Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Beberapa Kritik Sosial dalam Naskah Drama Roro Jongrang Karya Remy Sylado

  1.              Pendahuluan

Naskah drama Roro Jongrang adalah naskah drama yang dibuat khusus untuk Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua. Naskah drama karya Remy Sylado ini merupakan naskah sandiwara nyanyi yang telah dipentaskan pada tanggal 7-8 Juli 2012 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Pementasan naskah drama ini terselenggara atas kerja sama Teater Tanah Air dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan Republik Indonesia dan Pusat Kesenian Jakarta.

Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan beberapa unsur kritik sosial naskah drama Roro Jongrang karya Remy Sylado. Hal ini disebabkan pembeda naskah drama yang berjudul Roro Jongrang ini adalah adanya kritik sosial yang disisipkan dalam naskah. Dilihat dari alur cerita, naskah drama ini hampir menyerupai cerita aslinya, tetapi terdapat beberapa perbedaan. Misalnya, Roro Jongrang dapat berbicara dengan ayam. Penulis akan melihat keterkaitan kritik sosial dengan kondisi atau situasi masyarakat pada saat naskah drama ini dibuat. Sebelum melihat unsur kritik sosial yang terdapat dalam naskah drama Roro Jongrang, penulis akan terlebih dahulu memaparkan arti dari kritik sosial tersebut.

II.                Kritik Sosial

Adinegoro (1985: 10) lewat bukunya yang berjudul Tata Kritik mengungkapkan bahwa kritik adalah salah satu ciri dan sifat penting dari peristiwa otak manusia sehingga kritik dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan pikiran. Kritik tidak dimaksudkan untuk meruntuhkan sesuatu melainkan untuk memperbaiki hal yang dianggap tidak sesuai dan akhirnya untuk mendapatkan kemajuan.

Alwi (2006: 1085) mengungkapkan kata sosial menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berkenaan dengan masyarakat dan suka memerhatikan kepentingan umum. Dari definisi kritik dan sosial tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud kritik sosial adalah tanggapan terhadap karya sastra yang berhubungan dengan masyarakat atau kepentingan umum yang disertai uraian-uraian dan perbandingan tentang baik buruknya karya sastra tersebut.

Adanya pengaruh lingkungan masyarakat terhadap hasil karya seorang pengarang akan memunculkan kritik sosial terhadap ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat. Sastra yang mengandung kritik akan lahir di masyarakat jika terjadi hal-hal yang kurang wajar dalam kehidupan sosial masyarakat.

III.             Analisis Unsur Kritik Sosial

“Tema dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya sastra” (Nurgiyantoro, 2000:70). Gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang untuk mengembangkan sebuah cerita. Berdasarkan teori tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa tema dalam naskah drama Roro Jongrang adalah kritik sosial mengenai masyarakat perkotaan, khususnya Jakarta. Penulis memilih tema tersebut karena di dalam naskah drama ini memperlihatkan beberapa keburukan yang dilakukan masyarakat perkotaan. Kritik sosial tersebut disampaikan melalui dialog pemain.

Masyarakat perkotaan memiliki kecenderungan untuk menghabiskan waktu bersama kerabat di tempat umum, seperti kafe atau warung kopi. Namun, pada tahun 2012 masyarakat perkotaan kedatangan mini market bergaya kafe.

“Ah, sudah, sudah, di dalam tasku ini ada makanan untuk kalian: roti seven eleven dari Malaysia. (MENGAMBIL ROTI) Nah, bersenang-senanglah kalian. Ayo, kluruk!” (hlm.6)

Dari kutipan tersebut dapat terlihat bahwa pengarang naskah drama ingin menyinggung mengenai Seven Eleven. Seven Eleven adalah mini market dengan konsep kafe sehingga pembeli dapat duduk santai sambil menikmati makanan dan minuman yang telah dibeli. Namun, kehadiran Seven Eleven juga membawa dampak kepada masyarakat perkotaan. Dampak tersebut adalah masyarakat menjadi memiliki budaya “nongkrong” hingga larut malam. Tentu saja hal tersebut kurang baik terhadap pola hidup masyarakat perkotaan. Terlebih, kebanyakan pengunjung Seven Eleven adalah anak-anak.

Selain itu, kritik sosial juga terdapat dalam lagu yang dibawakan oleh pemain drama ini. Hal tersebut terlihat pada saat ayam-ayam bernyanyi. Ayam-ayam tersebut menyanyi karena telah mendapatkan makanan.

“Mangan ora mangan, kumpul

Mangan ora mangan, kumpul

Nek wis kumpul ojo tarung

Koyo adate menungso” (hlm.7)

Dari kutipan lagu yang dibawakan ayam-ayam terlihat bahwa pengarang menyinggung perilaku masyarakat perkotaan yang suka tawuran atau berkelahi. Melalui drama ini, pengarang ingin memperlihatkan bahwa binatang, seperti ayam saja tidak ingin berkelahi, tetapi manusia malah sering melakukan perkelahian. Bahkan, perkelahian sudah diibaratkan pengarang bahwa perkelahian adalah adat manusia.

Masalah yang diangkat tidak hanya sebatas hal yang telah diutarakan di atas. Dalam naskah drama ini, terdapat pula kritik mengenai perilaku perempuan di perkotaan atau pada zaman sekarang.

“Itu tidak masalah, Ratu. Laki-laki yang jelek pun, asal kaya, kuat, punya kuasa, pasti digandrungi oleh perempuan cantik…” (hlm.13)

Kutipan ini menjelaskan dialog Raja Penging yang meminta Ratu Ageng untuk mempertemukan dirinya dengan Roro Jongrang. Raja Penging mempunyai rupa yang buruk, tetapi hal tersebut tidak membuat Raja Penging mengurungkan niatnya.

Kritik yang ingin disampaikan pengarang adalah orientasi perempuan di perkotaan atau pada zaman sekarang sudah berubah dalam pencarian pasangan hidup. Orientasi perempuan terpusat pada harta benda. Meskipun pasangannya tidak rupawan, tetapi persyaratan memiliki harta benda berlebih harus terpenuhi. Hal tersebut didorong oleh kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Oleh karena itu, perempuan di perkotaan atau pada zaman sekarang lebih memilih pasangan yang memiliki harta berlebih walaupun tidak tampan agar dirinya bisa bertahan hidup.

Naskah drama ini cukup memberikan kritik yang menyeluruh menyinggung masyarakat. Bahkan, pemerintah pun tak luput dari kritik yang ingin disampaikan dalam naskah drama ini. Kritikan terhadap pemerintah ini ditujukan kepada Pemerintah daerah DKI Jakarta.

“Pemda DKI genit, sebab sok Inggris kayak kalian. Busway, Tree in one, Underpass, outer Ring Road, dst.” (hlm.24)

Dialog ini muncul ketika Prajurit Raja Penging berbicara kepada demit-demit. Prajurit ingin meminta para demit membuat seribu candi atas perintah Raja Penging. Namun, para demit malah berbicara menggunakan bahasa Inggris. Prajurit pun kesal dan membuat pengandaian seperti pemerintah DKI Jakarta yang sering menggunakan istilah bahasa Inggris.

Kutipan ini begitu jelas menyinggung pemerintah DKI Jakarta. Hal ini disebabkan keprihatinan pengarang kepada pemerintah yang jarang menggunakan bahasa Indonesia dan lebih sering menggunakan bahasa Inggris dalam penamaan jalan, alat transportasi, dan lain sebagainya. Penggunaan bahasa Inggris yang dilakukan pemerintah DKI Jakarta dilihat oleh pengarang sebagai sebuah pencitraan belaka. Hal tersebut dipengaruhi oleh sikap masyarakat perkotaan yang cenderung menganggap bahasa Inggris lebih keren dibandingkan bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan bahasa Inggris juga dapat mencerminkan bahwa pemerintah DKI Jakarta memiliki wawasan yang luas dan modern.

Berbicara mengenai demit, pengarang juga menyisipkan kritik sosial dalam dialog demit. Kehadiran demit juga mempunyai arti dalam kritik yang disampaikan pengarang.

“Justru demit-demit itu mengajari anggota legislatif dan anggota eksekutif kita jadi maling, Paduka.” (hlm.27)

Demit dalam bahasa Indonesia berarti setan. Dalam kutipan ini dikatakan bahwa tindakan korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan merupakan ajaran setan. Secara tidak langsung, pengarang ingin menyampaikan bahwa anggota dewan yang melakukan tindakan korupsi adalah pengikut setan.  Setan bertempat tinggal di dalam neraka. Oleh karena itu, sebagai pengikut setan, anggota dewan pantas menempati neraka.

IV.             Penutup

Naskah drama Roro Jongrang merupakan naskah drama sindiran mengenai perilaku masyarakat pada saat naskah drama ini dibuat. Sindiran tersebut dapat terlihat dari unsur kritik sosial yang disisipkan dalam dialog pemain. Kritik sosial tersebut mencakup perilaku masyarakat yang tidak baik. Misalnya, orientasi perempuan dalam mencari pasangan hidup, perilaku masyarakat yang memiliki budaya “nongkrong”, terutama anak-anak, dan penamaan menggunakan bahasa Inggris yang dilakukan pemerintah. Tidak hanya itu, kritik sosial juga dapat terlihat dari lagu yang dibawakan oleh pemain.  Bahkan, adanya tokoh demit juga dapat dijadikan sebagai kritik mengenai perilaku masyarakat.

Tokoh dalam naskah drama ini berkaitan erat dengan tokoh lainnya dan kritik yang akan disampaikan. Misalnya, tokoh demit yang dapat menjadi penghubung kritik yang akan disampaikan mengenai kasus korupsi yang dilakukan anggota dewan. Selain itu, tokoh ayam yang seperti anak kecil. Sifat ayam tersebut yang menyerupai anak kecil merupakan contoh karakter yang terkena pengaruh dari kritik yang disampaikan.

Menurut penulis, penyampaian kritik sosial yang ingin disampaikan pengarang tidak sulit untuk dipahami. Penggunaan kata yang mudah disertai karakter tokoh yang jelas menggambarkan kritik sosial, tersampaikan dengan baik. Kebanyakan, kritik yang disampaikan secara tersurat atau terang-terangan. Jadi, kritik yang terdapat dalam naskah tidak mempunyai salah tafsir karena pengarang mengarahkan  pembaca menuju kepada suatu kritik yang sama.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adinegoro, Djamaludin. 1958. Tata Kritik. Djakarta: Nusantara.

Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sylado, Remi. 2012. Roro Jongrang. Jakarta (naskah drama ini dibuat khusus untuk teater Tanah Air Pimpinan Jose Rizal Manua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 12, 2012 by in Makalah.
%d bloggers like this: