Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Aku Diculik oleh Takdir

Aku berjalan menuju kantin sementara setelah mengikuti perkuliahan. Maklum, Kansas, sebutan akrab kantin di kampusku, sedang dalam renovasi. Seperti biasa, setelah melewati gedung IX, aku melewati pula gedung VIII. Pada saat berjalan, aku melirik ke arah gedung tersebut. Banyak mahasiswa yang sedang duduk bercengkrama di sepanjang selasar gedung yang belum pernah aku masuki tersebut. Memang sudah menjadi hal yang wajar sepanjang selasar itu dipenuhi oleh mahasiswa dengan jurusan yang sama. Tempat tersebut adalah tempat berkumpulnya mahasiswa dari Jurusan Ilmu Perpustakaan atau yang biasa disebut JIP. Aku menarik napas panjang dan mengubah oksigen yang berasal dari pohon menjadi karbondioksida secara perlahan. Entah mengapa sore itu aku serasa menjadi mahkluk yang harus bersyukur kepada Tuhan.

Kenangan perjalanan hidup memasuki dunia perkuliahan secara cepat menjalar dalam otak. Rekaman amatir yang tersimpan dalam otak mulai memutarkan kisah yang cukup mengherankan. Rekaman tersebut dimulai pada saat kelas XII SMA, wali kelas mengumumkan daftar siswa yang berhak mendapat kesempatan mengadu nasib di Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri  (SNMPTN) Undangan. SNMPTN undangan adalah seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes tertulis dan melihat kemampuan siswa dari nilai rapor. Aku termasuk dalam 30 daftar nama yang berhak mengikuti SNMPTN Undangan di kelasku. Untungnya, sekolah aku menyandang predikat sekolah internasional, maka 30 siswa di setiap kelas berhak mendapatkan kesempatan emas tersebut.

Tidak ada rasa yang istimewa mendapatkan kesempatan tersebut. Bagaimana tidak, hampir seluruh kelas mendapatkan SNMPTN Undangan. Aku sudah memantapkan pilihan jurusan sebelum masa pengisian SNMPTN Undangan ditutup. Aku memilih jurusan Ilmu Perpustakaan, Sastra Indonesia, dan Antropologi UI. Mungkin ini adalah pilihan yang jarang dilakukan oleh teman-teman sekolahku. Banyak alasan mengapa aku memilih jurusan-jurusan tersebut. Lulusan  Ilmu Perpustakaan, menurut informasi dari saudaraku yang juga seorang alumni jurusan tersebut, tidak hanya bekerja di perpustakaan. Akan tetapi, banyak yang bekerja di gedung-gedung pencakar langit pada bagian arsip dan sekarang ini sedang dicari sehingga tidak perlu khawatir tidak mendapat pekerjaan. Selain itu, peluang masuk ke jurusan tersebut besar sehingga kalau aku memilih jurusan tersebut, aku akan masuk, pikirku. Untuk jurusan lainnya, aku hanya memilih secara acak karena aku sudah yakin akan masuk jurusan Ilmu Perpustakaan.

“Iko, setelah mama pikir sebaiknya pilihan pertama kamu diganti saja. Bagaimana kalau pilih Ilmu Hukum di pilihan pertamanya. Siapa tahu masuk. Di keluarga kita belum ada belum ada yang menggeluti bidang hukum. Tidak ada salahnya mencoba. Kalau tidak masuk Ilmu Hukum masih ada Ilmu Perpustakaan di pilihan kedua. Mama yakin kalau jurusan itu kamu pasti masuk. Ya, sepahit-pahitnya masuk jurusan Sastra Indonesia di pilihan ketiga.” sahut Mama saat aku sedang mendaftarkan jurusan yang akan aku pilih di SNMPTN Undangan secara online. Tanpa berkomentar, aku menuruti perkataan Mama. Aku meyakini bahwa jika doa restu Mama sudah di genggam, maka akan dimudahkan oleh Tuhan dalam melaksanakan apapun itu.

Pengumuman SNMPTN Undangan sudah bisa diakses pukul lima, kata seorang teman sekolah di sebuah jejaring sosial. Layaknya kobaran api yang menjalar cepat ke rumah padat penduduk, aku langsung menyalakan komputer untuk mengetahui pengumuman perguruan tinggi tersebut. Seketika itu pula, aku seperti sedang jatuh dari Menara Tokyo mengikuti gravitasi menuju tanah kosong. Tak terbayangkan, aku tidak lulus seleksi. Padahal, aku sudah memilih jurusan yang tidak tinggi passing grade-nya pada pilihan kedua dan ketiga. Belakangan, aku menyimpulkan bahwa UI hanya memperhitungkan pilihan pertama. Hal tersebut terlihat dari ada teman sekolahku yang masuk UI karena dia memilih jurusan tersebut pilihan pertama walaupun peringkat di kelas tidak sepuluh besar. Ditambah lagi, tidak ada yang lulus seleksi di pilihan kedua.

Melihat keadaan seperti itu, pada saat SNMPTN tulis aku memilih jurusan Ilmu Perpustakaan di pilihan pertama dan Sastra Indonesia di pilihan kedua. Walaupun jiwa tergoncang akibat pengalaman yang tidak mengenakkan tersebut, tidak menghalangi aku untuk belajar dengan giat. Aku berdoa kepada Tuhan agar diberikan jalan menuju masa depan yang terbaik sesuai dengan kehendak-Nya. SNMPTN tulis akhirnya dapat aku selesaikan dengan lancar. Beberapa hari setelah tes, aku memasukkan jawaban yang telah diisi pada saat SNMPTN tulis di bimbingan belajar dekat rumah. Hasil dari jawabanku pada saat SNMPTN tulis, menurut bimbingan belajar tersebut, memuaskan. Prediksi dari bimbingan belajar tersebut aku akan lulus seleksi di pilihan pertama. Bimbingan belajar yang aku ikuti ini sudah berpengalaman mengantarkan siswa SMA menuju perguruan tinggi yang diinginkan sehingga memunculkan rasa percaya diri di dalam diriku.

“Mama, aku tidak ikut bimbingan belajar lagi selama sebulan ini untuk mempersiapkan SIMAK UI?” tanyaku penuh harap.

“Tidak perlu itu, Mama yakin kamu masuk di SNMPTN Tulis kok. Firasat Mama mengatakan demikian. Mudah-mudahan terwujud. Kalau sudah takdir walaupun tidak belajar juga pasti akan lulus seleksi,” jawab Mama tanpa memedulikan raut mukaku yang penuh harap.

Rasa kecewa tidak bisa belajar mempersiapkan diri mengikuti SIMAK UI di bimbingan belajar melanda batinku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan selama sebulan menunggu hasil pengumuman SNMPTN tulis. Aku sudah tidak belajar selama sebulan penuh walaupun aku sudah mendaftar SIMAK UI. Aku yakin kali ini perkataan Mama akan menjadi kenyataan. Ditambah dengan prediksi bimbingan belajar, aku sudah mantap memperkirakan diriku akan lulus seleksi. Sebulan penuh, aku berdoa kepada Tuhan agar aku tidak salah masuk jurusan dan menyesalinya di kemudian hari.

Mungkin, Tuhan mendengar doa yang telah aku ucapkan. Aku masuk jurusan Sastra Indonesia UI di SNMPTN tulis. Aku merasa senang bisa lulus seleksi jurusan Sastra Indonesia UI, tetapi pikiranku dipenuhi rasa penasaran. Bagaimana tidak, aku merasa sudah mengerjakan ujian SNMPTN tulis dengan maksimal. Ditambah lagi, prediksi dari bimbingan belajar mengatakan bahwa nilai yang aku peroleh saat SNMPTN tulis jauh melebihi passing grade dari jurusan Ilmu Perpustakaan. Passing grade jurusan Ilmu Perpustakaan dan Sastra Indonesia di bimbingan belajar yang aku ikuti menempatkan keduanya di nilai yang sama.

Rasa penasaran bertambah besar melayang di dalam benakku setelah memasuki perkuliahan di Sastra Indonesia. Hampir semua yang menanyakan pilihan pertama yang aku pilih tertawa dengan geli. Entah itu senior, teman seangkatan, atau teman SMA yang menanyakannya.

“Kok kamu aneh ya, Sastra Indonesia itu lebih tinggi peringkatnya dibandingkan Ilmu Perpustakaan. Tetapi kamu masuk Sastra Indonesia di pilihan kedua. Seharusnya, pilihan pertama saja kamu bisa masuk,” kata salah satu senior setelah tertawa geli.

“ Mungkin takdir, Kak, memang sudah jalannya ke sini,” jawabku sambil tertawa juga.

Setelah memperoleh informasi tersebut, bertambah mantap hipotesis yang telah aku pikirkan selama ini. Hipotesisnya adalah aku diculik oleh takdir menuju jurusan Sastra Indonesia yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku beranggapan bahwa sekeras apapun usaha manusia, kalau hal tersebut bukan takdir manusia tersebut, maka hal tersebut tidak akan tercapai. Begitu pula sebaliknya.

Aku beryukur sekali kepada Tuhan karena telah membawaku ke jurusan ini. Ternyata, jurusan Sastra Indonesia lebih luas dan menarik cakupan materi perkuliahan dan lingkup kerjanya. Bahkan, jauh lebih bagus dibandingkan Ilmu Perpustakaan, pikirku. Bukan bermaksud menghibur diri, tetapi memang begitu adanya. Tidak pernah terbayangkan olehku lulusan jurusan Sastra Indonesia bisa menjadi copywriter, jurnalis, dan segudang pekerjaan lainnya di perusahaan swasta maupun negeri. Peluang melanjutkan studi ke luar negeri juga cukup besar, terutama ke negeri Belanda.

Kemudian karakteristik mahasiswa jurusan ini lebih sesuai dengan pribadiku. Karakteristik tersebut tidak bisa aku jelaskan melalui rangkaian kata dalam kalimat ini. Hal tersebut terbanding terbalik dengan karakteristik mahasiswa Ilmu Perpustakaan. Entah mengapa aku tidak nyaman jika berada di antara sekumpulan tersebut.

Rekaman perjalanan panjang yang menyeret aku ke dalam jurusan yang sedang aku geluti sekarang telah mencapai batas akhir. Kenangan tersebut masih tersimpan dengan baik. Aku tidak pernah menyesali keputusan yang telah diberikan Tuhan. Aku justru bersyukur karena Tuhan telah memberikan jalan yang benar-benar terbaik untukku. Sungguh, kuasa Tuhan tidak ada yang tahu. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan apa yang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Tidak terasa, aku telah sampai di kantin sementara. Dengan suasana gaduh dan asap yang mengepul kencang, aku memasuki kantin sementara mencari sekumpulan mahasiswa Sastra Indonesia setelah mengikuti perkuliahan yang padat. Duduk diantara teman-teman yang mempunyai selera humor tinggi membawa diriku melepas penat dan kantuk selama berada di dalam kelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 15, 2012 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: