Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Identitas Kelompok dalam Gerakan Islam

  1. IDENTITAS KELOMPOK

Identitas kelompok adalah simbol yang ditangkap oleh orang lain. Identitas kelompok dibangun dalam gerakan sosial. Awalnya, aktor kolektif dibentuk berdasarkan kepada kesamaan nilai-nilai dan kepentingan tertentu. Setelah aktor kolektif terbentuk, maka aktor kolektif membentuk sebuah gerakan sosial. Gerakan sosial yang terbentuk memunculkan identitas kelompok. Produksi identitas berhubungan dengan munculnya jaringan baru hubungan kepercayaan diantara pelaku gerakan. Identitas kolektif menghubungkan dan memberikan makna umum untuk pengalaman tindakan kolektif yang bergeser sepanjang ruang dan waktu (akumulasi).

Identitas kelompok pada suatu gerakan akan terlihat dari sisi sebab dan akibat yang ditimbulkan. Saat ini kepentingan struktural sering terlibat dalam protes moral. Hal tersebut terlihat bahwa apa yang dianggap sebagai strategi yang baik didasarkan pada simbol yang terkait dalam kelompok tersebut. Akibatnya, gerakan merupakan sebuah cara mempromosikan identitas baru untuk mengubah diri dan mendapatkan kekuasaan.

Orang-orang memiliki berbagai kelompok, peran, dan posisi yang tersedia. Hubungan antara identitas pribadi dan identitas kolektif adalah pokok dari psikologi sosial yang belum tergabung (Tajfel 1981, Stryker 1980, Burke & Reitzes 1991). Selain itu, identitas kolektif tidak hanya merupakan gambar dari kognitif batas, tetapi secara bersamaan melibatkan pengaruh positif terhadap anggota kelompok lainnya (Jasper 1998).

Secara keseluruhan, bagian mengenai identitas kolektif masih menyisakan hubungan yang kabur antara identitas dan kalkulasi kepentingan individu. Bagi sebagian individu, mereka memilih identitas untuk memaksimalkan preferensi yang mereka miliki. Menurut Chong (1991), tindakan solidaritas adalah cara untuk meningkatkan reputasi seseorang dan memanfaatkan yang ada pada diri orang tersebut. Identitas ini menetapkan strategis dan perhitungan individu. Selain itu, Pizzorno (1986) berpendapat bahwa kategori kepentingan berarti pengakuan dari diri melakukan pilihan rasional. “Lingkaran pengakuan” tidak hanya memvalidasi tindakan atas nama kepentingan yang sudah mapan, tetapi membantu untuk membentuk identitas baru dan kepentingan yang mengalir dari mereka (Emirbayer 1997, Calhoun 1991).

 

II.     GERAKAN ISLAM

Biasanya, sasaran empuk yang dipilih untuk menjadi pendukung dan simpatisan gerakan radikalisme Islam adalah anak-anak muda yang masih dangkal pemahaman agamanya sehingga mudah terkena doktrin-doktrin jihad. Atau mereka yang baru tamat dari pesantren atau bahkan mereka yang sering mengikuti tabliq akbar dengan ulama yang berani terang-terangan mendendangkan seruan jihad. Para santri yang telah terdoktrin atau mempunyai kesamaan nilai bisa dikatakan sebagai aktor kolektif. Setelah aktor kolektif terbentuk, maka aktor kolektif akan membentuk suatu gerakan sosial dalam hal penegakkan hukum Islam. Misalnya, melakukan razia ke tempat-tempat yang menjual minuman keras atau melakukan bom bunuh diri sebagai aksi jihad.

Namun, gerakan tersebut  tidak hanya melakukan razia. Pengerusakan tempat-tempat yang menjual minuman keras juga dilakukan oleh gerakan ini. Misalnya, Front Pembela Islam (FPI). Akibatnya, gerakan ini menuai kontroversi. Kontroversi tersebut lantaran perbuatan yang dilakukan oleh gerakan ini. Di satu sisi, gerakan ini mempunyai tujuan yang baik, yaitu menegakkan hukum yang berlaku dalam Islam, tetapi di sisi lain tindakan pengerusakkan merupakan perbuatan tercela sekalipun berdiri atas dasar agama. Terlebih lagi, jika melakukan bom bunuh diri. Gerakan Islam tersebut mendatangkan bencana dan merugikan banyak pihak. Hal tersebut disebabkan gerakan tersebut lebih condong kearah terorisme atas dasar agama.

 

III.    IDENTITAS KELOMPOK GERAKAN ISLAM

Klandermans menjabarkan berbagai artefak fisik yang berfungsi untuk menunjukkan simbol identitas kelompok. Artefak fisik dapat berupa visual symbol, rituals, performing art, gossip, speeches, jokes, event, dan lifestyle. Pada tulisan ini artefak fisik yang akan dikaitkan dalam gerakan Islam adalah visual symbol, rituals, dan lifestyle.

Akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh gerakan Islam tersebut, gerakan ini mendapatkan identitas kelompok yang dianggap menyimpang oleh masyarakat. Identitas kelompok yang diperoleh gerakan Islam (misalnya, FPI) adalah sebuah gerakan yang mempunyai visual symbol atau identik dengan aksi kekerasan. Selain itu, rituals yang dilakukan gerakan ini (melakukan razia tempat penjual minuman keras) merupakan hal yang membuat masyarakat khawatir. Hal tersebut disebabkan simbol kekerasan yang sudah melekat dalam gerakan ini. Tidak hanya itu, ritual berupa pengajian akbar yang sering diselenggarakan juga membuat sebuah identitas kelompok gerakan ini. Identitas kelompok yang terbentuk dari ritual tersebut adalah pembuat kemacetan dan menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat akan hadirnya ritual tersebut. Pasalnya, ritual berupa pengajian akbar tersebut sering dilakukan di jalan-jalan yang tidak begitu besar sehingga menimbulkan kemacetan.

Identitas kelompok juga dapat terbentuk dengan melihat lifestyle partisipan gerakan tersebut. Gaya hidup dapat dilihat dalam hal pakaian yang dikenakan, makanan dan minuman yang dikonsumsi, atau tempat yang sering dikunjungi. Misalnya, dalam hal berbusana, aktor kolektif dalam gerakan Islam biasanya memakai baju koko dengan memakai celana bahan mengatung diatas mata kaki atau mengenakan sarung. Kemudian, alas kaki yang digunakan adalah sandal beserta peci yang tidak ketinggalan digunakan di kepala.

 

DAFTAR PUSTAKA

Burke P, Reitzes D.1991. An Identity Theory Approach to Commitment. Soc. Psychol. Q. 54:239–51

Chong D. 1991. Collective Action and the Civil Rights Movement. Chicago, IL: Univ. Chicago Press

Calhoun C. 1991. Indirect relationships and imagined communities: large-scale social integration and the transformation of everyday life. In Social Theory for a Changing Society, ed. P Bourdieu, J Coleman, pp. 95–121. New York: Russell Sage Found.

Emirbayer M. 1997.Amanifesto for a relational sociology. Am. J. Sociol. 103:281–317

Jasper JM. 1998. The emotions of protest: reactive and affective emotions in and around

social movements. Sociol. Forum 13:397– 424

Klandermans, Bert. 2007. Handbook of Social Movement Across Diciplines. Springer.

Pizzorno A. 1986. Some other kinds of otherness: a critique of ‘rational choice’ theories. In Development Democracy and the Art of Trespassing: Essays in Honor of Albert O. Hirschman, ed. A Foxley, MS McPherson, G O’Donnell, pp. 355–72. Notre Dame, IN: Univ. Notre Dame Press.

Tajfel H. 1981. Human Groups and Social Categories. New York: Cambridge Univ. Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 24, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: