Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Menelusuri Pesona Alam Muara Angke

Pertama kali menginjakkan kaki di Muara Angke, saya dan teman-teman bingung dengan petunjuk yang telah kami cari sebelumnya. Pasalnya, kami hanya mengandalkan informasi dari beberapa pecinta dunia maya yang pernah membagi pengalamannya mengunjungi tempat tujuan kami. Sesuai petunjuk yang kami temukan, kami turun di pintu gerbang Pantai Indah Kapuk dengan menaiki angkutan kota berwarna merah dari perempatan Grogol. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa tempat tujuan kami berada di sekitar pintu gerbang Pantai Indah Kapuk.

Meskipun telah bertanya kepada tukang parkir di sekitar pintu gerbang Pantai Indah Kapuk, tetap saja kami tidak mendengarkan saran yang telah diberikan. Dengan langkah pasti dan berbekal informasi hasil riset, kami berjalan melewati pintu gerbang hingga ada kompleks perumahan dan pertokoan. Jalan yang telah kami tempuh lumayan jauh hingga akhirnya kami memutuskan bertanya kepada satpam kompleks perumahan. Ternyata, tempat tujuan kami masih jauh dan jarang ada angkutan kota yang lewat. Untungnya, ada supir taksi yang berbaik hati rela berputar arah dari seberang jalan untuk membantu kami.

Hanya satu yang menarik saya dan teman-teman pegi ke Muara Angke, yaitu Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Kawasan pelestarian alam ini dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam dan berpusat pada pengembangan Ecotourism. Luas area Taman Wisata Alam Angke Kapuk adalah 99,82 Ha yang merupakan tipe lahan basah yang didominasi oleh vegetasi utama, yaitu mangrove.

Keberadaan Taman Wisata Alam Angke Kapuk sangat dibutuhkan oleh Jakarta. Hal ini disebabkan dapat mencegah intruisi air laut kedaratan. Selain itu, kawasan ini mempunyai peran dalam meredam bencana banjir karena satu gram lumpur mampu menyerap tiga gram air. Hutan mangrove sangat penting keberadaannya dan mulai menghilang akibat perambahan hutan mangrove, pencemaran air, dan abrasi laut.

Taman Wisata Alam Angke Kapuk memiliki berbagai jenis hutan mangrove, seperti Api-api (Avicenea sp.), Bidara (Sonneratia caseolaris), dan Bakau (Rhizopora mucronata & Rhizopora stylosa). Tidak hanya itu, kawasan ini juga mempunyai berbagai jenis fauna, antara lain Pecuk Ular (Anhinga melanogastera), Kawok Maling (Nycticoraxnycticorak), Kuntul Putih (Egreta sp.), Kuntul Kerbau, dan lain sebagainya.

Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Sesampainya di pintu masuk Taman Wisata Alam Angke Kapuk, kami harus membayar tiket masuk untuk membantu mengembangkan kegiatan wisata alam ini. Tiket masuk dikenakan biaya sebesar Rp.10.000/orang. Taksi yang kami naiki tidak dikenakan biaya. Namun, menurut brosur yang kami terima, jika menggunakan mobil pribadi dikenakan biaya sebesar Rp.5.000/unit.

2012-11-24 14.23.14

Saat berkunjung di Wisata Alam Angke Kapuk ini juga para pengunjung yang membawa kamera digital dikenakan biaya sebesar Rp.500.000. Untungnya, kami telah melakukan riset terlebih dahulu sehingga tidak ada diantara kami yang membawa kamera digital. Dengan terpaksa, kami hanya mengandalkan kamera telepon genggam untuk mengabadikan keindahan kawasan pelestarian hutan bakau ini.

Memasuki kawasan Taman Wisata Alam Angke Kapuk, mata kami disambut oleh bangunan kayu berbentuk kerucut yang dikelilingi hutan mangrove. Di tengahnya, terdapat jembatan kayu penghubung jalan menuju bangunan kerucut yang merupakan sebuah masjid. Di kejauhan tampak beberapa buah lampu penerangan jalan menghiasi jembatan. Kami pun masuk ke dalam masjid untuk beribadah.

Pada samping bangunan terdapat kamar mandi dan tempat untuk menyucikan diri. Air tempat menyucikan diri begitu jernih dan menyegarkan. Ditambah dengan angin yang kencang berhembus menambah rasa segar dalam diri. Pemandangan hijau yang terlihat juga membuat pikiran menjadi jernih pula. Di dalamnya terdapat empat buah tiang penyangga bangunan yang elok nan megah.

2012-11-24 11.46.34

Tepat di tengah bangunan masjid ini terdapat lampu hias yang sangat elegan dan sederhana. Meskipun tidak terdapat kaligrafi atau tulisan arab yang menghiasi masjid, tetapi masjid ini tampak sangat menarik. Pemilihan warna kayu  berupa coklat tua membuat masjid ini telihat mewah. Orang yang melihat tidak akan berhenti mengagumi keindahan bangunan yang juga sangat bersih ini.

Setelah menunaikan ibadah dan puas mengagumi keindahan masjid, kami melanjutkan berkeliling Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Tempat yang dilewati adalah beberapa pondok kemah yang berjajar rapi. Pondok kemah ini berbentuk segitiga sama kaki. Sekilas, gaya arsitektur dari penginapan ini seperti rumah adat sebuah suku di pedalaman Indonesia. Namun, jika dicermati lebih lanjut bangunan tersebut mengingatkan kami pada tenda yang biasa didirikan di perkemahan. Uniknya, bangunan yang mirip dengan tenda ini berbahan dasar kayu.

Bangunan kecil tapi memesona ini begitu sedap dipandang dengan mata. Sebab, di depan pondok kemah ini terdapat hamparan air yang merupakan kawasan pelestarian hutan mangrove. Atau lebih tepatnya, pondok kemah ini didirikan di atas air. Pemandangan yang menenangkan jiwa ini sangat jarang ditemukan di daerah Jakarta.

Kami berjalan melewati rumah yang mirip dengan tenda dan menjumpai beberapa rumah sederhana. Tenyata, penginapan yang ada di Taman Wisata Alam Angke tidak hanya ada rumah tenda yang bisa diisi oleh dua orang. Ada pula Pondok Alam Rhizophora berbentuk rumah. Suasana yang serba hijau di kanan maupun kiri rumah dan bentuk bangunan rumah tersebut mengingatkan kami pada rumah di sebuah desa yang asri dan tenang.

2012-11-24 13.13.49

Tidak hanya itu, ada pula Pondok Alam Avicennia, Pondok Alam Egreta, dan lain sebagainya. Bahkan, ada pula Honeymoon Cottage untuk pasangan yang baru menikah. Tentu saja, berbeda tipe penginapan, berbeda juga harga yang ditawarkan pengelola kawasan ini.

Menurut brosur, untuk rumah tenda dikenakan biaya mulai Rp.300.000/malam  sampai Rp.600.000/malam. Kemudian jika ingin menginap di bangunan rumah harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp.1.300.000/rumah/malam sampai Rp.500.000/rumah/malam. Spesifikasi yang ditawarkan pun beragam mulai dari ruangan tanpa AC, kamar mandi di luar, dan batas kuota yang sedikit sampai ruangan menggunakan AC, kamar mandi di dalam, dan kuota yang banyak.

 

Tidak jauh dari bangunan rumah, perhatian kami teralihkan oleh adanya perahu. Kami pun berjalan menuju perahu tersebut. Memang, perahu tersebut disewakan untuk mengantarkan pengunjung berkeliling hutan mangrove. Oleh karena itu, tanpa berlama-lama kami langsung menaiki perahu tersebut. Harga untuk satu perahu ini sebesar Rp.200.000 untuk 6 orang penumpang dengan durasi waktu 45 menit.

24112012650

Mata kami dimanjakan oleh pesona hutan mangrove yang tidak pernah kami lihat sebelumnya. Air yang bersih dan tidak bau, jajaran bangunan unik dan hutan mangrove yang hijau membuat hati kami tidak berhenti berdecak kagum. Bahkan, kami masih melihat beberapa burung yang terbang disekitar hutan mangrove. Berkeliling hutan mangrove menggunakan perahu menghidupkan imajinasi kami bahwa kami sedang berada di hutan Amazon.

Petugas perahu juga menghantarkan kami menuju perbatasan Taman Wisata Alam Angke dengan tambak liar warga sekitar. Menurut petugas perahu yang juga merupakan polisi hutan ini, tambak tersebut illegal dan seharusnya menjadi kawasan pelestarian hutan mangrove juga. Namun, usaha tambak tersebut sudah dilakukan selama bertahun-tahun sehingga susah untuk memperluas kawasan ini.

Dahulu kawasan pelestarian hutan mangrove ini tidak sebesar sekarang. Kawasan ini telah mengalami perluasan dari tambak liar yang didirikan warga. Waktu itu pernah warga pemilik tambak yang tergusur marah dan merusak hutan mangrove yang ada di kawasan ini. Padahal, manfaat hutan mangrove ini sangat penting untuk kelangsungan hidup orang banyak.

Waktu begitu cepat berlalu dan matahari mulai turun ke peraduannya. Durasi menaiki perahu habis dan begitu pula dengan durasi kami berada di kawasan pelestarian ini. Saat masih hanyut dalam eksotisme alam yang luar biasa, kami harus mengucapkan salam perpisahan dengan tempat ini. Masih banyak tempat-tempat yang masih belum kami kunjungi. Namun, setidaknya kami dapat menyaksikan panorama alam yang tak terbayangkan berada di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 15, 2012 by in Catatan Perjalanan.
%d bloggers like this: