Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Laporan Bacaan Perihal Kontruksi Sintaksis dalam Bahasa Melayu Kuna

Pengetahuan mengenai bahasa Melayu Kuna diperoleh dari beberapa prasasti yang tersebar di pulau Jawa dan Sumatera. Terbatasnya bahan yang bersumber dari prasasti tersebut tidak mengurangi keyakinan mengenai adanya suatu tahap bahasa Melayu Kuna. Beberapa ciri yang menentukan statusnya sebagai dialek temporal sendiri terlihat dari unsur leksikal, seperti penggunaan nominalisasi, pronomina, dan lain sebagainya. Data bahasa Melayu Kuna memperlihatkan ciri khas yang berbeda dalam hal struktur dan unsur leksikal pada setiap prasasti.

Bahasa Melayu Kuna menghadapi beberapa masalah dalam memahami data. Masalah pertama mengenai paleografi dan epigrafi. Dokumen yang sudah tua bukan merupakan bahan yang mudah ditafsirkan sehingga terjadi perdebatan di antara ahli epigrafi. Masalah berikutnya adalah memahami data bahasa karena bahasanya tidak serupa dengan bahasa sekarang. Biasanya, untuk memudahkan memahami data dilakukan perbandingan unsur leksikal atau gramatikal. Tulisan ini menyoroti segi yang masih belum digarap secara memuaskan, yaitu konstruksi sintaksis.

Aspek sintaksis dialek berasal dari terjemahan yang penuh perkiraan dari para ahli epifrafi dan sejarah. Hal tersebut disebabkan keadaan prasasti itu sendiri dan tidak cukupnya bahan pembanding. Pada umumnya, prasasti berisi kalimat nominal. Namun, jika prasasti Kedukan Bukit sebagai wakil dari wacana yang wajar, dalam arti mengandung kalimat deklaratif, maka bahasa Melayu Kuna bertipe SVO. Hal tersebut berbeda dengan bahasa Melayu Klasik yang bertipe VOS.

Bagian terakhir membicarakan konstruksi sintaksis, yaitu konstruksi yang. Dalam bahasa modern kata yang hanya bergabung dengan jenis kata lain, antara lain ajektiva. Pada prasasti Melayu Kuna banyak kata yang mendahului nomina, tetapi tidak sedikit kata yang mendahului verba. Dalam bahasa Indonesia kata yang di muka nomina dalam konstruksi tertentu bukan hal ganjil. Setelah membandingkan kalimat yang mengandung unsur yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa yang sifatnya tidak wajib. Maksud dari hal tersebut adalah bila ditinggalkan tidak mengubah arti dan fungsinya untuk menonjolkan bagian yang diikutinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kridalaksana, Harimurti. 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 4, 2013 by in Linguistik.
%d bloggers like this: