Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Keterkaitan Permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini dengan Buku Bacaan Anak Usia Dini (Studi Kasus: Paud Tunas Bunga Tanjung)

Suatu bangsa dapat dikatakan maju jika ditunjang oleh sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kualitas baik. Kualitas tersebut dapat terlihat dari sumber daya manusia yang dihasilkan institusi pendidikan pada bangsa tersebut. Jika kualitas pendidikan bangsa tersebut baik, maka sumber daya manusia yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang baik pula. Kualitas pendidikan yang dihasilkan merupakan hasil dari sebuah rangkaian panjang dalam proses pembentukan otak manusia. Mulai dari anak usia ini hingga dewasa, manusia membutuhkan arahan yang tepat agar sesuai dengan proses perkembangannya. Hal tersebut dimaksudkan kualitas yang dihasilkan akan mencapai batas maksimal bila disesuaikan dengan tahap perkembangan manusia tersebut. Hal yang menjadi dasar dalam proses pembentukan otak manusia adalah pada tahap anak usia dini. Tahap ini menjadi penting karena pendidikan awal yang diterima anak usia dini akan berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya hingga dewasa. Hal ini membuat tahap anak usia dini harus menjadi perhatian dan diberikan penanganan yang khusus. Pendidikan awal akan membentuk pondasi otak anak sehingga apa yang akan diterima anak usia dini akan menentukan hasil yang akan dikeluarkan. Peningkatan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini di suatu negara memegang peranan yang vital untuk kemajuan bangsa tersebut di masa depan. Pendidikan awal tersebut biasa disebut Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Kesadaran mendidik anak usia dini disebabkan adanya kesadaran bahwa anak usia dini tergolong ke dalam masa keemasan. Masa tersebut terjadi ketika seluruh fungsi dan kemampuan anak sedang berkembang dengan pesat sehingga sayang bila tidak dioptimalkan. Kemampuan potensial tersebut memerlukan bantuan orang dewasa untuk memberikan rangsangan yang tepat supaya kemampuan tersebut teraktualisasi dan berkembang dengan optimal. Beberapa tahun terkahir, kesadaran pendidikan anak usia dini mendapat perhatian yang cukup dari masyarakat. Aktualisasi dari kesadaran tersebut diwujudkan dengan terbentuknya lembaga pendidikan anak usia dini dari pihak pemerintah maupun swasta. Hal ini terdorong atas kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang menggalakkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Berdasarkan Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Disamping istilah Pendidikan Anak Usia dini terdapat pula terminologi pengembangan anak usia dini, yaitu upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah untuk membantu anak usia dini dalam membangun potensinya secara holistik baik aspek pendidikan maupun kesehatan (Direktorat PAUD, 2002: 3). PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Tujuan pendidikan anak usia dini adalah membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Berdasarkan hal tersebut tampak jelas bahwa tujuan pendidikan anak usia dini adalah membantu mempersiapkan anak untuk memasuki pendidikan di sekolah dasar. Selain itu, pendidikan anak usia dini juga dapat membantu menanamkan karakter pada anak usia dini. Hal tersebut didasarkan karakter merupakan aspek yang terdapat dalam tiap individu yang akan mengarahkan individu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang akan dihadapinya.

Pendidikan karakter diperlukan sebagai upaya mengatasi permasalahan-permasalahan kebangsaaan yang berkembang saat ini. Misalnya, disorientasi, kurangnya penghayatan nilai Pancasila, bergesernya nilai-nilai etika kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, ancaman disintegrasi bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa. Hasil penelitian menyebutkan bahwa apabila anak jarang disentuh, perkembangan otaknya 20%-30% lebih kecil dari ukuran normal anak seusianya. Selain itu, perkembangan intelektual anak usia 4 tahun telah mencapai 50%, pada usia 8 tahun 80% dan pada saat mencapai usia sekitar 18 tahun perkembangannya telah mencapai 100%. Ini berarti perkembangan yang terjadi pada rentang usia 4 tahun pertama sama besar dengan yang terjadi pada rentang usia 5 tahun hingga 18 tahun atau yang terjadi selama 14 tahun (Direktorat PAUD 2004:20). Pendidikan anak usia dini dirancang agar anak dapat belajar dalam keadaan suasana hati yang menyenangkan dengan menyediakan kesempatan-kesempatan pada anak untuk menemukan pengetahuan dan benar-benar digunakan melalui bermain. Bermain dengan bahan-bahan, orang dewasa, dan anak lainnya secara terus menerus. Dengan kata lain, anak selalu berinteraksi langsung dengan dunianya dan tidak hanya bermain yang asal bermain, tidak ada pengawasan, dan tidak ada bimbingan.

Dalam melihat buku bacaan anak usia dini yang digunakan oleh anak usia dini, kami melakukan observasi langsung ke PAUD di wilayah Jakarta Barat. PAUD tersebut bernama PAUD Tunas Bunga Tanjung. Tepatnya, berada di jalan Tanjung Duren Utara VIII/18, Jakarta Barat. Tempat pelaksanaan PAUD berada di kantor Rukun Warga (RW) setempat. Selain digunakan untuk pelaksaan PAUD, kantor RW tersebut juga digunakan untuk kegiatan PKK, Karang taruna, dan kegiatan RW lainnya. Untungnya, bagian belakang PAUD adalah taman bermain sehingga anak-anak dapat juga bermain di taman. Kegiatan PAUD ini dilakukan setiap hari, mulai hari senin hingga jumat. Hal tersebut merupakan permintaan dari para orang tua. Waktu pelaksanaannya mulai pukul 09.00-10.00 WIB. PAUD Tunas Bunga Tanjung ini memiliki tiga guru dan satu kepala sekolah. Guru tersebut merupakan sukarelawan dari wilayah setempat yang mempunyai waktu luang untuk mengajar anak usia dini. Guru yang berada di PAUD tersebut tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang pendidikan anak usia dini. Bahkan, kepala sekolah PAUD tersebut adalah seorang insinyur bidang Arsitektur. Berbekal pengalaman mendidik anak sendiri, guru dan kepala sekolah PAUD Tunas Bunga Tanjung ini mengajarkan anak usia dini di wilayah tersebut. Meskipun telah mendapat arahan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tetap saja kepala sekolah dan guru PAUD tersebut mengalami kesulitan dalam pengajaran. Hal tersebut disebabkan tidak adanya pengetahuan mengenai pengajaran pendidikan anak usia dini.

PAUD Tunas Bunga Tanjung memiliki tiga kelompok bermain, yaitu kelompok Anggur, Jeruk, dan Melon. Kelompok tersebut digolongkan berdasarkan besarnya ukuran buah tersebut. Kelompok Anggur adalah kelompok anak usia tiga tahun. Fokus kelompok ini adalah bermain dan pengenalan konsep. Kelompok ini berjumlah delapan anak. Kelompok Jeruk adalah kelompok anak usia empat tahun. Fokus kelompok ini adalah mengenal dan menulis huruf dan angka. Kelompok ini berjumlah empat anak. Kelompok Melon adalah kelompok usia lima tahun. Fokus kelompok ini adalah membaca dan menulis. Kelompok ini berjumlah empat anak. Kelompok ini adalah kelompok yang memiliki usia paling tua dan dipersiapkan untuk memasuki sekolah dasar. Setelah melewati kelompok Melon, anak sudah bisa membaca dan menulis sebelum memasuki sekolah dasar. Hal tersebut merupakan keinginan orang tua dan pengajar PAUD tersebut. Adanya kepuasan dan kebanggaan ketika anak lulusan PAUD Tunas Bunga Tanjung memasuki sekolah dasar unggulan dan mengungguli anak lainnya. Dalam hal lain, PAUD ini memiliki seragam, seperti Taman Kanak-kanak (TK). Seragam PAUD ini berwarna hijau muda. Bahkan, anak PAUD Tunas Bunga Tanjung juga memakai sepatu. Hal yang membedakan PAUD Tunas Bunga Tanjung dengan TK adalah pembayaran penyelenggaraan pendidikan. Biaya yang dibebankan kepada orang tua di PAUD hanya sebesar Rp.20.000,00, sedangkan biaya di TK bisa mencapai jutaan rupiah. Meskipun fasilitas yang berikan oleh TK memang lebih unggul dari PAUD, tetapi dari segi kualitas PAUD tidak beda jauh dengan TK.

Berdasarkan biaya yang dibebankan kepada orang tua dapat terlihat jenis profesi orang tua anak yang mengikuti PAUD dan TK. Hasil pengamatan kami menunjukkan bahwa orang tua anak yang mengikuti PAUD Tunas Bunga Tanjung berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Misalnya, pembantu rumah tangga, kuli bangunan, dan lain sebagainya. Hal tersebut berbeda dengan TK, orang tua anak biasanya berasal dari golongan menengah ke atas. Biaya yang dikeluarkan juga berpengaruh terhadap lingkungan sekitar anak. Pada dasarnya, anak senang belajar di PAUD. Namun, orang tua terkadang tidak memahami kebutuhan anak sehingga jika sudah jam sepuluh tepat anak langsung membereskan barang-barang anak untuk bersiap pulang. Memang, belajar untuk anak usia dini tidak boleh terlalu lama karena otak anak akan mudah lelah, tetapi jika anak tersebut masih mempunyai keinginan belajar dan dihentikan begitu saja, maka akan dapat menghambat pekembangan anak. Peran dan kesadaran akan pentingnya belajar kurang dipahami oleh orang tua. Orang tua hanya berpikiran dengan memasukkan anaknya ke PAUD, maka anaknya juga sama seperti anak yang mengikuti TK. Namun, ada pula orang tua yang setia menunggu hingga benar-benar pelajaran usai dan mengajari kembali anaknya ketika jam istirahat.

Hal yang menjadi perhatian kami saat berkunjung ke PAUD Tunas Bunga Tanjung adalah materi dan buku yang diajarkan kelompok Jeruk dan Melon. Materi yang diajarkan di kelompok Jeruk adalah pelajaran menulis huruf dan angka. Hal tersebut kami rasa terlalu cepat diajarkan oleh anak usia dini berusia empat tahun. Selain itu, pengajaran tersebut tidak sesuai dengan kurikulum yang seharusnya diajarkan oleh anak usia dini pada PAUD. Hal tersebut tetap dilakukan oleh para pengajar dan kepala sekolah PAUD Tunas Bunga Tanjung karena tuntutan orang tua anak. Seringkali, kepala sekolah menerima teguran dari badan pengawas, tetapi hal tersebut tidak mengurangi niat kepala sekolah untuk tetap mengajarkan menulis huruf dan angka pada kelompok Jeruk. Kondisi serupa juga dialami oleh kelompok Melon. Kelompok ini lebih kepada kelompok persiapan menuju sekolah dasar sehingga beban yang diajarkan lebih berat dari yang seharusnya. Anak dituntut dapat membaca dan menulis. Bahkan, anak kelompok Melon sudah diajarkan berhitung. Meskipun demikian, anak-anak dapat mengikuti pelajaran yang diajarkan dengan baik. Walaupun ada beberapa anak yang tidak bisa mengikuti, tetapi para pengajar dan kepala sekolah tidak terlalu memaksa anak tersebut mengikuti teman-temannya. Para pengajar dan kepala sekolah PAUD Tunas Bunga Tanjung juga menyadari bahwa kemampuan anak berbeda-beda.

Tidak hanya sekadar berkunjung dan melihat kondisi PAUD Tunas Bunga Tanjung, kami juga memberikan beberapa buku bacaan dan membacakannya kepada anak kelas Jeruk dan Melon. Anak-anak begitu antusias dan bersemangat mendengarkan kami bercerita. Anak-anak banyak yang terheran-heran karena baru mendengar atau mengenal binatang dan berbagai hal yang ada dalam buku yang berjudul Duck. Buku yang kami bacakan adalah buku bergambar dengan sedikit penjelasan. Penjelasannya pun memakai bahasa Inggris. Meskipun demikian, gambar yang menarik dan besar tetap menarik perhatian anak-anak. Kami menjelaskan sebisa mungkin mengenai proses pembentukan telur bebek hingga proses perkembangan bebek. Sebagian besar anak-anak belum pernah melihat bebek secara langsung. Kepala sekolah PAUD tersebut juga mengarahkan kami untuk memberitahukan kepada anak-anak bahwa di dalam buku ini terdapat kata-kata bahasa Inggris walaupun menurut kami hal tersebut belum sepantasnya diajarkan kepada anak usia dini. Dalam proses membacakan buku cerita terlihat bahwa anak-anak mampu menyerap berbagai hal baru dengan cepat dan tidak merasa bingung. Anak-anak cenderung menerima dan ingin melihat lebih dekat gambar yang terdapat dalam buku sehingga di setiap halaman kami harus memutarkannya keliling anak-anak.

Buku bacaan yang terdapat di PAUD Tunas Bunga Tanjung memiliki jumlah yang sangat sedikit. Hal tersebut disebabkan tidak adanya bantuan dari pemerintah dalam memberikan buku bacaan anak usia dini. Buku bacaan anak usia dini yang terdapat di PAUD tersebut adalah buku bacaan yang sudah tidak dipakai lagi oleh anak para pengajar PAUD karena anak pengajar telah beranjak dewasa. Awalnya, jumlah buku bacaan tidak terlalu sedikit, tetapi kurangnya kesadaran untuk mengembalikan kembali buku yang dipinjam membuat buku bacaan anak usia dini di PAUD tersebut semakin lama semakin berkurang. Terlebih lagi, tempat PAUD juga digunakan pula oleh kegiatan masyarakat lain, seperti Karang Taruna dan PKK sehingga banyak pula buku bacaan yang menghilang entah kemana. Ibu Nasa Luky, selaku kepala sekolah juga menyayangkan hal tersebut. Beliau telah banyak melakukan upaya untuk mengamankan berbagai barang PAUD yang terdapat di kantor RW tersebut. Namun, ketua RW pun tidak bisa memberikan jaminan keamanan barang PAUD karena kantor RW digunakan bersama dan bukan hanya untuk PAUD. Oleh karena itu, perlu adanya tempat khusus yang disediakan pemerintah sebagai tempat pelaksanaan PAUD.

Sementara itu, buku bacaan yang digunakan sehari-hari dalam kelas adalah buku belajar menulis dan belajar berhitung. Dalam hal ini, hanya kelompok Jeruk dan Melon yang menggunakan buku dalam proses belajar mengajar. Kelompok Anggur tidak menggunakan buku dan hanya bermain. Salah satu buku yang digunakan adalah buku yang berjudul Matematika Ceria. Buku tersebut adalah buku berhitung dengan penambahan dan pengurangan. Buku tersebut digunakan oleh kelompok Melon. Anak hanya diajarkan untuk bisa membaca dan menulis tanpa adanya pemahaman konsep yang menyeluruh. Jika anak pada kelompok Anggur hanya bermain kemudian lanjut ke kelompok Jeruk langsung diajarkan menulis huruf dan angka, maka anak kurang memiliki pemahaman konsep yang sangat dibutuhkan. Selain itu, perpindahan dari bermain ke belajar menulis juga terlalu cepat. Seharusnya, anak diajarkan terlebih dahulu budi pekerti, tata karma, dan pemahaman konsep. Kurangnya pemahaman konsep terlihat pada anak kelompok Melon yang masih terheran-heran terhadap cerita yang kami sampaikan dan ada pula yang bertanya. Meskipun bertanya merupakan hal yang wajar, tetapi seharusnya anak usia lima tahun sudah mengetahui nama binatang, seperti bebek. Padahal, anak kelompok Melon telah bisa membaca dan menulis.

Melihat kondisi salah satu PAUD di wilayah Jakarta Barat dapat terlihat bahwa pendidikan anak usia dini di Indonesia masih belum tergarap dengan baik. Padahal, pembinaan anak usia dini adalah langkah stategis membangun karakter dan intelektual individu. Hal tersebut disebabkan laju pertumbuhan anak usia dini di Indonesia tidak seimbang dengan laju pertumbuhan pembangunan sarana fisik institusi atau pelosok Indonesia sehingga anak usia dini yang berkembang hanya terbatas di daerah perkotaan. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terhambatnya pendidikan anak usia dini. Selain itu, jenis pendidikan anak usia dini yang baru dikenal oleh masyarakat adalah Taman Kanak-kanak (TK), sedangkan Kelompok Bermain (KB) kurang diminati dan Tempat Penitipan Anak (TPA) kurang sekali popularitas di mata masyarakat serta minimnya pengadaan institusinya secara fisik. Pemerintah memegang peranan penting dalam membangun pendidikan anak usia dini di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan, maka pengadaan kesempatan anak untuk mendapatkan pendidikan harus lebih diperluas. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini harus memiliki anggaran yang cukup agar seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati layanan pendidikan anak usia dini. Namun, tidak hanya negara yang secara moral dan legal mempunyai kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan, tetapi bantuan masyarakat dan peran pihak swasta juga sangat diharapkan. Seharusnya, pemerintah meratakan terlebih dahulu pendidikan sekolah dasar ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Pemerintah terkesan memaksakan kebijakan tanpa memerhatikan kebijakan yang terdahulu belum terealisasikan dengan baik. Jika memang kebijakan wajib belajar di sekolah dasar telah terealisasikan dengan baik, maka barulah pemerintah mengeluarkan kebijakan baru guna meningkatkan mutu pendidikan. Saat ini, kebijakan yang belum optimal membuat kesan bahwa kebijakan pemerintah setengah-setengah dengan pelaksanaan yang jauh dari yang seharusnya. Selain itu, pemerintah dapat mendukung dan bekerja sama dengan berbagai pihak swasta baik di tingkat pusat maupun daerah untuk pembangunan PAUD berupa bantuan dana, pembinaan guru, dan sosialisasi acuan pembelajaran yang efektif.

Kurangnya kuantitas dan kualitas tenaga pengajar PAUD juga menjadi salah satu kendala yang cukup serius. Secara kuantitas, jumlah tenaga pengajar PAUD dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti SD, SMP, dan SMA masih lebih sedikit. Selain itu, kualitas tenaga pengajar yang ada pun masih sangat minim. Hal tersebut disebabkan kurangnya minat para lulusan perguruan tinggi dan masyarakat untuk menjadi guru anak usia dini. Pada dasarnya, masyarakat Indonesia kurang memahami pendidikan anak usia dini sehingga tercermin moralitas orang dewasa Indonesia pada saat ini. Moralitas yang ditunjukkan masyarakat sekarang ini adalah kurangnya tanggung jawab, toleransi, disiplin, kejujuran, dan kepekaan terhadap sesamanya. Kurangnya minat untuk menjadi tenaga pengajar anak usia dini juga disebabkan pendapatan tenaga pengajar anak usia dini yang masih minim. Hanya PAUD yang berada di daerah perkotaan yang mempunyai kesempatan lebih baik daripada di daerah terpencil. Oleh karena itu, masyarakat yang berprofesi sebagai tenaga pengajar lebih terpusat di kota sehingga di daerah kekurangan tenaga pengajar. Kurangnya minat menjadi tenaga pengajar anak usia dini juga memengaruhi pihak swasta untuk mendirikan institusi pendidikan yang mencetak ahli tenaga pengajar anak usia dini. Hal tersebut semakin membut Indonesia kekurangan tenag pengajar anak usia dini yang berkualitas. Kebanyakan tenaga pengajar anak usia dini belum memiliki kualitas yang bagus dan cenderung seadanya, seperti PAUD Tunas bunga Tanjung.

Lembaga pendidikan tenaga pengajar anak usia dini harus memberikan beragam aspek ilmu pengetahuan yang sesuai dengan karakter perkembangan anak agar kualitas tenaga pengajar memadai. Selain aspek pendidikan, perlu diperhatikan pengetahuan penunjang lainnya, seperti kesehatan dan psikologi anak. Kualitas anak didik tergantung kepada kualitas tenaga pengajar. Terlepas dari hal yang telah diutarakan sebelumnya, kebanyakan orang tua juga tidak mempunyai wawasan yang cukup tentang perkembangan anak. Hal tersebut membuat orang tua tidak menguasai pendidikan anak usia dini di rumah. Para orang tua juga tidak mendapatkan pendidikan khusus tentang anak usia dini. Padahal, keluarga adalah lingkungan pertama anak yang akan sangat memengaruhi perkembangan anak. Banyak faktor yang menyebabkan orang tua melalaikan tahun-tahun pertama kehidupan anak. Hal tersebut sangat disayangkan karena kurangnya kesadaran terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini. Hal yang perlu disadari oleh orang tua adalah jika anak mendapatkan pendidikan anak usia dini, maka perkembangan aspek fisik dan psikisnya juga akan meningkat dan berkembang lebih optimal diandingkan anak yang tidak mendapatkan pendidikan anak usia dini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 7, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: