Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Esai Pemandangan Pers

Minat bertambah.

Minat bangsa kita terhadap kepada bahasa dan kesoesastraan makin sehari makin bertambah. Hal itoe njata kelihatan kepada pers bangsa kita. Dalam beberapa boelan jang achir ini hamper segala soerat kabar bangsa kita menoelis tentang bahasa dan kesoesastraan dan betapa perloenja mengadakan boekoe-boekoe jang berpaedah dalam bahasa Indonesia. Dimana-mana diandjoerkan agar lebih banjak memakai bahasa Indonesia oentoek berbitjara dan oentoek menoelis: Pewarta Deli, Bintang Timoer, Pemandangan, Soeara Oemoem, Pertja Selatan dan lain-lain. Beberapa soerat kabar dan madjallah memoeatkan sja’ir, sadjak, d.l.l., sedangkan pada beberapa madjallah moelai kelihatan roebrik kesoesastraan atau perpoestakaan : Semangat, Poestaka, Penindjauan, d.l.l.

Pada oemoemnja sekarang kaoem djoernalis kita moelai agak berhati-hati membitjarakan boekoe jang dikirimkan kepada mereka oentoek dipertjakapkan.

Sekaliannja itoe amat menggirangkan hati!

Edjaan bahasa Indonesia.

Pewarta Deli membitjarakan edjaan bahasa Indonesia dewasa ini. Menoeroet katanja toelisan boenji oe hoeroef o dan e itoe amat gandjil dan diandjoerkannja memakai hoeroef u oentoek penggantinja, sebab u lebih oemoem dipakai oentoek boenji oe dalam bahasa lain.

Sesoenggoehnja soal edjaan itoe salah satoe dari pada soal bahasa Indonesia sekarang, apalagi kalau kita pikirkan, bahwa disebrang Selat Malaka orang lain benar menoelis perkataan Indonesia itoe dari dinegeri kita ini. Lagi poela edjaan menoeroet logat Melajoe seperti telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam beberapa hal telah mendjadi oesang dan tiada sepadan lagi dengan kebiasaan dewasa ini.

Tetapi, meskipoen kami seperti Pewarta Deli banjak merasa keberatan terhadap kepada edjaan jang dipakai sekarang, menoeroet anggapan kami soal itoe tiadalah dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Jang teroetama sekali berkepentingan dengan soal edjaaan itoe ialah sekolah bangsa kita. Merekalah hendaknja jang teroetama sekali memikirkannja. Dalam pada itoe kami berpendapat, bahwa merekapoen tiada boleh memoetoeskannja sendiri-sendiri, tetapi ialah dengan mosjawarat bersama, misalnja pada kongres onderwijs kebangsaan Indoensia.

Lagi poela perboeatan Pewarta Deli itoe sangat tanggoeng-tanggoeng. Mengapakah hanja edjaan oe jang dioebah, sedangkan edjaan jang lain dibiarkan sadja ? Jang ganjilnja poela Pewarta Deli sendiri hanja memakai edjaan ,,baroe” itoe oentoek sebahagian dari soerat kabarnja. Hal itoe menoeroet pikiran kami hanja menambah kekatjauan sadja.

Kemenangan bahasa Indonesia.

Dalam Pemandangan Mr. M. Yamin menoelis tentang ,,Kemenangan bahasa Indonesia”. Keringkasan karangannja itoe ialah, bahwa moela-moela dahoeloe bahasa Indoensia mendapat kekalahan Bahasa Indonesia teroesir dari doenia pendidikan dan pengadjaran, dari roemah tangga dan dari masjarakat seoemoemnja.

Sesoedah kekalahan timboel keinsjafan, diantaranja jaitoe keinsjafan kebangsaan, jang memagari beberapa poesaka masjarakat dan memberi tenaga baroe. Oleh itoe tertolaklah bahasa asing dan bahasa Indoensia jang moela-moela kalah itoe mendapat kemenangan, seperti terboekti pada pers bahasa Indonesia, pendidikan dan pengadjaran Indonesia, poedjangga baroe, bahasa rapat, bahasa pergaoelan d.s.b.nja.

Pokok-pangkal dari pada kemenangan bahasa Indonesia itoe ialah semangat baroe jang timboel ditengah-tengah masjarakat Indonesia. Selandjoetnja tentang bagaimana kelak perdjalanan bahasa Indonesia ditoelisnja :

Pertama-tama tentang bahasa Indonesia berhoeboeng dengan keperloean masjarakat dan keboedajaan jang lahir. Hendaklah bahasa itoe mendapat kedoedoekannja jang sempoerna, dan djanganlah didjadikan kajoe-tjangkokan, dipoepoek dalam gedong artja atau poera-poera dihidoepkan dioedjoeng lidah seorang doea orang pegawai negeri. Dalam doenia pengadjaran dan pendidikan hendaklah bahasa itoe mendapat tempat jang selajaknja sedjak dari sekolah Frobel,; taman anak-anak, sampai kepoenjak pergoeroean tinggi; boekan oleh karena bahasa kita berkata begitoe, melainkan karena masjarakat Indonesia jang waras soedah memestikannja begitoe.

Dalam perdagangan Asia Tenggara, dan dalam perhoeboengan perekonomian bangsa Indonesia dengan bahasa lain, baik Inggeris, Belanda ataupoen Ra’jat Mikado, djanganlah bahasa Indonesia maoe berbalik atau mengalah barang setapak ; boekan oleh karena pengharapan dengan menggemboengkan dada, melainkan karena kedoedoekan bahasa Indonesia diatas doenia bersama-sama poela dengan sifatnja adalah memberi alasan jang tegas kepada fikiran itoe.

Dalam perdjalanan dari pelajaran dilaoetan India, Pasifik dan laoetan Indonesia — laoetan jang berpantaikan sebagian keperloean Indonesia kita ini, bersama-sama poela dengan pantai dan daratannja, perdjalanan dan pelajaran disana teroes-meneroeslah di-iringi dengan bahasa Indonesia jang merdoe itoe; sesoengoehnjalah ini boekan permintaan atau tjita-tjita jang mengawan, melainkan hanja menjeboetkan perboeatan jang soedah terboekti.

Selainja dari pada soerat gadai dan soerat belasting, hendaklah djoega penerangan kepada Ra’jat Indonesia tentang atoeran negeri, perdagangan, pertanian, ternak hidoep-hidoepan dan kesehatan tertoelis dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah seloeas-loeasnja ; ditanah India adakah seorang penjair Rabindranath Tagore hatinja berasa tjotjok goesar, karena melihat penerangan tentang bertjotjok tanam dilakoekan dalam bahasa Inggeris. Kegoesaran ini tentoelah akan bertambah-tambah kalau ditoedjoekan ketanah air kita ini.

Demikianlah bahasa Indonesia memohonkan diri dengan lemah lemboet pada tempat jang selajaknja, dan dengan kepastian jang tangkas pada tempat jang soedah semestinja.

Selainnja dari pada arti jang lahir adalah poela kedoedoekan bahasa Indonesia jang mengarah kepada kerohanian dan kebatinan. Kembangnja dan mendalamnja pengetahoeannja dengan bahasa itoe. Peladjaran agama peladjaran bahasa Arab dan tafsir Kor’an jang lengkap dalam bahasa Indonesia beloemlah sedia, dan koetbah djoem’at jang berbahasa ini belomlah poela diladzimkan. Kekoerangan ini tentoelah akan berganti dengan kegiatan.

Djoega pihak zending dan missie Kristen hendaklah memikirkan tentang doedoeknja bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia. Dan seteroesnja dalam peradaban dan keboedajaan Indonesia pada hari jang akan datang tentoelah mesti tersedia dan disediakan perpoestakaan kebangsaan, sjair, kamoes, lakon, d.l.l. dalam bahasa Indoensia dan bahasa daerah. Bangsa Indonesia tentoelah sekali doea kali soedi agaknja mengemis atau meminta-minta minjak-tanah oentoek membesarkan tjahaja pelita, tetapi tentoelah tidak selama-lamanja kita dapat berlakoe begitoe ; poestaka sendiri, sjair kebangsaan, pers kebangsaan, seni kebangsaan, lakon kebangsaan ; dan pemberian kebangsaan kepada roch internasional hendaklah mendjadi poesat perboeatan roch dan semangat jang hidoep dengan sehidoep-hidoepnja. Kebangoenan Indonesia adalah sebagai emas oerai jang ditinggalkan oleh aliran kebangsaan ; itoelah gambaran Renaissance jang dikandoeng atau ditjita-tjitakan oleh toeroenan Indonesia pada masa ini.

Demikianlah djalan raja tempat perdjalanan bahasa Indonesia menoedjoe kemoeka. Dan sesoedah itoe ?

Kira-kira enam ratoes tahoen daholoe ahli sjair Dante Alighieri memakai tjara Florenzia dan meramalkan persatoean tanah airnja ; bahasa Florenzia dan tanah air jang didjoendjoeng tinggi itoe ialah bahasa Italia dan toempah darah Italia jang sekarang soedah bersatoe. Dengan memberi tempat kepada bahasa Limburg, Zeuw, Freisch d.l.l. kelihatanlah bahasa Holland sebagai daerah mendjadi bahasa Nederland oentoek seloeroeh bangsa Belanda baik dilaoet dan didarat ; kemadjoean ini memang ditoerot djoega oleh perdjalanan bahasa Sepanjol, Perantjis, Arab, d.l.l. Dan toeladan-toeladan ini sesoenggoehlah garis emas jang terloekis di kaki langit ; seonggoehlah fadjar jang mendahoeloei terbitnja matahari bangsa Indonesia.

Sebeloem sampai kesana hendaklah bahasa Indonesia mendapat tempat jang tertentoe dalam masjarakat ; tidak sadja pengakoean, tetapi ta’koerang poela pembelaan dan pembantahan jang beralasan mesti dilakoekan oentoek menetapkan perdjalanan itoe.

Beberapa kali bahasa Indonesia mendapat kekalahan ; dalam saringan kekalahan itoe soedahlah kelihatan satoe doea kemenangan jang berarti.

Tetapi kemenangan jang sebenar-benarnja dan jang selaras dengan deradjat bahasa itoe masih terloekis didepan kita. Kesanalah kita.

Poedjangga Baroe.

Dalam ,,Penindjauan” jang terbit dalam boelan Janocari A (Dr. M. Amir?) menoelis tentang Poedjangga Baroe :

(A)             ,,Van brood allen kan men niet leven”. Banjak orang mengira, bahwa soal ekonomi dan politik itoe sadja jang hangat, jang patoet diperhatikan dan dioeraikan. Peradaban dengan soalnja, pekara koeltoer, bahasa, seni, itoe pekara belakang, perkara nanti. Faham ini faham orang bodoh atau boeta atau orang jang mempoenjai bewustzijnservauwing, seperti koeda pakai oogklep. Mereka tidak mengerti, bahwa zat nasioanal itoe baroe hidoep, kalau ada kebatinannja, peradabannja sendiri. Tiang peradaban itoe ialah bahasa. Barang siapa jang beloem insjaf kebenaran ini, masih bermengtaliteit abad pertengahan, haroes disoeroeh peladjari dahoeloe beschavingsgeschiedenis.

Itoelah sebabnja, segala oesaha koempoelan dan soerat berkala cultureel haroes kita poedji. Koempoelan politik, soerat kabar politik haroes ada tetapi forum oentoek memperbintjangkan soal peradaban mesti ada poela. Dimedja saja terletak Poedjangga Baroe, nomor jang ke-enam. Kegembiraan penerbit soerat boelanan ini boekan main. Orang jang beloem pernah menerbitkan tijdschrift tidak mengetahoei, betapa besar koerban dan oesaha anak-anak moeda ini, oentoek mentjapai tjita-tjitanja. Biarlah mereka teroeskan oesaha ini. Pengaruh nomor dari De Gids atau De Nieuwe Gids djaoeh lebih besar pengaroeh seriboe lembar soerat kabar harian jang tidak bertjita-tjita, berisi, berdjiwa. Toean-toean poedjangga, perlihatkanlah pada bangsa kita, kepada pemoeda kita, bahwa lain dari pada tjita-tjita kebaratan, Amerikanisme, dancing dan money making (tjita-tjita import belaka) masih ada dihati sanoebari bangsa kita tjita-tjita ketimoeran, aziatisme, seni, dan religie, bahwa sitimoer beloem mendjoeal djiwanja kepada sang doeit dan sang benda.

Nomor keenam ini adalah ,,berisi”, seperti nomor jang soedah-soedah. Karangan jang pertama ialah tentang Kesoesastraan Indonesia Djawa, oleh Poerwoto Prawirahardjo. Sesoedah itoe Armijn Pane menjamboeng Sedjarah Kesoesastraan baroe. Silakan perhatikan alinea-alinea penghabisan! Diesrede prof. Djajadiningrat diterdjemahkan poela ,,Arti pantone melajoe jang gaib”. Sesoedah itoe ada temoeat poezie, sedjak model baroe. Penghabisan nomor itoe ialah vertaling dari Bhagawad Gita, jaitoe pertjakapan Krishna dan Ardjoena di padang Koeroe, satoe episode dari Mahabbarata.

Pembatja pentjinta bahasa dan poestaka haroes membeli soerat berkala jang penting ini dan kepada segala kaoem kolot, walaupoen beramboet poetih, jang menangkis Poedjangga ini seperti Don Quichot menangkis kintjir orang molens, kepada mereka, kaoem tertjitjir, saja seroekan : Hands off! Hormat kepada ,,poedjangga baroe”.

DAFTAR PUSTAKA

“Pemandangan Pers”. Poedjangga Baroe. No. 8/Th. Ke-1/Pebroeari 1934. Hal. 267—270

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 28, 2013 by in Sastra.
%d bloggers like this: