Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Asal Usul Bahasa-bahasa di Indonesia

Pada masa Tersier akhir (zaman Pliosen) yang berkembang sekitar 2-12 juta tahun yang lalu  keadaan muka bumi telah seperti sekarang, tetapi beberapa wilayah masih ditutupi lapisan es dan salju yang tebal. Masa berikutnya adalah Kuarter yang terbagi menjadi dua periode, yaitu Pleistosen (2-11.000 tahun yang lalu) dan Holosen (mulai 10.000 tahun yang lalu). Pada akhir zaman Pleistosen dan awal Holosen diperkirakan terjadi pemanasan bumi sehingga lapisan es dan salju mulai mencair dan mengisi dataran yag lebih rendah. Masa tersebut diperkirakan terjadi pada sekitar 11.600 tahun yang lalu. Pada masa tersebut, manusia modern (homo sapiens) telah berkembang di muka bumi sekitar 50.000 tahun yang lalu. Melihat keadaan geologi wilayah Asia Tenggara pada akhir zaman es Pleistosen bahwa para ahli menyimpulkan bahwa telah terjadi banjir bandang. Hal tersebut disebabkan meluapnya air laut akibat melelehnya es dan salju yang menutupi dunia. Banjir bandang tersebut menenggelamkan Paparan Sunda di bagian barat Indonesia. (Howell 1977: 45-49, Santos 2010: 64, dan Oppenheimer 2010: 100).

Dalam upaya mencari asal usul bahasa Austronesia, Gorys Keraf (1991) melakukan kajian melalui pendekatan Linguistik Historis Komparatif. Ia mengemukakan bahwa tersebarnya penutur bahasa Austronesia disebabkan oleh naiknya air laut yang menenggelamkan Paparan Sunda. Berdasarkan landasan teori migrasi bahasa, Keraf mencoba menjelaskan migrasi yang terjadi pada masa prasejarah, dari suatu tempat yang dinamakan tempat asal ke daerah baru tempat bahasa-bahasa kerabat. Teori migrasi dikembangkan dalam dua dalil utama, yaitu wilayah asal atau negeri asal bahasa kerabat haruslah berkesinambungan dan jumlah bahasa yang direkontruksi akan berbanding terbalik dengan jumlah gerak yang perpindahan yang terjadi.

Dalil pertama memberikan suatu dasar untuk menemukan suatu daerah asal yang merupakan daerah kesatuan bagi bahasa-bahasa yang terpisah letaknya, daripada menerima semua daerah itu secara bersama-sama sebagai wilayah asal. Dalil kedua dapat dianggap sebagai gerak yang paling minimal. Manusia tidak akan berpindah tempat jika tidak karena terpaksa. Oleh karena itu, bila sejumlah daerah dapat dicalonkan sebagai negeri asal, maka daerah dengan jumlah gerak perpindahan yang pling sedikit mempunyai peluang besar yang paling besar sebagai negeri asal, tempat asal mula gerak perpindahan.

Berdasarkan kedua dalil tersebut, Keraf menyatakan bahwa sulit menerima pendapat Hendrik Kern (1889) yang menyatakan bahwa orang Austronesia awalnya bermukim di daerah Yunan (Cina Selatan) yang kemudian menyebar ke kawasan Asia Tenggara. Pendapat Kern tersebut terdapat dalam karangan yang berjudul Taalkundige Gegevens ter Bepaling van het Stamland der Maleisch-Polynesische Volken. Dalam penetapan negeri asal bahasa Austronesia, Kern menggunakan 30 kata yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa. Seratus bahasa tersebut tersebar dari Malagasi sampai tepi barat Amerika Selatan, dari Formosa di sebelah utara sampai Selandia Baru di sebelah selatan. Kata yang dibandingkan adalah kata yang menyangkut dunia tumbuh-tumbuhan dan dunia binatang. Kata tumbuh-tumbuhan yang dipergunakan Kern dalam perbandingan adalah tebu, nyiur, bambu, buluh, padi, ketimun, pandan, ubi, jelatang, talas dan tuba. Berdasarkan kata tumbuh-tumbuhan tersebut bentuk kata yang sama di Selandia Baru dan Malagasi terjadi karena kebetulan. Kemudian adanya pembedaan padi dan beras hanya bisa terjadi jika kata tersebut merupakan warisan dari bahasa proto yang sama dan semua tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan tropis dan sub-tropis.

Kata atau nama binatang laut yang digunakan untuk perbandingan oleh Kern adalah hiu, gurita, udang, ikan, pari, penyu, nyamuk, lalat, kutu, telur kutu, laba-laba, tikus, anjing, babi, bangau , buaya, tuna. Melihat perbandingan nama binatang laut dan darat tersebut dapat terlihat bahwa adanya kesamaan nama binatang laut dan darat. Kesamaan atau kemiripan tersebut lebih terlihat pada nama binatang laut sehingga adanya dugaan bahwa negeri asal bangsa-bangsa Melayu Polinesia berbatasan dengan laut. Dari kedua perbandingan tersebut, Kern menyimpulkan bahwa negeri asal Austronesia harus terletak di pantai Timur Indo-Cina, yaitu paling utara di sebelah selatan Cina.

Keraf juga meragukan pendapat Slamet Mulyana (1964) yang menyatakan adanya pengaruh bahasa-bahasa dari dataran Asia dalam bahasa Austronesia. Hal tersebut berdasarkan penelitian yang membandingkan kata bilangan, kata ganti diri, kata ganti petunjuk, kata ganti refleksif,kata tanya, kata kerja, perbendaharaan kata, kata benda, bentuk ulangan, dan struktur kalimat. Hal tersebut dikaitkan dengan beberapa informasi sejarah dari sumber-sumber Cina. Pendapat Isidore Dyen (1965) pun ditolak oleh Keraf. Isidore Dyen mengajukan sebuah teori mengenai tempat asal bahasa-bahasa Austronesia dengan menggunakan Leksikostatistik, yang ternyata berhasil membentuk sebuah hipotesa tunggal dibandingkan bila menggunakan evidensi-evidensi (bukti-bukti) tambahan. Dyen berpendapat bahwa daerah Papua Newguinea dan Melanesia sebagai negeri asal bangsa dan bahasa-bahasa Austronesia. Namun, teori Dyen memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan teori tersebut adalah tidak memperhitungkan adanya pengaruh bahasa Irian terhadap bahasa Austronesia, rendahnya prosentase kata kerabat tidak harus terjadi karena usia yang lebih tua, tetapi terjadi karena pengaruh tadi, dan menerima Melanesia-Irian Timur sebagai negeri asal mempunyai implikasi migrasi yang lebih banyak harus dikonstruksi.

Keraf berpendapat bahwa negeri asal bangsa dan bahasa-bahasa Austronesia adalah Indonesia. Hal tersebut berdasarkan data geologi di kawasan Asia Tenggara pada akhir masa Pleistosen. Pada masa tersebut Indonesia barat dan daratan Asia Tenggara masih dihubungkan oleh Paparan Sunda. Pada akhir zaman Pleistosen dan awal Holosen lapisan es dan salju mulai mencair dan air laut menggenangi Paparan Sunda. Para penutur bahasa Austronesia mundur ke tempat yang lebih tinggi, seperti wilayah Asia Tenggara, Kalimantan, pegunungan di Filipina, dan Asia Timur. Tempat pengungsian orang-orang Austronesia tersebut menjadi pulau-pulau yang dikelilingi laut yang terjadi akibat naiknya permukaan air laut. Paparan Sunda sebagai tempat awal penutur Austronesia pun tenggelam dan menjadi lautan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Opperheimer, Stephen. 2010. Eden in the East, Surga di Timur: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara. Terjemahan dalam bahasa Indonesia. Jakarta: Ufuk Press.

Howell, F.Clark. 1977. Manusia Purba. Jakarta: Tira Pustaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2013 by in Linguistik.
%d bloggers like this: