Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Persamaan Tema Kritik Sosial tentang Kemiskinan dalam Cerpen

 

Di dalam cerita rekaan, pengarang tidak sekadar menyampaikan sebuah cerita untuk bercerita saja. Alasan pengarang menyajikan cerita adalah hendak mengemukakan suatu gagasan. Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema[1]. Biasanya, pembaca akan cenderung memilih bahan bacaan dengan melihat tema. Oleh karena itu, tema merupakan aspek yang penting dalam suatu karya sastra. Pada penulisan ini, penulis akan membahas persamaan tema cerita pendek Warung Bu Sally karya N.H Dini dan Sebuah Rumah Tua karya Nyoman Rasta Sindhu.

Cerita pendek Warung Bu Sally karya N.H Dini mengangkat tema kemiskinan. Hal ini dapat diketahui dari bacaan yang menjelaskan bahwa keluarga Bu Sally hidup dalam garis kemiskinan. Hidup yang demikian digambarkan dengan keluarga Bu Sally yang tidak mempunyai rumah sendiri, mempunyai anak-anak yang ingusan, dan penyakit selesma yang sudah biasa terjadi dalam keluarga Bu Sally. Hal tersebut biasanya terjadi di kalangan keluarga yang hidup dalam garis kemiskinan.  Hal tersebut dapat terlihat pada kutipan:

“Dan mapanlah keluarga itu dengan syarat-syarat kehidupan rakyat yang cukup sandang dan pangan asal tidak telanjang. Lima anak kelihatan sehat meskipun yang kecil-kecil tampak ingusan. Tetapi mereka selalu demikian. Selesma dianggap bukan penyakit lagi. Dia datang dan pergi bagaikan kenalan lama yang berhak mengetuk pintu sewaktu-waktu.” (Warung Bu Sally: 71)

Tema kemiskinan yang sama dengan cerita pendek Warung Bu Sally adalah cerita pendek Sebuah Rumah Tua karya Nyoman Rasta Sindhu. Di dalam cerita pendek Sebuah Rumah Tua, pengarang menggambarkan tokoh yang ada di dalam cerita pendek berada pada garis kemiskinan. Kemiskinan tersebut dapat di lihat dari penggambaran anak tokoh yang dilahirkan di rumah sakit yang kotor dan bau. Kemudian penggambaran kemiskinan juga terlihat dari anak tokoh yang tidak minum susu kemasan. Rumah sakit yang kotor dan bau serta anak tokoh yang tidak minum susu kemasan mencerminkan keadaan tokoh yang tidak mampu secara ekonomi. Penggambaran tersebut dapat terlihat dalam kutipan:

“Ia anak-anakku yang dilahirkan oleh rahim melarat. Akan tetapi, barangkali sudah takdirnya, walaupun mereka dilahirkan di rumah sakit yang paling kotor dan bau, dan sudah sejak bayi belum pernah merasakan bagaimana rasanya susu SGM atau Camelpo atau Marrie Regal.” (Sebuah Rumah Tua: 12)

Kedua cerita pendek tersebut mempunyai persamaan tema kemiskinan. Persamaan tersebut juga terlihat dari penggambaran kedua cerita pendek yang menggambarkan kondisi masyarakat miskin. Cerita pendek Warung Sally menggambarkan anaknya ingusan dan Sebuah Rumah Tua menggambarkan anaknya tidak pernah minum susu kemasan. Kedua kondisi ini merupakan penggambaran kondisi pada garis kemiskinan.

Kemiskinan merupakan suatu hal yang masih banyak dirasakan oleh sebagian masyarakat di negeri ini. Menurut penulis, pengarang mengangkat tema kemiskinan sebagai upaya kritik sosial terhadap pemerintah. Pengarang menggambarkan kondisi kemiskinan yang terjadi di tengah masyarakat agar pemerintah mempunyai kepedulian terhadap masyarakat miskin. Pengarang juga menggambarkan kondisi kemiskinan dalam sebuah cerita pendek supaya masyarakat dan pemerintah mengetahui penderitaan masyarkat miskin.


[1] Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta:Pustaka Jaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 16, 2012 by in Sastra.
%d bloggers like this: