Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Tipe Perubahan Fonetis Bahasa Masa Lampau ke Bahasa Sekarang

Unsur-unsur warisan dari bahasa berkerabat dapat ditelusuri melalui empat tataran, yaitu tataran leksikal, tataran fonologi, tataran morfologi, dan tataran sintaksis (Hock (1988: 573). Hock menambahkan tataran kedua dari pertama lebih lazim dipakai dalam studi Linguistik Historis Komparatif, terutama sebagai dasar penentuan kekerabatan dan rekonstruksi suatu bahasa serumpun. Terkait dengan hal ini Hock memberikan alasan, yaitu melalui rekonsruksi leksikal, dapat diperoleh budaya, sejarah sosial, dan fakta geografis suatu masyarakat bahasa. Rekonstruksi yang paling berhasil pada studi Linguistik Historis Komparatif adalah pada tataran fonologis karena unsur fonologis merupakan unsur terkecil dalam suatu bahasa. Hal tersebut membuat mudah dipahami. Kemudian tataran fonologis lebih mudah ditemukan fakta yang relevan dibanding dengan tataran lainnya. Dari tuturan yang kecil dengan cepat dan banyak dapat ditemukan fakta yang diperlukan. Masalah bunyi pun telah banyak dikaji dalam studi linguistik sehingga telah menjadi kajian yang sangat mapan, dan perubahan bunyi primer beraturan dan dapat memberi indikasi hubungan di antaranya.

Terkait dengan hal tersebut dapat disampaikan bahwa tataran leksikal dan tataran fonologi termasuk aspek penting dalam studi komparatif. Hal tersebut tanpak jelas pada studi Nothofer, 1975; Adelaar 1985; Sneddon, 1978; Fernandez, 1988; Sriyoso 1983; Durasid, 1990; Mbete, 1990; Syamsuddin, 1996). Dalam studi mereka ini pengamatan tingkat awal penelusuran unsur warisan dikerjakan pada tataran leksikal dalam upaya mengelompokkan bahasa-bahasa berkerabat yang diteliti. Dalam studi mereka ini bukti-bukti kuantitatif lebih berorientasi pada pengamatan sekilas terhadap sejumlah kosakata dasar untuk menentukan persentase kekerabatan bahasa-bahasa yang mereka teliti. Pada tingkat lanjutan dilakukan pada tataran fonologi untuk menentukan rekonstruksi protobahasa berdasarkan perubahan bunyi secara teratur yang ditemukan disusun kaidah-kaidah korespodensi fonem.

Pada waktu mengadakan rekonstruksi fonem proto, perubahan sebuah fonem proto ke dalam fonem bahasa kerabat sekarang ini berlangsung dalam beberapa macam tipe. Keraf (1991) mengungkapkan bahwa beberapa tipe tersebut diantaranya adalah pewarisan linier. Pewarisan linear adalah pewarisan sebuah fonem proto ke dalam bahasa sekarang dengan tetap mempertahankan cirri-ciri fonetis fonem protonya. Misalnya, fonem bahasa Austronesia Purba dalam kata */ikan/ diturunkan linier dalam kata /ikan/ pada bahasa Melayu sekarang. Pewarisan dengan perubahan terjadi bila suatu fonem proto mengalami perubahan dalam bahasa sekarang. Misalnya, fonem proto Austronesia Purba */i/ dalam kata */ikur/ ‘ekor’ berubah menjadi fonem /e/ dalam kata /ekor/ bahasa Melayu. Selanjutnya, pewarisan dengan penghilangan, yaitu suatu tipe perubahan fonem dan fonem proto menghilang dalam bahasa sekarang. Misalnya, kata */hubi/ ‘ubi’ dalam bahasa Austronesia Purba menjadi kata /ubi/ dalam bahasa Melayu sekarang.

Tidak hanya itu, terdapat pula pewarisan dengan penambahan. Pewarisan dengan penambahan adalah suatu proses perubahan berupa munculnya suatu fonem baru dalam bahasa sekarang, sedangkan dalam bahasa proto tidak terdapat fonem semacam itu dalam sebuah segmen tertentu. Proses tersebut disebut vokalisasi, yaitu penambahan suatu vokal pada suku kata akhir yang tertutup. Ada pula proses lain yang biasa disebut nasalisasi homorgan, yaitu penambahan sengau homorgan sebelum sebuah konsonan. Tipe perubahan seperti ini dapat saja dimasukkan dalam tipe pembelahan (split) yang dikondisikan oleh lingkungannya. Misalnya, bahasa Austronesia Purba */pat/ ‘empat’ menjadi /empat/ dalam bahasa Melayu.

Pembelahan atau split adalah suatu proses perubahan fonem di mana suatu fonem proto membelah diri menjadi dua fonem baru atau lebih, atau suatu fonem proto memantulkan sejumlah fonem yang berlainan dalam bahasa kerabat atau dalam bahasa yang lebih muda. Pembelahan ini dapat juga berujud suatu fonem proto membelah diri sebagian menjadi fonem yang baru, sedangkan sebagian yang lain dari ciri-ciri fonetisnya bergabung dengan sebuah fonem yang lain (sama dengan merger parsial). Misalnya, dalam bahasa Latin fonem /k/ menurunkan tiga fonem yang ebrbeda dalam bahasa Perancis, yaitu fonem /k/, /s/, dan /ṥ/.

Berbeda dengan pembelahan, penanggalan spasial adalah suatu proses pewarisan fonem proto yang menghilang dalam bahasa kerabat, sedangkan sebagian lain dari ciri fonem proto bertahan dalam bahasa kerabat tersebut. Misalnya, dalam kata acknowledgement fonem /k/ bertahan, sedangkan dalam kata knowledge fonem /k/ menghilang, walaupun secara otografis dipertahankan.

Perpaduan atau merger adalah suatu proses perubahan bunyi di mana dua fonem proto atau lebih berpadu menjadi satu fonem baru dalam bahasa sekarang. Perpaduan dapat juga berujud penggabungan antara satu fonem purba dengan satu ciri fonetis dari fonem lainnya. Jenis merger yang kedua  disebut merger parsial atau dapat disebut juga split parsial (pembelahan sebagian). Peristiwa perubahan itu disebut demikian karena sebagian dari fonem proto bergabung dengan fonem lain yang diturunkan oleh sebuah fonem proto yang lain; atau disebut split parsial karena fonem proto tadi memang membelah sebagian menurunkan sebuah fonem baru, dan sebagian lagi bergabung dengan fonem lain tadi. Berikut contoh dalam bahasa Perancis.

/oen/                /oē/ ‘satu’

/bon/                /bō/ ‘bagus’

/blan/               /blā/ ‘putih’

Selain Keraf, ada pula ahli yang mengemukakan tipe pola perubahan fonem, yaitu Jeffers dan Lehiste. Menurut Jeffers dan Lehiste (1979:64-67) pola perubahan fonem yang sering ditemukan adalah peleburan (merger), perengkahan (split), penunggalan (monophonemization), penggugusan (diphonization), dan peluluhan bunyi (phonemic loss). Peleburan adalah penggabungan dua fonem atau lebih menjadi satu fonem. Perengkahan merupakan gejala perubahan yang sebaliknya, yaitu satu fonem membelah menjadi dua fonem atau lebih. Penunggalan merupakan suatu perubahan gugus fonem menjadi sebuah fonem. Penggugusan adalah perubahan sebuah fonem menjadi dua fonem bergugus. Peluluhan adalah perubahan bunyi berupa hilangnya fonem baik pada posisi awal (aphaeresis), tengah (syncope), maupun akhir (apocope). Penambahaan segmen (addition) pada awal (prothesis), tengah epenthesis), dan akhir (paragoge), serta pertukaran tempat antarsegmen (metathesis).

 

DAFTAR PUSTAKA

Hock, H.H. 1988. Principles of Historical Linguistics. Berlin: Mouton de Gruyter.

Jeffers R. J. dan I. Lehiste. 1979. Principles and Methods for Historical Linguistics. Cambridge, Massachusetts: The MIT Press.

Keraf, Gorys. 1991. “Bab VI: Implikasi Rekonstruksi”. Dalam Gorys Keraf (ed), Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2013 by in Linguistik.
%d bloggers like this: