Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Novel Dendam Seorang Istri Karya S Mara Gd dalam Kajian Kriminologi

I. Pendahuluan

Di negara berkembang seperti Indonesia, kasus kejahatan banyak sekali terjadi. Mulai dari kasus perampokan, pembunuhan, hingga kasus pemerkosaan. Bahkan, kasus korupsi juga telah menghiasi pemberitaan di media. Para pelaku kejahatan mulai dari masyarakat kalangan ekonomi rendah bahkan kalangan menengah ke atas. Kasus kejahatan tidak hanya mewarnai pemberitaan di media, tetapi telah merambah ke dunia fiksi. Telah banyak beredar cerita pendek dan novel yang bertema kejahatan.

Salah satu penulis novel kejahatan Indonesia yang telah banyak diterbitkan adalah S. Mara Gd. Ia terinspirasi oleh penulis Agatha Christie. Banyak sekali buku yang telah diciptakan oleh S. Mara Gd, yaitu Misteri Dian yang Padam, Misteri Gelas kembar, Misteri Pembunuhan di Usaha Tando dan lain sebagainya. Namun, dalam tulisan ini penulis akan memilih novel Misteri Dendam Seorang Istri karya S. Mara Gd. Penulis akan melihat apakah novel Misteri Dendam Seorang Istri dapat dikaji menggunakan pendekatan kriminologi. Penulis juga akan mengaitkan dengan beberapa teori dalam kajian kriminologi yang ada. Sebelum melihat apakah novel Misteri Dendam Seorang Istri dapat dikaji secara kriminologi atau tidak, penulis akan terlebih dahulu memaparkan ringkasan cerita novel ini.

II.  Ringkasan Cerita Novel Misteri Dendam Seorang Istri

Alma Dolores adalah seorang peragawati terkenal di daerah Surabaya, Jawa Timur. Ketika itu Alma menikah dengan Yanis Sumbaga, seorang pengusaha salon yang juga merupakan seorang duda kaya. Pernikahan Alma Dolores ini membawa luka terhadap Pandu Lukas, mantan kekasih Alma Dolores. Hal ini disebabkan hubungan Pandu Lukas dan Alma Dolores diputuskan secara sepihak oleh Alma Dolores. Hal ini memperlihatkan bahwa Alma adalah seorang perempuan yang berorientasi kepada harta.

Selama menjalani pernikahan dengan Alma Dolores, Yanis Sumbaga merasa bahwa Alma Dolores begitu dingin seperti boneka. Kebutuhan batin Yanis Sumbaga pun tidak terpenuhi oleh Alma Dolores. Sementara itu, di tempat salon, Yanis Sumbaga bertemu dengan Cici Tiara, seorang artis yang sedang merintis karier. Alhasil, Yanis Sumbaga yang mendapat predikat playboy langsung menarik hati Cici Tiara. Mereka pun menjalani hubungan terlarang.

Hubungan terlarang antara Cici Tiara dan Yanis Sumbaga berjalan lancar tanpa diketahui oleh Alma Dolores. Pasalnya, Alma Dolores pun tidak terlalu memerhatikan Yanis Sumbaga.  Alma Dolores dibuai oleh Yanis Sumbaga dengan harta yang dimilikinya. Bahkan, demi bisa berhubungan dengan Cici Tiara, Yanis Sumbaga membujuk Alma Dolores untuk pergi ke luar negeri. Tanpa menaruh curiga, Alma Dolores dengan senang hati pergi ke luar negeri dengan Ibunya.

Alma Dolores ternyata pulang dari luar negeri lebih cepat dari rencana awal yang diketahui oleh Yanis Sumbaga. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kejutan kepada Yanis Sumbaga atas perintah Ibu Alma. Yanis Sumbaga yang tidak mengetahui keberadaan Alma pun berhubungan badan di rumahnya sendiri dengan Cici Tiara. Hal ini diketahui oleh Alma dan Alma pun mengabadikan hubungan berlandaskan nafsu binatang itu untuk kemudian memeras harta Yanis Sumbaga.

Karier yang sedang dirintis oleh Cici Tiara memaksa Yanis Sumbaga memutar otak untuk mengambil foto senonoh tersebut. Keadaan yang memaksa Cici Tiara membunuh Alma Dolores karena saat Cici Tiara mengambil foto tertangkap basah oleh Alma Dolores. Semua surat harta benda yang dimiliki Yanis Sumbaga juga sudah berpindah tangan ke Alma Dolores yang juga memaksa Yanis Sumbaga membunuh Ibu Alma agar harta yang berpindah nama atas Alma dolores jatuh ke tangannya kembali. Namun, peristiwa pembunuhan ini akhirnya terungkap oleh kepolisian berkat bantuan petunjuk dari Debi malonda, asisten Yanis Sumbaga di salon dan Pandu Lukas.

III. Novel Misteri Dendam Seorang Istri dalam Kajian Kriminologi

Novel Misteri Dendam Seorang Istri merupakan sebuah novel bertema kejahatan. Di dalam novel ini terdapat tindak kriminal, pelanggaran hukum, dan penyimpangan. Beberapa unsur kejahatan tersebut adalah pembunuhan, perzinahan, dan pemerasan. Hal ini membuat penulis meyakini bahwa novel Misteri Dendam Seorang Istri karya S. Mara Gd dapat dikaji secara kriminologis. Untuk memastikan novel Misteri Dendam Seorang Istri dapat dikaji secara kriminologis, maka penulis akan mengaitkan novel ini dengan beberapa teori kriminologis.

Menurut Linden Peach dalam bukunya Masquerade, Crime, and Fiction mengungkapkan bahwa cerita fiksi menggambarkan tindak kejahatan yang terjadi dan hal tersebut merupakan sebuah sindiran terhadap realitas yang terjadi tersebut. Mengacu pada Linden Peach, novel Misteri Dendam Seorang Istri karya S.Mara Gd merupakan sebuah novel yang menggambarkan tindak kejahatan yang sering terjadi di masyarakat dan S.Mara Gd ingin menyadarkan kepada pembaca bahwa tindakan tersebut tidak benar dan dapat menghancurkan hidup pelakunya sendiri melalui karya sastra. Beberapa faktor kriminologis dalam bab Mocking Modernity yang terdapat dalam novel Misteri Dendam Seorang Istri adalah criminal fiction, criminal modernity, inverse image, dan dangerous masculinities.

Criminal fiction adalah aspek kriminologis untuk melihat kejahatan apa yang terjadi sekaligus sebuah sindiran terhadap perkembangan zaman yang semakin modern. Pada zaman yang semakin modern ini, orientasi perempuan dalam pencarian pasangan hidup terpacu oleh harta benda yang dimiliki lawan jenisnya. Cinta sudah tidak lagi menjadi landasan sebuah hubungan laki-laki dan perempuan.  Hal tersebut disebabkan oleh tuntutan zaman yang semakin kompleks. Perempuan mengharapkan laki-laki yang mapan agar hidupnya terjamin sehingga jika laki-laki tersebut melakukan skandal atau perselingkuhan, maka perempuan tidak akan segan-segan untuk memeras laki-laki tersebut agar perempuan itu tetap dapat hidup enak walaupun tanpa laki-laki. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan:

“Kau licik! Kau mempergunakan foto ini untuk memojokkan aku! Kalau kau berani, hadapilah aku di pengadilan dan biar hakim yang menentukan berapa pembagian harta gono-gini yang bisa kau peroleh. Jangan memperalat foto-foto ini!” kata Yanis (hlm.171)

Pada aspek criminalising modernity, modernitas dijadikan alat untuk melakukan kejahatan. Dalam novel ini, foto merupakan hasil dari modernitas berupa kamera. Namun, hasil dari modernitas berupa kamera ini dipergunakan untuk melakukan tindak kejahatan. Kejahatan tersebut berupa pemerasan yang dilakukan Alma Dolores terhadap suaminya, Yanis Sumbaga karena telah berselingkuh dengan Cici Tiara dan hubungan terlarang tersebut terdokumentasikan oleh kamera.

“Yanis membuka isinya. Jantungnya segera berhenti berdetak melihat apa yang ada di tangannya. Tiga lembar foto! Tiga lembar foto dirinya bersama Cici Tiara dalam pose yang mengkriminasikan! Pada ujung bawah foto itu bahkan tampak tanggal pemotretannya sekaligus” (hlm. 168-169)

Pada aspek inverse image, pencitraan berbeda diperlihatkan oleh pengarang. Dalam novel ini, pencitraan berbeda ditunjukkan oleh karakter Debi Malonda, asisten Yanis Sumbaga. Debi Malonda memang diperlihatkan dalam novel mempunyai rasa terhadap Yanis Sumbaga. Sebelum penyelidikan polisi terungkap, Debi malonda diperlihatkan sebagai orang yang membunuh  Alma Dolores. Pengarang membentuk citra Debi Malonda sebagai orang yang membunuh Alma Dolores. Padahal, pembunuh Alma adalah Cici Tiara.

“Aku tidak tahu bagaimana gadis Malonda itu membunuh korban, tapi pasti dia yang mencekik korban! Aku punya firasat yang mencekik pasti perempuan, dan dialah satu-satunya perempuan dalam kasus ini yang ada kaitannya dengan korban!” kata kosasih jengkel (hlm. 326)

Pada aspek dangerous masculinities, ada kecenderungan bahwa pelaku adalah laki-laki. Dalam novel ini, kematian Alma Dolores diduga akibat pembunuhan. Pembunuhan ini memunculkan pandangan dalam benak polisi bahwa pelakunya adalah laki-laki.

“Hasil otopsi kan mengatakan bahwa korban dicekik bukan oleh tangan melainkan oleh sesuatu yang seperti kain. Bagaimana dengan laki-laki berdasi?”  tanya Mayor Jaffar. (hlm.325)

Masih dalam buku Masquerade, Crime, and Fiction, tetapi pada bab The Cadaver as Criminalised Text, terdapat subbab The Crime Scene as Negative Image. Pada subbab ini Tempat Kejadian Perkara (TKP) dipandang sebagai tempat yang mempunyai citra negatif. Dalam novel ini diperlihatkan bahwa kedua pembantu Alma Dolores langsung meninggalkan rumah setelah Alma Dolores ditemukan tewas. Hal ini disebabkan ada anggapan masyarakat setempat bahwa orang yang matinya tidak wajar akan menghantui tempat orang tersebut mati.

“Ya, tapi saya bisa mengerti ketakutan mereka tinggal di rumah di mana telah terjadi suatu kematian. Terutama orang-orang dari desa, masih takut kepada roh orang mati,” senyum Gozali. (hlm.341)

Selain itu, kajian kriminologis dalam novel Misteri Dendam Seorang Istri dapat terlihat dari buku Murder by the Book: Feminism and Crime Novel. Pada bab Mainstream Woman Crime Writer, cerita fiksi tentang tindak kriminal yang ditulis oleh perempuan sering memunculkan detektif dan pembunuh laki-laki. Hal tersebut sesuai dengan novel Dendam Seorang Istri. Novel ini ditulis oleh S.Mara Gd yang merupakan seorang perempuan. Dalam novel ini, S.Mara Gd memunculkan tokoh pembunuh berjenis kelamin laki-laki yang bernama Yanis Sumbaga dan detektif yang mengusut kasus ini juga seorang laki-laki yang bernama Kosasih.

“Saya kebagian tugas melacak kematian seorang nyonya kaya. Kebetulan saya ingat urusan begitu-begitu itu Pak Kos adalah ahlinya, jadi saya minta petunjuk,” kata Mayor Jaffar. (hlm.241)

Pada kutipan ini terlihat bahwa Mayor Jaffar meminta bantuan kepada detektif Kosasih untuk membantu melacak kebenaran kasus kematian Alma Dolores. Detektif dan polisi pada novel ini diperlihatkan sebagai seorang laki-laki yang pada akhirnya berhasil menemukan fakta tersangka pembunuhan Alma Dolores.

Lain halnya dengan subbab Interpreting Words, Interpreting Worlds dalam buku Fiction and The Weave of Life. Pada subbab ini membahas mengenai makna dalam konteks kritik sastra. Makna tersebut dapat terlihat pada kata yang dipakai pengarang untuk melakukan kritik terhadap suatu permasalahan yang sering terjadi.

But a problem arises when we realize that we are talking about  something more interesting, and much more philosophically challenging, when we speak of meaning in literary-critical contexts, especially meaning of the variety humanists tend to elicit from literary works. (John Gibson, 2007:124)

Dalam novel Misteri Dendam Seorang Istri, makna dalam konteks kritik sastra dapat terlihat pada saat Alma Dolores sedang memeras Yanis Sumbaga. Alma Dolores telah mengetahui hubungan terlarang Yanis Sumbaga dan Cici Tiara. Alma yang memang tidak cinta terhadap Yanis, maka Alma tidak segan meminta rumah mewah yang sedang ditempati untuk diserahkan kepadanya.

“Kalau kau tidak memenuhi permintaanku, kau dan kekasihmu akan memecahkan rekor skandal seks yang paling besar tahun ini,” kata Alma tersenyum sinis. (hlm.168)

Kritik yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca adalah sindiran terhadap perkembangan zaman yang semakin modern. Pada zaman yang semakin modern ini, orientasi perempuan dalam pencarian pasangan hidup terpacu oleh harta benda yang dimiliki lawan jenisnya. Cinta sudah tidak lagi menjadi landasan sebuah hubungan laki-laki dan perempuan. Hal tersebut disebabkan oleh tuntutan zaman yang semakin kompleks. Perempuan mengharapkan laki-laki yang mapan agar hidupnya terjamin sehingga jika laki-laki tersebut melakukan skandal atau perselingkuhan, maka perempuan tidak akan segan-segan untuk memeras laki-laki tersebut agar perempuan itu tetap dapat hidup enak walaupun tanpa laki-laki.

Adapun dalam subbab Histories of True Crime buku Crime, Fear and the Law ini True Crime Stories, Annita Biressi menjelaskan bahwa kejahatan yang dalam dunia nyata terjadi sering digunakan untuk membuat cerita bertema kejahatan.

“Hmph! Mungkin karena predikat kaya itu yang membuat dia minta bantuan. Pasti rumit! Biasanya yang jadi masalah adalah soal warisan,” kata lelaki jangkung itu. (hlm.242)

Pada kutipan tersebut terlihat bahwa kasus warisan oleh korban orang kaya sudah banyak terjadi di masyarakat. Hal tersebut dijelaskan oleh lelaki jangkung. Di masyarakat Indonesia banyak sekali kasus pembunuhan orang kaya yang berlatar belakang perebutan warisan. Hal ini membuat pengarang membuat contoh kasus mengenai harta warisan pula dalam novel yang dibuatnya.

Selain keempat bahan yang sudah dipaparkan di atas,  terdapat buku Speaking of Crime the Language of Criminal Justice pada subbab Interrogation, Confession, and the Right to Counsel yang mengungkapkan interogasi yang dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari tersangka pembunuhan. Dalam novel ini, interogasi dilakukan oleh polisi kepada Debi Malonda.

“Lalu untuk urusan apa dia minta Anda datang? Apa yang ingin dikatakannya kepada Anda?” tanya Mayor jaffar. (hlm.238)

Pada kutipan di atas terlihat bahwa Mayor Jaffar sedang menginterogasi Debi Malonda. Interogasi ini dilakukan karena Debi Malonda adalah orang yang terakhir bertemu dengan Alma Dolores. Polisi menduga bahwa Debi Malonda adalah pembunuh Alma Dolores. Oleh karena itu, polisi terus mengajukan pertanyaan yang sedikit menjebak agar polisi menemukan sebuah petunjuk untuk mengusut pelaku pembunuhan Alma Dolores.

IV. Penutup

Novel Dendam Seorang Istri adalah sebuah novel bertema kejahatan karya S.Mara Gd. Novel ini merupakan sebuah novel yang dapat dikaji secara kriminologis. Hal ini disebabkan banyak unsur yang terdapat dalam novel yang dapat dikaitkan dengan teori kriminologis. Novel ini dapat dikaji  secara kriminologis mengacu pada lima bahan buku mengenai teori kriminologis. Misalnya, pada buku Masquerade, Crime, and Fiction, teori kriminologis yang dapat dikaitkan dengan novel Misteri Dendam Seorang Istri adalah criminal fiction, criminal modernity, inverse image, dangerous masculinities, dan  the crime scene as negative image.

Tidak hanya itu, pada buku Murder by the Book: Feminism and Crime Novel juga dapat dikaitkan dengan novel Misteri Dendam Seorang Istri. Tepatnya, pada bab Mainstream Woman Crime Writer. Selain itu, ada beberapa bahan penunjang lainnya yang menjadikan novel Misteri Dendam Seorang Istri ini dapat dikaji secara kriminologis. Diantaranya, subbab Interpreting Words, Interpreting Worlds dalam buku Fiction and The Weave of Life, subbab Histories of True Crime buku Crime, Fear and the Law in True Crime Stories, dan buku Speaking of Crime the Language of Criminal Justice pada subbab Interrogation, Confession, and the Right to Counsel.

Pengkajian novel Misteri Dendam Seorang Istri secara kriminologis dapat dilakukan dengan cara menghubungkan teori kriminologi dengan berbagai aspek yang terdapat dalam novel ini. Teori kriminologi tersebut dapat terlihat dan dapat ditelaah pada beberapa kutipan dialog antartokoh. Dialog antartokoh tersebut menggambarkan beberapa aspek yang terdapat dalam teori kriminologis. Oleh karena itu, novel Misteri Dendam Seorang Istri dapat dikaji secara kriminologis karena aspek kriminologis dapat terlihat dan memiliki keterkaitan pada dialog antartokoh.

V.  Daftar Pustaka

Biressi, Anita. 2001. Crime, Fear and Lawin True Crime Stories. New York: Palgrave

Gibson, John. 2007. Fiction and The Weave of Life. New York: Oxford University Press.

Munt, Sally R. 1994. Murder by the Book: Feminism and Crime Novel. London: Routledge.

Peach, Linden. 2006. Masquerade, Crime and Fiction: Criminal Deceptions. Hampshire: Palgrave Macmillan.

S.Mara Gd. 1997. Misteri Dendam Seorang Istri. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Solan, Lawrence M., dan Tiersma Peter M. 2005. Speaking of Crime the Language of Criminal Justice. Chicago: The University of Chicago Press.

2 comments on “Novel Dendam Seorang Istri Karya S Mara Gd dalam Kajian Kriminologi

  1. Bashori
    October 25, 2016

    Kajian yang sangat menarik. Bisa saya jadikan rujukan dalam penelitian novel detektif saya. Saya mau bertanya hasil analisis novel di atas merupakan hasil analisis satwikobudiono sendiri? Analisisnya keren sekali.

    • IKO
      October 25, 2016

      Terima kasih atas pujiannya. Tapi makalah saya ini masih perlu banyak perbaikan karena saya membuatnya pada saat semester tiga hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 23, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: