Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Rumah Kosong

Seperti berada di dalam neraka. Cahaya matahari memancarkan sinar begitu terangnya. Tanpa ditemani oleh angin, kekuatan matahari ini menghabiskan energi dalam tubuh. Tidak ketinggalan, keringat ikut menyusul dari sela pori-pori mengalir deras membasahi tubuhku. Tas yang sedang aku bawa ikut menambah beban yang sedang aku terima. Hanya ada suara derap langkah sepatuku yang menghantarkan aku berjalan. Dibawah terik matahari inilah, aku menginjakkan kaki diatas aspal mulus yang panas mencari rumah teman karibku.

Sungguh, suasana perumahan ini begitu sunyi. Tak terlihat orang menampakkan diri selain aku. Hanya ada rumah dan rumah. Rumah-rumah tinggi nan indah berjajar layaknya para tentara sedang berbaris rapi. Sejauh mata memandang, rumah-rumah yang terdapat di dalam perumahan ini memiliki gaya dan bentuk yang sama. Gaya rumah laksana istana kerajaan yang megah dan pada bagian depan rumah terlihat tiang-tiang tinggi dan kokoh yang menyangga bagian atas rumah. Pagar rumah yang bermacam-macam ukiran dan bentuk tak luput dari penglihatan. Pagar rumah berdiri tegap menjaga rumah dibelakangnya. Ada yang terbuat dari besi, kayu, dan sebagainya. Aku lantas berpikir, aku sedang memasuki perumahan elit.

Tak terbayangkan sebelumnya rumah teman karibku berada dalam perumahan elit ini. Naufal adalah namanya. Teman sekelasku pasti tidak akan menyangka Naufal tinggal di lingkungan seperti ini.  Naufal yang berbadan tinggi, kurus seperti tak terurus, dan memiliki kulit sawo matang ini tidak pernah menunjukkan kelebihan materinya. Muka yang selalu kelihatan mengantuk dengan kantung mata yang tebal menghiasi raut mukanya. Pakaian yang sering dikenakan terkadang hanya itu-itu saja seperti tidak mempunyai baju lebih. Begitu pula dengan celana yang dikenakannya. Ia memakai celana yang sama selama satu bulan penuh tanpa mencucinya sehingga warna celana yang dikenakan menjadi agak kecoklatan karena kotor. Benar-benar tidak terduga. Bahkan, pada saat kuliah Naufal hanya memakai sandal tanpa menghiraukan teguran dosen setiap kali masuk kelas.

Sejenak aku tertegun melihat nomor rumah yang berada dihadapanku. Nomor tiga puluh. Nomor itu sepertinya sama dengan nomor rumah Naufal yang tertulis dalam catatanku. Apakah benar ini rumah Naufal, dalam hati. Pagar rumah berwarna hitam ini sudah mulai terkelupas catnya. Pada bagian pegangan pintu tergantung gembok berantai besi yang sudah berkarat seperti tidak pernah dibuka. Pagar rumah ini ditopang oleh beberapa roda untuk mempermudah mendorongnya. Kemudian pandangan kuarahkan pada bagian teras rumah. Pada bagian teras tidak terlihat mobil atau kendaraan pribadi lainnya terparkir disana. Rumah berlantai dua dengan dua tiang tinggi menjulang untuk menopang rumah berdiri kokoh bersanding dengan rumah disamping kanan maupun kirinya. Dari luar tak terdengar adanya aktivitas di dalam rumah. Mungkin sekarang hanya ada Naufal sendiri sehingga tidak ada suara aktivitas di dalam rumah, pikirku.

Entah mengapa rumah yang berada dihadapanku ini begitu asing dan tidak seperti rumah lainnya. Rumah ini seperti mati. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Perasaanku mengatakan rumah ini tak berpenghuni tetapi mungkin memang begini rumah orang kaya. Rumah besar dan megah dibatasi pagar yang kokoh melindungi rumah dengan suasana sunyi seperti tak berpenghuni, pikirku. Bergegas aku mengambil handphone dalam saku celanaku dan mengirimkan pesan singkat kepada Naufal bahwa aku telah sampai di depan rumahnya.

Keringat yang sedari tadi mengalir deras perlahan menghentikan alirannya. Meskipun sinar sang surya masih menyinari tubuhku tetapi kekuatannya telah melemah. Aku berdiri di depan pagar rumah. Sambil menunggu kedatangan Naufal membuka pintu rumahnya, aku kembali melihat rumah yang berada dihadapanku. Pandangan kuarahkan pada pintu masuk rumah berharap Naufal segera membuka pintu tersebut dari dalam dan menyambutku.

Pintu yang kupandangi sedari tadi berwarna coklat dengan pegangan pintu berwarna kuning. Warna kuning pada pegangan pintu sama seperti gembok berantai besi yang sudah berkarat. Anehnya, pegangan pintu tersebut hanya ada di sisi kiri pintu. Pada sisi kanan pintu tak terlihat pegangan pintu layaknya pintu rumah yang lain. Kecurigaan muncul dalam benakku. Sejurus dengan pintu rumah, aku melihat pada bagian kanan dan kiri pintu terdapat kaca yang sama tinggi dengan pintu. Di depan kaca pada bagian kiri terdapat meja dan kursi kayu untuk bersantai tuan rumah di teras maupun tempat menunggu tamu yang datang ke rumah itu.

Pada sisi sebelah kiri depan rumah terdapat taman kecil yang tak terawat. Tidak ada rumput yang menghijaukan taman tersebut. Di taman kecil tersebut hanya ada tanah kering berwarna coklat muda dengan berbagai banyak garis seperti pecah. Batu-batu yang berserakan tak beraturan menyebar pada seisi taman. Tidak terbayangkan olehku jika rumah sebesar ini tidak memiliki pembantu untuk mengurusnya. Kemudian sisi kanan depan rumah tidak ada yang istimewa. Hanya ada tanah yang telah disemen untuk jalan kendaraan pribadi dan tembok tinggi yang menjadi pembatas rumah.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku kaget sekaligus deg-degan. Segera aku menoleh ke belakang. Sosok lelaki tinggi, kurus seperti tak terurus, dan kulit sawo matang yang telah menepuk pundakku. Sosok lelaki itu adalah Naufal. Aku terheran melihat Naufal dari belakangku, bukan dari pintu depan rumah tempat aku berdiri. “ Ini rumah kosong, rumah aku disana.” kata Naufal sambil menunjukkan rumahnya. Aku ikut mengikuti arah tangan Naufal. Ternyata, rumah Naufal berada di seberang rumah ini. Lantas, aku melihat nomor rumah yang ditunjuk oleh Naufal. Nomor tiga puluh A. Aku kembali melihat catatanku. Memang benar nomor rumah Naufal itu tiga puluh A bukan tiga puluh. Aku kurang memperhatikan huruf A dibelakang nomor tiga puluh. Tanpa berlama-lama Naufal mengajakku ke rumahnya. Kami pun berjalan sambil bercengkrama menuju rumah bernomor tiga puluh A.

(Tulisan ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Penulisan Populer)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 19, 2012 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: