Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Puisi Pahlawan dari Sampang Karya D. Zawawi

Puisi adalah karya sastra yang susunan katanya berdasarkan syarat-syarat tertentu. Syarat tersebut dapat berupa menggunakan irama, kata kiasan, dan sebagainya. Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani Pueima yang mempunyai arti membuat. Poem atau poetry dapat diartikan membuat atau menciptakan (Tarigan, 1984: 4). Herbert Spencer (dalam Waluyo, 1987: 23) mengungkapkan bahwa puisi adalah bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan pertimbangan keindahan. Samuel Johnson (dalam Waluyo, 1987: 23) juga mengatakan bahwa puisi merupakan peluapan yang spontan dari perasaan yang penuh daya yang berpangkal pada emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian. Tidak ketinggalan, H.B Jassin (dalam Waluyo, 1987: 23) menyatakan pula bahwa puisi adalah pengucapan dengan perasaan sehingga dapat dikatakan puisi merupakan pelahiran manusia seutuhnya. Ditinjau dari struktur fisik puisi, Slamet Muljana (dalam Waluyo, 1987:23) menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk kesusastraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khasnya. Pengulangan kata tersebut menghasilkan rima, ritma, dan musikalitas. Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah karya sastra yang imajinatif, emosional, dan menunjukkan pengetahuan penyair dari kehidupan sosialnya sehingga mampu membangkitkan pengalaman tertentu dalam diri pembaca atau penikmatnya.

Keberadaan puisi berkaitan dengan kehidupan sosial puisi tersebut dilahirkan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Subagio (1980: 14) bahwa karya sastra, seperti puisi tidak bisa lepas dari produk zaman yang melahirkan karya sastra tersebut. Karya sastra berupa puisi merupakan cerminan kehidupan masyarakat didalamnya. Khususnya, pengalaman hidup dan sikap pengarang itu sendiri. Kesadaran memahami karya sastra, khususnya puisi telah dirasakan oleh para penyair, kritikus, dan masyarakat. Hal tersebut membuat tanggapan positif di masyarakat karena masyarakat sudah mempunyai usaha untuk menggali nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Jika hal tersebut terus dipertahankan, maka nilai yang terkandung dalam suatu karya sastra dapat dimengerti dan bisa dimanifestasikan ke dalam bentuk pola pikir dalam masyarakat.

Makalah ini akan membahas karya sastra berupa puisi yang berjudul Pahlawan dari Sampang yang ditulis oleh D. Zawawi. Penulis memilih puisi tersebut karena adanya kecintaan yang mendalam terhadap tanah kelahiran pengarang yang diungkapkan dalam puisi. Hal ini menarik perhatian penulis karena sebagain besar tema puisi yang ada adalah kekecewaan, cinta, dan penyesalan. Tema yang diangkat oleh D.Zawawi sangat unik untuk dilihat lebih lanjut. Selain itu, pemilihan kata yang dipakai mudah dimengerti dan tidak banyak menggunakan kata kiasan yang membingungkan. Dalam hal ini, Subagio Sastrowardoyo menilai puisi karya D. Zawawi Imron telah memperlihatkan kedewasaan dalam sajak-sajaknya. Pengekangan diri dalam pemilihan kata-kata dan ungkapan perbandingan yang pekat dengan kandungan pikiran yang matang. Kiasan-kiasan dan lambang-lambang yang meramu bahan-bahannya diambil dari daerah hidupnya yang keras di pulau Madura menjadi kerangka penglihatannya yang konkret terhadap nasib yang tak menentu. Hal tersebut menambah keingintahuan penulis mendalami puisi Pahlawan dari Seberang karya D.Zawawi. Dalam makalah ini, penulis akan melihat penggunaan makna, citraan, kiasan, dan lain sebagainya.

Sebuah sajak yang baik merupakan sebuah kebulatan dan kepaduan makna di mana segala unsur berkaitan satu dengan yang lain (A. Teeuw, 1978: 14). Hal ini menjelaskan bahwa setiap bagian atau aspek memiliki peran untuk memadukan keseluruhan makna secara utuh. Bait awal mempunyai korelasi hingga bait terakhir. Makna akan didapat jika keseluruhan bait telah dibaca. Bait awal hingga bait terakhir saling bergantung satu dengan yang lain. Jika salah satu bait hilang, maka pembaca tidak akan menemukan keseluruhan makna secara utuh. Dalam hal ini, makna kata ia pada bait awal akan diketahui jika pembaca membaca hingga bait terakhir. Pronomina persona tersebut tidak hanya terdapat di bait awal, tetapi terdapat pula pada bait-bait berikutnya. Puisi Pahlawan dari Sampang menceritakan tokoh yang bernama ia. Makna ia sangat penting untuk diketahui karena merupakan bagian inti dari puisi tersebut. Berikut bait yang menjelaskan makna ia dalam puisi tersebut:

-Saya hanya seorang pemberontak

yang cinta damai

tetapi benci keserakahan

dan saya dibunuh

oleh orang terdekat yang memihak musuh

Kutipan di atas memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa kata ia pada bait awal merujuk atau mempunyai keterkaitan dengan bait di atas. Tokoh tersebut adalah seorang pemberontak cinta damai yang dibunuh teman dekatnya sebagai musuh. Dapat dikatakan pula bahwa tokoh tersebut merupakan seorang pejuang yang melawan keserakahan. Namun, tetap saja pembaca masih belum mengetahui secara utuh tokoh yang hendak disampaikan oleh pengarang. Kelengkapan makna tersebut dapat diperoleh jika mengaitkan bait demi bait hingga bait terakhir. Ada pula bait yang menerangkan kata ia dengan jelas. Berikut kutipaannya:

Pendatang itu menjawab,

– Kenalkan

nama saya

trunojoyo

Setelah membaca bait di atas dan mengaitkannya dengan bait-bait sebelumnya, maka dapat diketahui makna kata ia dalam puisi tersebut. Makna pronomina persona tersebut adalah tokoh bernama Trunojoyo. Tokoh tersebut merupakan pejuang melawan keserakahan yang dibunuh oleh teman dekatnya sendiri. Sesuai dengan judul puisi, tokoh Trunojoyo adalah pahlawan dari Sampang, Madura yang dimaksud oleh pengarang. Penamaan judul tersebut merujuk ke tokoh Trunojoyo. Pembuatan puisi tersebut berhubungan erat dengan peristiwa yang terjadi di Sampang, Madura. Menurut penulis, pengarang menulis puisi tersebut sebagai upaya mengenang tokoh Trunojoyo yang menjadi pahlawan di Sampang, Madura. Tidak hanya itu, kecintaan terhadap tanah Madura juga bisa menjadi pendorong pembuatan puisi tersebut. Kecintaan tanah kelahiran pengarang juga dapat menunjukkan eksistensi Madura di masyarakat Indonesia. Pencitraan Madura yang terkenal dengan istilah carok menunjukan kesan masyarakat yang kasar. Namun, adanya puisi ini menepis anggapan sebelumnya mengenai masyarakat Madura.

Hadir pula tokoh malaikat yang menegaskan bahwa tokoh dalam puisi telah tiada. Berikut kutipannya:

Tiba-tiba seorang malaikat

Mendekatinya dengan senyum yang ikhlas

Dan memberinya selengkap sayap.

Pengarang menghadirkan tokoh malaikat tidak hanya sebagai penegasan bahwa tokoh dalam puisi telah tiada. Ada makna lain yang terkandung dalam kehadiran malaikat dalam puisi tersebut. Malaikat adalah makhluk Tuhan yang taat akan perintah Tuhan. Biasanya, malaikat melambangkan makna kematian, tetapi citra yang timbul tidak sepenuhnya negatif. Ada pula citra positif yang ditimbulkan dengan mnghadirkan malaikat pada tokoh dalam puisi. Hal yang membedakan positif dan negatif tergantung kepada konteks yang mengikuti bait tersebut. Dalam bait di atas, malaikat digambarkan mempunyai citra positif yang mengikuti tokoh dalam puisi. Hal tersebut terlihat dari kata senyum yang ikhlas yang merujuk kepada perbuatan malaikat. Perbuatan malaikat yang memberikan senyum yang ikhlas membuat citra positif kepada tokoh ia. Tidak hanya itu, pada bait-bait berikutnya terdapat kutipan berikut:

Seorang malaikat penjaga menyambutnya

dengan aroma kembang kenanga.

-Siapa anda?

Kutipan di atas menjelaskan bahwa malaikat yang mendatangi tokoh ia merupakan malaikat penjemput maut. Malaikat tersebut mengeluarkan bau yang wangi. Hal tersebut terlihat dari aroma kembang kenanga. Biasanya, manusia yang mempunyai watak jahat akan didatangi oleh malaikat yang bau tak sedap dan buruk rupa, sedangkan manusia yang mempunyai watak baik akan didatangi oleh malaikat yang wangi. Kutipan di atas juga dapat menjelaskan bahwa tokoh ia merupakan manusia yang mempunyai watak baik karena didatangi malaikat yang wangi. Bait sebelumnya juga telah menerangkan bahwa malaikat yang mendatangi tokoh memberikan senyuman. Hal tersebut jelas mengartikan bahwa tokoh dalam puisi tersebut adalah orang baik. Jelas pula bahwa tokoh tersebut adalah pahlawan yang dimaksud dalam judul puisi. Pahlawan adalah manusia yang baik dan mempunyai watak mulia. Oleh karena itu, makna malaikat dalam puisi tersebut mempunyai peran menambah citra baik pada tokoh ia yang dalam hal ini adalah pahlawan.

Puisi Pahlawan dari Sampang menjelaskan tokoh Trunojoyo yang dianggap sebagai pahlawan sedang menuju alam keabadian. Dalam perjalanan menuju keabadian tersebut tokoh Trunojo yang baru diketahui belakangan ini bertemu dengan malaikat. Malaikat tersebut mendekati tokoh Trunojoyo dengan senyum yang ikhlas dan beraroma kembang kenanga. Tidak tampak lagi luka bekas keris yang menancap di dada Trunojoyo dan bekas pedang yang menebas lehernya. Dialog pun terjadi antara malaikat dan Trunojoyo. Dalam dialog tersebut dapat diketahui bahwa Trunojoyo meninggal karena dibunuh teman dekatnya yang memihak musuh. Setelah malaikat mengetahui siapa Trunojoyo, maka malaikat pun memeluk dan mengecup dahi Trunojoyo. Perbuatan malaikat yang memeluk dan mengecup dahi Trunojoyo dapat diartikan bahwa malaikat memiliki rasa bangga terhadap Trunojoyo. Kebanggan tersebut diungkapkan dalam perbuatan malaikat.

Unsur puisi yang digunakan untuk mendapatkan kepuitisan adalah bahasa kiasan. Bahasa kiasan mempunyai sifat umum, yaitu bahasa yang mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain (Altenbernd, 1970: 15). Jenis bahasa kiasan atau majas, diantaranya simile, metafora, personifikasi, hiperbola, dan lain sebagainya. Bahasa kiasan atau gaya bahasa yang digunakan dalam puisi bertujuan untuk membangkitkan perasaan, menarik perhatian, dan merangsang imajinasi. Puisi Pahlawan dari Sampang mempunyai dua jenis bahasa kiasan. Bahasa kiasan tersebut adalah personifikasi dan hiperbola. Personifikasi adalah penggambaran objek tak bernyawa seolah-olah manusia. Misalnya, awan berjalan. Objek tak bernyawa, seperti awan diibaratkan seolah-olah manusia yang bisa berjalan. Dalam hal ini, personifikasi yang terdapat dalam puisi Pahlawan dari Sampang adalah bumi tamat. Bumi adalah tempat tinggal makhluk hidup. Bumi dapat dikatakan sebagai objek tak bernyawa walaupun sebenarnya bumi berputar. Hal tersebut disebabkan kehadiran bumi tidak sama dengan manusia yang bisa melakukan banyak hal. Kata tamat mengacu kepada akhir. Jadi, bumi tamat dapat diartikan kematian bumi. Biasanya, kematian identik dengan makhluk hidup. Padahal, bumi bukan makhluk hidup.

Selain personifikasi, bahasa kiasan yang terdapat dalam puisi Pahlawan dari Sampang adalah hiperbola. Hiperbola adalah penggambaran objek dengan memberi bobot tekanan berlebih untuk mendapatkan efek yang intens. Hal tersebut terlihat dalam ia bangkit berparas emas. Tokoh ia mempunyai wajah yang berkilauan seperti emas. Hal tersebut menunjukkan adanya tekanan berlebihan. Efek intens yang ingin didapat adalah wajah yang berkilauan yang biasanya diidentikan dengan emas. Wajah yang berkilauan ini mengarah kepada wajah yang cerah. Citra positif pun muncul dari hiperbola yang dimunculkan. Hal tersebut juga ikut menambah keseluruhan makna puisi yang mengarah kepada pahlawan. Kemudian dilihat dari pola persajakan, puisi ini mempunyai pola persajakan tak beraturan. Pola persajakan ditandai dengan rima. Rima adalah pengulangan bunyi yang berdekatan, baik yang terdapat dalam satu larik maupun dalam larik lain. Dalam puisi tradisional, rima yang terdapat dalam puisi adalah rima bersilang. Sajak yang terdapat dalam puisi juga biasanya berlarik empat. Namun, dalam puisi Pahlawan dari Sampang mempunyai rima yang tidak beraturan. Hal ini menunjukkan bahwa puisi tersebut adalah puisi modern. Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam puisi tradisional sudah tidak dipakai oleh puisi karya D. Zawawi ini. Jumlah larik dalam satu bait pada puisi juga bervariasi. Jumlah larik ada yang berjumlah sembilan, tiga, tujuh, enam, dan sebagainya. Setiap bait memiliki jumlah yang tidak sama dengan bait yang lainnya.

Citraan adalah gambaran dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkanya (Alternbernd, 1970: 12). Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji. Gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata,saraf,penglihatan,dan daerah-daerah otak yang berhubungan dengan anggota tubuh. Coombes (dalam Pradopo 2005: 42-43) mengemukakan dalam tangan seorang puncak penyair yang bagus, imaji itu segar dan hidup dan berada dalam puncak keindahannya menjernihkannya. Hal tersebut terlihat dari citraan yang dipergunakan penyair dalam karya sastra yang dihasilkannya. Citraan dapat dihasilkan dari pancaindra yang terdapat dalam anggota tubuh manusia. Macam-macam citraan tersebut adalah citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan cecapan. Dalam hal ini, citraan yang terdapat dalam puisi Pahlawan dari Sampang adalah citraan penglihatan dan penciuman. Citra penglihatan terlihat dari beberapa larik berikut:

Ia bangkit berparas emas

Lalu dicarinya luka

Tiba-tiba seorang malaikat

Mendekatinya dengan senyum yang ikhlas.

Melintasi jurang yang luas

Di depan gapura kencana

Seorang malaikat penjaga menyambutnya

Beberapa larik di atas adalah larik yang menunjukkan citraan penglihatan. Beberapa larik tersebut diungkapkan pengarang dengan gambaran atau sudut pandang dari penglihatan manusia. Misalnya, larik ia bangkit berparas emas. Pengarang menggambarkan pembaca melihat tokoh ia bangkit dan berparas emas. Tidak mungkin pembaca mengetahui tokoh ia bangkit dan berparas emas tanpa melihat. Begitu pula dengan larik lalu dicarinya luka. Dalam mencari luka, manusia biasanya melihat bagian tubuh. Pencarian tersebut dilakukan dengan indra penglihatan. Jarang sekali manusia melakukan pencarian luka dengan indra penciuman atau bisa dikatakan tidak mungkin. Larik melintasi jurang yang luas juga memperlihatkan citraan penglihatan. Untuk mengetahui ukuran jurang, tidak mungkin manusia tidak menggunakan indra penglihatan berupa mata. Setelah melihat jurang tersebut, maka manusia baru bisa menyimpulkan bahwa jurang tersebut memiliki ukuran yang luas. Semua larik yang terdapat di atas merupakan gambaran visual dari indra penglihatan karena kata-kata yang mengikuti larik di atas hanya bisa diungkapkan jika melihat. Citraan lainnya, yaitu citraan penciuman ditampilkan dalam larik dengan aroma kembang kenanga. Aroma kembang kenanga dapat diketahui dari adanya rangsangan dari indra penciuman berupa hidung. Hidung menangkap rangsangan bau yang kemudian dapat dikatakan bau wanngi atau tidak sedap. Kembang kenanga adalah bunga yang memiliki keharuman. Larik tersebut jelas mengungkapkan bahwa tokoh ia mencium keharuman dari malaikat yang mendekatinya.

Dalam puisi Pahlawan dari Sampang ini juga terdapat refrain. Refrain adalah pengulangan kata, frasa, atau larik untuk mencapai efek tertentu. Pengulangan yang terdapat dalam puisi ini adalah pengulangan kata putih. Berikut kutipannya:

Putih mata adalah bangkai

Putih tulang adalah surga

Penekanan kata putih bertujuan untuk mencapai efek tertentu. Efek yang ingin ditampilkan pengarang adalah perumpaaan yang berbeda arti. Perumpaan putih mata adalah bangkai berarti kesan baik yang tampak di luar adalah kebusukan. Dalam hal ini, bangkai dilambangkan sebagai sesuatu yang busuk dan berbau tidak sedap. Mata dilambangkan sebagai organ tubuh yang terlihat dari luar dan putih berarti sesuatu yang baik. Sebaliknya, perumpaan putih tulang adalah surga berarti kesan baik yang tidak terlihat merupakan kebaikan yang sesungguhnya. Tulang dilambangkan sebagai bagian dari tubuh yang tidak terlihat dari luar dan surga adalah sesuatu yang indah. Penekanan yang terdapat dalam larik di atas menekankan perbedaan makna kata putih.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi Pahlawan dari Sampang karya D. Zawawi adalah karya sastra yang dibuat berdasarkan kecintaan terhadap tanah kelahiran pengarang. Selain itu, pengarang juga ingin mengungkapkan bahwa daerah Sampang mempunyai pahlawan yang bernama Trunojoyo. Pencitraan yang ditampilkan pengarang pun merujuk kepada hal yang baik. Kebaikan tersebut dapat ditandai dengan kehadiran malaikat yang tidak menyeramkan, tetapi berlaku baik kepada tokoh dalam puisi. Hal tersebut menambah pemahaman pembaca bahwa tokoh Trunojoyo adalah orang dari daerah Sampang dan berperilaku baik sehingga ketika sedang menuju keabadian mendapat sambutan yang baik dari malaikat. Dalam puisi ini, malaikat juga menunjukkan kebanggan terhadap tokoh Trunojoyo. Kebanggan tersebut memperlihatkan perilaku Trunojoyo yang memang pantas dikatakan sebagai pahlawan. Unsur puisi yang terdapat dalam puisi ini adalah bahasa kiasan, citraan, dan pola persajakan. Bahasa kiasan yang terdapat dalam puisi ini adalah personifikasi dan hiperbola. Bahasa kiasan personifikasi ditunjukkan dalam bumi tamat. Biasanya, tamat ditujukan kepada makhluk hidup yang berada pada  titik akhir, sedngkan bumi bukan makhluk hidup layaknya manusia. Bahasa kiasan lainnya adalah hiperbola yang ditunjukan dalam larik ia bangkit berparaskan emas. Hal tersebut menunjukkan penekanan yang berlebihan.

Unsur puisi berikutnya adalah citraan. Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan penciuman. Citraan penglihatan diperlihatkan dalam larik Ia bangkit berparas emas, Lalu dicarinya luka, Tiba-tiba seorang malaikat, Mendekatinya dengan senyum yang ikhlas, Melintasi jurang yang luas, Di depan gapura kencana, Seorang malaikat penjaga menyambutnya. Citra penciuman ditunjukkan dalam larik dengan aroma kembang kenanga. Aroma kembang hanya dapat diketahui dari indra penciuman berupa hidung. Hidung menangkap rangsangan bau yang kemudian manusia menamakan bau tersebut wangi atau tidak sedap. Dalam hal ini, kembang kenanga memiliki keharuman sehingga keharuman tersebut hanya dapat diketahui dari indra penciuman dan termasuk dalam citraan penciuman. Pola persajakan juga dibahas dalam makalah ini adalah rima dan refrain. Rima yang terkandung dalam puis ini adalah rima tak beraturan dan menunjukkan puisi modern. Kaidah tradisional seperti berlarik empat tiap baitnya tidak terlihat dalam puisi ini. Kemudian ada pula penekanan untuk mencapai efek tertentu yang biasa disebut refrain. Penekanan dalam puisi ini adalah penekanan kata putih yang mempunyai perbedaan makna. Contoh lariknya adalah putih mata adalah bangkai dan putih tulang adalah surga.

DAFTAR PUSTAKA

Altenbernd, Lynn dan Lislie L lewis, 1970. A Handbook for the Studyof Poetry. London: Collier-MacMillan Ltd.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Sastrowardoyo, Subagio. 1980. Sastra Hindia Belanda dan Kita. Jakarta: Balai Pustaka.

Tarigan, H Guntur. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Teeuw, A. 1978. Tergantung pada Kata. Jakarta: Balai Pustaka.

Waluyo. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 26, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: