yang berjudul Ibu yang Pelacur itu. Puisi tersebut menceritakan seorang anak yang mempunyai ibu seorang pelacur. Namun, anak pelacur tersebut telah memperoleh gelar doktor. Meskipun anak pelacur tersebut tidak mengikuti jejak ibunya, tetap saja gelar yang diperoleh anak pelacur tersebut tidak dianggap oleh masyarakat. Hal tersebut mengajarkan pembaca bahwa perbuatan ibu atau orang tua akan membekas kepada anak. Berikut kutipannya:

ibu yang pelacur itu

bisik-bisik menyembul lewat pohon kenanga

mengejek si pemuda

yang tak henti berkata

Tuhan

cabut saja gelar es tiga

dari hasil kotor tiada bangga (Hati Perempuan, 2011: 141)

Selanjutnya, puisi yang berjudul Gelap Sekali di Sini mengungkapkan kehidupan di liang kubur yang sempit dan gelap. Pengarang menjelaskan akibat yang akan ditanggung oleh manusia di akhir hidupnya. Perilaku manusia di dunia menjadi patokan kehidupan selanjutnya. Tema yang diangkat dalam puisi ini adalah penyesalan. Puisi tersebut menceritakan penyesalan manusia yang belum sempat bertobat. Kehidupan di dunia hanya menimbun harta walaupun harta tersebut hasil perbuatan kotor. Nada dan suasana yang digambarkan adalah mencekam. Pengarang ingin memberitahukan kepada pembaca bahwa manusia jangan gelap mata untuk kehidupan dunia yang semu daripada berujung penyesalan di akhir hidup. Beikut kutipannya:

gelap sekali di sini

sunyi

yang ada hanya jeritan hati

sesal tiada tara

menjerit memohon ampun (Hati Perempuan, 2011: 134)

terakhir, pengarang membuat puisi yang mempunyai tema pedoman hidup. Pengarang memberikan nada dan suasana santai, tetapi mempunyai makna yang penting. Puisi yang berjudul Semua Tanpa Pamrih adalah pesan- yang disampaikan pengarang kepada pembaca untuk menjalani hidup ini dengan baik dan benar. Ketulusan hati manusia akan membuat hidup manusia akan dimudahkan oleh Tuhan. Pasrah dan tanpa pamrih adalah perbuatan yang dianjurkan oleh pengarang kepada pembaca untuk menjalani hidup. Berikut kutipannya:

bila langkah tubuh

menuju sinar tanpa pamrih

ringannya hati tiada terkira

sentuhan Ilahi begitu dekat

penuh birahi cinta

ketulusan

pasrah

lagi-lagi

tanpa pamrih (Hati Perempuan, 2011: 135)

V.                Penutup

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar tema yang diangkat dalam kumpulan puisi karya Linda Djalil adalah perilaku perempuan. Sesuai dengan judul buku, kumpulan puisi karya Linda Djalil mengungkapkan isi hati yang sedang dialaminya. Isi hati Linda Djalil terlihat pada puisi-puisi yang diciptakannya, seperti Mariam, Akhirnya, Lidah Perempuan itu, Gelap Sekali di Sini, Semua Tanpa Pamrih, Selembar Daun, Istri Buta Tuli, Rinduku, Pria itu, Asrama dan Asmara, Ibu yang Pelacur itu, dan Cerita Lama di Sentong. Tema yang terdapat dalam kumpulan puisi karya Linda Djalil adalah cinta, perilaku perempuan, penyesalan, pedoman hidup, kenangan, perilaku istri, kerinduan, perilaku suami, dan kehinaan. Sebagian besar nada dan suasana puisi karya Linda Djalil adalah santai. Hanya ada satu puisi yang mempunyai nada dan suasana serius. Hal ini memperlihatkan kepribadian Linda Djalil yang santai dalam kehidupannya.

Hakikat puisi berupa amanat dalam kumpulan puisi memberitahukan kepada pembaca semua yang ada di kehidupan manusia mempunyai pelajaran yang berharga. Puisi yang bersumber dari kehidupan nyata membuat puisi lebih hidup dan jelas mengenai maksud yang ingin disampaikan. Kumpulan puisi yang diciptakan oleh Linda Djalil memperlihatkan kehidupan Linda Djalil sebagai seorang perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis. Banyak tema yang diangkat berasal dari kehidupan seseorang yang dibicarakan dalam berita. Wawasan Linda Djalil yang luas mempunyai korelasi terhadap profesi wartawan yang ditekuninya.

DAFTAR PUSTAKA

Djalil, Linda. 2011. Hati Perempuan. Jakarta: Penerbit Kosa Kata Kita.

Herman J. Waluyo. 2003. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Rachmat Djoko Pradopo. 1993. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 11, 2013 by in Makalah.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,461 other followers

%d bloggers like this: