Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Gerakan Penanaman Pohon Dilihat Dari Sudut Mobilisasi Sumber Daya

  1. GERAKAN PENANAMAN POHON

Program penyelamatan lingkungan yang akhir-akhir ini gencar dikampanyekan banyak pihak, memang patut mendapatkan apresiasi. Namun, bila dicermati, kegiatan-kegiatan tersebut kebanyakan masih sebatas program simbolis dan seremonial. Misalnya, program penanaman pohon yang tidak diikuti dengan kegiatan pemeliharaan sehingga hanya terkesan program pencitraan institusi atau lembaga tertentu. Akibatnya, puluhan pohon, atau mungkin jutaan pohon, terancam mati.

Hal tersebut disinggung dalam Rakornas Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Kementrian Lingkungan Hidup (LH) RI di Swiss belHotel Maleosan , Manado. Rakornas itu juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat dalam bidang Perlindungan dan Pengelolahan Lingkungan Hidup.

Rapat Koordinasi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2011 ini dapat menghasilkan langkah-langkah selaras diantara Kementrian Lingkungan Hidup sebagai pemegang kebijakan ditingkat pusat, dengan institusi lingkungan hidup di daerah. Melalui kesempatan ini pula Menteri Lingkungan Hidup RI mempunyai harapan agar hasil rapat koordinasi ini dapat memberi pengaruh positif  terhadap permasalahan lingkungan yang ada. Hal tersebut dapat dilakukan melalui langkah kongkret kegiatan komunikasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat[1].

 

II.     TEORI MOBILISASI SUMBER DAYA

Teori ini mengatakan bahwa gerakan sosial muncul karena tersedianya faktor-faktor pendukung, seperti adanya sumber-sumber pendukung, tersedianya kelompok koalisi, dan adanya dukungan dana. Adanya tekanan dan upaya pengorganisasian yang efektif serta sumber daya merupakan aspek penting bagi gerakan sosial[2]. Teori ini lebih menekankan pada permasalahan teknis, bukan penyebab gerakan sosial muncul. Para penganut teori sumber daya memandang bahwa kepemimpinan, organisasi, dan teknik sebagai faktor yang menentukan kesuksesan sebuah gerakan sosial[3].

Dalam mobilisasi sumber daya, para ahli memiliki logika yang sama bahwa gerakan sosial menggunakan penalaran yang instrumental-strategis, penghitungan biaya dan  manfaat, serta mengejar tujuan kepentingan secara rasional. Para ahli juga sepakat bahwa gerakan sosial bukan sebuah kejadian abnormal, tetapi bagian dari kehidupan yang normal yang dianggap penuh potensi konflik. Oleh sebab itu, gerakan sosial memfokuskan ketegangan dan ketidakpuasan tersebut[4].

Gerakan sosial membutuhkan partisipasi yang luas dari para pendukungnya. Menurut Klandermans, terdapat empat langkah menuju partisipasi dalam gerakan sosial. Pertama, potensi mobilisasi. Untuk menciptakan potensi mobilisasi, suatu gerakan harus mendapatkan simpati dari beberapa kelompok. Kedua, jaringan perekrutan dan potensi mobilisasi. Seberapapun besar potensi mobilisasi sebuah gerakan, bila gerakan tersebut kurang memiliki jaringan perekrutan untuk aksi, maka gerakan tidak akan efektif. Ketiga, motivasi untuk terlibat dalam gerakan. Untuk menstimulasi motivasi, suatu gerakan harus memengaruhi keuntungan dan kerugian jika seseorang terlibat dalam gerakan sosial. Terakhir, penghalang berpartisipasi. Motivasi menunjukkan kesediaan untuk berpartisipasi sehingga motivasi tersebut perlu ditingkatkan. Hal ini diperlukan agar jika ada penghalang maka tidak akan terpengaruh karena sudah mempunyai motivasi yang kuat.

Teori ini merupakan ketidakpuasan yang selalu melahirkan protes karena individu merupakan aktor rasional (mempertimbangkan untung dan rugi). Gerakan sosial akan muncul dan bertahan dengan mobilisasi sumber daya (material maupun non-material) yang ada didalam organisasi gerakan.

 

III.    ANALISIS KASUS

Gerakan penanaman pohon sering dilatarbelakangi oleh sebuah acara seremonial. Para penggerak gerakan ini biasanya dilakukan oleh pejabat pemerintah atau perusahaan tertentu. Namun, realitas di lapangan membuktikan bahwa setelah melakukan penanaman pohon di tempat yang telah disediakan, para penggerak gerakan tidak lagi melakukan pengecekan secara berkala. Bahkan, lahan yang telah sengaja disediakan tersebut dibiarkan begitu saja tanpa adanya perawatan atau pelestarian lebih lanjut.

Gerakan penanaman pohon juga terlalu sering dilakukan oleh partai politik. Hal ini membuat gerakan penanaman pohon menjadi mengandung unsur politik yang terlalu kental. Kentalnya unsur politik tersebut membuat gerakan penanaman pohon dihindari oleh masyarakat yang bukan simpatisan politik tersebut. Selain itu, tujuan gerakan penanaman pohon ini telah berbelok menjadi ajang pencitraan yang bernuansa politik sehingga seiring berkembangnya waktu gerakan ini akan mengalami kemunduran.

Dengan pertimbangan ekonomi, gerakan penanaman pohon juga terlalu sering dilakukan dengan pendekatan proyek skala besar. Hal ini membuat gerakan ini mempunyai konsekuensi yang banyak. Terlebih lagi, gerakan ini sangat rawan korupsi sumber daya yang dialokaasikan. Akibatnya, jumlah pohon yang ditanam juga mengalami penyusutan. Demikian pula alokasi untuk masukan lain, seperti pupuk dan pemeliharaan. Pendekatan proyek juga membuat gerakan ini akan mati jika sumber daya financial pendukungnya juga habis.

Kebanyakan proyek di Indonesia, gerakan penanaman pohon tidak melibatkan masyarakat. Masyarakat hanya dilibatkan untuk menanam pohon. Padahal, pengetahuan lengkap mengenai gerakan penanaman pohon harus terlebih dahulu dimengerti dan setelah menimbang manfaat serta biaya untuk diri masing-masing, keputusan untuk melakukan atau tidak baru bisa diambil. Mungkin, apabila gerakan penanaman pohon datangnya dari masyarakat, maka mungkin keberlanjutan akan terjadi. Hal tersebut disebabkan gerakan penanaman pohon hanya memanfaatkan partisipasi yang semu, maka tidak heran jika gerakan tersebut dapat terhenti begitu saja.

Gerakan penanaman pohon juga terlalu sering menghitung-hitung manfaat ekonomi yang bisa diperoleh. Padahal, ada terlalu banyak manfaat lain yang bisa diperoleh masyarakat kalau penanaman pohon bisa berhasil. Manfaat lain kerap tidak ditonjolkan, hilang dalam hiruk pikuk rupiah atau dolar yang dijanjikan. Manfaat ekonomi memang nyata, tetapi membutuhkan waktu untuk merasakan manfaatnya. Lagipula, skala penanaman harus cukup besar hingga manfaat ekonomi itu benar-benar terasa. Bagi masyarakat yang tidak memiliki kemewahan untuk berhitung dalam jangka panjang dan tidak memiliki tanah luas untuk menanam, bujukan keuntungan ekonomi tidak akan berhasil. Hal ini membatasi partisipasi dalam gerakan.

Berhubungan dengan teori sumber daya, gerakan ini dapat dikatakan sebagai gerakan musiman. Partisipan atau sumber daya yang ada juga bersifat musiman. Hal tersebut terlihat dari lahan yang telah sengaja disediakan tersebut dibiarkan begitu saja tanpa adanya perawatan atau pelestarian lebih lanjut. Padahal, dalam teori dikatakan bahwa gerakan sosial muncul karena tersedianya faktor-faktor pendukung, seperti adanya sumber-sumber pendukung, tersedianya kelompok koalisi, dan adanya dukungan dana. Memang, faktor-faktor pendukung tersebut terpenuhi pada saat melakukan gerakan. Namun, para penggerak seperti perusahaan atau instansi pemerintah kurang memerhatikan penyediaan faktor pendukung, seperti kelompok koalisi dan dukungan dana untuk kegiatan pascagerakan.

Sebenarnya, gerakan ini muncul karena reaksi atas pemanasan global yang sedang terjadi. Para penggerak gerakan adalah masyarakat atau organisasi sosial yang peduli terhadap lingkungan dan menghendaki kehidupan masyarakat yang lebih baik. Misalnya, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Hal tersebut merupakan tindakan keprihatinan atas maraknya penebangan hutan dan pembakaran hutan untuk pembukaan lahan. Tindakan tersebut menimbulkan protes. Namun, permasalahan tersebut tidak akan terselesaikan hanya dengan protes sehingga muncul gerakan untuk menanggulangi bahaya yang ditimbulkan. Oleh karena itu, gerakan penanaman pohon  dinilai baik oleh masyarakat luas sehingga gerakan ini banyak dilakukan di berbagai tempat dan berbagai instansi karena mementingkan kepentingan bersama. Masyarakat pada awalnya membentuk diri mereka menjadi kerangka bersama guna menyatakan diri dan memajukan kepentingan bersama karena mereka menyadari manfaat yang akan diperoleh. Gerakan yang mempunyai citra positif di masyarakat mendorong pemerintah mencanangkan gerakan tersebut sebagai gerakan nasional. Gerakan nasional dimaksudkan agar gerakan penanaman pohon ini banyak dilakukan oleh semua masyarakat di Indonesia.

Namun, faktor memajukan kepentingan bersama sepertinya sudah berubah haluan menjadi memajukan kepentingan kelompok atau pihak tertentu. Hal tersebut terbukti dengan maraknya gerakan penanaman pohon yang tidak memerhatikan pelestarian lingkungan sebagai faktor pendorong gerakan ini. Esensi dari gerakan ini pun semakin memudar dan tidak berpihak pada faktor lingkungan lagi.

Para penganut teori sumber daya memandang bahwa kepemimpinan, organisasi, dan teknik sebagai faktor yang menentukan kesuksesan sebuah gerakan sosial. Hal tersebut akan berhasil pula jika motivasi kepemimpinan dan organisasi tersebut sejalan dengan prinsip melestarikan lingkungan. Kenyataan di lapangan mengatakan bahwa motivasi kepemimpinan dan organisasi yang dilakukan dalam gerakan hanya bersifat pengangkatan citra semata untuk meraih simpati masyarakat. Perekrutan dan jaringan partisipan juga tidak didasarkan oleh pelestarian lingkungan. Misalnya, dalam hal gerakan penanaman pohon yang dilakukan oleh partai politik. Jaringan dan perekrutan didasarkan oleh kesamaan nilai politik yang kemudian membuat gerakan dalam hal lingkungan. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika gerakan ini hanya sedikit yang mencapai tujuan atau sasaran berdasarkan faktor melestarikan lingkungan. Bahkan, jika semua dilakukan atas dasar pengangkatan citra saja, maka bisa saja gerakan ini akan mati dan tidak akan berkembang.

 

IV.    PENUTUP

Kritik terhadap teori mobilisasi sumber daya adalah teori ini terlalu mengedepankan rasionalitas, yaitu mementingkan untung dan rugi sehingga gerakan ini hanya akan terlaksana jika mempunyai sebuah keuntungan yang didapatkan oleh suatu organisasi penyelenggara gerakan penanaman pohon tersebut. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua orang mengedepankan rasionalitas. Masih ada organisasi pecinta lingkungan yang tidak mementingkan rasionalitas, tetapi mengedepankan manfaat untuk kepentingan bersama. Misalnya, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).

Kemudian teori ini juga kurang memerhatikan aspek kesadaran, cita-cita, kultur, dan ideologi yang sebenarnya ingin dibangun melalui gerakan. Beberapa aspek yang telah disebutkan telah mengalami pergeseran makna. Kelestarian lingkungan yang ingin dibangun menjadi tidak teralisasi berkat adanya aspek yang mendasari gerakan tersebut telah mengalami pergeseran. Pergeseran tujuan tersebut bisa berupa pengangkatan citra positif masyarakat, hanya sebagai pemenuhan peraturan pemerintah, dan lain sebagainya tanpa memerhatikan fungsi awal gerakan tersebut. Oleh karena itu, gerakan penanaman lingkungan menjadi kurang maksimal karena penggerak kurang melihat aspek pelestariannya. Dalam organisasi gerakan muncul juga gejala birokratisasi, oligarki, dan institusionalisasi. Gerakan sosial dalam teori mobilisasi sumber daya  diposisikan sebagai pasif dan objek untuk mencapi tujuan.

Gerakan penanaman pohon, persis seperti namanya, sering terjebak dalam aktivitas “menanam” saja, bukan “menumbuhkan” pohon. Padahal, agar sebuah pohon bisa benar-benar menjalankan fungsinya untuk menghisap CO2, maka usia kedewasaan tertentu harus dicapai. Menanam adalah satu langkah awal penting, tetapi memelihara hingga tanaman itu cukup kuat adalah urusan yang tidak kalah pentingnya dan wajib dilakukan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Fakih, Mansoer. 2002. Tiada Transformasi Gerakan Sosial, dalam Zairyardam Zubir, Radikalisme Kaum terpinggir: Studi tentang Ideologi, Isu Strategi dan Dampak Gerakan. Yogyakarta: Insist Press.

Haynes, Jeff. 2000. Demokrasi dan Masyarakat Sipil Dunia Ketiga, Gerakan Politik Baru Kaum Terpinggirkan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Klandermans, Bert. 2007. Handbook of Social Movement Across Diciplines. Springer.

Outhwaite, William. 2008. Kamus Lengkap Pemikiran Sosial Modern Edisi ke-2. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Putra, Fadhillah. 2006. Gerakan Sosial, Konsep, Strategi, Aktor, Hambatan, dan Tantangan Gerakan Sosial di Indonesia. Malang: PlaCID’s dan Averroes Press.

Stern, N. 2007. Stern Review: The Economics of Climate Change. Cambridge University Press.

http://beritamanado.com/politik-pemerintahan/program-penanaman-pohon-yang terkesan-pencitraan-mengancam-jutaan-pohon-mati/69181/

(Dikutip dari beritamanado.com Program Penanaman Pohon Terkesan Pencitraan Mengancam Jutaan Pohon Mati tanggal 13 September 2011)


[1] Dikutip dari beritamanado.com Program Penanaman Pohon Terkesan Pencitraan Mengancam Jutaan Pohon Mati tanggal 13 September 2011

[2] Putra, Fadhillah. 2006. Gerakan Sosial, Konsep, Strategi, Aktor, Hambatan, dan Tantangan Gerakan Sosial di Indonesia. Malang: PlaCID’s dan Averroes Press.

[3] Fakih, Mansoer. 2002. Tiada Transformasi Gerakan Sosial, dalam Zairyardam Zubir, Radikalisme Kaum terpinggir: Studi tentang Ideologi, Isu Strategi dan Dampak Gerakan. Yogyakarta: Insist Press.

[4] Outhwaite, William. 2008. Kamus Lengkap Pemikiran Sosial Modern Edisi ke-2. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 27, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: