Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Perbandingan Lukisan Abad Pertengahan dan Modern

  1. Abad Pertengahan dan Modern

Abad pertengahan sering disebut sebagai abad kegelapan. Periode abad pertengahan mulai dari abad ke-3 sampai abad ke-15. Pada abad pertengahan terjadi kebangkitan religius di Eropa, yakni kekristenan. Hampir seluruh sisi kehidupan umat manusia dipengaruhi secara kental oleh religius. Bahkan, pengaruh agama sampai memasuki dunia politik. Agama berkembang pesat dan mendapatkan tempat yang utama. Hal ini membuat ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang. Pada abad pertengahan, filsafat boleh berkembang dengan syarat mengikuti dogma agama. Hal ini bertentangan dengan filsafat yunani yang bebas, tetapi tetap dibatasi rasionalitas.

Pada abad ini muncul pula slogan  theology is queen of sciences. Slogan ini menandakan bahwa segala disiplin ilmu lain di luar teologia adalah sekunder. Bukan itu saja, disiplin-disiplin ilmu lainnya mesti tunduk dan mengabdi diri kepada teologia. Jelas sekali terlihat bahwa agama menduduki tempat yang vital dalam kehidupan manusia pada abad pertengahan.

Dua contoh kasus yang umumnya menjadi sorotan ialah Copernicus dan Galileo. Hasil penelitian mereka menyimpulkan bahwa susunan benda-benda langit seharusnya mengikuti teori heliosentris; matahari sebagai pusat tata surya. Sementara pada zaman itu masyarakat umum yang diwakili oleh pihak gereja mempercayai teori geosentris; bumi sebagai pusat tata surya. Gereja cenderung memegang teori geosentris dengan konsekuensi menentang teori heliosentris. Belakangan hari kita mengetahui yang benar ialah teori heliosentris.

Kebenaran agamawi mendapatkan tempat utama di dalam hati manusia. Segala cabang ilmu lainnya mesti menyelaraskan diri kepada teologia. Apabila terjadi pertentangan di antara keduanya maka kebenaran agamawilah yang dijadikan patokan. Melalui satu kalimat pendek: agama mendominasi sains. Itulah situasi-kondisi yang berkembang pada abad pertengahan.

Dari abad pertengahan menuju ke zaman modern dijembatani oleh masa Renaissance. Pada masa Renaissance, pengagungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan sangat menonjol. Periode masa Renaissance sekitar abad 13-16. Hal ini direfleksikan dalam arsitektur Gothic, naturalisme, fabliaux, aucassin, dan nicolette. Pada masa ini terjadi peningkatan pengkajian ilmu pengetahuan yang dilakukan di universitas-universitas tentang berbagai disiplin ilmu yang menyokong cita-cita abad ke-14. Dari sisi lain, masa Renaissance mengadakan koreksi total terhadap pola berpikir konvensional. Itulah sebabnya, banyak sikap dan prestasi baru yang berbeda dengan pandangan dunia (world view) abad pertengahan.

Renaissance merupakan suatu periode sejarah yang panjang, suatu masa dimana terjadi perubahan tradisi berpikir dan pola kehidupan yang sangat mendasar dan banyak pengaruh bagi perkembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, seni dan desain dan arsitektur. (Ariesa, et all. 2004; 37). Disinilah titik tolak reformasi abad ke-16 menyusul bangkitnya pengetahuan di zaman Renaissance dan perkembangan humanism (minat terhadap perkembangan pengetahuan manusia dan ilmu, dan sikap toleran dan tebuka terhadap ide-ide) (Kevin O,Donnell, 2009; 76-77). Periode ini ditandai dengan diterjemahkannya literature-literatur klasik Yunani-Romawi ke dalam bahasa latin untuk kemudian dibaca dan dipelajari oleh berbagai kalangan. Penemuan kembali pikiran-pikiran yang telah dicetuskan pada masa klasik Yunani-Romawi tersebut memberi “pencerahan”, dan pengetahuan baru yang kelak menjadi suatu tanda lahirnya ilmu pengetahuan modern yang menjadi cikal bakal industri dan desain modern.

Beberapa seniman pada saat itu merupakan seniman yang berbakat universal. Maksud dari hal tersebut adalah mampu menjadi seniman, penyair, pelukis, pematung, dan arsitek. Misalnya, Leonardo da Vinci, Michelangelo, Raphael, dan lain sebagainya. Objek, lukisan, relief-relief saling berhubungan dengan proporsi. Hubungan manusia dengan ruang, kesadaran mengenai jarak dan mempertanyakan kebenaran pandangan mata yang terdistorsi dan objektivitas visual manusia. Masa Renaissance merupakan suatu masa terdapat banyak perubahan yang kemudian menjadi suatu revolusi bagi perkembangan seni melukis, patung, dan arsitektur.

Modernisme meliputi rentan waktu dari abad ke-19 hingga pertengahan Abad ke-20. Dalam kurun waktu ini berbagai disiplin ilmu diberikan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri lewat metode ilmiah. Ilmu pengetahuan diyakini paling ilmiah dan objektif, bebas dari takhayul dan mistis. Manusia berpandangan faktor-faktor ini menjadikannya lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ilmu pengetahuan menempati posisi yang sejajar dengan agama. Abad ini ditandai dengan gejala progresif dari pemikiran manusia. Manusia diyakini memiliki kemampuan akal budi yang tak terbatas untuk mengembangkan, membentuk kembali, dan menciptakan lingkungan hidupnya yang lebih baik. Hal itu dilakukan melalui bantuan eksperimen dari pengetahuan ilmiah yang terwujud nantinya di dalam bentuk teknologi. Banyak sekali penemuan dari berbagai disiplin ilmu telah dihasilkan. Pencapaian-pencapaian tersebut meningkatkan taraf hidup umat manusia, terutama di bidang material-jasmaniah. Kesejahteraan manusia meningkat, hasil produksi berkembang pesat, industri menghasilkan barang-barang dalam jumlah besar sehingga kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi.

 

II. Lukisan Abad Pertengahan dan Modern

gambar 1Lukisan ini dibuat oleh Alessandro Filipepi atau yang biasa dikenal dengan nama Sandro Botticelli pada tahun 1490. Lukisan ini merupakan penggambaran manusia yang cenderung lebih ekspresif, realis, dan lebih hidup, walaupun belum sepenuhnya lepas dari tema religius. Karya-karya Botticelli dapat dijadikan referensi untuk melihat betapa karya lukis Renaissance telah berbeda dengan karya lukis abad pertengahan atau sebelumnya. Upaya untuk membuat lukisan lebih hidup, melankolis, dan memperkuat unsur-unsur estetiknya secara lebih ekspresif merupakan ciri dari lukisan-lukisan Renaissance. Tema yang diambil mulai lebih berani untuk membebaskan diri dari dogma agama, disamping penggambaran anatomi dengan menonjolkan lekuk-lekuk tubuh.

 

gambar 2

Lukisan ini dibuat oleh Leonardo da Vinci yang berjudul The Last Supper pada tahun 1495. Lukisan ini adalah sebuah mural pada dinding dan dilukis pada bidang melebar. Lukisan ini menggambarkan Kristus dan murid-muridnya duduk dibelakang meja panjang layaknya diatas “stage” menghadap ke penonton. Tema yang diangkat masih melukiskan tema religius. The Last Supper adalah sebuah karya yang sempurna, dari segi pesan, teknik, komposisi, perspektif, dan tersirat bahwa filsafat platonis masih dijadikan sebagai dasar berfikir yang kuat. Dalam lukisan ini sudah ada penerapan ilmu perspektif yang sistematis dan metodologis. Konon Leonardo sikapnya skeptis terhadap gereja sehingga angka-angka simbol Phytagoras lebih mungkin sesuai untuk menginterpretasi lukisan ini. Komponen-komponen lukisan tidak semata demi komposisi, tetapi mempunyai makna lain.

gambar 3

Lukisan di samping adalah lukisan pada abad modern. Lukisan ini dibuat oleh Pablo Picasso pada tahun 1907. Judul lukisan ini adalah Les Demoiselles d’Avignon. Dalam lukisan ini memunculkan pengetahuan mengenai primitive. Selain itu, pada lukisan ini Picasso memasukkan citra topeng Afrika dan artefak etnik. Pengaruh agama sudah tidak muncul dan lebih mengangkat kebebasan. Lukisan ini termasuk dalam aliran kubisme. Pada kubisme, bentuk-bentuk karyanya menggunakan bentuk geometri (segitiga, kerucut, kubus, lingkaran, dan sebagainya.

 

 

 

gambar 4

Lukisan Affandi yang menampilkan sosok pengemis ini merupakan manifestasi pencapaian gaya pribadinya yang kuat. Penggambaran tubuh renta lewat sulur-sulur garis yang mengalir dan menekankan ekspresi penderitaan pengemis itu. Pilihan sosok pengemis sebagai objek-objek dalam lukisan tidak lepas dari empatinya pada kehidupan masyarakat bawah. Affandi adalah penghayat yang mudah terharu, sekaligus petualang hidup yang penuh vitalitas. Objek-objek rongsok dan jelata selalu menggugah empatinya. Oleh karenanya, ia sering disebut sebagai seorang humanis dalam karya seninya.

 

III. Perbandingan Lukisan Abad Pertengahan dan Modern

Lukisan pada abad pertengahan terlihat pada lukisan Sandro Botticelli dan Leonardo da Vinci masih dipengaruhi oleh dogma agama. Lukisan masih bernuansa agama. Hal tersebut terlihat dari penggambaran Kristus. Lukisan pada abad pertengahan masih terikat dan tidak bisa bebas berkespresi. Hal tersebut tidak terlepas dari slogan theology is queen of sciences. Semua disiplin ilmu harus tunduk dan mengabdi diri kepada agama, termasuk seni rupa. Namun, seiring berjalannya waktu lukisan pada masa ini mulai lebih ekspresif, realis, dan lebih hidup. Perubahan dalam bidang seni rupa mulai menunjukkan perbedaan pada masa Renaissance walaupun dogma agama masih belum sepenuhnya lepas.

Berbagai karya-karya seni Renaissance secara visual telah berupaya meninggalkan kaidah-kaidah berkarya seni yang berlaku pada abad pertengahan. Bidang seni rupa mengalami pergeseran paradigma, khususnya dalam konteks tema dan kebebasan untuk mengekspresikannya. Fenomena tersebut baru muncul pada abad Renaissance sebagai reaksi atas keterkungkungan dalam berkarya di abad pertengahan. Sehubungan dengan hal tersebut, Widagdo menuliskan bahwa gejala baru pada masa ini adalah seni rupa membuat babakan baru. Hal ini disebabkan tema lukisan bernapaskan religi, tetapi sudah menampilkan figur dan tokoh yang dilukiskan secara realistis dan ekspresi artistik dari individu seniman mulai tumbuh lebih bebas. Tubuh manusia sebagai elemen gambar mulai divisualisasi secara lebih realistis, dengan gerak dan lekuk-lekuk anatomi tubuh manusia, elemen gambar lebih diperkaya, berbeda dengan lukisan-lukisan abad pertengahan dimana penggambaran tubuh manusia dibuat sederhana dan kaku, karena ingin tetap menjaga aspek religius lukisannya.

Secara kontekstual tema-tema yang diungkapkan masih belum jauh beranjak dari kebiasaan abad pertengahan yang senantiasa berpijak pada tema-tema religius, atau menggarap tema-tema yang bernuansa mitos maupun dongeng, tetapi dengan perwujudan visual yang sangat berbeda. Visualisasi ikon-ikon pada objek lukisan Renaissance tampak lebih hidup dan lebih berani dengan perwujudan yang juga lebih cenderung ekspresif sehingga terkadang dalam beberapa karya cenderung aspek relegiusnya tertutupi oleh unsur-unsur estetiknya yang memang terkadang lebih dinampakkan oleh senimannya.

Berbeda dengan abad pertengahan, pada abad modern seni rupa tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, tetapi tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa. Misalnya, aliran kubisme. Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi, tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas. Selain itu, tidak terikat pada pakem-pakem tertentu dan cenderung bebas berekspresi. Pada masa ini, ekspresi estetis dari segala macam ide diwujudkan oleh pelukis dalam bentuk-bentuk yang kongkrit. Tidak hanya itu, sikap batin pelukis sangat menentukan proses pembuatan lukisan. Hal tersebut terlihat dari lukisan Affandi mengenai pengemis. Pilihan sosok pengemis sebagai objek-objek dalam lukisan tidak lepas dari empatinya pada kehidupan masyarakat bawah. Hal ini tidak bisa diterapkan dalam lukisan abad pertengahan. Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh dogma agama yang kuat sehingga adanya batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ariesa. et all. 2004. Diktat Kuliah Sejarah Seni Barat (Gothic-Baroque). Bandung: Maranatha.

Lucas, Henry S. 1960. The Renaissance and The Reformation. New York: Harper & Row, Publissher.

Widagdo. 2000. Desain dan Kebudayaan. Jakarta:  Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 31, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: