Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Menunggu untuk Dicintai

Jarum waktu yang menempel di dinding menunjukkan pukul 06.30. Tak seperti biasa sinar fajar belum memancarkan cahayanya untuk memberikan semangat kepada manusia untuk memulai aktivitas. Rasa lemas dan kantuk masih bergelayut dalam raga. Bulu mata yang menempel di kelopak mata terasa memiliki beban tak lazim.

Aku gerakkan tubuhku dari atas tempat tidur yang sangat terpaksa harus ditinggalkan menuju kamar mandi. Air dalam bak mandi seakan telah didiamkan semalaman dalam lemari pendingin. Kulitku memucat putih serupa mayat kontras dengan warna kulit tubuhku selama ini. Dengan gairah dibawah normal, aku bersiap diri berangkat ke sekolah. Sebelum meninggalkan kamar, aku melihat kalung pemberian kekasih hati tergantung dekat meja belajar. Entah dorongan apa yang mendorongku mengambil kalung itu dan memakainya untuk yang pertama kali. Sejenak aku terdiam dan termenung mengingat kalung tersebut.

“Mas, ini aku bawakan oleh-oleh dari karya wisata kemarin. Terima, ya,” ujar seseorang dengan senyum yang merekah menghiasi bibirnya menghantarkan kata manis tersebut. Aku hanya bisa menggarukkan kepala melihat buah tangan yang dibawakannya kepadaku. “Apa itu?” tanyaku bingung. “Ini kalung, Mas. Lihatlah ini terbuat dari perak dengan tulisan nama depan kita berdua,” jawab gadis yang juga adik tingkatku.

Sungguh tak terduga, seorang gadis yang pintar dan feminim itu memberikan kekasihnya kalung. Padahal, gadis tersebut tahu bahwa aku tak suka memakai kalung ataupun aksesoris lainnya. Aku pun tak tega wajah manis tersebut berubah menjadi muram jika aku tak menerima pemberiannya. Oleh karena itu, aku menerima kalung tersebut. “Jangan lupa dipakai ya, Mas. Aku pakai kalung berinisial I dan mas pakai kalung berinisial T, “ pintanya dengan suara lembut menyentuh hati.

Meskipun kalung tersebut tidak akan aku pakai tetapi kalung itu adalah barang yang berharga. Di rumah, kalung tersebut aku gantung di dekat meja belajar. Namun, melihat kalung tersebut aku masih tidak habis pikir. Sebenarnya, apa yang menjadi landasan berpikir perempuan tersebut memberikan kalung jika yang diberikan tidak suka. Sela jeda waktu yang berjauhan dari hari pemberian, aku pun menanyakan hal tersebut secara berhati-hati. Pasalnya, aku tidak ingin pertanyaan tersebut malah menjadi boomerang dalam hubungan yang baru terjalin selama dua bulan ini.

“Aku ingin kamu selalu ada di hati aku, Mas. Inisial nama kamu akan terus berdekatan dengan hati aku. Begitu pula dengan kamu, Mas,” jawab Tiffany meluluhkan hatiku. Meskipun sang pujaan hati meminta aku memakai kalung tersebut, tetapi tetap saja aku tidak ingin memakainya. Bukan karena aku tidak sayang kepadanya. Bukan juga karena aku malu memakainya. Aku hanya merasa tidak nyaman memakai kalung tersebut.

Waktu semakin cepat bergerak menandakan aku harus cepat mengambil kendaraan ramah lingkungan yang terparkir di garasi. Aku kayuh pedal sepeda dengan begitu cepatnya melawan angin yang menerjangku. Langit sepertinya sedang sedih tak ceria seperti biasanya. Entah mengapa hatiku ikut merasakan kesedihan langit. Bahkan, kabut ikut serta menambah suasana duka yang dirasakan langit menutupi pandangan mata.

Pada saat di sekolah, deretan sepeda telah berjajar rapi memanjang. Aku menempatkan sepeda di bagian belakang. Di muka kelas, teman-temanku telah berdiri di tempat duduk masing-masing untuk berdoa dan memberi salam kepada guru. Setelah rutinitas tersebut selesai dilakukan, aku mengetuk pintu melangkahkan kaki menuju meja guru.

Untungnya, pagi ini guru yang mengajar adalah wali kelas sehingga tanpa berkomentar beliau langsung memersilahkan aku duduk. Pelajaran dimulai menggunakan penerangan lampu kelas yang jarang terpakai.  Aneh, perasaan sedih masih mengikuti hingga di sekolah. Aku masih mempertanyakan kesedihan yang melanda hatiku secara mendadak ini. Bahkan, ilmu yang sangat berguna untuk ujian negara yang sudah  mendekati waktunya terlewat begitu saja.

Tiba-tiba, aku teringat oleh seseorang yang telah lama tak kujumpai. Gadis tersebut telah lama menghilang bersama deretan lomba yang diikutinya. Aku hanya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Maklum, aku mempunyai pemikiran positivisme. Namun, hal yang agak ganjil adalah semenjak menghilangnya kabar dari Tiffany, begitu banyak pesan singkat yang tidak jelas.

Banyak pesan singkat mengatasnamakan pengagum rahasia yang mencoba mengganggu iman. Aku tidak menyadari keganjilan tersebut hingga pesan singkat ke-10 yang mengatasnamakan pengagum rahasia mencoba memengaruhiku agar aku putuskan hubungan dengan Tiffany. Memang, satu bulan tanpa komunikasi merupakan hal ganjil, tetapi hal tersebut mempunyai alasan, pikirku.

Semakin lama semakin tak karuan hati ini. Firasat buruk sepertinya akan terjadi, tetapi entah apa itu. Bel istirahat siang berbunyi, anak-anak berhamburan keluar meninggalkan guru yang masih sibuk memasukkan barang miliknya. Sementara itu, aku masih duduk terdiam dalam lamunan yang hampa. Aku tak menyadari bahwa aku seorang diri dalam kelas.

“Heh, bangun… bangun… Kamu tidak makan di kantin? Bel istirahat sebentar lagi usai. Muka kamu sedari tadi aku perhatikan pucat. Makan sana ke kantin,” tegur Kevin teman sebangku. Aku masih dalam pengumpulan kesadaran. Pantat serasa lengket dengan bangku berwarna biru ini. “Enggak, ah. Aku malas,” jawabku lirih.

Jam pelajaran kembali dimulai. Aku masih tidak bersemangat. Bahkan, semakin kacau pikiran yang tak tahu sebab ini. Tak terduga, Dina salah seorang teman yang duduk di depanku memberitahukan bahwa dirinya bertemu dengan Tiffany. Kemudian Ia menyampaikan bahwa Tiffany ingin bertemu denganku setelah pulang sekolah. Sedikit demi sedikit semangat kembali. Aku tak sabar menunggu bel jam pulang sekolah berbunyi.

“Sebaiknya kita putus saja, Mas,” salah satu kata yang terucap bagai pisau yang membelah hatiku. Aku tak sanggup berkata apapun. Salah seorang pria mendampingi gadis yang telah bermetamorfosis tersebut. Tentu saja rasa kecewa tak terhindarkan. Awalnya, gadis tersebut bagaikan malaikat turun ke bumi, tetapi sekarang gadis tersebut berubah menjadi gadis bertanduk merah. Jantung seakan berhenti berdetak. Lebih mengguncang jiwa daripada naik wahana halilintar yang ada di Dunia Fantasi.

Seketika itu juga, kalung yang terpasang di leher aku lepas secara paksa dan aku buang di depan muka makhluk Tuhan yang paling jahat sedunia tersebut. Rasa yang selama ini dirasakan seakan mati. Atau lebih tepatnya hilang bersama deburan pasir yang disapu angin. Aku tidak lagi merasakan hal-hal yang dulu aku rasa.

****

Mata terbuka lebar dengan sendirinya mengakhiri mimpi yang samar teringat. Keringat membasahi tubuh hingga menembus tempat tidur. Dada mengembang dan mengempis berirama cepat bagaikan lari jarak jauh. Kepala pening dari berbagai arah, depan maupun belakang. Hembusan napas secara perlahan memperlambat lajunya.

Bola mataku melirik ke arah jam dinding yang terpasang di dalam kamar. Waktu menunjukkan pukul 06.30. Dengan segenap jiwa dan raga, tenaga dikumpulkan untuk menggerakkan tubuh yang lemas tak berdaya. Bagaimanapun juga  aku harus lekas bersiap diri berangkat menimba ilmu.

Di tengah prosesi berbenah diri, mataku tak sengaja tertuju pada kalung yang menggantung di dekat meja belajar. Di saat yang sama, kepala terasa pusing sekali hendak mengingat sesuatu tetapi tidak bisa. Ingatan dalam pikiran masih belum seratus persen pulih. Pikiranku masih tidak bisa dipakai untuk memutar memori kehidupan yang telah tersimpan rapi dalam otak. Rasa penasaran yang tak diimbangi oleh kekuatan otak memaksa aku mengambil kalung tersebut. Kemudian menanyakannya kepada temanku yang memberikan benda ini sewaktu aku masih berada di rumah sakit.

Bergegaslah aku menuju sekolah menembus kabut yang masih belum beranjak dari dataran ini. “Kalung tersebut merupakan benda yang ada di genggamanmu ketika kamu jatuh dulu,” kata Dina menjelaskan. Aku masih tak tahu sebab apa yang membuat aku menggenggam kalung ini. Apakah kalung ini ada hubungannya dengan gadis dalam mimpi, pikirku. Otak ini terus mempertanyakan teka-teki yang masih menjadi misteri dalam hidupku. Namun, paras gadis tersebut juga tak begitu jelas dalam mimpi setelah aku sadar.

Sepulang sekolah, Kevin mengajakku ke alun-alun kota untuk menemaninya membeli mainan anak-anak. Ketika Kevin sedang memilah mainan yang pantas untuk saudaranya tersebut, aku melihat ke sekeliling alun-alun. Pandanganku teralihkan oleh pancuran air yang berada di tengah taman. Kaki melangkah secara spontan tanpa diperintahkan otak. Di depan pancuran pikiranku seakan terbuka. Aku sepertinya ingat bahwa aku ingin mengunjungi tempat ini.

“Heh, kamu ini kok malah ke sini. Mentang-mentang pancuran air ini merupakan tempat kesukaanmu, aku ditinggalkan begitu saja,” suara melengking memecahkan lamunan sambil menepuk bahu kiriku.

“Hah, tempat kesukaanku?” tanyaku dengan nada keheranan. Kevin akhirnya menjelaskan kebiasaanku sewaktu belum mengalami insiden tidak menyenangkan. Penjelasan Kevin semakin membuka sedikit demi sedikit kode rahasia yang harus aku pecahkan.

Entah apa aku yakin dengan firasat ini. Namun, hati ini mengatakan bahwa aku harus menemui seseorang di pancuran air ini. Meskipun dihinggapi rasa khawatir, tetapi aku mantapkan untuk duduk di sekitar pancuran air. Hal tersebut dilakukan agar misteri yang menghinggapiku cepat terungkap. Oleh karena itu, senja demi senja aku habiskan di alun-alun kota. Aku hanya duduk melihat sekitar.

Tiga minggu telah terlewati semenjak aku memulai duduk di pancuran air ini. Tidak ada tanda-tanda tebakan kehidupan akan terjawab. Namun, hatiku semakin yakin bahwa ada seseorang yang sedang aku tunggu. Ya, gadis dalam mimpi. Entah hanya sebatas mimpi, entah memang kenyataan dari ingatan yang sempat hilang. Meskipun aku tidak ingat cerita dalam mimpiku waktu itu, tetapi aku yakin gadis terssebut adalah manusia istimewa dalam hidupku.

Di suatu senja, aku kembali duduk melihat sekeliling alun-alun. Aku membuka tas dan mengambil kalung yang biasanya aku pakai tersebut. Aku perhatikan kalung yang sedang ada di tangan. Tetap saja tidak bisa. Ingatan tidak datang kembali dengan cepat.  Hanya ada keyakinan yang semakin mantap bahwa kalung ini adalah kalung miliknya. Dan aku sedang menunggu cinta gadis misterius.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 20, 2012 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: