Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Periodisasi Perkembangan Sastra Indonesia

Peristiwa Penting Balai Pustaka

Penanda lahirnya kesusastraan Indonesia modern.

Diterbitkannya novel Azab dan Sengsara yang merupakan novel pertama dalam kesusastraan Indonesia modern pada tahun 1920.

Diterbitkannya kumpulan sajak (puisi) “Tanah Air” yang merupakan buku puisi pertama dalam kesusastraan Indonesia modern pada tahun 1922.

Diterbitkan drama bersajak “Bebasari” yang merupakan drama pertama dalam kesusastraan Indonesia modern pada tahun 1926.

 

Karya Sastra Balai Pustaka

Azab dan Sengsara – Merari Siregar (1920)

Sitti Nurbaya – Marah Roesli (1922)

Salah Asuhan – Abdul Muis (1928)

Salah Pilih – Nur Sutan Iskandar (1928)

Bebasari (drama) – Rustam Effendi (1926)

Tanah Air (puisi) – Muhammad Yamin (1922)

 

Ciri-ciri pujangga baru

Sudah menggunakan bahasa Indonesia

Menceritakan kehidupan masyarakat kota, masalah intelektual, dan emansipasi wanita (struktur cerita/konflik mulai berkembang)

Setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.

Menonjolkan nasionalisme, romantisme, individualisme, dan materialisme.

Peristiwa Penting Pujangga Baru adanya Sumpah Pemuda 28 oktober 1928.

 

Pengarang Pujangga Baru

Sutan Takdir Alisyahbana

Dian Tak Kunjung Padam (1932)

Tebaran Mega – Kumpulan Sajak (1935)

Layar Terkembang (1936)

Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)

Hamka

Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939)

Didalam Lembah Kehidupan (1940)

Tuan Direktur (1950)

Armijn Pane

Belenggu (1940)

Gamelan Djiwa – Kumpulan Sajak (1960)

Djinak-djinak Merpati – Drama (1950)

Kisah Antara Manusia – Kumpulan Cerpen (1953)

Sanusi Pane

Pancaran Cinta (1926)

Puspa Mega (1927)

Madah Kelana (1931)

Sandhyakala Ning Majapahit (1933)

Kertajaya (1932)

Amir Hamzah

Nyanyian Sunyi – Kumpulan Sajak (1954)

Begawat Gita (1933)

Setanggi Timur (1939)

Buah Rindu (1950)

Rustam Effendi

Bebasari (1953)

Pertjikan Permenungan (1957)

Muhammad Yamin

Drama Ken Arok dan Ken Dedes (1951)

Indonesia Tumpah Darahku (1928)

Tanah Air (1920)

 

Ciri-ciri Angkatan 1920

Pengarang-pengarang 20-an mengkritik kaum adat, yang sesungguhnya mereka sendiri masih hidup dalam lingkungan masyarakat itu.

Pengarang hidup dalam masa pertumbuhan pembangunan “nasional” di Indonesia sekitar tahun 1908-1928.

Karena rasa kebangsaan pada masa itu masih dalam pertumbuhan, jadi daerah pelaku-pelakunya masih digambarkan  sempit.

 

Peristiwa Penting Angkatan 1920

Terbitnya majalah Jong Sumatra oleh Muhammad Yamin, Moh Hatta, dan Sanusi Pane.

 

Karya satra Angkatan 1920

(karya-karya: Ken Arok dan Ken Dedes dan Tanah Air) Muhammad. Yamin

1905 (karyanya, Pancaran Cinta, Prosa Liris (1926), Puspa Mega sebagian berbentuk soneta (1927),  dan Madah Kelana.  Sanusi Pane

(karyanya: Pertjikan Permenungan, Bebasari (1928)  Rustam Effendi

 

 

Ciri-ciri Angkatan 1930

Bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu tinggi.

Temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan nasionalisme dalam romantisme.

Bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris.

Pengaruh barat terasa sekali terutama dari Angkatan ’80 Belanda.

Aliran yang dianut adalah romantik idealisme.

Setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.

 

Peristiwa Penting Angkatan 1930

Berdirinya penerbitan majalah Pujangga Baru  pada bulan Mei tahun 1933 oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Amir Hamzah dengan tujuan menumbuhkan kesusastraan baru yang sesuai dengan zamannya dan mempersatukan para sastrawan dalam satu wadah.

Munculnya permasalahan angkatan pada tahun 1934 ketika STA dan kawan-kawan melancarkan kritik tajam kepada para sastrawan sebelumnya melalui artikel berjudul “Puisi Indonesia Zaman Baru”.

Pertarungan antara pengaruh kebudayaan Timur dan kebudayaan Barat (ideologi kolonial).

Terjadi arus surut pengaruh kolonial di akhir tahun 1930-an dengan masuknya Jepang pada tahun 1942.

 

Karya sastra Angkatan 1930

  1. Layar Terkembang (1936), Dian Tak Kunjung Padam (1932) karya Sutan Takdir Alisjahbana
  2. Kalau Tak Untung (1933) karya Selasih
  3. Dian dan Aku (1935) karya Muhammad Syah
  4. Dijemput Mamaknya (1930) dan Tuan Direktur (1939) karya Hamka
  5. Neraka Dunia (1937) dan Karna Mentua (1932) karya Nur Suttan Iskandar
  6. Menebus Dosa (1935) karya Amandete Marjoindo
  7. Tebusan Darah (1939) karya Soeman Hs.
  8. Bibir Mengandung Racun (1939) karya Jusuf Sou’yb

 

Peristiwa Penting Angkatan 1940

Penetapan Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden Repubik Indonesia dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 18 Agustus 1945

Pembentukan Komite Nasional pada 19 Agustus 1945

Penetapan dua belas kementerian negara dan delapan provinsi

Pembentukan partai-partai dan berbagai organisasi kemasyarakatan.

Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan

Perlawanan rakyat di berbagai daerah yang diduduki militer asing (Inggris dan Amerika).

 

Ciri-ciri Angkatan 1940

Karya sastra umumnya sudah menggunakan bahasa Indonesia

Tema dan warna revolusi yang tampak dominan pada karya sastra masa itu, dan membuktikan eratnya hubungan antara kehidupan pengarang dan lingkungan sosial budayanya.

Karya sastra (khususnya novel) ditulis dalam masa yang penuh gejolak pertikaian mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan dengan warna konflik sosial politik yang keras.

Pada masa ini, sudah diperlihatkan dengan jelas bahwa ada kesadaran yang matang terhadap makna Indonesia sebagai sebuah proses panjang di bidang kebudayaan.

Perkembangan sekaligus penutupan pers Tionghoa.

Didirikannya Badan Pusat Kesenian Indonesia di rumah Bung Karno.

Karya sastra drama mendapat perhatian khusus.

 

 

Karya sastra Angkatan 1940

Karya yang muncul, sesaat setelah proklamasi kemerdekaan:

Atheis  (Roman-Achdiat K. Mihardja)

Bukan Pasar Malam (Roman-Pramoedya  Ananta Toer)

Jalan Tak Ada Ujung (roman Mochtar Lubis)

Keluarga Gerilya (roman Pramoedya Ananta Toer)

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Kumpulan cerpen Idrus)

Perempuan dan Kebangsaan (Idrus)

Aki (Idrus)

Perburuan (Pramoedya)

 

Peristwa penting Angkatan 1950

1. Surat Kepercayaan Gelanggang

Diumumkan di ruang kebudayaan “Gelanggang” dalam majalah Siasat tanggal 22 Oktober 1950.

Isi: pernyataan dari Gelanggang Seniman Merdeka termasuk di dalamnya Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin.

Tujuan: mempertanggungjawabkan penjadian bangsa à krisis penerbitan pada Balai Pustaka dan muncul istilah ‘krisis sastra Indonesia’.

2.  Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)

Lekra berdiri pada tanggal 17 Agustus 1950 di tangan PKI dengan tokohnya D.N. Aidit, Njoto, M.S. Ashar dan A.S. Dharta.

3. Terbitnya majalah Kisah

Majalah Kisah terbit pertama kali pada bulan Juli 1953. Majalah ini merupakan majalah yang pertama kali mengutamakan cerita-cerita pendek. Tujuan Kisah adalah memberikan bacaan yang baik kepada masyarakat.

Majalah Kisah hanya bertahan lima tahun karena menjamurnya bacaan hiburan yang cenderung cabul.

4. Munculnya Manifes Kebudayaan

merupakan reaksi terhadap teror yang  dilakukan Lekra

Lekra agresif terhadap lawan politik dengan polemik di majalah dan koran terbitan mereka, seperti Zaman Baru, Bintang Timur, dan Harian Rakyat.

Para seniman pihak Manifes Kebudayaan mencoba bertahan pada konsep otomomi seni dalam kehidupan. Namun, pada 8 Mei 1964 Manifes Kebudayaan dilarang oleh presiden atas tuntutan kelompok Lekra yang posisinya makin kuat di politik.

Selanjutnya, terjadi pelarangan buku karya pengarang yang berada di barisan Manifes Kebudayaan. Bukan hanya pelarangan terhadap buku, namun juga pelarangan terhadap pengarangnya.

 

Karya sastra angkatan 1950

Novel Telaga Darah (Damhoeri, 1956)

Novel Djokja Diduduki (Muhammad Dimyati, 1950)

Novel Menunggu Beduk Berbunyi (Hamka, 1950)

Novel Keluarga Gerilya (Pramoedya Ananta Toer, 1950)

Novel Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis, 1952)

Novel Aki (Idrus, 1950)

Novel Kemarau (A.A. Navis, 1957)

Novel Pulang (Toha Mochtar, 1958)

Novel Perburuan (Pramoedya Ananta Toer, 1950)

Novel Bukan Pasar Malam (pramoedya Ananta Toer, 1951)

Novel Midah Si manis Bergigi Emas (Pramoedya Ananta Toer, 1954)

Kumpulan cerpen Subuh ( Pramoedya Annta Toer, 1950)

Kumpulan cerpen Api dan Beberapa Cerita Pendek Lain (1951), Si Rangka dan Beberapa Cerita Pendek Lain (1958), semua kumpulan cerpen tersebut karya Riyono Pratikto.

Kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami (A.A. Navis, 1956)

 

Peristiwa Penting Angkatan 1966

Manifes Kebudayaan 1963

G.30.S.PKI 1965

Tuntutan Mahasiswa dalam demonstrasi  mulai dilancarkan pada 10 Januari 1966.

 

Mengapa Angkatan 66, Bukan Angkatan Manifes atau Manikebu?

Pencetusan tuntutan Manikebu di tahun 1963 pada saat itu masih bersifat idiil, dalam masyarakat belum terjadi perombakan apa-apa.

Di tahun 66, seluruh pemerintahan orde lama digantikan oleh orang-orang orde baru atau yg bercita-cita sesuai dg orde baru.

Para pengarang yg tidak kebetulan menandatangani atau mendukung Manifes akan merasa tidak tercakup di dalamnya.

 

Ciri-ciri Angkatan 1966

Bersemangat Pancasila yg membawa kesadaran manusia untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesadaran moral, dan agama.

Memiliki warna khas, yaitu protes sosial sejalan dengan maraknya perlawanan publik terhadap kekuasaan yg mengalami krisis kepercayaan setelah tragedi September 1965.

Protes politik pemerintah yang tidak becus mengatur pemerintahan, ekonomi, dan keuangan.

 

Karya sastra Angkatan 1966

Yusach Ananda (nama asli Zubier), cerpennya berjudul Kampungku ang Sunyi.

Hartijo Andangdjaja, sajak-sajaknya Buat Saudara Kandung, Peranakan Jenazah, Riwayat, Pantun Tidak Bernama, Pantun di Jalan Panjang, Rakyat, dan Perempuan-perempuan Perkasa.

S.M. Ardan, sketsanya berjudul Pawai di Bawah Bulan.

A. Bastari Asnin, cerpennya berjudul Di Tengah Padang.

Titis Bastino, cerpennya berjudul Rumah Dara, Laki-laki dan Cinta.

Motinggo Boesje, cerpennya berjudul Pelayan Restoran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Juhriah, Erlis Nur M., dan S. Amran Tasai. 1997. Citra Manusia dalam Novel Indonesia Modern 1920-1960. Jakarta: Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

Wahyudi, Ibnu. 1990. “Soal Angkatan, Soal Wawasan: Tinjauan atas Masalah Angkatan dalam Sastra Indonesia” dalam Konstelasi Sastra. Jakarta: Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia.

S., Yudiono K. 2006. Peta Sejarah Sastra Indonesia. Semarang: FASindo.

Mahayana, Maman S. 2007. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: Divisi Buku Perguruan tinggi PT RajaGrafindo Persada.

Mantik, Maria Josephine. 1981. Cerita Pendek Majalah Pujangga Baru. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Rosidi, Ajip. 1973. Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia. Jakarta. Pustaka Jaya.

Jassin, H.B. 1976. Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia. Jakarta. yayasan idayu.

Usman, Zuber. 1964. Kesusastraan Baru Indonesia. Jakarta. P.T Gunung Agung.

Rosidi, Ajip. 1988. Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir?. Jakarta. Yayasan Masagung.

Jassin, H.B. 1977. Tifa Penyair dan Daerahnya. Jakarta. P.T Gunung Agung

Kratz, E. Ulrich. 2000. Sejarah Sastra Indonesia Abad         XX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

S. Oemarjati, Boen, dkk. 2000. Novel Indonesia 15   Tahun Sesudah Kemerdekaan (1946-1960): Telaah             Struktur Estetika dan Tema. Jakarta: Pusat Bahasa    Departemen Pendidikan Nasional.

K.S., Yudiono. 2010. Pengantar Sejarah Sastra        Indonesia. Jakarta: Grasindo

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2013 by in Sastra.
%d bloggers like this: