Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Teori Pengelompokan Bahasa

Dalam pengelompokkan bahasa terdapat dua teori yang dapat menjadi landasan, yaitu teori Batang Pohon dan teori Gelombang. Teori Batang Pohon atau Stammbaumtheorie, atau Pedigree Theory dikemukakan oleh A. Schleicher. Berdasarkan teori tersebut J. Schmidt menyempurnakannya menjadi teori Gelombang atau Wellentheory atau Wave Theory. Teori yang akan dibahas terlebih dahulu adalah teori Batang Pohon. Teori ini dikemukakan oleh seorang biolog yang dipengaruhi teori Darwin yang gagal dalam usahanya untuk mengadakan rekonstruksi sebuah cerita purba. Namun, berkat kegagalan tersebut A.Schleider menghasilkan suatu metode bagi pengelompokan bahasa-bahasa di dunia. Metode pengelompokan bahasa tersebut yang kemudian dinamakan Stammbaumtheorie pada tahun 1866. Korespodensi fonemis adalah dasar teori Stammbaum. Dalam teori ini, terdapat pencabangan dua yang mempunyai arti bahwa setiap bahasa secara langsung dan serempak menghasilkan dua cabang baru. Hal yang disayangkan adalah tidak adanya kelanjutan dari kedua bahasa tersebut setelah berpisah. Pertanyaan yang muncul adalah apakah masih terdapat kontak atau tidak.

Istilah Stammbaum atau silsilah menunjukkan hubungan dan tingkat perkembangan antara bahasa-bahasa kerabat. Hal tersebut sama dengan garis keturunan manusia. Istilah yang digunakan disamakan dengan organism biologis. Dalam hal ini, perubahan dalam bahasa terbentuk oleh manusia dan bukan oleh bahasa itu sendiri. Tentu saja, teori ini tidak luput dari kelemahan. Kelemahan teori ini adalah tiap cabang hanya menurunkan dua cabang baru dan pencabangan tersebut terbentuk secara tiba-tiba. Tentu pencabangan dari suatu bahasa proto tidak hanya menjadi dua cabang baru, tetapi dapat lebih dari dua. Bahkan, dapat hanya satu bahasa pantulannya. Semua kemungkinan dapat saja terjadi karena beberapa faktor. Faktor tersebut bisa saja berupa bencana alam atau peperangan yang menyebabkan penduduk dari suatu wilayah yang menuturkan bahasa tersebut menyebar ke tempat yang berbeda. Kemudian penyebaran kelompok bahasa tersebut menjadi pertumbuhan yang akan menjadi bahasa yang berbeda dalam perkembangan berikutnya.

Teori yang diajukan oleh Schleider yang kemudian disempurnakan oleh John Schmidt. Teori tersebut disebut dengan Wellentheorie. Dalam teori tersebut diungkapkan bahwa bahasa pada suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi pada wilayah lain di skitarnya. Hal tersebut didasrkan pada bahasa yang digunakan secara berantai dalam suatu wilayah tertentu dan perubahan yang terjadi pada suatu tempat tertentu. Perubahan tersebut menyebar ke segala arah, seperti gelombang dalam sebuah kolam. Kolam akan menghasilkan gelombang jika ada benda yang jatuh ke dalam kolam tersebut. Hal tersebut menjelaskan bahwa bahasa yang sudah berpisah masih terdapat kontak satu sama lain. Hal tersebut membuat kelemahan teori sebelumnya tidak terdapat pada teori ini. Misalnya, dalam bahasa Sunda kata putih mempunyai arti bodas, dalam bahasa Myanmar kata purih mempunyai arti Sika, dan dalam bahasa Lamaholot kata putih mempunyai arti bura. Ketiga bahasa tersebut mempunyai kekerabatan dalam hal fonetis. Hal tersebut menunjukkan pula bahwa penyebaran bahasa berasal dari pusat menuju pinggir daerah. Dalam penyebaran tersebut dapat terjadi penghilangan di tengah jalan. Daerah penyebaran yang berada di tengah pun dapat mengalami perubahan.

Banyak kemungkinan yang muncul dari teori Gelombang. Bahasa proto dapat menjadi tiga cabang atau lebih, tetapi dapat pula menjadi satu bahasa baru. Bahkan, bahasa proto dapat pula mati sebelum menurunkan satu bahasa baru. Pencabangan seperti ini pun tidak terjadi secara mendadak. Dalam hal ini, ada peralihan yang bersifat kumulatif untuk mencapai suatu bahasa baru atau lebih.  Oleh sebab itu, teori pencabangan bahasa memerlukan Wellentheorie untuk melengkapi Stammbaumtheorie. Teori Gelombang mempunyai kelebihan, yaitu tori ini menujukkan fleksibilitas hubungan antarbahasa dan menerima perubahan yang memungkinkan mempengaruhi hubungan tersebut. Meskipun demikian, Stammbaumtheorie dan  Wellentheorie mempunyai kelemahan dan kelebihan dalam menggambarkan bahasa dari berbagai lapisan gejala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2013 by in Linguistik.
%d bloggers like this: