Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Esai Kuliah Kerja Nyata (K2N) Pulau Gag, Raja Ampat, Papua

Wilayah Kabupaten Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang terdiri dari kurang lebih 610 buah pulau besar dan kecil yang memiliki potensi sumberdaya terutama terumbu karang yang merupakan bagian dari ”segitiga karang” (Coral Triangel) yang terdiri dari Indonesia, Filipina, Papua New Guinea, Jepang, dan Australia (Sheila A. McKenna, dkk, 2002). Secara geografis, Raja Ampat berada pada koordinat 2°25’LU-4°25’LS & 130°-132°55’BT. Secara geoekonomis dan geopolitis, Kepulauan Raja Ampat memiliki peranan penting sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah luar negeri.

Pulau Gag termasuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Wilayah ini sebagian besar adalah kawasan konservasi yang terdiri atas pulau-pulau. Kementerian Kehutanan menginginkan agar Pulau Gag tetap dijadikan hutan lindung. Di pihak lain, Kementerian Pertambangan menginginkan eksploitasi terhadap potensi nikel yang terdapat di pulau tersebut. Pulau luar ini menyimpan keindahan alam yang eksotis dan kekayaan etnik. Sebagai mahasiswa, kita memiliki salah satu tugas penting, yaitu pengabdian terhadap bangsa dan negara. Salah satu bentuk pengabdian terhadap negara sebagai seorang mahasiswa adalah mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (K2N) yang diadakan oleh Universitas Indonesia.

Nama Pulau Gag berdasarkan mitologi masyarakat setempat berasal dari kata gag yang berarti teripang (Sea cucumber) dalam bahasa Weda, salah satu bahasa yang digunakan oleh penduduk di Kepulauan Halmahera. Hal ini disebabkan pendatang pertama yang masuk ke daerah ini melihat begitu banyaknya teripang di perairan Pulau Gag. Pulau Gag sebelumnya merupakan pulau yang tidak berpenghuni dan hanya digunakan untuk berkebun. Penduduk pertama Pulau Gag berasal dari Pulau Gebe yang awalnya datang untuk mencari dan membuka lahan pertanian (berkebun).

Sebelumnya terdapat perkampungan kuno yang disebut Kampung Lama, yaitu perkampungan yang ada pada masa awal kedatangan penduduk pertama. Kampung tersebut sekarang sudah ditinggalkan penduduk karena sebagian besar penduduk memilih bermukim di Kampung Gambir (Kampung Baru) yang lokasinya lebih strategis. Hal tersebut disebabkan lokasinya yang berdekatan dengan komplek perusahaan sehingga fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat lebih dekat, seperti dermaga, listrik, air, sekolah, dan kesehatan.

Asal mula berkembangnya pemukiman di Pulau Gag dimulai pada saat kemenangan pasukan Trikora yang berdatangan sekembalinya Irian Jaya kepangkuan NKRI. Kata Gambir berasal dari kata gembira dalam bahasa Indonesia sebagai ungkapan rasa suka cita atas kembalinya Pulau Gag sebagai bagian wilayah Irian Jaya kepada NKRI. Kedatangan pasukan Trikora di Pulau Gag juga diikuti dengan kedatangan pendatang yang ingin mengadu nasib bekerja di pertambangan nikel.

Eksploitasi nikel di Pulau Gag telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pada saat Belanda meninggalkan Indonesia, maka Irian Jaya kembali ke pangkuan RI dan terjadinya nasionalisasi perusahaan milik Belanda pada tahun 1972. Penambangan nikel dilanjutkan oleh PT. Pasifik Nikel (perusahaan PMA dari AS) sampai dengan tahun 1981. Selanjutnya, pertambangan nikel dikelola oleh PT. Aneka Tambang (salah satu BUMN) yang kemudian melakukan kontrak kerjasama dengan PT. BHP Biliton (perusahaan PMA dari Australia) pada tahun 1995.

Pada tahun 1999 PT. Gag Nikel mulai menghentikan kegiatan eksplorasinya bersamaan dengan keluarnya UU No 41 Tahun 1999 dan isu penetapan Pulau Gag sebagai hutan lindung. Walaupun eksplorasi pertambangan sudah tidak dilakukan, tetapi keberadaan perusahaan masih ada dan hanya melakukan kegiatan pengambilan sampel. Hal ini berpengaruh terhadap kondisi sosial dan ekonomi Pulau Gag. Hal tersebut disebabkan terhentinya operasional pertambangan menyebabkan PHK pada sejumlah karyawannya sehingga menambah pengangguran dan mengurangi perputaran uang tunai yang ada di Pulau Gag.

Secara umum terdapat tiga jenis mata pencaharian utama penduduk di Pulau Gag, yaitu nelayan, pegawai, dan petani. Namun, penduduk juga mempunyai mata pecaharian sampingan, seperti berkebun, meramu sagu, membuat kopra dan berdagang. Wilayah yang dikelilingi oleh laut menyebabkan hampir sebagian besar penduduk di Pulau Gag menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai nelayan tradisional.

Tingkat pendidikan penduduk di Kampung Gambir tergolong rendah, sebagian besar berpendidikan Sekolah Dasar (SD) berjumlah 293 orang (46,29%) dan tidak bersekolah sebanyak 159 orang (25,12%). Hal itu disebabkan terbatasnya akses pendidikan yang dapat dienyam penduduk. Pendidikan menjadi suatu hal yang mahal karena pendidikan yang dapat dienyam di Pulau Gag hanya sampai pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Untuk untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang besar karena harus melanjutkannya di luar Pulau Gag.

Wilayah

Pendidikan Formal

Tidak Sekolah

SD

SMP

SMA

Perguruan Tinggi

RT I

31

79

10

16

1

RT II

39

57

22

12

1

RT III

59

74

34

28

6

RT IV

36

83

22

21

2

Jumlah

165

293

88

77

10

Sumber: Monografi Desa Gambir, 2009

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di Pulau Gag menyebabkan kurangnya pemahaman tentang makna konservasi sumber daya alam di masa mendatang. Selain itu, dengan pendidikan yang relatif rendah dan kurangnya ketrampilan menyebabkan masyarakat banyak berharap akan keberadaan lapangan kerja yang dibuka perusahaan di sektor pertambangan tanpa memahami dampak negatifnya secara ekologis terhadap kehidupan generasi mendatang. Tingkat pendidikan yang rendah juga menyebabkan nelayan sebagai salah satu alternatif pekerjaan. Hal ini disebabkan nelayan tradisional di daerah ini tidak menggunakan teknologi tinggi dalam penangkapan ikan. Hal tersebut membuat pekerjaan ini tidak memerlukan pendidikan formal. Teknik penangkapan ikan oleh masyarakat, antara lain dengan menggunakan jaring, racun (akar bore), tombak, busur dan anak panah, bahan peledak, dan jerat ikan. Tingkat pendidikan yang rendah dan desakan kebutuhan ekonomi menyebabkan kurangnya pemahaman masyarakat tentang konservasi sumberdaya alam sehingga masyarakat mempunyai kebiasaan menggunakan bahan peledak dan bahan-bahan yang merusak kehidupan biota laut dalam menangkap ikan.

Program yang akan dilakukan jika penulis mendapat kesempatan mengikuti K2N di Pulau Gag adalah mengajarkan bahasa Indonesia. Pengajaran bahasa Indonesia sangat penting karena tingkat pendidikan di Pulau Gag masih rendah. Hal tersebut berpotensi bahwa masyarakat Pulau Gag lebih sering menggunakan bahasa daerah. Jika tingkat pendidikan rendah, maka penguasaan bahasa Indonesia juga akan rendah. Bahkan, masyarakat Pulau Gag yang sudah berhenti sekolah pada tingkat dasar bisa jadi akan lupa dan tidak menguasai bahasa Indonesia. Hal tersebut akan memperburuk kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Pulau Gag karena masyarakat tidak akan bisa berkomunikasi dengan masyarakat luar pulau yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Selain itu, pengajaran bahasa Indonesia dapat pula memupuk rasa nasionalisme masyarakat Pulau Gag. Hal tersebut menjadi penting agar masyarakat tidak akan mudah terpengaruh oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut disebabkan potensi nikel yang menggiurkan dapat mengancam keamanan pulau.

Dalam hal ini, penulis akan melakukan dalam bentuk taman bacaan untuk anak-anak dan penyuluhan kebahasaan untuk orang tua. Taman bacaan merupakan sebuah wadah untuk anak-anak mengenal bahasa Indonesia. Selain itu, taman bacaan ini juga diharapkan dapat menjadi sebuah cahaya yang dapat menyinari masuknya ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan mengenai potensi dan kekayaan Pulau Gag. Hal tersebut penulis lakukan karena melihat tingkat pendidikan yang rendah dan keterbatasan biaya untuk menuntut ilmu ke luar pulau. Oleh karena itu, penulis berharap dengan masuknya ilmu pengetahuan dan penguasaan bahasa yang memadai dapat memacu anak-anak untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan memajukan tempat tinggalnya. Sementara itu, orang tua juga perlu mendapatkan pengetahuan kebahasaan, terutama bahasa Indonesia. Pengajaran bahasa Indonesia akan berhasil jika para orang tua juga menerapkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Selain itu, dengan menggajarkan bahasa Indonesia, maka para orang tua juga diharapkan tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan pihak luar pulau. Jika hal tersebut teratasi, maka penulis mempunyai asumsi bahwa kondisi ekonomi dan sosial di Pulau Gag juga akan meningkat seiring dengan penguasaan bahasa Indoensia dan pengetahuan yang cukup.

Faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan penduduk diantaranya adalah masih rendahnya penguasaan teknologi penangkapan dan terbatasnya sumber pendapatan lain di luar sektor perikanan. Dengan demikian, tidak hanya membentuk taman bacaan, penulis juga ingin menciptakan penyuluhan tentang pemanfaatan rumput laut agar masyarakat setempat tidak hanya mengeksploitasi kekayaan laut, tetapi juga mengembangkan usaha yang dapat mereka manfaatkan untuk menambah pendapatan sekaligus menyeimbangkan alam yang ada di Pulau Gag. Program tersebut  menjadi motivasi penulis untuk memajukan bangsa ini dari hal kecil, yaitu memajukan generasi muda Pualu Gag yang sudah telanjur tidak menempuh pendidikan formal yang berwawasan ekosistem. Selain itu, penulis juga akan melakukan penyuluhan mengenai teknik penangkapan ikan yang berwawasan lingkungan. Hal ini disebabkan ketidaktahuan masyarakat Pulau Gag akan bahaya bahan peledak terhadap biota laut. Tidak hanya itu, hal tersebut dapat pula mewujudkan Tri Dharma perguruan tinggi yang menjadi motivasi khusus penulis selama menjadi mahasiswa. Penulis berharap dapat mengabdi kepada bangsa dan negara melalui program Kuliah Kerja Nyata (K2N).

 

DAFTAR PUSTAKA

Coremap dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat. 2005. Atlas Sumberdoyo Pesisir dan Lout Kepulauon Raja Ampot (Distrik Woigeo Borot dan Woigeo Seioton). Kerja Sama Antara Coremap tahap II, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat dengan PT. Edecon Prima Mandiri. 2005. Raja Ampat.

Hastanti, Baharinawati W, dan R. Gatot Nugroho. Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi: Studi Kasus Pulau Gag, Raja Ajmpat, Papua Barat. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol.1 No.2, Desember 2012 : 149-164.

Kementerian Kehutanan, 1999. UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. www.

dephut.go.id (diakses tanggal 5 Maret 2013 pukul 07.00 WIB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 31, 2013 by in Bebas.
%d bloggers like this: