Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Majalah Pujangga Baru: Esai Pemandangan Pers

      I.  Pendahuluan

Susastra atau biasa kita sebut sastra adalah karya yang berupa ungkapan pengalaman manusia yang direka dan pada umumnya ditulis dengan bahasa yang indah dan berestetika. Kita ketahui bahwa suatu karya sastra adalah potret dari kehidupan manusia. Dalam hal ini, sastra adalah salah satu penanda yang mewakili suatu zaman tertentu pada kehidupan nyata. Sastra bertujuan sebagai alat untuk menyinggung salah satu dari sekian banyak sisi-sisi kehidupan pada zamannya. Karya sastra modern memiliki tiga macam bentuk, yaitu, prosa, puisi, dan drama.

Perjalanan sastra Indonesia ini dari dulu hingga sekarang memiliki ceritanya masing-masing. Dalam setiap kurun waktu tertentu, sastrawan menamakan angkatannya  sesuai dengan zaman dan peristiwa yang terjadi pada masanya, seperti angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 1920, angkatan 1930, hingga angkatan 2000. Tidak mengherankan, suatu angkatan muncul akibat dari pemberontakan-pemberontakan masyarakat terhadap situasi dan keadaan yang terjadi. Namun, pada zaman dahulu karya sastra tidak hanya memiliki tiga bentuk saja, tetapi empat bentuk. Empat bentuk tersebut adalah prosa, puisi, drama, dan esai. Pada angkatan Pujangga Baru bentuk esai berkembang sebagai bentuk penanaman nilai kepada masyarakat. Penanaman nilai tersebut lebih condong kepada kritik. Esai tersebut cukup efektif untuk memengaruhi masyarakat. Hal tersebut disebabkan adanya majalah Pujangga Baru yang bukan bentukan Belanda lebih mendapat perhatian dari masyarakat yang pada saat itu sudah bosan dengan penjajahan. Oleh karena itu, melalui makalah ini, kami ingin menjelaskan mengenai salah satu esai mengenai masalah mengenai kebahasaan dan kesusastraan Indonesia dari sudut pandang pers. Dalam esai ini ada beberapa bagian yang akan menjadi pembahasan dalam esai ini, yaitu mulai bertambah minat masyarakat menggunakan bahasa Indonesia, ejaan bahasa Indonesia, kemenangan bahasa Indonesia yang akhirnya mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia, dan perkembangan majalah Pujangga Baru. Akan tetapi sebelum membahas hal tersebut, kami akan menjelaskan mengenai latar belakang berdirinya angkatan Pujangga Baru.

 

 II.  Latar Belakang Berdirinya Angkatan Pujangga Baru

Angkatan Pujangga Baru muncul pada pertengahan tahun 1933 dilatarbelakangi oleh semangat sastrawan untuk memajukan kesusastraan Indonesia. Kemudian angkatan ini juga menumbuhkan kesusastraan baru yang sesuai dengan zamannya. Tidak hanya itu, angkatan Pujangga Baru juga mempersatukan para sastrawan baru dalam satu wadah, yang sebelum itu tercerai berai menulis dalam beberapa majalah yang menyediakan ruang kebudayaan dan ingin menempatkan sastra pada kedudukan yang tinggi yang ketika itu sedang “menurun” produktivitasnya akibat terjadinya penyeleksian yang ketat terhadap hasil karya sastra yang ingin masuk dalam terbitan Balai Pustaka. Pada umumnya karya-karya sastra yang tidak masuk dalam terbitan Balai Pustaka, masuk dalam majalah Pujangga Baru tetapi tetap melalui proses seleksi terlebih dahulu sesuai kriteria majalah Pujangga Baru.

Pujangga Baru terbit pada tahun 1933 sampai 1942, yaitu pada masa sebelum perang. Pada masa itu karya sastra khususnya sajak-sajak, banyak yang berisikan mengenai semangat perjuangan untuk melawan penjajahan Belanda. Kemudian pada tahun 1942, pemerintah Jepang melarang majalah Pujangga Baru terbit. Setelah itu pujangga baru kembali terbit pada tahun 1994 sampai 1953, yaitu pada masa sesudah perang. Majalah ini merupakan terompet serta penyambung lidah para sastrawan pujangga baru. Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai Pujangga Baru, yakni Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Konten majalah Pujangga Baru, yaitu surat pembaca, esei, puisi, dan iklan.  Dalam manifestasi Pujangga baru dinyatakan bahwa fungsi kesusastraan melukiskan atau menggambarkan tinggi rendahnya budaya dan martabat suatu bangsa dan mendorong bangsa tersebut ke arah kemajuan.

 III.  Majalah Pujangga Baru Edisi Febuari 1934

Majalah berjudul Poedjangga Baroe ini memuat tulisan mengenai kesusasteraan, bahasa, dan kebudayaan umum. Pimpinan redaksi majalah ini adalah Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana. Majalah ini terbit sebulan sekali dan diterbitkan oleh Poestaka Ra’jat yang terletak di Jakarta. Majalah Poedjangga Baroe yang akan dibahas di sini adalah majalah edisi atau nomor kedelapan yang terbit pada bulan Februari 1934.

Majalah Poedjangga Baroe memuat berbagai macam jenis tulisan. Rincian mengenai majalah dan redaksi, salam redaksi, dan beberapa iklan dimuat dalam satu halaman setelah halaman kover. Di halaman selanjutnya terdapat surat pembaca yang ditulis oleh Cipto Mangunkusumo. Di beberapa halaman selanjutnya terdapat esai bersambung (sambungan dari esai pada edisi sebelumnya) berjudul “Arti Pantoen Melajoe jang Gaib” yang merupakan terjemahan dari pidato Prof. Dr. R. A. Hoesein Djajadiningrat ketika peringatan sembilan tahun berdirinya Sekolah Hakim Tinggi di Batavia pada 28 Oktober 1933. Selain itu ada pula esai berjudul “Kesusasteraan Indonesia Djawa” yang ditulis oleh Poerwoto Prawirohardjo dan tulisan lain berjudul “Pemandangan Pers”. Di samping itu juga terdapat beberapa puisi, yaitu “Koepoe Malam”, “Kembang Melati”, “Bahasakoe”, “Djihad”, “Soeara Njawakoe”, dan “Bhagawad-Gita”. Kemudian di dua halaman akhir dimuat kembali beberapa iklan.

Esai berjudul “Arti Pantoen Melajoe jang Gaib” yang merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya pada Poedjangga Baroe edisi 6 membicarakan mengenai pantun Melayu pada masa itu. Pemaparan Van Ophuysen mengenai asal pantun kurang disetujui oleh R. J. Wilkinson dan Dr. R. O. Winstedt. Wilkinson berpendapat bahwa kebiasaan yang umum untuk mengganti suatu perkataan dengan perkataan lain yang sebunyi melahirkan bahasa daun. Sementara itu, Winstedt mengatakan bahwa bahasa daun itu terkesan dibuat-buat dan tidak dapat dikatakan bersahaja. Pendapat Van Ophuysen mengenai kebiasaan seorang perawan Sunda terkait warna pengikat rokok yang diberikan untuk kekasihnya merupakan suatu pemikiran yang akan menuju kepada sumber pantun.

Arti pantun, dalam kesusasteraan Melayu abad 16, adalah “perserupaan, pepatah” dan baru pada abad 17 menjadi “quatrain”, yaitu ikatan sajak yang terdiri dari empat baris. Marsden, dalam Dictionary of the Malayan Language, membedakan pantan yang berarti “perserupaan” dengan pantoen yang berarti quatrain. Tidak dapat dipastikan mana yang lebih dulu, “perserupaan” atau “quatrain”.

Asas pantun yang utama adalah kedua baris pertama berisi klonksuggestie, yaitu bunyi yang memberi petunjuk bagi kedua baris terakhir, dan persebunyian (assonantie). Selain adanya hubungan bunyi, terdapat pula hubungan makna atau pikiran pada kedua baris pertama tersebut, seperti telah dinyatakan oleh H. Overbeck dalam “The Malay Pantun”. Selain itu ada pula pantun yang hanya terdiri dari dua baris saja.

Dalam kesusasteraan Sunda, pantun berarti suatu cerita prosa yang panjang, disilih oleh beberapa bagian yang berirama dan bersajak, menceritakan riwayat zaman dahulu kala dan bergantian diucapkan atau dinyanyikan dengan bunyi kecapi. Perbedaan arti pantun dalam bahasa Melayu dan dalam bahasa Sunda ini memunculkan keberatan terhadap uraian Prof. Pijnappel mengenai asal mula kata pantun. Pijnappel menyatakan bahwa kedua perkataan itu sama asalnya.

Menurut Dr. R. Branstetter, seorang ahli bahasa Swis, kata pantun dalam bahasa Sunda berasal dari kata tun yang berarti menunjukkan sesuatu yang teratur, lurus, baik konkret maupun abstrak. Kata tun tersebut juga terdapat dalam bahasa Prampanga, Tagalog, Jawa kuno, Bisaya, dan Toba. Kemudian, dari pantun Sunda yang dinyanyikan lahirlah istilah Melayu pantun atau lyrisch gedicht.

Menurut O.L. Helfrich, andai-andai dan guritan dalam bahasa Serawai dan Basemah adalah cerita prosa panjang yang diucapkan dengan sangat cepat dan tetap. Kata dai yang terdapat dalam andai-andai memiliki arti mengatur, membariskan, menyusun, dan yang telah menghasilkan beberapa perkataan seni pola. Sedangkan rit yang terdapat dalam guritan memiliki arti tali, baris, garis, yang banyak menghasilkan perkataan seni.

Menurut asal-usulnya, pantun dalam bahasa Melayu berarti perserupaan, yaitu umpama (bahasa Sansekerta) atau ibarat (bahasa Arab). Meski kata pantun dalam bahasa Sunda memiliki arti yang berbeda dengan kata pantun dalam bahasa Melayu, sajak empat baris yang terdapat dalam bahasa Melayu terdapat pula dalam bahasa Sunda. Sajak empat  baris itu disebut sebagai paparikan.

Sajak-sajak dalam ikatan pantun Melayu juga terdapat dalam bahasa Jawa terutama Jawa Timur. Seperti yang disebutkan oleh J. Scholte, pantun yang dinyanyikan oleh penari perempuan disebut sebagai gandrung. Kemudian, H. Overbeck menyebutkan seperti yang diucapkan oleh kumpulan ludruk di daerah Surabaya. Menurut Scholte, pantun gandrung berbeda dengan wangsalan dan parikan yang biasanya dinyanyikan oleh penari perempuan. Ahmad Wongsowejo membuat terjemahan pantun ludruk yang kemudian disebarluaskan oleh Overbeck. Ahmad Wongsowejo menyebut pantun tersebut sebagai parikan Jawa yang memiliki tanda-tanda pantun Melayu.

Dalam bagian selanjutnya, terdapat esai “Kesusasteraan Indonesia Djawa” yang berisi penggambaran derajat R. Ng. R. W. di dalam kesusastraan Jawa yang pada zaman dahulu dianggap sangat pandai. Namun, jika dilihat pada zaman sekarang, kepandaiannya dapat dikatakan ketinggalan zaman, bahkan jika dibandingkan dengan anak umur 16 tahun yang seakan sudah tahu segalanya. Kepandaian seseorang harus dilihat berdasarkan lingkungan sekitarnya dan dari kurun waktu si tokoh tersebut berada. Kepintaran zaman dulu dan zaman sekarang tidak dapat disamakan begitu saja karena pada zaman sekarang teknologi dan sumber daya manusianya lebih maju dibandingkan dengan zaman dulu. Akan tetapi, R. Ng. R. W. pada jaman itu sangat berjasa bagi kesusastraan Jawa.

Dalam esai ini penulis juga mencantumkan riwayat R. Ng. R. W. Ketika masih kecil ia bernama Bagoes Boerham. Ia lahir di Surakarta pada Senin Legi, tanggal 10 Dulkaidah 1728, pukul dua belas siang. Ia dilahirkan sebagai putera Mas Ngabehi Ranggawarsita atau M. Ng. R. W. Kemudian, sekitar umur 12 tahun, Bagoes Boerham diamanatkan untuk belajar di tempat Kyai Imam Besari. Setelah satu tahun belajar, Bagoes Boerham belum juga mengetahui huruf alif bengkong karena sebenarnya ia tidak suka belajar dan tinggal di tempat itu. Di tempat itu, ia hanya memancing ikan atau sekadar bermain judi. Kegiatan yang ia lakukan adalah kegiatan yang tidak senonoh, meskipun sudah sering kali diperingatkan oleh Kyai Imam Besari. Setelah cukup besar, ia diberi nama Jasadipoera II yang terkenal sebagai pujangga. Kemudian, ketika ia dinaikkan sebagai bupati, ia diberi nama Toemenggoeng Sastranegara.

Bagian selanjutnya memuat tentang esai “Pemandangan Pers”. Dalam esai ini dijabarkan bahwa minat bangsa kita terhadap bahasa dan kesusastraan semakin hari semakin bertambah. Hal itu terbukti dari banyaknya pers yang membuat surat kabar tentang bahasa dan kesusastraan. Buku-buku mengenai bahasa Indonesia yang baik dan benar semakin banyak diproduksi. Pemakaian bahasa Indonesia juga dianjurkan dalam beberapa laras bahasa, dua di antaranya adalah berbicara dan menulis surat kabar. Pemakaian bahasa Indonesia dalam surat kabar terlihat pada surat kabar Pewarta Deli, Bintang Timur, Pemandangan, Soera Oemoem, dll. Beberapa surat kabar dan majalah memuat beberapa syair dan sajak. Pada era ini, banyak jurnalis yang mulai berhati-hati untuk membicarakan buku-buku mengenai kesusastraan.

Bahasa Indonesia sangat berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, akan lebih baik jika bahasa Indonesia mendapat kedudukan yang sempurna dan tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Seperti dalam dunia pendidikan, seharusnya bahasa Indonesia yang baik dan benar diajarkan sejak dini, dari tingkat sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. Selain itu, bahasa juga digunakan sebagai kebudayaan yang lahir melalui pola kedudukan bahasa yang mengarah pada kerohanian dan kebatinan. Perkembangan agama yang terjadi di Indonesia tidak lepas dari bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, sebagai bangsa Indonesia seharusnya kita benar-benar dapat menghargai bahasa kita.

Dalam majalah Poedjangga Baroe juga dimuat beberapa puisi dari para pemuisi di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah “Koepoe Malam”, “Kembang Melati”, “Bahasakoe”, “Djihad”, “Soeara Njawakoe”, dan “Bhagawad-Gita”. Sebuah kehidupan digambarkan dalam puisi “Koepoe Malam” yang ditulis oleh Sns Pn. Sns Pn (disinyalir merupakan Sanusi Pane). Belum ada penjelasan mengapa ia menyingkat namanya dalam menulis puisi ini. Dalam puisi ini, digambarkan kehidupan mengenai seseorang yang menemui pelacur. Namun, tidak ada hujatan yang diberikan kepada si pelacur. Sebaliknya, penulis menunjukkan sisi baik dari si pelacur. Puisi ini ditutup dengan ungkapan bahwa hal yang terjadi hanyalah mimpi dan betapa sesungguhnya tokoh dalam puisi ini kesepian dan butuh dicintai. Jika dilihat, puisi ini menggunakan pola permainan rima layaknya sebuah pantun, yaitu a-b-a-b.

Masalah cinta sepertinya bukanlah tema yang akan habis dilekang zaman. Dari dulu hingga sekarang, penggambaran suatu kecintaan dengan puisi terasa begitu lekat. Dalam majalah ini ditemukan sebuah puisi yang mengangkat tema mengenai cinta. Puisi “Kembang Melati” menggambarkan suatu kecintaan seseorang akan seorang wanita dari daerah Jawa Barat yang sayang sekali tidak dapat diwujudkan. Kembang melati di sini merupakan perumpamaan bagi wanita tersebut. Indahnya bunga tersebut yang berwarna putih dan berbau harum menunjukkan keindahan dari wanita ini. Penggunaan kata priangan dengan jelas menunjukkan bahwa wanita tersebut berasal dari Jawa Barat. Puisi ini terdiri dari empat bait. Bait pertama dan kedua memiliki rima a-b-b-a dan bait ketiga serta keempat terdiri dari tiga baris dengan rima a-a-b. Selain itu, dalam puisi ini terdapat perumpamaan-perumpamaan yang sering digunakan.

Kemudian, puisi Bahasakoe mengangkat tema kebahasaan. Pada setiap awal baitnya, kata bahasakoe terus menerus diulang. Dalam puisi ini, masih terasa aroma penyemangat untuk menyatukan dan membela bahasa tersebut. Puisi ini ditulis oleh S. Yudho dengan menggunakan rima a-a-a-a setelah terlebih dulu menyebut bahasakoe pada awal baitnya. Dalam puisi ini, penulis seolah ingin menghadirkan perasaan bangga akan bahasa yang dibahas dengan menggambarkan keindahan bahasa tersebut serta kesediaan membela keberadaan bahasa tersebut. –koe menunjukkan betapa ‘aku’ dalam puisi ini benar-benar menghayati puisi yang merupakan miliknya ini. Hal ini semakin ditegaskan dalam bait terakhir.

“Bahasakoe,
Poesaka mojangkoe loehoer
Djika linjap, bila loentoer
Berarti bangsakoe moendoer
Akoe sedia toeroet mengatoer”.

Puisi Djihad memiliki bentuk fisik yang menarik. Pada beberapa kata, dicantumkan nomor yang bermaksud memberi penjelasan akan kata yang merupakan kata dari bahasa Arab seperti djihad, maslahah, dan ansarullah. Selain itu, dalam puisi ini terdapat kutiapan kata-kata dari seorang yang bernama Muhammad Ajat. Dalam puisi ini, sangat ingin dikobarkan jiwa semangat untuk berjihad dan membela kebenaran. Gaya bahasanya lugas tanpa menggunakan majas-majas dan konotasi.

Puisi selanjutnya merupakan puisi karya Soeman Hs. Puisi yang berjudul Soeara Njawakoe ini menunjukkan konflik batin tokoh dengan dirinya sendiri. Gaya bahasa yang digunakan tidak seperti puisi-puisi lainnya di dalam majalah ini. Puisi ini seolah menggambarkan perjalanan kehidupan seseorang yang bagaikan sebuah pelayaran.

“Kini koesampai ditengah aroeng, dilamboeng ombak, diajoen aloen”.

Puisi terakhir adalah puisi karya Amir Hamdzah yang berjudul Bhagawad Gita. Hal yang menarik dari puisi ini adalah penggunaan tokoh-tokoh Mahabhrata yaitu Arjuna dan Krishna yang seolah sedang bertanya jawab mengenai Yoga dan Kerdja. Bentuk puisi ini sangat berbeda dari puisi-puisi sebelumnya yang masih memperhatikan permainan rima serta bentuk bait-bait serta baris-baris dalam puisinya.

IV.         Esai Pemandangan Pers

Pada makalah ini, kami memilih esai Pemandangan Pers yang dibuat oleh tim redaksi majalah Pujangga Baru. Hal ini disebabkan konten esai memuat berbagai macam permasalahan kebahasaan dan kebuadayaan. Sekarang, permasalahan tersebut telah membekas dan dipergunakan oleh masyarakat. Hal tersebut membuktikan bahwa esai merupakan sarana efektif pada saat itu untuk memengaruhi masyarakat. Esai yang berjudul Pemandangan Pers dalam majalah Pujangga Baru yang terbit pada februari 1934 ini membahas mengenai minat bangsa Indonesia terhadap bahasa dan kesusastraan Indonesia yang semakin bertambah banyak seiring berkembangnya ilmu pengetahuan bahwa suatu negera harus memiliki identitas yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Melalui media surat kabar dan majalah unsur bahasa dan kesusastraan sangat ditonjolkan terbukti dengan beberapa surat kabar dan majalah memuat puisi, prosa, dan drama. Akan tetapi, karya sastra yang paling dominan muncul di rubrik-rubrik sastra yang ada di surat kabar ataupun majalah pada angkatan Pujangga Baru adalah puisi. Surat kabar dan majalah yang biasa menerbitkan karya sastra, kritik, atau esai salah satunya adalah Pewarta Deli, Bintang Timur, Pemandangan, Suara Umum, Perca Selatan, dan lain-lain,

Dalam esai ini membahas juga mengenai ejaan bahasa Indonesia. Ejaan bahasa Indonesia yang berkembang pada saat itu salah satunya ejaan huruf u yang dituliskan oe. Beberapa hal yang harus diketahui adalah ejaan berubah salah satunya ada pengaruh politik yang terjadi ketika itu. Surat kabar Pewarta Deli membahas hal ini dan menganjurkan sebaiknya memakai lambang u untuk bunyi huruf /u/. Mereka keberatan dengan ejaan yang ada sekarang di Indonesia. Akan tetapi esai ini mengkritisi bahwa Pewarta Deli jangan memutuskan sendiri untuk mengubah ejaan yang telah ada tanpa ada kongres bahasa terlebih dahulu seperti kongres Onderwijs pada zaman itu. Hal yang patut ditanyakan kepada Pewarta Deli adalah mengapa hanya ejaaan oe saja yang diubah dalam surat kabarnya dan hanya dipakai dalam sebagian surat kabarnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya kekacauan bahasa di masyarakat.

Selanjutnya dalam esai ini membahas mengenai tulisan Mr. M. Yamin tentang kemenangan bahasa Indonesia. Pada mulanya bahasa Indonesia tidak diketahui oleh orang Indonesia pada umumnya dan yang mereka ketahui adalah bahasa Melayu yang dipakai oleh masyarakat kalangan bawah dan bahasa Belanda yang dipakai oleh orang yang berpendidikan dan kalangan atas. Setelah sumpah pemuda, 28 Oktober 1928 memang belum seluruhnya bangsa Indonesia menggunakannya atau bahkan ada yang masih belum mengetahui dan memahami bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bahasa persatuan. Tentu saja bahasa Indonesia ketika itu tersisihkan dari dunia pendidikan, pengajaran, dan komunikasi masyarakat Indonesia pada umumya. Sebab semangat untuk bersatu dan melawan penjajahan belum kuat terjalin di kalangan masyarakat khususnya kaum pejuang kemerdekaan ketika itu.

Di dalam esai ini juga membicarakan mengenai Mr. M. Yamin yang ingin mempropagandakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, Mr. M. Yamin berharap bahwa bahasa Indonesia dipakai di dalam dunia pendidikan dan pengajaran serta digunakan dalam bidang birokrasi, seperti surat gadai, surat belasting, bidang perdagangan, dan pertanian. Selain itu, bahasa Indonesia juga harus digunakan untuk ragam jurnalisitik secara keseluruhan untuk memberi informasi kepada masyarakat Indonesia mengenai hal-hal yang menyangkut peraturan-peraturan pemerintahan.

Pergerakan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan semakin kuat dan berkobar-kobar semangat yang ditunjukan. Timbul kesadaran bangsa Indonesia untuk sepenuh hati menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan terutama untuk melawan penjajah. Dalam hal ini bahasa didudukan dalam kedudukan yang tinggi dan sempurna. Sejak saat itu bahasa Indonesia mulai dipakai dalam dunia pendidikan dari mulai taman kanak-kanang hingga perguruan tinggi. Selajutnya, esai ini menjelaskan bahwa masyarakat bangasa Indonesia sudah mulai gencar-gencarnya membumikan bahasa Indonesia dengan mewajibkan menggunakan bahasa Indonesia dalam beberapa bidang, seperti penerangan kepada rakyat Indonesia tentang konstitusi dasar Republik Indonesia, perdagangan, pertanian, dan kedokteraan. Tidak hanya itu, bahasa Indonesia wajib digunakan dalam kegiatan keagamaan. Pada bagian berikutnya esai ini membahas mengenai suatu realita bernegara bahwa persoalan politik dan ekonomi yang patut diperhatikan secara intensif dan mengabaikan persoalan bahasa, budaya, dan seni.

V.    Penutup

Pada angkatan Pujangga Baru bentuk esai berkembang sebagai bentuk penanaman nilai kepada masyarakat. Penanaman nilai tersebut lebih condong kepada kritik. Esai tersebut cukup efektif untuk memengaruhi masyarakat. Hal tersebut disebabkan adanya majalah Pujangga Baru yang bukan bentukan Belanda lebih mendapat perhatian dari masyarakat yang pada saat itu sudah bosan dengan penjajahan. Majalah Poedjangga Baroe memuat berbagai macam jenis tulisan. Rincian mengenai majalah dan redaksi, salam redaksi, dan beberapa iklan dimuat dalam satu halaman setelah halaman kover. Di halaman selanjutnya terdapat surat pembaca yang ditulis oleh Cipto Mangunkusumo. Di beberapa halaman selanjutnya terdapat esai bersambung (sambungan dari esai pada edisi sebelumnya) berjudul “Arti Pantoen Melajoe jang Gaib” yang merupakan terjemahan dari pidato Prof. Dr. R. A. Hoesein Djajadiningrat ketika peringatan sembilan tahun berdirinya Sekolah Hakim Tinggi di Batavia pada 28 Oktober 1933. Selain itu, ada pula esai berjudul “Kesusasteraan Indonesia Djawa” yang ditulis oleh Poerwoto Prawirohardjo dan tulisan lain berjudul “Pemandangan Pers”. Di samping itu juga terdapat beberapa puisi, yaitu “Koepoe Malam”, “Kembang Melati”, “Bahasakoe”, “Djihad”, “Soeara Njawakoe”, dan “Bhagawad-Gita”. Kemudian di dua halaman akhir dimuat kembali beberapa iklan.

Dalam makalah ini, esai yang dipilih adalah esai Pemandangan Pers. Esai yang berjudul Pemandangan Pers dalam majalah Pujangga Baru terbit pada februari 1934 ini membahas mengenai minat bangsa Indonesia terhadap bahasa dan kesusastraan Indonesia yang semakin bertambah banyak seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Hal tersebut didasarkan bahwa suatu negera harus memiliki identitas yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Oleh karena itu, melalui esai ini, penulis esai mencoba mengkritisi bahwa dalam surat kabar tidak hanya menerbitkan kumpulan atau rubrik politik dan ekonomi saja, tetapi harus menampilkan rubrik bahasa, budaya, dan seni. Selain itu, dalam surat kabar jangan hanya menerbitkan pengaruh budaya barat, tetapi pengaruh budaya dari timur juga harus ditampilkan

DAFTAR PUSTAKA

“Pemandangan Pers”. Poedjangga Baroe. No. 8/Th. Ke-1/Pebroeari 1934. Hal. 267—270

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 28, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: