Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Stasiun Universitas Indonesia

Setiap pagi, saya menaiki kereta ekonomi menuju stasiun Universitas Indonesia. Harga yang sangat terjangkau inilah yang menjadi landasan utama saya menaiki kereta ekonomi tersebut. Pagi itu, seperti biasa saya hendak turun di stasiun Universitas Indonesia. Bersama dengan penumpang lainnya, saya melangkahkan kaki saya ke area stasiun Universitas Indonesia. Saya tidak tahu persis berapa panjang ukuran stasiun ini. Namun, panjang stasiun ini serupa dengan panjang rangkaian kereta pada umumnya. Stasiun ini memiliki dua sisi, yaitu sisi kanan dan kiri. Kedua sisi tersebut memiliki peranan masing-masing. Pada sisi kanan, hanya ada tempat duduk besi berwarna kuning berjajar sepanjang sisi. Pada sisi ini juga terlihat pagar berwarna cerah serupa dengan tempat duduk memisahkan area stasiun dengan area kampus.

Berbeda dengan sisi kanan, pada sisi kiri berbaris memanjang lapak para pencari rezeki mencari sesuap nasi. Pada deretan tersebut terlihat pintu-pintu besi yang belum dibuka oleh sang pemilik. Hanya ada rental komputer yang menyediakan jasa print dan fotokopi. Di depan sepanjang bangunan toko  berbaris pula tempat duduk yang berhadapan dengan tempat duduk di sisi kanan. Tempat duduk tersebut telah banyak dihuni oleh para pegawai kantoran yang hendak menunggu kereta menuju Jakarta. Meskipun demikian, tak sedikit pula orang berpakaian biasa merajai besi berwarna kuning tersebut. Ekspresi para penguasa tempat duduk terlihat tegang dan gelisah. Banyak yang sibuk melihat jam tangan yang dimilikinya sambil melihat ke arah selatan menantikan kereta datang.

Belum terlihat oleh saya, para peminta dan seniman jalanan yang biasanya menyebar di area stasiun ini. Jalan di sepanjang sisi kanan maupun kiri masih terlihat bersih. Belum ada sampah yang berserakan. Tempat sampah yang terlihat juga masih belum penuh dengan isinya. Suara dengan nada yang stabil penanda kereta datang berbunyi kencang. Suara pengumuman dari orang yang bekerja di stasiun juga menambah kebisingan di stasiun para mahasiswa Universitas Indonesia. Diantara banyaknya orang yang turun dari kereta hendak keluar stasiun, saya berjalan pelan sesuai arus kepadatan sambil membawa kertas kecil untuk diserahkan kepada petugas. Setelah kertas tersebut diserahkan kepada petugas, terlihat oleh saya loket pembayaran tiket kereta.

Pada loket tersebut tampak kaca besar dan tinggi sebagai penghalang antara penumpang dengan petugas loket. Di bagian bawah kaca terdapat lubang kecil sebagai penghubung penumpang dan petugas loket. Di bagian atas, terlihat jam besar yang menghiasi stasiun pada umumnya. Ketika melihat jam tersebut, bola mata saya membesar. Seketika jantung saya berdetak kencang. Jarum pendek menunjukkan angka sembilan dan jarum panjang pada jam tersebut menunjukkan angka dua belas. Hal tersebut menandakan saya terlambat mengikuti kelas yang dimulai pukul delapan. Tubuh saya langsung lemas tak berdaya. Pasalnya, saya telah tiga kali terlambat pada mata kuliah tersebut. Langsung terbesit dibenak saya untuk tidak menghadiri kelas tersebut walaupun seharusnya masih bisa dikejar.

Di depan loket tersebut terdapat tempat menjajakan makanan ringan dan tempat fotokopi. Saya menghentikan kaki di depan tempat fotokopi. Seorang wanita paruh baya tengah sibuk melayani permintaan para pelanggan yang semuanya adalah mahasiswa. Dengan wajah gembira, wanita tersebut melakukan pekerjaannya. Menerima buku yang hendak mahasiswa fotokopi dan meletakkannya di mesin plagiat tersebut adalah hal yang sedari tadi dilakukannya. Dia sudah berpengalaman dengan hal ini sehingga urutan mahasiswa yang mengantri pun tak luput dari pandangannya. Ukuran toko yang disewanya tidak besar. Setidaknya cukup untuk menaruh mesin fotokopi dan dirinya duduk rehat jika tidak ada pelanggan. Bagian dalam dan luar toko hanya dibatasi etalase kecil. Di atas etalase kecil itu tempat transaksi antara wanita tersebut dengan para pelanggan. Setelah saya menerima uang kembalian dari wanita paruh baya tersebut, saya berjalan menuju kampus.

Pukul empat sore, saya kembali melihat jam besar yang tertancap di atas loket pembayaran stasiun. Sambil menunggu antrian, saya melihat ke dinding sebelah kiri pada loket. Terpampang jelas semua jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta dari arah selatan maupun utara. Saya mengerutkan alis sambil mencari jadwal kedatangan kereta ekonomi dari arah selatan menuju utara. Tertera pukul lima kereta yang saya maksud akan datang di stasiun ini. Setelah mendapatkan tiket, saya bergegas berjalan menuju sisi stasiun yang banyak terdapat para penjual. Toko yang mempunyai pintu besi yang tadi pagi masih terkunci telah terbuka. Sambil berjalan mencari bangku untuk duduk, saya melewati penjual makanan ringan, rental komputer, dan penjual baju serta barang-barang yang melambangkan kampus dekat stasiun ini. Keberuntungan tidak berada di pihak saya, semua bangku telah penuh diisi oleh pelanggan jasa kereta. Tas saya bawa berhadapan dengan perut sambil berdiri menunggu kereta ekonomi.

Angin bertiup kencang menerjang semua orang yang sedang berada di stasiun ini. Sepertinya sebentar lagi langit akan menangis. Seorang pengumpul barang bekas terlihat berjalan lemas sambil menarik kain layaknya tempat beras. Dia mengaduk-aduk sampah dan memungut botol plastik yang berada di bawah kursi besi untuk dijual kembali. Para penumpang yang hendak menaiki kereta sepertinya sudah terbiasa dengan tidak memedulikan pemulung tersebut. Di seberang tempat saya berdiri, terlihat pula sekumpulan penyanyi amatir dengan penampilan seadanya berlatih membawakan sebuah lagu populer. Dua orang dari sekumpulan tersebut menyanyi dengan suara serak dan dua orang sisanya memainkan gitar yang dibawanya. Suara sekumpulan anak jalanan tersebut berlomba adu kencang dengan suara petugas kereta yang membawakan pengumuman kereta akan datang. Bunyi bel kereta dari arah selatan membuat semua orang yang berada di sisi kanan maupun kiri stasiun menengok ke arah selatan pula. Kereta tersebut adalah kereta yang saya tunggu. Dengan cepat saya menaiki kereta tersebut sambil berdesakkan dengan penumpang lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 2, 2012 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: