Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Hanya Tuhan yang Tahu

Aku tergolek lemas tak berdaya di atas tempat tidur yang hanya ada satu di dalam rumah ini. Keringat yang membasahi tubuh keluar deras dari sela pori-pori kulit. Kepala pusing juga memberatkan pikiran dan otak yang aku miliki. Tangan dan kaki terbujur kaku tak dapat diintruksikan oleh perintah otak. Aliran darah memperlambat arusnya seakan sudah lelah bekerja selama setengah abad ini. Udara pun seolah tidak mempunyai hasrat lagi untuk memasuki tubuh. Hanya mata yang masih kuat membuka kelopaknya. Mungkin ini yang pernah aku rasakan sebelumnya. Namun, kali ini aku dalam keadaan sadar.

Ketika itu aku beserta istri dan kedua anak jagoanku tengah melaju kencang diantara mesin penghasil udara kotor lainnya. Kami bermaksud akan mengunjungi saudara yang telah meraup hidup manis di ibukota. Tentu saja kedatangan kami mempunyai maksud yang hanya tiga pihak yang tahu: aku, istri, dan Tuhan. Tidak terprediksi, pandangan yang semula tajam langsung menjadi bayangan semu tak tentu arahnya. Dengan kekuatan spontan yang masih berfungsi, aku menghentikan laju kendaraan dan menepi di pinggir jalan.

“Papa kenapa?” tanya salah seorang jagoanku.

“Tidak apa-apa. Papa merasa mengantuk. Papa tidur dulu ya,” jawabku berbohong.

Memang, hal seperti ini telah sering aku lakukan saat mengemudi. Aku lebih memilih tidur jika mengantuk saat perjalanan. Namun, sekarang berbeda. Ada yang salah dengan tubuhku. Tanpa aku sadari mata sudah terpejamkan dan hanya ada warna hitam gelap pekat tanpa ada suara yang mengikuti.

Saat kembali membuka mata, aku melihat cahaya lampu yang menempel di dinding bagian atas ruangan. Bagian kanan terdapat kaca berbentuk persegi panjang berkolaborasi dengan tembok dan kayu disertai pegangan untuk memasuki ruangan ini. Arah sebaliknya, hanya ada kumpulan batu bata yang tersusun rapi dilapisi warna yang menarik sehingga tak terlihat susunan dibaliknya. Ini bukan kamar yang biasa aku tempati, pikirku. Tiba-tiba seseorang datang.

“Bapak Bambang sudah sadar? Syukurlah. Jangan terlalu banyak bergerak dulu ya, Pak. Jika keadaan Bapak terus membaik seperti sekarang, maka dua hari lagi Bapak akan segera dipindahkan ke kamar biasa,” kata seorang perempuan berpakaian serba putih membawa papan berjalan sambil tersenyum manis.

Telah satu bulan lamanya aku menghabiskan waktu di rumah sakit khusus jantung di kawasan Jakarta Barat. Aku telah menjalani pemasangan cincin untuk membuka jalan agar udara dapat masuk dan keluar ke dalam tubuh. Hal tersebut diketahui dari istriku.

“Papa terkena serangan jantung. Waktu itu ketika Papa tidur, Mama melihat badan Papa berkeringat begitu banyak. Napas tidak beraturan dan semakin lama semakin cepat. Bibir Papa pun semakin pucat. Mama mencoba membangunkan Papa, tetapi tidak ada reaksi apapun. Semua panik. Untungnya, Dimas langsung keluar dari mobil dan berlari menuju rumah sakit kecil yang ada di seberang jalan,” kata istriku dengan wajah penuh kekhawatiran.

Aku telah pulih dari sakit yang sebulan ini hinggap di tubuh. Namun, aku tidak ingin mengakui hal tersebut. Aku belum siap atau lebih tepatnya tidak berniat kembali mencari pekerjaan. Meskipun dapat dengan mudah jika menghubungi kakakku, tetapi aku masih punya harga diri.

Kakakku telah merebut semua yang seharusnya aku miliki hasil dari warisan keluarga. Aku sama sekali tidak mendapatkan warisan tersebut. Rumah yang seharusnya aku miliki di kampung bersertifikat atas nama kakakku. Entah apa maunya saudaraku itu. Padahal, dia sudah begitu kaya raya. Mungkin, dia juga sedikit iba kepadaku sehingga kunci rumah tersebut diberikan kepadaku dan aku boleh menempatinya.

Dengan mengandalkan uang sumbangan yang diberikan saudara dan kakakku, yang telah membuat aku pulih dari sakit, aku hidup dengan keluargaku. Memang, aku menumpang di rumah orang tua istriku, tetapi tidak seharusnya mertuaku selalu memberikan ceramah yang membuat amarah datang. Hal itu diperkeruh dengan kedatangan debt collector dan menelpon secara membabi buta ke rumah. Ya, itu semua salahku. Namun, mengapa tidak ada sedikit pun pengertian dari semua manusia di rumah ini. Hal tersebut juga aku lakukan demi kelangsungan hidup keluarga. Himpitan demi himpitan menyerbu bertubi-tubi dari segala penjuru, yaitu istri, anak, dan mertua.

Aku memang tidak pernah mempunyai riwayat awet dalam bekerja. Gelar sarjana teknik yang aku miliki tak membuat aku nyaman berada di lingkungan kerjanya. Bahkan, aku lebih memilih membuka usaha di kampung bersama istri dan anakku sebelum kembali ke Jakarta. Walaupun modalnya juga berasal dari kakakku. Entah sebenarnya bidang pekerjaan apa yang cocok denganku hingga semua yang aku lakukan tidak pernah berhasil. Aku lebih suka berdiam diri di rumah sambil melakukan hal yang aku inginkan. Tanpa adanya tekanan dari siapapun.

“Papa mau sampai kapan begini? Kita tidak bisa mengandalkan berhutang kepada saudara terus seperti ini. Ibuku juga tidak suka melihat Papa berada di rumah tidak melakukan apa-apa. Mama pun tidak enak hati dengan Ibu. Dimas sudah kuliah dan Chandra sebentar lagi juga akan kuliah. Butuh uang banyak, Pa,” tanya istriku sambil menitihkan air mata.

“Kamu ini pasti dipengaruhi sama Ibu kamu itu. Aku ini masih sakit. Masih butuh istirahat. Apa salahnya meminjam kepada saudara? Kan selama ini juga sudah sering kita lakukan,” jawabku tanpa beban.

“Banyak saudara juga mengidap sakit jantung, tetapi setelah dioperasi mereka masih aktif bekerja. Tidak seperti Papa yang butuh waktu lama sekali untuk pulih. Dasarnya memang Papa tidak suka bekerja. Mengapa Papa tidak pernah berubah,” gerutu istriku.

Semakin lama, semakin tidak menyenangkan suasana dalam keluargaku. Aku memutuskan untuk pergi dari rumah mertuaku. Meninggalkan istri dan kedua anakku. Aku pergi ke kampung halaman menempati rumah yang seharusnya menjadi milikku. Semua beban dan amarah hilang bersamaan dengan hilangnya pemandangan perkotaan dari hadapanku.

Hari demi hari aku lalui seorang diri di kampung halaman seperti seorang bujang. Tak ada yang harus dipikirkan. Meskipun ada setidaknya tidak berada bersama denganku sehingga tidak perlu terlalu dipusingkan.

Aku tahu hal yang telah aku lakukan adalah salah. Namun, aku juga tak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan kepada istri dan anakku. Bahkan, mereka tidak pernah memberikan kabar maupun gugatan yang sering dilayangkan kepadaku seperti yang dilakukan ketika aku masih disana. Tetangga di kampung dan saudara banyak mempertanyakan perihal keluargaku. Aku hanya bisa menjawab sepengetahuanku dengan sedikit karangan.

Dua tahun sudah aku meninggalkan kewajibanku. Aku tidak bekerja. Hanya dengan mengandalkan menjual barang yang ada di dalam rumah ini, aku hidup seorang diri. Barang di rumah ini adalah barang orang tuaku, maka sudah tentu pula ini adalah barang milikku. Untungnya, barang-barang yang sudah berumur panjang ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi sehingga aku masih bisa bertahan sampai sekarang.

Banyak sekali barang yang bisa dipergunakan untuk ditukar dengan lembaran kertas berwarna merah. Di bagian teras rumah terdapat seperangkat kursi dan meja yang terbuat dari kayu jati untuk duduk santai. Kemudian mulai memasuki rumah, pada bagian ruang tamu terdapat kursi empuk dan meja berukuran panjang. Memasuki rumah lebih dalam, pada bagian ruang tengah terdapat kayu berbentuk persegi panjang dilapisi warna coklat tua yang mewah untuk melihat televisi sambil berbaring lemas. Di ruang tengah ini dapat terlihat empat kamar yang tersebar pada sisi kanan maupun kiri ruangan. Masing-masing kamar memiliki tempat tidur, lemari pakaian dilengkapi kaca pada bagian kiri, dan meja kotak persegi. Semua barang tersebut terbuat dari kayu jati yang dilapisi oleh warna coklat tua yang mewah dan tahan lama.

Tak ketinggalan, meja makan yang berbentuk lingkaran juga berwarna coklat elegan pada bagian ruang tengah menjorok ke belakang mendekati dapur yang dikelilingi kursi kayu. Pada bagian dapur terdapat dua buah lemari. Dalam lemari terdapat peralatan makan dan memasak yang masih lengkap dan bagus.

Perlahan tetapi pasti, aku menjual semua barang yang ada di rumah ini. Hingga akhirnya tinggal tempat tidur dan lemari pakaian yang masih aku pertahankan. Barang tersebut juga yang masih ada di dalam kamar yang sedang aku tempati. Di kamar yang lain sudah tidak tersisa sama sekali. Semua telah berpindah tangan kecuali meja maupun kursi yang berada di teras. Meskipun berada di kampung, biaya yang diperlukan juga tidak sedikit. Mungkin karena aku tidak bekerja sehingga tidak ada pemasukan yang rutin mengalir.

Tiba-tiba di saat hendak beristirahat setelah terpaksa menjual lemari pakaian yang hanya ada satu, yaitu di kamarku, kepala terasa sangat berat. Ibarat mendapat pukulan lawan yang sangat keras dari berbagai sisi kepala, rasa sakitnya tak tertahankan. Dalam jasmani keluar cairan yang muncul dari atas hingga bawah bagian tubuh. Dada mengembang dan mengempis dengan sangat cepat. Semua organ tubuh tak dapat digerakkan kecuali mata.

Entah mengapa semua kejadian masa lalu muncul tepat di depan mukaku saat aku terbaring di tempat tidur. Film dengan aku sebagai pemeran utamanya diputar. Air mata tak dapat ditahan lagi. Aku menangis dengan rasa penyesalan mengiringi adegan demi adegan hidup yang telah aku lakukan. Aku merasa sangat bodoh telah melakukan hal yang seperti film sekarang diputar. Aku langsung teringat istri dan anakku. Rasa takut kemudian mencuat dengan skala yang besar. Aku tidak ingin melihat hal itu tetapi tidak bisa. Mungkin Tuhan sengaja memperlihatkan agar aku mengetahui hal yang telah aku lakukan selama hidup ini.

Adegan terakhir telah usai bersamaan dengan rasa sakit yang terasa amat sangat pada ujung kaki dan menjalar ke bagian atas. Kulit terasa dikelupas dan ditarik paksa dari tubuh. Seketika itu juga tak terasa lagi olehku organ tersebut. Dua bayangan hitam mendadak muncul, entah dari mana, mendekati aku. Semakin lama semakin mendekat hingga akhirnya aku tidak dapat melihat lagi. Aku tidak merasakan sakit lagi. Bahkan, aku tidak bernapas lagi.

Aku telah meninggalkan tubuhku di tempat tidur tersebut. Di rumah yang hanya ada aku manusia yang tinggal. Di sebuah kampung, jauh dari pusat keramaian. Jauh dari kehidupan yang normal. Jauh dari saudara atau kerabat dan terlebih lagi istri serta kedua anakku. Ya, mungkin hanya Tuhan yang tahu bahwa aku telah tiada.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 31, 2012 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: