Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Analisis Konjungsi Ekstratekstual dalam Hikayat Kalilah & Dimnah

I.                   Pendahuluan

Kesusastraan Indonesia memiliki tiga periode, yaitu kesusastraan Indonesia klasik, kesusastraan pra-Indonesia, dan kesusastraan Indonesia modern. Kesusastraan Indonesia klasik mempunyai dua jenis karya sastra, yakni puisi Indonesia klasik dan prosa Indonesia klasik. Puisi Indonesia klasik terbagi menjadi enam jenis puisi. Beberapa jenis puisi tersebut adalah mantra, bidal, pantun, seloka, gurindam, dan syair. Tidak hanya puisi Indonesia klasik, prosa Indonesia klasik juga terbagi menjasi enam jenis. Enam jenis tersebut adalah cerita rakyat, epos India dan wayang, cerita panji sastra peralihan Hindu-Islam, sastra Islam, dan cerita berbingkai (Yuwono: 2007).

Dalam makalah ini, penulis memilih salah satu karya prosa Indonesia klasik untuk dijadikan data analisis. Data tersebut berupa hikayat. Hikayat adalah salah satu jenis karya sastra lama atau prosa lama. Hikayat dalam bahasa Melayu mempunyai dua arti. Pertama, hikayat adalah cerita lama dalam bentuk prosa. Baried dkk (1985:6) menyimpulkan bahwa hikayat adalah karangan yang kadarnya cerita, bukan peristiwa yang benar-benar terjadi atau hasil rekaan. Selain itu, hikayat juga merupakan cerita yang sudah kuno atau cerita lama dan bentuk cerita berupa prosa. Namun, hikayat  juga berarti cerita yang pernah terjadi, seperti kenang-kenangan, sejarah, atau riwayat.

Hikayat yang akan dijadikan data analisis dalam makalah ini adalah Hikayat Kalilah & Dimnah. Hikayat ini adalah hikayat berbingkai. Abdullah (1988: 127) mengungkapkan bahwa hikayat berbingkai dapat diartikan sebagai cerita yang bersambung-sambung atau mempunyai babak yang banyak, tetapi pokok ceritanya masih satu. Hikayat Kalilah & Dimnah menggunakan bahasa Melayu. Baried, dkk. (1985:84) menjelaskan bahwa sastra Melayu menggunakan bahasa Melayu. Oleh karena itu, bahasa hikayat adalah bahasa Melayu dan untuk memahami bahasa hikayat, perlu adanya pemahaman mengenai bahasa Melayu. Penulis memilih data analisis berupa hikayat karena hikayat adalah awal mula berkembangnya novel pada zaman sekarang. Selain itu, hikayat yang ada di Indonesia memiliki jumlah yang banyak. Hal tersebut merupakan warisan nenek moyang yang sangat berharga. Dengan adanya jumlah hikayat yang banyak tersebut, maka banyak pula penulis atau penyalin di Indonesia. Pekerjaan menulis atau menyalin adalah pekerjaan yang mempunyai kedudukan tinggi pada saat itu. Tidak hanya itu, ketertarikan penulis menganalisis hikayat juga didasarkan pada bahasa yang digunakan dalam hikayat. Bahasa Melayu adalah bahasa lingua franca di Nusantara. Perkembangan bahasa Melayu yang dahulu dipakai hingga sekarang akan menarik untuk diteliti.

Bahasa Melayu yang digunakan dalam cerita berbingkai ini adalah bahasa Melayu klasik. Tentu saja, penggunaan bahasa Melayu klasik berbeda dengan penggunaan bahasa Indonesia pada masa sekarang. Hal tersebut yang membuat penulis ingin membuktikan dan menganalisis konjungsi yang dipakai dalam Hikayat Kalilah & Dimnah secara sintaktis. Untuk memudahkan penelitian, penulis membatasi konjungsi yang akan dianalisis adalah konjungsi ekstratekstual. Melalui makalah ini, penulis ingin membuktikan kecenderungan konjungsi ekstratekstual yang sering dipakai dalam Hikayat Kalilah & Dimnah. Selain itu, penulis juga ingin mengetahui fungsi konjungsi ekstratekstual dalam Hikayat Kalilah & Dimnah. Penulis ingin mengetahui pula penggunaan konjungsi ekstratekstual (posisi awal, tengah, dan akhir kalimat) dalam Hikayat Kalilah & Dimnah.

Teknik penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah teknik kepustakaan yang mengambil data dari sebuah cerita berbingkai yang berjudul Hikayat Kalilah & Dimnah. Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui kecenderungan kemunculan, fungsi, dan penggunaan konjungsi ekstratekstual dalam Hikayat Kalilah & Dimnah. Data makalah ini adalah Hikayat Kalilah & Dimnah yang diterjemahkan oleh Wasmukan. Untuk memudahkan penelitian, penulis hanya mengambil data dari salah satu cerita berbingkai Hikayat Kalilah & Dimnah. Penulis memilih salah satu cerita berbingkai yang terdapat dalam Hikayat Kalilah & Dimnah, yaitu cerita Tikus dan Kucing Hutan.

II.                Hikayat Kalilah & Dimnah

Hikayat Kalilah & Dimnah adalah cerita mengenai fabel-fabel alegoris. Hikayat ini ditulis oleh Baidaba, sorang filsuf India abad ke-3 Masehi. Buku ini merupakan buku yang diterjemahkan dari buku berbahasa Arab. Judul buku tersebut adalah Kalilah wa Dimnah. Buku berbahasa Arab tersebut merupakan hasil dari terjemahan Abdullah bin al-Muqaffa. Buku tersebut merupakan terbitan Dar al-Fikr, Beirut, Lebanon, cetakan ke-2 tahun 1991. Di Indonesia, Hikayat Kalilah & Dimnah diterbitkan oleh Pustaka Hidayah.

Hikayat Kalilah & Dimnah merupakan hikayat dengan cerita berbingkai. Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita pula. Hal tersebut terlihat dari cerita yang banyak terdapat dalam hikayat. Dalam buku Hikayat Kalilah & Dimnah terdapat sepuluh cerita yang berlainan. Meskipun cerita yang terdapat dalam Hikayat Kalilah & Dimnah berbeda, tetapi cerita tersebut memiliki kesamaaan dalam bentuk cerita. Kesamaan bentuk cerita tersebut adalah adanya kemiripan jenis amanat yang ingin disampaikan pengarang. Semua cerita memuat amanat yang berguna bagi pembaca hikayat. Hal tersebut menjadikan hikayat ini sarana pembelajaran bagi pembaca. Cerita yang terdapat dalam Hikayat Kalilah & Dimnah adalah Singa dan Sapi Banteng, Pemeriksa Pekara Dimnah, Tikus dan Kuing Hutan, Merpati berkalung, dan masih banyak lagi.

III.             Konjungsi dalam Prosa Melayu Lama

Biasanya, bahasa yang digunakan dalam hikayat berbingkai ditunjukkan dengan pemakaian konjungsi yang berlebihan. Hal tersebut menandakan bahwa hikayat tersebut termasuk  ke dalam prosa Melayu lama. Hal tersebut disebabkan awal mulanya hikayat dituturkan dan disebarluaskan secara lisan. Pemakaian konjungsi dalam prosa Melayu lama berkaitan dengan tanda baca yang berfungsi menghidupkan karya prosa. C.Spat (dalam Baried, dkk. ,1985: 106) mengemukakan bahwa kata-kata yang digolongkan pada kata penghubung itu menjadi penunjuk tanda baca pada sistem penulisan Melayu. Dalam bahasa lisan, orang jarang atau sama sekali tidak menggunakan. Hal ini disebabkan penulisan hikayat Melayu menggunakan huruf jawi yang tidak mempunyai tanda baca. Selanjutnya Hookaas (1984:137) menjelaskan bahwa abjad Hindu yang kuno dan abjad Arab tidak mempunyai huruf besar, alat-alat bacaan, dan kebiasaan memisahkan sasuatu baris baru.

Bahasa dan sastra merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan. Abdul Chaer (1990:53) mengemukakan konjungsi dapat diartikan sebagai kata atau gabungan kata yang berfungsi menghubungkan bagian-bagian ujaran yang mungkin berupa kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, maupun kalimat dengan kalimat. Asmah Haji Omar (1986:193) mengatakan bahwa kata penghubung ialah kata yang menghubungkan dua kala, frase atau klausa. Berdasarkan taraf unsur-unsur yang dihubungkannya tersebut, kata penghubung dapat dibagi atas dua jenis, yaitu kata penghubung setara dan kata penghubung tidak setara. Gorys Keraf (1980:78) mengemukakan bahwa kata sambung atau conjungtio adalah kata yang menghubungkan kata, bagian kalimat, atau menghubungkan kalimat. Soekono Wirjooedarmo (1985:201) mengungkapkan bahwa kata sambung atau kata penghubung atau konjungsi adalah kata yang menghubungkan dua buah kata atau dua kalimat. Harimurti Kridalaksana (1986:99) menjelaskan konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaksis dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi. Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa konjungsi atau kata penghubung adalah kata yang bertugas menghubungkan kata, bagian kalimat, atau menghubungkan kalimat dengan kalimat.

IV.             Teori Konjungsi Ekstratekstual

Dalam buku Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia, konjungsi dibagi menjadi konjungsi intrakalimat dan ekstrakalimat. Konjungsi ekstrakalimat dibagi lagi menjadi konjungsi intratekstual dan ekstratekstual. Konjungsi intratekstual adalah kata penghubung yang menghubungkan kalimat dengan kalimat atas paragraf dengan paragraf. Contoh dari konjungsi intratekstual adalah sebagai berikut:

Akan tetapi

Apalagi

Bahkan

Bahwa

Begitu

Dan

Di samping itu

Kemudian

Lagi pula

Maka

Maka itu

Malah

Malahan

Oleh karena itu

Sekalipun begitu

Sebelumnya

Selain itu

Selanjutnya

Sementara itu

Setelah itu

Sesungguhnya

Kecuali

Walaupun demikian

Sebaliknya

Tambahan lagi

Mana pula

Dan lagi

Tambahan pula

Selain konjungsi intratekstual, ada pula konjungsi ekstratekstual. Konjungsi ekstratekstual adalah kata penghubung yang menghubungkan dunia di luar bahasa dengan wacana. Contoh dari konjungsi ekstratekstual adalah sebagai berikut:

Adapun

Hubaya-hubaya

teringatnya

Alkisah

Maka

Syahdan

Arkian

Maka itu

mengenai

Begitu

Hatta

Sebermula

Berdasarkan teori konjungsi di atas, konjungsi ekstratekstual merupakan kata penghubung yang digunakan dalam kesusastraan lama, seperti hikayat. Harimurti Kridalaksana hanya menjelaskan makna konjungsi intratekstual, sedangkan makna konjungsi ekstratekstual tidak dijelaskan. Untuk mengetahui makna konjungsi ekstratekstual, penulis juga menggunakan buku Memahami Hikayat dalam Sastra Indonesia. Dalam buku tersebut, terdapat makna kata penghubung atau konjungsi ekstratekstual. Baried, dkk (1985:107-109) mengelompokkan kata-kata yang tergolong pada kata penghubung adalah hatta, syahdan, bermula, arkian, adapun, bahwa, dan alkisyah.

Hatta mempunyai bentuk lain, yaitu ata yang berasal dari kata atha. Kata tersebut merupakan bahasa Sansekerta yang berarti lalu dengan mengambil bentuk tulisan Arab hatta yang berarti sehingga. Kemudian kata syahdan berasal dari kata saha (bahasa Sanskerta yang berarti dengan) dan dan (bahasa Melayu). Selanjutnya, kata bermula merupakan kata penghubung yang bersal dari kata mula (bahasa Sansekerta yang berarti ‘asal, pokok, mula’). Sebagai kata penghubung, kata itu berarti ‘pada saat awalnya, mula-mula, dan pertama’. Lalu kata pengubung arkian mempunyai bentuk panjang arakian yang berarti ‘kemudian, sehubungan dengan itu’. Kata tersebut dipakai untuk menunjukkan permulaan satu alinea. Selain itu, kata adapun adalah kata yang berasal dari kata ada dan pun. Kata tersebut bertugas sebagai pembuka kalimat yang menonjolkan pokok pembicaraan sebagaimana fungsi kata tumpuan. Oleh karena itu, pemakaiannya tidak membuat arti baru. Sebagai kata penghubung, kata bahwa berfungsi sebagai kata adapun. Tidak hanya itu, kata bahwa juga dipakai sebagai kata pengantar isi satu berita. Pemakaiannya kadang-kadang diikuti kata sesungguhnya. Terakhir, kata alkisyah berasal dari bahasa Arab dan berarti ‘cerita itu’. Kata penghubung alkisyah dipakai sebagai pembuka cerita atau cerita baru.

V.                Analisis Konjungsi Ekstratekstual dalam Hikayat Kalilah & Dimnah

Sebelum menjelaskan makna konjungsi ekstratekstual cerita Tikus dan Kucing Hutan dalam Hikayat Kalilah & Dimnah, penulis akan memaparkan frekuensi kemunculan konjungsi ekstratekstual sebagai berikut:

No

Konjungsi Ekstratekstual

Posisi

awal

tengah

akhir

1

2

3

Maka

Adapun

Bahwa

6

2

15

2

Berdasarkan data dari cerita Tikus dan Kucing Hutan dalam Hikayat Kalilah & Dimnah, penulis hanya menemukan tiga konjungsi ekstratekstual. Konjungsi tersebut adalah maka, adapun, dan bahwa. Frekuensi kemunculan terbesar adalah kata maka. Kata penghubung maka lebih banyak terletak di tengah kalimat walaupun ada pula yang terletak di depan kalimat. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kata penghubung adapun dan bahwa yang hanya muncul sebanyak dua kali. Perbedaan kata penghubung adapun dan bahwa adalah adapun hanya terletak di awal kalimat, sedangkan bahwa hanya terletak di tengah kalimat.

Kata adapun adalah kata yang berasal dari kata ada dan pun. Kata tersebut bertugas sebagai pembuka kalimat yang menonjolkan pokok pembicaraan sebagaimana fungsi kata tumpuan. Oleh karena itu, pemakaiannya tidak membuat arti baru (Baried, dkk, 1985: 108). Kemudian konjungsi adapun mempunyai fungsi sebagai pengantar cerita sesuai dengan posisi kemunculannya. Kridalaksana (1986:102) menegaskan bahwa tugas konjungsi adapun adalah sebagai pengantar wacana. Keraf (1980:79) juga menjelaskan bahwa konjungsi adapun berfungsi sebagai pengantar kalimat, khusus dalam kesusasteraan lama. Berdasarkan contoh-contoh yang terdapat dalam Hikayat Kalilah & Dimnah, konjungsi adapun hanya terletak di awal kalimat. Hal tersebut menjawab teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas bahwa konjungsi adapun berfungsi sebagai pengantar kalimat atau pembuka kalimat sehingga kemunculannya hanya terletak di awal kalimat.  Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat kutipan teks Hikayat Kalilah & Dimnah berikut ini:

“Adapun bila dilihat dari sisi musuh, maka harus dihadapi dengan kekuatan.” (Hikayat Kalilah & Dimnah, 2004: 273)

“Adapun sahabat yang terpaksa, maka dalam kondisi-kondisi tertentu dia akan merasa aman dan tenang, tapi dalam sebagian kondisi yang lain dia harus berhati-hati dan waspada.” (Hikayat Kalilah & Dimnah, 2004: 278)

Selanjutnya, kata penghubung yang kuantitas frekuensi kemunculannya sama dengan kata penghubung adapun adalah kata penghubung bahwa. Baried (1985: 109) mengemukakan bahwa sebagai kata penghubung, kata bahwa berfungsi sebagai kata penghubung adapun. Pemakaiannya kadang-kadang diikuti kata sesungguhnya. Hal tersebut berbeda dengan contoh kutipan teks Hikayat Kalilah & Dimnah berikut ini:

“Sebab aku tahu, bahwa makhluk lemah yang mau berjaga-jaga dan melindungi dirinya dari musuh yang kuat akan lebih bisa mendekati keselamatan daripada makhluk kuat ketika dia tertipu oleh makhluk lemah dan merasa tenang dengannya.” (Hikayat Kalilah & Dimnah, 2004: 282)

“Perlu kamu ketahui, bahwa tindakannya yang begitu cepat untuk merasa tenang, tidak bisa dikatakan sebagai kekeliruan dan ketergelinciran.” (Hikayat Kalilah & Dimnah, 2004: 282)

Mengacu pada contoh data dalam cerita Tikus dan Kucing Hutan Hikayat Kalilah & Dimnah, konjungsi bahwa tidak berfungsi seperti kata penghubung adapun. Posisi kemunculan kedua kata penghubung tersebut berbeda. Kata penghubung adapun terletak di awal kalimat, sedangkan kata penghubung bahwa terletak di tengah kalimat. Kata penghubung bahwa tidak ada yang terletak di awal kalimat. Hal tersebut menjelaskan bahwa perbedaan kemunculan dalam teks mempengaruhi fungsi kata penghubung tersebut. Jika kata penghubung bahwa berfungsi seperti kata penghubung adapun, seharusnya kata penghubung bahwa terletak di awal kalimat. Kemunculan kata penghubung di awal kalimat menandakan kata penghubung tersebut berfungsi sebagai pengantar kalimat atau pembuka kalimat. Kenyataannya, dalam teks Kalilah & Dimnah kata penghubung bahwa terletak di tengah kalimat. Hal tersebut menandakan bahwa kata penghubung bahwa berfungsi sebagai penghubung yang menjelaskan isi atau uraian kalimat pokok.

Salah satu konjungsi ekstratekstual yang memiliki jumlah paling banyak dibandingkan konjungsi ekstratekstual lainnya dalam teks Hikayat Kalilah & Dimnah adalah kata penghubung maka. Dalam buku Memahami Hikayat dalam Sastra Indonesia, Baried menyebutkan bahwa kata penghubung maka termasuk ke dalam kata penghubung atau konjungsi ekstratekstual. Namun, Baried tidak menjelaskan makna kata penghubung maka. Hal tersebut sama dengan Harimurti Kridalaksana dalam buku Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia yang tidak menjelaskan makna konjungsi ekstratekstual. Oleh karena itu, penulis akan memberikan makna kata penghubung maka sesuai dengan contoh teks Hikayat Kalilah & Dimnah sebagai berikut:

“Ketika kucing hutan mendengar omongan tikus dan tahu kalau dia jujur, maka dia mengatakan,”Sesungguhnya ucapanmu ini sangat mirip dengan kebenaran.” (Hikayat Kalilah & Dimnah, 2004: 276)

Dari kutipan di atas, kata penghubung maka terletak di tengah kalimat. Posisi kemunculan yang berada di tengah kalimat dapat diartikan sebagai kata penghubung yang menjelaskan isi atau uraian kalimat pokok. Namun, melihat konteks kutipan di atas, penulis mempunyai anggapan bahwa kata penghubung maka tersebut mempunyai fungsi yang sama dengan kata penghubung sesudah itu. Perbedaannya, kata penghubung sesudah itu termasuk dalam konjungsi intratekstual. Penggunaan kata penghubung sesudah itu bisa diletakkan di awal dan tengah kalimat. Meskipun demikian, kata penghubung sesudah itu hanya cocok dengan kata penghubung maka yang terletak di tengah kalimat. Penulis juga beranggapan bahwa makna kata penghubung juga harus dilihat berdasarkan contoh kalimatnya. Hal tersebut dimaksudkan bahwa berbeda kalimat bisa saja makna kata penghubung yang sama mempunyai makna yang berbeda. Dalam hal ini kata penghubung maka akan mempunyai perbedaan makna jika kalimatnya juga berbeda. Pembuktian anggapan penulis dapat terlihat dalam contoh teks berikut ini:

“Aku khawatir dengan hilangnya kepentingan tersebut, maka permusuhan itu akan kembali lagi.” (Hikayat Kalilah & Dimnah, 2004: 281)

Dari kutipan di atas, kata penghubung maka juga terletak di tengah kalimat. Namun, terdapat perbedaan antara kata penghubung di atas dengan kata penghubung maka sebelumnya. Perbedaan tersebut adalah perbedaan konteks kalimat. Telah disebutkan sebelumnya bahwa perbedaan kalimat bisa memengaruhi makna walaupun kata penghubungnya sama. Hal tersebut terlihat pada kutipan di atas. Pada kutipan di atas, makna kata penghubung maka tidak cocok disamakan dengan kata penghubung sesudah itu. Kata penghubung maka pada kutipan di atas mempunyai fungsi yang sama dengan kata penghubung apalagi. Hal tersebut disebabkan adanya kondisi pembanding setelah kata penghubung. Ada pula kata penghubung maka yang terletak di awal kalimat. Hal tersebut dapat terlihat pada contoh kutipan teks berikut:

“Maka tindakan seperti itu bukanlah bagian dari perbuatan orang-orang saleh.” (Hikayat Kalilah & Dimnah, 2004: 277)

Kata penghubung maka yang terletak di awal kalimat dapat diartikan sebagai pembuka kalimat atau pengantar kalimat. Kata penghubung maka yang terletak di awal kalimat juga dapat diganti dengan kata penghubung lain yang terletak di awal kalimat pula. Kata penghubung lain yang dapat menggantikan kata penghubung maka pada kutipan di atas adalah oleh karena itu. Kata penghubung tersebut pada zaman sekarang sering digunakan dalam penulisan ilmiah maupun nonilmiah. Konjungsi maka adalah kata penghubung yang digunakan dalam hikayat. Kata penghubung tersebut digunakan pada zaman dahulu. Penulis berpendapat bahwa kata penghubung pada zaman dahulu terbatas pada konjungsi ekstratekstual. Kemudian kata penghubung tersebut mengalami perkembangan. Oleh karena itu, kata penghubung maka mengalami perkembangan menjadi kata penghubung oleh karena itu. Selain itu, kata penghubung maka juga mempunyai makna lain walaupun sama-sama terletak di awal kalimat. Hal tersebut dapat terlihat pada kutipan berikut:

“Maka selayaknya dengan hal itu, kamu bisa mengimbangi dan membalasku.” (Hikayat Kalilah & Dimnah, 2004: 277)

Kata penghubung maka yang terletak di awal kalimat dapat diartikan sebagai pembuka kalimat atau pengantar kalimat. Kata penghubung maka yang terletak di awal kalimat juga dapat berarti ‘lalu’. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Poerwadarminta. Beliau (1986: 622) mengungkapkan bahwa konjungsi maka dipakai untuk memulai kalimat dan dapat berarti ‘lalu’ dan ‘sudah itu lalu’.

VI.             Penutup

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa konjungsi ektratekstual dalam teks Hikayat Kalilah & Dimnah mempunyai jumlah yang sedikit, yaitu tiga konjungsi. Konjungsi tersebut adalah maka, adapun, dan bahwa. Selain itu, penulis juga menyimpulkan bahwa perbedaan kalimat memengaruhi perbedaan makna walaupun kata penghubungnya sama. Hal tersebut terlihat dalam kata penghubung maka. Konjungsi tersebut mempunyai empat jenis makna yang berbeda dalam teks Hikayat Kalilah & Dimnah. Meskipun demikian, konjungsi maka mempunyai dua posisi kemunculan, yaitu di awal dan tengah kalimat. Posisi kemunculan di awal kalimat mempunyai perbedaan makna jika kalimatnya berbeda. Makna kata penghubung maka di awal kalimat mempunyai makna pembuka atau pengantar kalimat, mempunyai arti ‘lalu’ dan ‘oleh karena itu’. Kemudian makna kata penghubung maka di tengah kalimat mempunyai arti ‘apalagi’ dan ‘sesudah itu’.

Dari analisis tersebut penulis juga menyimpulkan bahwa konjungsi ekstratekstual adalah kata penghubung yang digunakan pada zaman dahulu dan mengalami perkembangan pada zaman sekarang. Pengembangan konjungsi tersebut terlihat pada konjungsi intratekstual yang banyak digunakan dalam penulisan ilmiah maupun nonilmiah. Analisis kata penghubung maka merupakan hasil pemikiran penulis karena Baried dan Kridalaksana tidak menjelaskan makna konjungsi maka. Berbeda dengan konjungsi adapun dan bahwa yang dijelaskan oleh dua ahli tersebut, kata penghubung atau konjungsi adapun mempunyai makna sebagai pembuka kalimat yang menonjolkan pokok pembicaraan sebagaimana fungsi kata tumpuan. Kemudian konjungsi bahwa berfungsi sebagai penghubung yang menjelaskan isi atau uraian kalimat pokok. Hal tersebut terlihat pada posisi kemunculan konjungsi bahwa di tengah kalimat. Hal tersebut tidak sesuai dengan pendapat Baried yang menjelaskan bahwa konjungsi bahwa mempunyai fungsi yang sama seperti adapun. Perbedaan tersebut sangat terlihat dari posisi kemunculan adapun yang terletak di awal kalimat, sedangkan konjungsi bahwa terletak di tengah kalimat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Muhd, Mansur. 1988. Pengantar Kesusasteraan Melayu Lama. Kuala Lumpur: Nurin Enterprise.

Baidaba. 2004. Hikayat Kalilah & Dimnah (diterjemahkan oleh Wasmukan). Bandung: Pustaka Hidayah.

Baried, [et.al]. 1985. Memahami Hikayat dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Chaer, Abdul. 1990. Penggunaan Preposisi dan Konjungsi Bahasa Indonesia. EndeFlores: Nusa Indah.

Fang, Liaw Yock. 1982. Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik. Singapura: Pustaka Nasional.

Keraf, Gorys. 1980. Tata Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah

Kridalaksana, Harimurti dan Tim Peneliti Linguistik UI. 1999. Tata Wacana Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Wirjosoedarmo, Soekono. 1985. Tata Bahasa Indonesia. Surabaya: Siner Wijaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 3, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: