Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Pembentukan Ideologi terhadap Identitas Budaya pada Konser Musik Luar Negeri di Indonesia

  1. PENDAHULUAN

Jakarta adalah kota metropolitan di Indonesia. Gemerlapnya kota ini menarik minat setiap masyarakat di Indonesia untuk mengadu nasib. Jika masyarakat tersebut mempunyai kemampuan secara pendidikan atau material, maka masyarakat tersebut akan menuai hasil yang cemerlang. Sebaliknya, jika tidak mempunyai modal berupa pendidikan atau material, maka masyarakat tersebut akan terpuruk di tengah kemegahan kota Jakarta. Hal ini yang membuat adanya kesenjangan sosial di Jakarta. Kesenjangan ini sangat terlihat dari adanya bangunan mewah dan bangunan kumuh. Di samping adanya fakta tersebut, ada fakta lain mengenai budaya baru yang lahir di tengah masyarakat Jakarta. Hal ini menarik untuk diperhatikan karena budaya ini tumbuh dan berkembang pada masyarakat di Jakarta.

Sebenarnya, banyak sekali budaya yang menarik diperhatikan di Jakarta. Mungkin, hal tersebut disebabkan oleh derasnya arus globalisasi sehingga bermunculan budaya-budaya baru yang mengadopsi negara barat. Hal tersebut tidak akan berdampak positif jika budaya yang diadopsi merupakan hal yang tidak mengandung manfaat. Meskipun demikian, kembali lagi kepada masyarakat selaku pelaku dan penerima budaya dari negara barat tersebut. Jika masyarakat tersebut dapat menyeimbangkan budaya tersebut dengan kebutuhan, maka budaya baru tersebut tidak akan berdampak negatif. Terkadang, masyarakat sedikit buta dengan apa yang disebut kebutuhan atau bukan. Banyak yang masih beranggapan bahwa semua yang dilakukan adalah kebutuhan. Padahal, jika dilihat lebih cermat lagi banyak yang hanya merupakan sebuah penyokong identitas di masyarakat tanpa memerhatikan aspek kebutuhan diri.  Hal ini sangat disayangkan karena akan menimbulkan perilaku hedonisme di masyarakat.

Dari berbagai budaya baru yang bermunculan di Ibukota negara Indonesia ini, penulis akan memilih salah satu budaya yang berhubungan dengan seni. Lebih tepatnya, budaya yang lahir dari berkembangnya globalisasi seni musik. Budaya tersebut adalah budaya menonton konser musik luar negeri di Jakarta. Penulis memilih budaya menonton konser luar negeri di Jakarta karena melihat banyaknya musisi luar negeri yang berbondong-bondong datang ke Jakarta. Salah satu yang menjadi faktor lain melihat budaya tersebut adalah konser musik luar negeri di Jakarta ini selalu ramai dan tiketnya terjual habis. Hal yang mengejutkan lagi adalah harga tiket konser musik luar negeri tersebut tidak sedikit. Tentu saja, hal ini menjadi sebuah keprihatinan di tengah kondisi Jakarta yang tidak semua masyarakat tergolong mampu.

Berdasarkan fakta yang terjadi di Jakarta tersebut, penulis akan melihat fakta tersebut dari sisi ideologi yang berkembang di Jakarta. Hal ini tidak akan menjadi sebuah budaya yang berkembang di masyarakat jika tidak ada ideologi yang ikut memengaruhi pembentukan budaya tersebut. Ideologi tersebut berhubungan dengan identitas budaya yang menyebar di masyarakat. Oleh karena itu, pada makalah ini penulis akan memaparkan ideologi dan identitas budaya yang berkembang pada masyarakat terkait dengan konser musik luar negeri di Jakarta. Sebelum membahas mengenai ideologi dan identitas budaya, penulis akan memaparkan terlebih dahulu konsep kebudayaan dan kesenian secara umum.

2.  KEBUDAYAAN

Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu budhayah. Kata budhayah adalah bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Secara etimologis, kata kebudayaan berarti hal-hal yang berkaitan dengan akal (Koentjoroningrat, 1974:9). Sementara itu, kata “budaya” dalam bahasa Inggris adalah culture yang berasal dari bahasa latin colere yang berarti merawat, memelihara, menjaga,  mengolah, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari asal kata di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan akal atau pikiran untuk mengolah atau memanfaatkan lingkungan sekitarnya.

Dalam karyanya Primitive Culture (1871), E.B Tylor mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat (1871:1). Hampir sama dengan E.B Tylor, pakar antropologi Amerika Robert H Lowie (1937:3) mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat-istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan karena kreativitasnya sendiri, tetapi warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal. Sementara itu, Koentjoroningrat (1985:180) mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Dalam bukunya The Church and Cultures  (1970:60), Louis Luzbetak mencoba merumuskan karakteristik umum kebudayaan. Pertama, kebudayaan adalah suatu cara hidup. Kedua, kebudayaan adalah total dari rencana atau rancangan hidup. Ketiga, secara fungsional kebudayaan diorganisasikan dalam suatu sistem. Keempat, kebudayaan itu diperoleh melalui proses belajar. Terakhir, kebudayaan adalah cara hidup dari suatu kelompok sosial, bukan cara hidup individual atau perorangan.

Dalam memahami kebudayaan, maka perlu memahami pula unsur kebudayaan itu sendiri. Menurut Koentjoroningrat, ada tujuh unsur kebudayaan, yaitu sistem religi, mata pencaharian, organisasi sosial, pengetahuan, teknologi, bahasa, dan kesenian. Namun, dalam makalah ini, penulis akan memfokuskan pada salah satu unsur kebudayaan, yaitu kesenian.

3. KESENIAN  

Banyak pengalaman manusia yang tidak dapat diungkapkan oleh bahasa rasional dan hanya dapat diungkapkan dengan bahasa simbolik, yaitu seni. Melalui karya seni, seperti seni sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan seni drama, manusia mengekspresikan ide, nilai, dan perasaannya. Hal ini tidak berarti bahwa seni bersifat irasional, tetapi didalamnya direalisasikan nilai yang tidak diliputi fungsi akal (Bakker, 1984: 46). Menurut K.Langer (dalam Dharsono, 2004: 2) seni merupakan simbol dari perasaan. Seni merupakan kreasi bentuk simbolis dari perasaan manusia. Bentuk-bentuk simbolis yang mengalami transformasi merupakan universalisasi dari pengalaman. Dalam hal ini, seni mengungkapkan makna yang ditangkap oleh perasaan estetis.

Seni juga dapat menjadi media komunikasi untuk penyampaian pesan. Selain itu, seni juga dapat berfungsi sebagai pemenuhan hiburan manusia. Biasanya, seni tari, seni drama, maupun seni lukis memberikan pesan melalui berbagai media yang digunakan. Namun, penikmat untuk golongan seni ini kurang begitu dinikmati oleh semua golongan masyarakat. Hal ini memiliki kecenderungan bahwa penikmat seni drama, seni lukis, maupun seni tari memiliki golongan tersendiri. Hal ini berbeda dengan seni musik, penikmat seni musik lebih universal dan dapat dinikmati oleh berbagai golongan masyarakat.

Berbicara mengenai seni musik, sekarang banyak sekali musisi yang lahir di industri musik Indonesia. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari maraknya musisi luar negeri yang mulai bermunculan juga. Penikmat seni musik ini mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan, manusia yang telah lanjut usia juga merupakan penikmat seni musik. Seni musik ini mempunyai beberapa jenis, yaitu pop, jazz, R&B, country, dangdut dan sebagainya. Dari beberapa jenis seni musik tersebut, jenis musik yang paling banyak digemari oleh masyarakat adalah musik pop.

Dahulu musik pop Indonesia banyak diisi oleh penyanyi atau band dari luar Indonesia. Misalnya, Siti Nurhaliza dari Malaysia. Namun, sejalan dengan bertambahnya penghasilan yang cukup menggiurkan di bidang industri musik ini banyak bermunculan penyanyi dan band Indonesia. Misalnya, Penyanyi (Rossa, Afgan, Glen Fredly, dll) dan band ( Lyla, Dewa, Padi, dll). Hal ini masih berlangsung dengan bintang yang silih berganti mengikuti arus perkembangan zaman. Bahkan, pengaruh dari luar Indonesia memengaruhi kondisi musik di Indonesia, yaitu hadirnya musik K-Pop dari Korea Selatan. Dalam hal ini, muncul pula di Indonesia boyband dan girlband Indonesia. Misalnya, Smash, Princes, dan Cherrybelle.

 4. KONSER MUSIK LUAR NEGERI DI JAKARTA

Dalam perkembangannya, Indonesia, khususnya Jakarta, mempunyai budaya baru di bidang musik. Budaya baru tersebut adalah budaya menonton konser musik. Entah, bagaimana budaya ini bisa terbentuk di masyarakat. Budaya ini telah merasuki masyarakat, terutama kalangan remaja. Semakin lama, banyak promotor yang semakin rajin mendatangkan artis luar negeri. Harga untuk satu tiketnya pun tidak sedikit. Biasanya mulai dari Rp.500.000,00 sampai Rp.5.000.000,00.

Indonesia sedang mengalami perkembangan ekonomi yang cukup baik. Mungkin, hal ini yang mendasari bisnis konser musisi luar negeri laku keras di Jakarta. Banyak sekali musisi luar negeri yang sudah singgah di Jakarta. Bahkan, banyak musisi luar negeri yang sudah berkali-kali datang di Indonesia, tetapi tiket konsernya masih laku terjual sampai habis. Musisi tersebut adalah Pitbull, Maroon 5, dan Justin Bieber. Tentu saja, peluang manis menyelenggarakan konser musik musisi luar negeri di Jakarta sangat menguntungkan. Hal ini dimanfaatkan oleh beberapa promotor untuk mengambil keuntungan.

Meskipun banyak musisi luar negeri yang datang ke Jakarta untuk menyelenggarakan konser, tetapi musisi Indonesia juga tidak ketinggalan menyelenggarakan konser musik. Misalnya, Gigi dan Kahitna. Musisi Indonesia yang menyelenggarakan konser masih sedikit jumlahnya. Namun, musisi, seperti Gigi dan Kahitna mampu menandingi konser dari para musisi luar. Hal tersebut terlihat pada saat Gigi dan Kahitna menyelenggarakan konser, banyak sekali penonton yang menghadiri konser tersebut. Biasanya, musisi Indonesia yang menyelenggarakan konser merupakan musisi yang berkualitas dan sudah berpengalaman di atas sepuluh tahun.

 

5.  IDEOLOGI KONSER MUSIK LUAR NEGERI DI JAKARTA

Berkaitan dengan budaya menonton konser luar negeri di Jakarta, maka penulis akan melihat pula dari sisi ideologi. Ideologi ini mempunyai peran dalam membantu mengembangkan budaya menonton konser luar negeri di Jakarta. Ideologi merupakan salah satu konsep krusial dalam kajian popular cultur atau budaya populer. Dalam bukunya yang berjudul Teori Budaya dan Budaya Pop Memetakan Landskap Konseptual Cultural Studies, John Storey (2004: 4) menuliskan ada lima konsep ideologi. Makna yang dibahas hanya yang terkait dengan budaya populer. Pertama, ideologi dapat mengacu pada suatu pelembagaan gagasan sistematis yang diartikulasikan oleh sekelompok masyarakat tertentu.

Kedua, ideologi menyiratkan adanya penopengan, penyimpangan, atau penyembunyian realitas tertentu. Ideologi digunakan untuk menunjukkan bagaimana praktik budaya tertentu menghadirkan berbagai citra tentang realitas yang sudah didistorsi atau diselewengkan. Praktik itu yang kemudian memproduksi apa yang disebut kesadaran palsu. Ketiga, istilah ideologi digunakan untuk mengacu bentuk-bentuk ideologis. Penggunaan ini dimaksudkan untuk menarik perhatian pada cara yang selalu digunakan oleh media massa untuk menampilkan citra tertentu tentang dunia.

Keempat, definisi ini dikembangkan oleh filsuf Marxis Perancis, Louis Althusser. Althusser melihat ideologi bukan hanya sebagai pelembagaan ide-ide, tetapi juga suatu bentuk material. Hal ini dimaksudkan ideologi dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan bukan hanya ide saja. Pemikiran Althusser mengenai ideologi adalah cara ritual atau kebiasaan tertentu menghasilkan akibat yang mengikat dan melekatkan manusia pada tatanan sosial. Hal tersebut ditandai oleh kesenjangan sosial. Kelima, definisi ideologi menurut Roland Barthles. Barthles menyatakan bahwa ideologi berfungsi pada level konotasi, makna sekunder, makna yang seringkali tidak disadari yang ditampilkan oleh apapun.

Kepercayaan seseorang atau ideologi seseorang akan hal tertentu akan diturunkan dalam bentuk nyata. Dengan menggunakan definisi ini, masyarakat yang sering mengikuti konser musik sebagai ajang pencarian identitas sosial dapat dikaitkan dengan ideologi. Ideologi digunakan sebagai alat untuk menyembunyikan realitas sebenarnya. Pada konser musik memunculkan ideologi bahwa masyarakat yang menonton konser musik luar negeri merupakan masyarakat yang memiliki citra atau status “gaul”. Padahal, hal tersebut hanya merupakan sebuah ideologi yang dibuat oleh promotor agar konser musik yang diadakannya dapat menarik massa. Masyarakat rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menunjukkan eksistensinya dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal, banyak masyarakat menengah yang juga menonton konser musik luar negeri tersebut agar stastusnya diakui. Hal ini dapat dikatakan sebagai upaya penyembunyian realitas dalam kehidupan bermasyarakat.

6.  IDENTITAS BUDAYA

Ideologi yang dibuat dalam konser musik luar negeri di Jakarta erat kaitannnya dengan identitas yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, identitas yang dimaksud adalah identitas budaya menonton konser musik luar negeri di Jakarta. Pembahasan tentang identitas budaya seringkali dikaitkan dengan istilah identitas sosial. Padahal, identitas sosial terbentuk dari struktur sosial yang terbentuk dalam sebuah masyarakat. Lain halnya dengan identitas sosial, identitas budaya yang terbentuk melalui struktur kebudayaan suatu masyarakat. Struktur budaya adalah pola persepsi, berpikir dan perasaan, sedangkan struktur sosial adalah pola perilaku sosial. Identitas budaya merupakan ciri yang ditunjukkan seseorang karena orang itu merupakan anggota dari sebuah kelompok tertentu. Itu meliputi pembelajaran tentang dan penerimaan tradisi, sifat bawaan, bahasa, agama, keturunan dari suatu kebudayaan (Liliweri, 2004: 87). Bila dikaitkan dengan kondisi masyarakat di Jakarta yang suka menonton konser musik luar negeri, dapat dikatakan bahwa identitas budaya yang timbul pada kondisi tersebut lahir dari penerimaan tradisi dari budaya barat. Awalnya, konser musik diadakan di negara-negara barat saja. Namun, melihat kondisi pasar yang menggiurkan di Indonesia, khususnya Jakarta, maka banyak konser musik luar negeri yang mulai bermunculan. Budaya barat memiliki identitas yang kuat di masyarakat Jakarta. Banyak sekali budaya yang merupakan keturunan barat mewabah di masyarakat. Hal ini memiliki kesan bahwa semua hal yang berhubungan dengan barat adalah sesuatu yang modern, gaul, dan patut untuk ditiru.

Daphne A. Jameson dalam jurnalnya Reconceptualizing Cultural Identity and Its Role in Intercultural Business Communication (2007: 281-285) menyebutkan bahwa identitas budaya memiliki atribut. Pertama,  Cultural identity is affected by close relationship (identitas budaya dipengaruhi oleh hubungan dekat). Hubungan dekat seseorang dengan orang lain. Misalnya, anggota keluarga atau teman. Budaya menonton konser dapat berkembang di masyarakat karena adanya hubungan dekat diantara masyarakat sehingga budaya tersebut dapat dengan mudah menyebar. Kedua, Cultural identity changes over time (identitas budaya berubah sesuai dengan waktu). Perubahan yang dialami seseorang dalam hidupnya dapat mengubah identitas budaya yang ia miliki. Misalnya, perubahan status sosial, kelas ekonomi, profesi, status kewarganegaraan ataupun agama. Perubahan tersebut membuat masyarakat melakukan hal yang sebenarnya tidak mereka suka. Dalam hal ini, bisa saja menonton konser luar negeri ini adalah sebuah keterpaksaan akibat status yang dimiliki bukan karena kebutuhan.

Ketiga, Cultural identity is closely intertwined with power and privilege (identitas budaya erat kaitannya dengan kekuasaan dan hak istimewa). Hal ini dapat menjadikan masyarakat memiliki kekuasaan dan hak istimewa di kehidupan bermasyarakat. Dalam contoh budaya menonton konser musik luar negeri, seseorang yang menonton konser akan dinilai masyarakat sebagai  seseorang yang mempunyai kekuasaan dan hak istimewa. Pasalnya, harga tiket yang dijual memang tidak sedikit dan hanya menjangkau golongan masyarakat tertentu. Keempat, Cultural identity may evoke emotions (identitas budaya bisa membangkitkan emosi). Setiap orang mungkin memiliki perasaan positif, negatif, netral atau ambigu terhadap komponen identitas budaya mereka sendiri. Ketika orang tersebut mendapatkan tanggapan yang positif dari budaya orang lain, beberapa kemungkinan bisa saja terjadi. Mulai dari mengubah cara pandangnya, menghargai sikap tersebut, atau bisa juga ikut dalam kelompok yang berhubungan dengan hal tersebut.

Kelima, Cultural identity can be negotiated through communication (identitas budaya bisa dinegosiasikan melalui komunikasi). Identitas budaya menonton konser luar negeri di Jakarta disebarkan melalui berbagai media komunikasi yang menunjang, seperti iklan di berbagai media, tanggapan positif para public figure, dan sebagainya. Hal ini terbukti ampuh untuk mengembangkan identitas budaya di masyarakat.

7.   BUDAYA MASSA

Identitas budaya yang telah disebutkan di atas mengenai menonton konser musik luar negeri di Jakarta diperkuat oleh konsep budaya massa. David Jary dan Julia Jary (1991:380) dalam Collins Dictionary of Sociology mengatakan bahwa budaya massa adalah budaya yang relatif terstandarisasi atau diseragamkan untuk dikonsumsi oleh banyak orang. Hal tersebut distandarisasi oleh pembentukan ideologi yang dikembangkan dalam masyarakat. Ideologi tersebut menyebar agar masyarakat memiliki pemahaman yang sama mengenai menonton konser musik di Jakarta. Oleh karena itu, ada mekanisme yang bekerja pada skala global dalam praktik standarisasi tersebut. Ada mekanisme yang mengatur budaya massa sehingga bisa diterima oleh orang dalam jumlah yang besar. Mekanisme ini yang dianut oleh promotor dalam menyelenggarakan konser musik luar negeri di Jakarta. Hasilnya, penyelenggaraan konser musik luar luar negeri di Jakarta selalu ramai diserbu masyarakat.

Pendapat lain mengatakan bahwa budaya massa bukanlah sesuatu yang sendirinya ada, hal tersebut adalah sebuah realitas yang memiliki hubungan sosial dengan berbagai realitas lain dalam perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat modern (Budiman, 2002:51). Sesuai dengan pendapat tersebut, konser musik luar negeri di Jakarta merupakan hal baru. Sebelumnya, penyelenggaraan konser musik oleh musisi luar negeri sudah lama diadakan di negara-negara maju, seperti negara-negara di Eropa dan Amerika. Mungkin, konser musik oleh musisi luar negeri itu banyak diselenggarakan di negara maju karena kondisi masyarakatnya yang mampu menjangkau tiket yang tidak sedikit tersebut. Namun, ternyata Indonesia, khusunya Jakarta, juga merupakan mangsa pasar yang empuk. Hal tersebut terlihat dari ramainya setiap konser musik luar negeri yang diadakan di Jakarta sejak awal kemunculannya. Menonton konser luar negeri di Jakarta merupakan sebuah realitas yang memiliki hubungan sosial dan berhubungan dengan masyarakat modern. Dengan kata lain, orang yang menonton konser musik luar negeri di Jakarta adalah masyarakat modern. Hal tersebut adalah ideologi yang berkembang terhadap identitas budaya dalam budaya massa.

 

8.     PENUTUP

Pada zaman sekarang, budaya yang ada di masyarakat tidak lagi identik dengan kebiasaan nenek moyang yang diwariskan kepada keturunannya. Budaya dapat lahir sejalan dengan berkembangnya zaman yang semakin maju. Dalam hal ini, budaya yang dilihat adalah budaya menonton konser musik luar negeri di Jakarta. Hal ini menjadi budaya karena perilaku menonton konser adalah sebuah kebiasaan dari hasil karya manusia yang diturunkan oleh negara barat. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Louis Luzbetak mengenai karakteristik umum kebudayaan. Ia menyebutkan bahwa kebudaayaan adalah cara hidup suatu kelompok sosial. Menonton konser musik luar negeri adalah cara hidup seseorang agar dikatakan sebagai masyarakat modern dan menjadi sebuah anggota kelompok modern tersebut.

Budaya ini tidak terlepas dari peran promoter yang menyelenggarakan konser musik luar negeri di Jakarta. Dengan berkembangnya perekonomian negara, promotor memanfaatkan peluang tersebut dengan menyelenggarakan konser musik luar negeri yang harga tiketnya tidak sedikit. Bisa dilihat dari data yang diberikan, harga tiket paling murah sebesar Rp.500.000,00 dan tiket ini bisa mencapai harga Rp.5.000.000,00 untuk harga tertinggi. Penyelenggaraan konser musik luar negeri ini pun sepanjang tahun 2011 diadakan setiap bulan di Jakarta. Namun, pada kenyataannya dengan harga tiket yang tinggi menjulang tersebut tidak menyurutkan minat para pembeli tiket tersebut. Selain faktor fanatisme seseorang akan musisi idola yang berasal dari luar negeri, ada pula faktor lain yang mendukung konser musik ini mempunyai daya magnet yang tinggi. Hal tersebut adalah adanya pembentukan ideologi di masyarakat yang dikembangkan oleh promotor, penyelenggara konser musik.

Ideologi dibentuk oleh promotor agar menarik massa dan meraih keuntungan besar. Ideologi ini menghadirkan berbagai citra tentang realitas masyarakat modern untuk menarik perhatian pada cara yang selalu digunakan oleh media massa. Hal ini menjadi sebuah kebiasaan karena seringnya konser musik luar negeri di Jakarta. Akibatnya, budaya ini mengikat atau melekat pada masyarakat yang ingin disebut masyarakat modern. Budaya ini memunculkan pula identitas budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Identitas budaya ini dibangun melalui hubungan dekat dengan kerabat atau sesama manusia. Ditambah pula dengan status yang sedang dimiliki atau status yang ingin dimiliki oleh seseorang dalam masyarakat. Bahkan, peran media masa yang kuat dalam menyebarkan pesan dapat mengembangkan identitas budaya di masyarakat.

Penyebaran ideologi terhadap identitas budaya di masyarakat ini terlihat dalam konsep budaya massa. Dalam budaya massa, budaya distandarisasi oleh mekanisme yang mengatur budaya massa tersebut sehingga bisa diterima oleh orang dalam jumlah yang besar. Selain itu, budaya massa menonton konser musik luar negeri di Jakarta ini juga dapat dikatakan sebagai realitas dalam hubungan sosial masyarakat modern. Konsep modern ini terdapat di negara maju, seperti negara-negara Eropa dan Ameika. Indonesia sebagai negara berkembang, tentu saja mengikuti konsep modern tersebut agar dikatakan sebagai masyarakat yang modern sesuai dengan negara maju lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alo, Liliweri. 2004. Wacana Komunikasi  Organisasi. Bandung: Mandar Maju.

Bakker, J.W.M. 1984. Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar. Yogyakarta-Jakarta: Kanisius-BPK Gunung Mulia.

Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Jameson, Daphne A. 2007.  Reconceptualizing Cultural Identity and Its Role in Intercultural Business Communication. 281-285.

Jary, David & Julia Jary. 1991. Collins Dictionary of Sociology. Harper Collins Publisher.

Koentjoroningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:Aksara Baru.

Storey, John. 2004. Teori Budaya dan Budaya Pop Memetakan Landskap Konseptual Cultural Studies. Yogyakarta: Qalam.

 

Internet

Galuh, Maria Cicilia dan Tomi Tresnady. http://news.okezone.com/read/2011/12/26/349/547202/indonesia-surga-konser-musisi-mancanegara-di-2011 (diakses pada Senin, 24 Desember 2012, pukul 07.35 WIB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 6, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: