Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Pendidikan Kekerasan di Indonesia

Sekarang ini pemberitaan di media tengah ramai membicarakan masalah kekerasan pelajar yang marak terjadi. Anehnya, kekerasan pelajar tersebut terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA) terkenal di Jakarta. Memang ironis, suatu instansi pendidikan yang menjadi tujuan para pelajar melanjutkan pendidikan menengah atas tersebut menjadi sebuah tempat berkumpulnya para preman kecil. Bahkan, kegiatan kekerasan tersebut telah menjadi sebuah tradisi yang melekat dan terjadi dari tahun ke tahun.

Sebenarnya, kekerasan telah ada dari zaman penjajahan Belanda. Para penjajah melakukan eksploitasi manusia dengan menerapkan sistem tanam paksa. Kegiatan tersebut sangat efektif dalam meningkatkan hasil pendapatan pemerintahan Belanda. Bangsa Kincir Angin tersebut mampu membangun negaranya menjadi negara maju. Namun, keberhasilan tanam paksa tersebut tidak terlepas dari kekerasan yang dilakukan.

Kekerasan yang dilakukan orang bangsa kulit putih tersebut memberikan pengaruh terhadap mental bangsa Indonesia saat ini. Pasalnya, selama tiga setengah abad bangsa Indonesia telah dijajah dan ditindas. Hal ini membuat kekerasan bukan lagi menjadi perbuatan asing untuk dilakukan. Lebih buruk lagi, pada saat penjajahan Belanda, orang pribumi yang memiliki kekuasaan tidak mampu menghentikan praktik kekerasan kepada bangsanya sendiri. Bahkan, orang pribumi yang menduduki jabatan tertentu tersebut melakukan kekerasan kepada bangsanya sendiri agar kekuasaan yang dimilikinya dapat bertahan.

Dalam dunia pendidikan, bangsa Indonesia tidak terlepas dari warisan bangsa penjajah tersebut. Meskipun bangsa Indonesia sudah berdiri sendiri sebagai sebuah negara merdeka, tetapi kekerasan dengan modus lain masih saja terjadi. Saat bangsa Indonesia telah bebas memperoleh dunia pendidikan, tetapi dalam pelaksanaannya kekerasan masih menunjukkan eksistensinya di tanah air tercinta ini.

Hal buruk tersebut menjalar memasuki tubuh para pahlawan tanpa tanda jasa. Misalnya, pada saat proses pengajaran, siswa hanya duduk menaati perintah gurunya. Saat guru tersebut memberikan pertanyaan, siswa tersebut harus bisa menjawab sesuai kehendak sang guru. Jika siswa tersebut tidak bisa menjawab, maka guru tersebut akan memukul tangan siswa tersebut dengan penggaris yang diperuntukkan untuk papan tulis. Budaya tersebut secara tidak sadar merupakan budaya kekerasan yang telah diwarisi oleh bangsa penjajah. Meskipun tujuan dari penerapan tindakan tersebut bagus, tetapi tetap saja hal tersebut merupakan tindakan kekerasan dalam dunia pendidikan.

Kasus kekerasan lain yang sering terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia adalah melempar penggaris atau penghapus kepada siswa yang berisik, membentak dengan kata kurang terpuji, dan lain sebagainya.  Keadaan tersebut membuat siswa menjadi mengerti kosakata tercela dan secara tidak langsung mengajarkan pendidikan kekerasan di sekolah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kekerasan telah menjadi tradisi sebuah sekolah.

Dengan adanya kekerasan terselubung tersebut membuat siswa ingin melakukan tindakan sejenis. Hal tersebut diimbangi dengan maraknya tontonan kekerasan yang bisa dilihat oleh siapa saja, termasuk para pelajar. Faktor-faktor lain tersebut membuat kekerasan sudah akrab di tengah masyarakat Indonesia saat ini.

Buntut panjang dari peristiwa sejarah tersebut membuat para pelajar dengan tingkat emosi yang belum stabil mengandalkan kekerasan untuk menyelesaikan suatu pertikaian. Alhasil, sebuah tindakan kecil yang melibatkan dua sekolah yang berdekatan menghasilkan sebuah kegiatan kekerasan. Misalnya, antara SMA Negeri 6 dan SMA Negeri 70 Jakarta.

Pemerintah seharusnya menyadari bahwa budaya kekerasan dalam dunia pendidikan harus segera ditumpas. Pelajaran yang sekarang menjadi fokus dalam dunia pendidikan adalah pelajaran sains. Padahal, ada pelajaran yang seharusnya diajarkan kepada pelajar Indonesia. Pelajaran tersebut adalah pelajaran budi pekerti dan tata krama. Pelajaran budi pekerti dan tata krama merupakan pelajaran yang tidak pernah dipikirkan dalam dunia pendidikan. Pelajaran ini penting diajarkan dalam dunia pendidikan sejak dini agar membangun mentalitas pelajar Indonesia.

Selain itu, seharusnya pemerintah tidak mendirikan sekolah dengan tingkatan yang sama di satu kawasan. Hal ini dapat mengurangi risiko pertemuan dua sekolah yang sebenarnya tidak berkepentingan. Tindakan kekerasan antarsekolah banyak terjadi di sekolah yang letaknya berdekatan. Jika hal tersebut sudah telanjur terjadi, maka ada baiknya pemerintah meleburkan dua sekolah tersebut menjadi satu sekolah. Hal ini merupakan hal yang efektif, mengingat telah banyak upaya yang dilakukan guna mengurangi kontak fisik dua sekolah, tetapi kekerasan masih saja terjadi.

Peran keluarga dan lingkungan rumah juga memengaruhi pembentukan mentalitas anak. Sebaiknya, orang tua lebih berperan aktif melihat perkembangan anaknya. Orang tua dapat memposisikan dirinya sebagai teman berbagi yang menyenangkan dan tidak kaku. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat mencurahkan segala hal yang ada dibenaknya sehingga orang tua dapat memberikan nasihat yang membangun dan menuntun anak ke arah yang benar. Terkadang, komunikasi yang kurang harmonis juga menjadi salah satu faktor anak melakukan kekerasan di sekolah.

Segala macam upaya yang dilakukan akan menjadi tindakan sia-sia apabila mentalitas pelajar Indonesia tidak dibangun dengan terarah. Pembentukan mental ini sangat penting bagi pelajar Indonesia. Terlebih lagi, bila dalam unit masyarakat terkecil, yaitu keluarga telah mengarahkan anak pada nilai budi pekerti dan tata krama. Hal tersebut akan menciptakan generasi bangsa yang berkualitas. Bahkan, kepribadian bangsa ini akan berubah menjadi lebih baik lagi jika generasi penerusnya mempunyai mental yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 30, 2012 by in Artikel.
%d bloggers like this: