Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Idris Sukses: Membangun Usaha dari Kebiasaan

Idris Said, atau yang akrab dipanggil Idris Sukses, adalah seorang wirausaha yang berkecimpung dalam dunia penyewaan. Pria yang lahir pada 8 Mei 1984 ini mendirikan sebuah usaha penyewaan yang bernama Idris Sukses. Usaha yang sudah sangat berkembang ini mulai berdiri sejak tahun 2007. Awalnya, saat masih menjadi mahasiswa, beliau pernah sesekali bertanya kepada salah satu pedagang bazar di Balairung UI ketika ada suatu acara. “Saya kaget ternyata pedagang bazar itu mempunyai mobil sendiri, Terlebih lagi, ternyata pedagang tersebut merupakan sarjana ekonomi” ujarnya. Hal tersebut yang membuat Idris Sukses tergiur untuk melakukan usaha.

Alumni jurusan Sastra Arab UI angkatan 2003 ini memang kerap aktif dalam kegiatan organisasi di dalam maupun luar kampus. “Dulu, saya ketua Formasi (Forum Amal dan Studi Islam) FIB UI, pernah juga mengajar Al Quran di Darul Tauhid pimpinan Aa’ Gym, saya juga menjadi kakak asuh koordinator kewirausahaan BPZIS Bank Mandiri, dan ketua departemen pembinaan masjid di SMA saya,” tutur Idris Sukses. Berbagai kegiatan yang diikutinya tak membuat Idris Sukses melupakan kuliahnya. Meskipun sering ketiduran di kelas, tetapi beliau rajin masuk kelas.

Kegiatan seperti Formasi membuat Idris berputar otak untuk mencari dana kegiatan Formasi. Semua usaha dilakukan, mulai dari berjualan donat di kelas, berjualan kambing saat menjelang Idul Adha, serta berjualan baju koko dan jilbab. Usaha tersebut tak gentar dilakukan demi berjalannya acara kegiatan Formasi.

Acara yang dilaksanakan Formasi tersebut tentu saja membutuhkan berbagai perlengkapan penunjang. Misalnya, sound system, tenda, handy talkie, dan sebagainya. “Meskipun saya mencari dana dan perlengkapan untuk kebutuhan Formasi, tapi saya juga membutuhkan dana untuk diri saya sendiri. Oleh karena itu, sebagian dana yang didapatkan untuk Formasi dan sebagiannya lagi untuk saya sendiri. Begitu pula dalam menyewa perlengkapan, saya menjadi broker” jawabnya.

Semenjak aktif di organisasi beliau menjadi broker percetakan maupun penyewaan barang. Hasil yang didapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Idris yang seorang anak indekos. Beliau juga sudah dikenal oleh teman-temannya sebagai orang yang menyewakan alat-alat.

“Waktu itu hanya bermodal fotokopi dengan uang Rp.10.000, saya menyebarkan dan menempelkan selebaran untuk menyewakan alat-alat di halte-halte. Alhamdulillah, banyak yang kecantol,” kata Idris. Seiring berjalannya waktu, Idris sering mendapat tawaran menyewakan alat-alat. Walaupun bukan alat-alatnya sendiri, tetapi usaha sebagai broker ini cukup menguntungkan. Mulai saat itu, Idris bertekad untuk menekuni bidang penyewaan ini.

Berbagai seminar yang diikuti dan jaringan yang telah Idris peroleh juga menambah pula motivasi untuk menjadi wirausaha. Pada tahun 2004 menuju 2007, mahasiswa keturunan Betawi ini sedang dalam proses mencari bidang apa yang sesuai dengan dirinya. Dengan kebiasaan menyewakan alat-alat, sejak tahun 2007 setelah lulus kuliah, Idris mulai serius mengembangkan usaha broker penyewaan alat-alat. Keuntungan yang diperoleh dari usaha broker ini digunakan untuk membeli alat-alat untuk disewakan.

Investasi tersebut berbuah manis, tahun 2010 Idris telah mempunyai alat penyewaan sendiri. Beliau pun membuka usaha penyewaan bernama Idris Sukses. Nama tersebut merupakan sebuah harapan agar usaha yang dimilikinya menjadi sukses. Mungkin Tuhan mendengar harapan Idris, sekarang Idris Sukses bukan hanya sebuah nama usaha, tetapi memang Idris telah menjadi sukses. “Pemasaran usaha saya seperi obat nyamuk, mulai dari UI menguasai negeri,” ucap Idris.

“Selama ada manusia, usaha saya pasti akan digunakan. Mulai bayi pasti memerlukan alat-alat untuk aqiqah anak. Pada saat anak tersebut memasuki sekolah dasar, bagi anak laki-laki pasti akan disunat dan perayaannya akan memerlukan alat-alat pula. Memasuki masa SMA dan kuliah, pasti banyak kegiatan yang memerlukan alat-alat. Misalnya, membuat pentas seni sekolah. Ketika sudah dewasa, pada saat pernikahan pasti memerlukan alat-alat juga. Bahkan, saat manusia meninggal pasti memerlukan alat-alat, seperti tenda yang dipasang di depan rumah.”

Idris Sukses merupakan sebuah perusahaan event organizer yang bergerak di bidang spesialisasi persewaan alat pesta dan kebutuhan acara. Baik acara di kampus, perkantoran, sampai masyarakat umum dan melayani semua golongan di seluruh wilayah Jabodetabek. Usaha yang beralamat Jalan Palakali Raya No 60, Kukusan Beji, Depok (Depan kantor Kelurahan Kukusan – belakang UI Depok) ini telah memiliki aset sekitar 1-5 Miliar. Pelanggan Idris Sukses diantaranya, Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS), Bank mandiri, Bank Tritama, Bank Negara Indonesia, Trustco), kampus (UI, ITB, UNJ, UIN Jakarta, PNJ, Universitas Jayabaya, Universitas Pancasila), sekolah (SD – SMA), Jakarta Islamic Center, Hotel Borobudur, dan sebagainya.

Berbicara mengenai penghasilan, usaha Idris sukses ini sangat menguntungkan.”Dari bisa beli satu motor perbulan, sekarang bisa beli satu mobil perbulan,” ujar Idris. Dari usahanya ini pula Idris mampu membeli dua unit rumah dan memberangkatkan haji orang tua. Sejak kariernya menanjak, Idris aktif pula menjadi pembicara di seminar wirausaha. “Dulu memang sering jadi pembicara untuk mendapat relasi juga, tapi sekarang sudah tidak sempat karena tidak punya waktu.”

Kesibukan yang sekarang sedang dilakoni Idris tidak serta merta berjalan mulus. Namun, batu kerikil juga telah dirasakannya. Pengalaman pahit pernah dirasakan seperti mengikuti MLM, pernah juga tertipu, dan tidak dibayar. Semua itu telah menjadi bagian dari hidup wirausaha yang bernama Idris. Kesuksesan karier yang telah diperolehnya merupakan hasil usaha dan kerja kerasnya selama ini. “Jangan hidup seperti matahari. Padahal matahari itu panas, tetapi benda disekitarnya tidak ada yang terbakar. Hal itu disebabkan jangkauannya yang luas. Namun, hiduplah seperti sinar laser. Meskipun kecil, tetapi membakar objek yang dituju karena sinar laser itu fokus ke satu arah.”

“Hati-hati dengan keyakinan karena keyakinan dapat berubah menjadi pikiran. Pikiran akan berubah menjadi ucapan. Ucapan akan berubah menjadi tindakan. Tindakan akan berubah pula menjadi kebiasaan. Kebiasaan akan berubah menjadi karakter. Dan karakter akan berubah menjadi nasib,” pesan Idris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 16, 2012 by in Artikel.
%d bloggers like this: