Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Tak Kenal Lelah Melayani UI

Nikmatnya bekerja barangkali begitu terasa di usia muda, ketika pekerjaan yang hangat baru saja dikecap setelah menamatkan pendidikan. Kemudian, bagi sebagian besar orang, minat dan nikmat bekerja akan menjadi semakin berkurang seiring berjalannya waktu dengan bertambahnya usia. Memang benar bahwa banyak orang tetap bekerja di hari tua. Namun, tidak banyak yang masih terus bekerja di hari tua tanpa kenal lelah serta tetap memiliki dedikasi yang tinggi.

Ketika sebagian orang mulai mengeluhkan pekerjaan yang semakin terasa melelahkan di hari tuanya, karyawan yang satu ini tetap melakoni pekerjaannya dengan penuh kesetiaan dan semangat yang tinggi. Ia adalah Pak Marsah, seorang karyawan yang bekerja di Fakultas Imu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), tepatnya di gedung IX. Masa kerjanya di FIB (dulu FS, Fakultas Sastra) dimulai sejak FS UI masih bertempat di Rawamangun, tepatnya pada tahun 1970-an, sebagai karyawan tidak tetap dan baru diangkat sebagai pegawai tetap pada tahun 1974. Di umurnya yang telah sampai pada angka 56 di tahun 2012 ini, ia tetap menjalankan tugasnya dengan penuh pengabdian sebagai staf umum sekaligus penanggung jawab di gedung IX.

Menjadi seorang penanggung jawab di gedung IX FIB UI dengan jam kerja yang berkisar antara jam delapan pagi hingga enam sore bukanlah suatu hal yang mudah. Selain bertugas melayani dosen dan mahasiswa serta mengumpulkan absensi, Pak Marsah juga harus bertanggung jawab atas apa yang ada dan berlangsung di gedung 9 FIB UI. Keberadaan Pak Marsah mengisi ruang yang sangat penting dalam kepengurusan gedung IX FIB UI.

Gedung yang memuat sebuah auditorium di dalamnya ini begitu sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya berbagai festival dan acara besar yang diselenggarakan oleh para mahasiswa. Selain itu, beberapa ruangan yang terdapat di dalamnya cukup besar sehingga kerap digunakan pula sebagai tempat latihan teater maupun acara lainnya yang tidak begitu besar. Yang jelas, gedung IX tidak pernah sepi dan selalu manjadi tempat yang penuh dengan aktifitas mahasiswa.

Tidak jarang acara-acara tersebut berlangsung hingga larut malam atau bahkan lebih pagi. Salah satu acara yang berlangsung hingga lewat tengah malam adalah Petang Kreatif yang menjadi puncak acara dalam acara tahunan warga FIB yang dikenal dengan sebutan Festival Budaya (Fesbud). Festival Budaya tahun ini berlangsung sejak tanggal 13 hingga 15 Desember 2012 lalu. Petang Kreatif yang merupakan acara lomba teater dengan peserta seluruh jurusan atau program studi di FIB selalu menjadi puncak acara yang dinanti sebagian besar mahasiswa FIB maupun luar FIB dan selalu dilaksanakan di auditorium gedung IX FIB UI. Biasanya, Petang Kreatif dimulai pada siang hari dan berakhir pada lewat tengah malam. Pada tanggal 15 Desember 2012, Petang Kreatif dimulai pada pukul 13.00 dan berakhir pada pukul 03.00 dini hari ketika tanggal telah berganti.

Jika acara yang digelar para mahasiswa berlangsung hingga larut malam seperti pada contoh di atas, wujud pertanggungjawaban Pak Marsah adalah menunggu gedung IX hingga acara selesai dilangsungkan dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Betapa seringnya ia lembur karena menunggui acara-acara yang berlangsung tersebut.

Rumah Pak Marsah terletak di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Jaraknya tentu cukup jauh dari kampus FIB UI yang terletak di Depok. Karena Pak Marsah tidak menggunakan kendaraan pribadi untuk berangkat dan pulang, setiap harinya beliau harus menggunakan jasa Commuterline dan juga berganti tiga kali angkutan umum mikrolet untuk menempuh perjalanan dari rumah ke kampus dan sebaliknya. Dapat dibayangkan betapa lelah Pak Marsah akibat perjalanan jauhnya itu sebelum dan sesudah seharian bekerja. Selain itu, menginap di kampus pun kerap dilakukannya ketika beliau lembur sebab menunggui acara yang berlangsung di gedung IX dan tidak sempat mengejar waktu sehingga kereta terakhir yang melintas di Stasiun UI telah berlalu.

Pak Marsah yang merupakan seorang ayah dari sembilan anak ini ternyata memiliki penyakit yang bersarang di punggungnya. Entah penyakit apa yang dideritanya, yang pasti, terdapat sebuah benjolan di punggungnya yang kian lama kian membesar. Namun hal itu tetap tidak menjadi penghalang baginya untuk tetap tekun bekerja.

Menurut Pak Yoesoev, Manajer Bidang Sumber Daya Manusia  dan Fasilitas FIB UI, pengabdian Pak Marsah yang memiliki peranan penting dalam kepengurusan gedung IX tidak mungkin tergantikan. Sebagai karyawan yang telah cukup tua dan memiliki tanggung jawab besar dalam pekerjaannya, Pak Marsah tetap mampu menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Ia memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya dibandingkan karyawan lain yang posisinya sama dengannya di gedung yang lain.

“Saya telah 20 tahun lebih mengenal Marsah. Marsah ialah seorang pribadi yang tidak kenal lelah, tidak pernah mengeluh, dan selalu tersenyum dalam menghadapi segala hal, baik maupun buruk. Kualitas kerjanya yang mulai menurun akibat faktor usia yang tak dapat dihindari tidak menjadi hambatan dalam pengabdian dan keuletannya dalam bekerja,” ujar Pak Yoesoev.

Semangat kerjanya yang tinggi dan pengabdiannya yang begitu besar terhadap FIB tidak hanya dirasakan oleh Pak Yoesoev saja. Sebagian besar mahasiswa FIB pun mengakui dedikasi Pak Marsah yang tinggi dalam pekerjaannya. Menurut Imanina Akhyar, salah satu mahasiswi Program Studi Belanda FIB UI yang juga aktif di Teater Pagupon, Pak Marsah yang begitu akrab dengan mahasiswa ini memang memiliki etos kerja yang tinggi dan selalu bersemangat meskipun keadaan tubuhnya semakin renta dan jarak dari rumahnya menuju kampus begitu jauh.

”Pak Marsah begitu baik sekali terhadap mahasiswanya, terutama jika saya sedang kebingungan mencari ruangan untuk latihan Teater Pagupon. Pak Marsah tidak pernah marah dan selalu tersenyum meskipun saya tidak mempunyai surat izin,” jawabnya.

Di samping itu, Pak Marsah juga dikenal sebagai karyawan yang murah hati dalam memberikan izin bagi para mahasiswa yang ingin menggunakan ruangan di gedung IX namun belum mengantongi izin yang resmi dari penanggung jawab SDM dan fasilitas FIB UI. Penggunaan ruangan tanpa izin yang resmi tersebut misalnya untuk latihan teater dan sebagainya. Menanggapi hal itu, Pak Yoesoev tidak lantas menentangnya. Beliau tidak lantas menjadikannya sebagai suatu masalah dan tetap meyakini tanggung jawab Pak Marsah.

Selama mengabdikan diri di FIB UI, Pak Marsah mengaku sangat senang menjalani pekerjaannya. Ia juga merasa betah karena mahasiswa FIB cukup dekat dengannya dan semuanya baik-baik. Tidak satupun keluhan meluncur dari bibirnya setiap beliau berbincang dengan mahasiswa. Binar di matanya tak pernah redup, serupa dengan semangatnya dalam mengabdikan diri pada FIB yang juga tidak pernah pudar.

(ditulis oleh Nur Rosita Dewi, Regina Kunthi Rosary, Rizky Indah, dan Satwiko Budiono).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 18, 2012 by in Artikel.
%d bloggers like this: