Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Hikayat Kalila dan Damina: Suntingan Teks serta Kajian Amanat

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Filologi merupakan suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan (Baried, 1985: 1). Pendapat tersebut diperkuat dengan definisi filologi yang dinyatakan oleh Mulyani (2009b: 1), yaitu suatu disiplin yang berhubungan dengan studi terhadap hasil budaya (buah pikiran, perasaan, kepercayaan, adat kebiasaan, dan nilai-nilai yang turun temurun berlaku dalam kehidupan masyarakat) manusia pada masa lampau. Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian filologi adalah suatu studi yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan yang berhubungan dengan hasil budaya manusia pada masa lampau. Pengertian hasil budaya yang dimaksud adalah berupa buah pikiran, perasaan, kepercayaan, adat kebiasaan, dan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, filologi juga termasuk ke dalam disiplin ilmu-ilmu humaniora.

Menurut perkembangannya, filologi dapat dibagi menjadi dua, yaitu filologi tradisional dan filologi modern. Mulyani (2009b: 6) menjelaskan beberapa perbedaan filologi tradisional dan filologi modern. Filologi tradisional, memandang variasi sebagai bentuk kesalahan, sedangkan filologi modern memandang variasi sebagai bentuk kreasi. Selain itu, filologi tradisional bertujuan untuk menemukan teks yang hampir mendekati aslinya, sedangkan filologi modern bertujuan untuk mengungkap kandungan produk budaya masa lampau yang terdapat di dalam naskah-naskah kuno.

Setiap kajian ilmu mempunyai objek penelitian. Demikian juga dengan kajian ilmu filologi. Objek penelitian dari ilmu filologi adalah naskah dan teks. Naskah merupakan benda budaya hasil peninggalan nenek moyang yang memuat tentang ide, pikiran, dan gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Baroroh-Baried (1985: 4), yang mendefinisikan naskah sebagai berita tentang hasil budaya yang diungkapkan dalam teks klasik yang dapat dibaca melalui peninggalan-peninggalan yang berupa tulisan. Baroroh-Baried (1985: 54) juga berpendapat bahwa naskah merupakan benda konkret yang dapat dilihat atau dipegang. Dalam makalah ini, penulis akan mengangkat salah satu cerita berbingkai yang terkenal, yaitu Hikayat Kalila dan Damina.

Naskah Kalila dan Damina tersebar tidak hanya di Indonesia, tetapi di berbagai negara. Berdasarkan penelusuran melalui beberapa katalog naskah, penulis menemukan naskah Hikayat Kalila dan Damina tersimpan di empat negara, yaitu Indonesia, Belanda, Prancis, dan Malaysia. Naskah Hikayat Kalilah dan Daminah yang tersimpan di Indonesia berjumlah sebelas naskah. Naskah tersebut tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Menurut penelitian Haniah, (1976: 4), Hikayat Kalila dan Damina berasal dari India yang terkenal, yaitu Pancatantra. Cerita ini disalin berulangkali ke dalam berbagai bahasa hingga mengalami timbulnya banyak varian dan variasi. Di dalam bahasa Melayu ditemukan empat versi (Haniah, 1976: 6). Versi tersebut adalah Hikayat Kalila dan Damina yang pernah disebut Werndly dalam buku tata bahasanya tahun 1736. Hikayat ini diterbitkan oleh J.R.P.F. Gonggrijp. Kemudian Hikayat Pancatanderan yang diterjemahkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dari versi Tamil tahun 1835. Versi Tamil ini dianggap berasal dari versi yang tertua. Selain itu, ada pula Dalam atau Segala Cerita dan Dongeng yang Telah Dikarangkan oleh Hakim Lokman, diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh J.R.P.F. Gonggrijp (Batavia, 1886). Terakhir, Hikayat Kalila dan Damina, diterjemahkan dari versi Arab (Ibn al Muqaffa) yang masing-masing dibuat oleh Ismail Jamil (1964) dan Haji Khairuddin (1964).

Penulis menemukan sebelas naskah Hikayat kalila dan Damina dengan kode Ml. 135, Br. 146, Ml. 542, Ml. 543, Ml. 544, Ml. 545, W. 184, W. 185,  Br 510, Br 321, Ml 29. Kondisi naskah-naskah tersebut masih cukup bagus dan masih dapat dibaca. Hanya dua naskah yang sudah dimakan usia, seperti Ml. 29 dan Ml. 510. Naskah yang digunakan dalam penelitian ini adalah naskah Ml. 135, Br. 146, W 184, dan W 185. Penulis menggunakan naskah ini karena naskah yang lain hanya merupakan salinan dari naskah salinan lainnya, seperti Ml. 13 adalah salinan dari Br. 146, Ml. 542 salinan dari Br. 321, dan Ml. 543 adalah salinan dari Br. 510.

Naskah W. 184 merupakan naskah lanjutan kode W. 185. Naskah ini adalah cerita versi bahasa Tamil yang tertua. Penulis menyimpulkan naskah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI merupakan naskah-naskah yang berbeda versi, yaitu versi terjemahan dari Tamil dan versi yang mirip dalam bahasa Parsi. Versi yang mirip dalam bahasa Parsi ini merupakan versi yang diteliti oleh Brandes dan merupakan versi yang paling terkenal. Versi ini yang penulis simpulkan merupakan naskah Br. 146, Br. 321, dan Br. 510. Selain itu, penulis memperoleh informasi dari katalog Perpustakaan Nasional RI bahwa naskah Br. 146 dan. Ml 29 merupakan salinan dari Ml. 135. Naskah Hikayat Kalila dan Damina dengan kode W 184 dan W 185 kondisi naskah masih tampak bagus dan tulisan masih terbaca.  Hal yang menjadi pertimbangan penulis dalam memilih naskah yang diteliti adalah naskah yang masih mempunyai kondisi naskah yang baik dan tulisan masih terbaca. Hal tersebut membuat penulis menggunakan naskah Ml. 135, Br. 146, W 184, dan W 185.

1.2. Pembatasan dan Rumusan Masalah

Naskah HKD memiliki banyak versi dan varian. Penulis memutuskan untuk membatasi penelitian hanya kepada penyuntingan teks Hikayat Kalila dan Damina kode W 184 dan W 185. Namun, penulis akan membandingkan amanat yang terdapat dalam W 184, W 185, Ml 135, dan Br 146. Dari pembatasan penelitian di atas, masalah yang ditemui untuk dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Apakah Hikayat kalila dan Damina kode Ml 135, Br 146, W 184, dan W 185 mempunyai kemiripan dalam bentuk cerita?

2. Amanat apa yang dimunculkan dalam teks Hikayat Kalila dan Damina dalam cerita kode Ml 135, Br 146, W 184, dan W 185?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk membantu pembaca naskah Hikayat Kalila dan Damina supaya dapat terbaca oleh masyarakat zaman sekarang. Hal tersebut membuat pembaca mengetahui cerita karena aksara sudah diubah dalam aksara latin. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui amanat yang terkandung dalam Hikayat Kalila dan Damina. Hal ini disebabkan setiap hikayat mempunyai amanat yang mengajarkan pembaca untuk menjadi orang yang bijaksana.

1.4. Penelitian Terdahulu

Naskah Hikayat Kalila dan Damina telah diteliti oleh Haniah dan diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978. Dalam buku tersebut, naskah yang diteliti adalah naskah Kalila dan Damina kode W. 185. Haniah menyajikan transliterasi naskah, ringkasan, dan sedikit pembahasan mengenai naskah Hikayat Kalila dan Damina yang ada di dunia dan ditulis dalam aksara bukan Jawi serta menggunakan bahasa Parsi dan naskah Hikayat Kalila dan Damina yang ditulis dalam aksara Jawi. Yumsari Yusup juga melakukan penelitian mengenai HKD pada tahun 1978.

Haniah juga memasukkan kedudukan Hikayat Kalila dan Damina sebagai cerita berbingkai dan unsur pendidikan yang terdapat dalam naskah Hikayat Kalila dan Damina. Selain itu, Haniah juga telah melakukan pendataan naskah Hikayat Kalila dan Damina versi Melayu dan perbedaan naskah versi Melayu dengan naskah versi Arab. Haniah juga memasukkan banyak informasi mengenai naskah Hikayat Kalila dan Damina versi asli, yaitu Pancatantra, yang ditulis oleh seorang Brahmana India. Versi asli ini disebutkan memiliki lima cerita, sesuai dengan judulnya, dan ditulis pada sekitar abad ke-3. Haniah memasukkan di mana saja karya ini tersebar, mulai dari versi Pancatantra sampai versi Melayu.

1.5. Metode Penelitian dan Sumber Data

Dalam meneliti naskah Hikayat Kalila dan Damina, penulis menggunakan metode penelitian kodikologi dan tekstologi. Metode tersebut digunakan untuk menyajikan edisi teks, suntingan, deskripsi, dan perbandingan naskah Hikayat Kalila dan Damina tersebut. Penulis melakukan inventarisasi naskah dengan memuat data tempat naskah Hikayat Kalila dan Damina tersebar dari berbagai katalog. Katalog yang digunakan untuk melakukan inventarisasi adalah sebagai berikut.

  1. Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscript
  2. Katalog Manuskrip Melayu di Perancis
  3. Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscript in The Library of Leiden University and other Collections
  4. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
  5. Malay Manuscripts, A Bibliographical Guide
  6. Katalog Koleksi Naskah Melayu Museum Piusat Dep. D&K

Metode yang digunakan penulis dalam penyuntingan teks Hikayat Kalila dan Damina adalah metode landasan. Kurnia Midiasih[1] menyebutkan bahwa metode landasan dipakai apabila ada satu atau sekelompok naskah yang menonjol kualitasnya, yang akan dijadikan landasan atau dasar teks. Selain itu, Edward Djamaris (dalam Edy Wijaya, 2008) pada bukunya yang berjudul Metode Penelitian Filologi, metode landasan dipakai apabila menurut tafsiran, nilai naskah jelas berbeda sehingga ada satu atau sekelompok naskah yang menonjol kualitasnya (Djamaris, 2006: 30).

Analisis teks yang dilakukan penulis adalah analisis amanat naskah Hikayat Kalila dan Damina. Amanat cerita yang diteliti adalah amanat dalam cerita Hikayat Kalila dan Damina kode Ml 135, Br 146, W 184, dan W 185.

1.6. Sistematika Penulisan

Makalah ini terbagi atas lima bab. Bab pertama adalah pendahuluan yang berisi latar belakang, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan penelitian, penelitian terdahulu, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab kedua berisi inventarisasi naskah, deskripsi, dan perbandingan naskah Hikayat Kalila dan Damina dengan kode Ml. 135, Br. 146, W 184, dan W 185.

Bab ketiga adalah suntingan teks Hikayat Kalila dan Damina yang mencakup ringkasan, pertanggungjawaban transliterasi, transliterasi naskah HKD, dan uraian mengenai kata-kata sulit yang ditemukan dalam naskah. Bab keempat merupakan analisis amanat naskah Hikayat Kalila dan Damina. Bab kelima adalah kesimpulan dan penutup makalah.

BAB II

KETERANGAN TENTANG NASKAH

HIKAYAT KALILAH DAN DAMINAH

2.1 Inventarisasi Naskah

Hikayat Kalilah dan Daminah merupakan naskah yang jumlahnya lebih dari satu. Naskah tersebut tersimpan di beberapa negara. Berdasarkan penelusuran melalui beberapa katalog naskah, penulis menemukan naskah Hikayat Kalila dan Damina tersimpan di empat negara, yaitu Indonesia, Belanda, Prancis, dan Malaysia.

Naskah Hikayat Kalilah dan Daminah yang tersimpan di Indonesia berjumlah sebelas naskah. Naskah tersebut tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sebelas naskah yang terdapat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tersebut adalah sebagai berikut,

  1. Naskah Ml. 135
  2. Naskah Br. 146
  3. Naskah Ml. 542
  4. Naskah Ml. 543
  5. Naskah Ml. 544
  6. Naskah Ml. 545
  7. Naskah W. 184
  8. Naskah W. 185
  9. Naskah Br 510
  10. Naskah Br 321
  11. Naskah Ml 29

Naskah Hikayat Kalilah dan Daminah juga terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden. Bukunya berjudul Catalogus van de Maleische en Sundaneesche Handschriften yang berjumlah tujuh naskah. Naskah tersebut adalah sebagai berikut,

  1. Naskah CCXXIV (Cod. Or. 1729)
  2. Naskah  CCXXV (Cod.Or. 1757)
  3. Naskah CCXXVI (Cod. Or. 3195)
  4. Naskah CCXXVII (Cod. Or. 1989)
  5. Naskah CCXXVIII (Cod. Or. 1992)
  6. Naskah CCXXIX (Cod. Or. 2010)
  7. Naskah  CCXXX (Cod. Or. 1931)

Naskah Hikayat Kalilah dan Daminah juga tersimpan di dua tempat di Kuala Lumpur, Malaysia. Naskah tersebut menjadi salah satu koleksi perpustakaan Universitas Malaya dan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Berdasarkan katalog Malay Manuscript, naskah Hikayat Kalilah dan Daminah terdokumentasi dalam manuscript 4 bersama Hikayat Jinatur Jayeng Kusuma. Berikut ini data dari Hikayat Kalilah dan Daminah dalam katalog Malay Manuscript:

Microfilm 148                  : Hikayat Kalilah dan Daminah (known also as Cherita Si Bodoh dan Si Cherdik: Hikayat Sa-orang Pandita di-Negeri Hindustan Zaman Dahulu Kala: Hikayat Panja Taderan).

  1. Cod.Or.3195 in Leiden University Library. 205 p. CMSH, p.224.
  2. Cod.Or.1729 in Leiden University Library. 150 p. CMSH, p.221-223.
  3. Cod.Or.7672 in leiden University Library. 216 p.
  4. 21508 in Bibliotheque Royale de Belgique. 222 p. BLTV, V. 60. 1908. p.503-505; JBRAS, no. 882, Sept. 1920, p.159.

Penulis juga menemukan bahwa Hikayat Kalilah dan Daminah tidak hanya ditemukan di Indonesia, Belanda, dan Malaysia saja, tetapi juga di Prancis.

1. Naskah  (Mal. –pol. 93)

2. Naskah  (Mal. –pol. 102)

2.2. Deskripsi Naskah

Setelah melakukan inventarisasi, penulis mendeskripsikan fisik tiga Hikayat Kalilah dan Daminah yang telah penulis pilih dari sebelas naskah yang ada di Perpustakaan Nasional RI. Tiga naskah yang penulis pilih adalah naskah Hikayat Kalilah dan Damina berkode W.184, W.185, dan Ml.135. Penulis tidak memperhitungkan naskah yang ada di luar negeri karena keterbatasan penulis menjangkau naskah-naskah tersebut.

1.      Naskah  (W. 184)

Naskah ini berkode W.184. Kondisi naskah lengkap dan berjumlah 90 halaman dengan sebagian besar 16 baris per halaman. Tulisannya menggunakan aksara Arab, tetapi berbahasa Melayu. Tulisan masih baik dan terbaca. Naskah ini memiliki halaman pelindung. Pelindung naskah ini berwarna coklat tua. Penjilidan naskah ini menggunakan karton tebal bermotif bintik-bintik dengan variasi warna coklat, krem, dan coklat tua. Pada bagian kiri naskah atau bagian perekat naskah berwarna coklat muda atau hampir menyerupai emas. Pada naskah ini terdapat iluminasi berupa garis persegi atau bingkai. Iluminasi pada naskah ini tidak berupa hiasan yang dilukiskan dengan indah, tetapi berupa garis persegi yang mengelilingi tulisan. Garis tersebut membuat naskah ini terlihat rapi dan bagus.
Gambar 1.1                                                     Gambar 1.2

Pelindung naskah berwarna                Iluminasi naskah berupa garis persegi tanpa hiasan

coklat tua

Kertas pada naskah ini masih baik dan tidak terlihat lubang atau bekas sobekan. Kertas yang digunakan adalah kertas folio. Namun, perekat naskah sudah tidak begitu kuat sehingga diperlukan perhatian khusus dalam membuka naskah. Menurut penulis, hal tersebut wajar terjadi karena faktor usia naskah. Dalam naskah Hikayat Kalila dan Damina juga terdapat penomoran naskah yang terletak di samping atau di bagian luar iluminasi berupa garis tepi. Nomor ditulis pada bagian dalam lingkaran. Meskipun demikian, penomoran tidak hanya terdapat pada satu halaman, tetapi ada juga dua penomoran dalam satu halaman.

Gambar 1.3                                                     Gambar 1.4

Perekat naskah yang sudah tidak        Penomoran naskah yang terdapat dalam lingkaran

kuat menempel

Gambar 1.5

Penomoran lebih dari satu dalam satu halaman

Dalam naskah Hikayat Kalila dan Damina W.184, penulis juga menemukan beberapa tulisan yang terdapat di luar garis. Tulisan yang terdapat di luar garis tersebut memiliki posisi miring dan terletak di bagian bawah naskah. Selain itu, terdapat juga beberapa noda yang terdapat di dalam maupun di luar garis. Noda tersebut berwarna merah tua dan berasal dari cairan. Dari sisi tulisan, naskah Hikayat Kalila dan Damina  W.184 menggunakan tinta hitam dan merah. Meskipun penggunaan tinta hitam lebih dominan daripada tinta merah, tetapi penggunaan tinta merah sering ditemui. Tinta merah tersebut terdapat pada beberapa baris tulisan dan ada pula pada beberapa huruf saja.

Gambar 1.6                                               Gambar 1.7

Tulisan naskah yang berada                Tulisan menggunakan tinta hitam

di luar garis

Naskah Hikayat Kalila dan Damina yang berkode W.184 merupakan naskah yang berbeda dari naskah Hikayat Kalila dan Damina versi lainnya. Perbedaan tersebut terletak pada garis yang ada disekeliling tulisan naskah. Pada halaman pertama dan kedua tulisan naskah berada di dalam dua garis persegi. Namun, pada halaman ketiga dan seterusnya tulisan naskah hanya berada di dalam satu garis persegi. Oleh karena itu, penulis akan melihat ukuran pias dari dua sisi. Sisi yang pertama adalah ukuran pias tulisan naskah yang berada di dalam satu garis persegi. Sisi yang kedua adalah ukuran pias tulisan naskah yang berada di dalam dua garis persegi, seperti pada halaman pertama dan kedua. Jadi, pada sisi kedua ini pias diukur dari garis persegi pertama ke garis persegi kedua. Sisi kedua ini juga hanya terdapat pada bagian depan naskah, sedangkan bagian belakang naskah tidak ada.

Tabel 1.1

Sisi pertama (tulisan berada di dalam satu garis persegi)

Pias verso

Pias recto

Atas

16cm

6cm

Bawah

5cm

5,5cm

Kanan

5cm

6cm

Kiri

1,5cm

1,5cm

Tabel 1.2

Sisi Kedua (tulisan berada di dalam dua garis persegi)

Pias verso

Pias recto

Atas

3,5cm

Bawah

2cm

Kanan

2cm

Kiri

4,5cm

2. Naskah (Ml. 135)

Naskah ini berkode Ml. 135. Naskah ini memiliki ukuran sekitar 33cm x 20 cm. Jumlah halaman seluruhnya yang tertulis dalam katalogus adalah 90 halaman. Namun, fisik naskah yang dianalisis berjumlah 109 halaman. Tulisannya menggunakan aksara Arab, tetapi berbahasa Melayu. Tulisan masih baik dan terbaca. Nama penyalinnya Abraham Anak Raja. Naskah ini tidak memiliki kolofon dan merupakan salinan dari Ml. 29. Kertas banyak berlubang dan banyak halaman yang menyatu dengan halaman lain, tetapi bagian yang menempel diperkirakan kosong.

Naskah ini memiliki halaman pelindung. Setelah halaman pelindung ada satu halaman yang ditulisi, tetapi setelah itu ada dua lembar yang kosong. Setelah itu, mulai halaman yang ditulisi hingga akhir halaman sebelum halaman pelindung belakang. Halaman yang kosong setelah halaman pelindung depan merupakan halaman judul dan kolektor yang ditulis dengan huruf Latin dan sebagian tulisannya sudah tidak dapat terbaca. Penulisan naskah ini cukkup jelas. Tidak ada tanda koreksi dan pungtuasi. Ada banyak rubrikasi pada kosakata-kosakata doa, konjungsi, atau kata yang dipentingkan. Tidak ada hiasan huruf, gambar, dan hiasa tepi. Tidak koreksi dalam naskah. Hanya ada catatan pinggir yang jenis tintanya sama dengan jenis tinta untuk penomoran halaman.

Naskah ini memiliki 4 kuras. Naskah ini menggunakan kertas folio dengan pias bagian kanan dan kiri 3 cm, atas dan bawah 1,2 cm. Sampul naskah berasaal dari karton tebal berwarna coklat tua dengan bercak-bercak putih. Cara penggarisan kemungkinan menggunakan rader dan dilubangi. Ada garis horizontal seperti bekas rader. Naskah ini tidak tercantum tanggal dan tempat penyalinan. Keterangan mengenai kepemilikan naskah ini dan bagaimana cara memperoleh naskah ini tidak ada. Tidak ada keterangan mengenai penggunaan naskah ini.

3. Naskah B ( Br. 146)

Naskah ini berkode Br. 146. Kondisi naskah lengkap, berjumlah 88 halaman dengan 29 baris per halaman. Tulisannya menggunakan aksara Arab tetapi berbahasa Melayu. Tulisan masih baik dan terbaca. Tidak ada nama penyalinnya. Naskah ini tidak memiliki kolofon dan merupakan salinan dari Ml. 135. Naskah ini menggunakan kertas folio berukuran 21 cm x 33 cm dengan pias bagian kanan dan kiri 3 cm, atas dan bawah 2,5 cm.

Mulai halaman 88, halaman dibagi atas 2 kolom tetapi hanya kolom kanan yang ada tulisan. Halaman dengan 2 kolom ini menggunakan kertas folio bergaris yang lebih lebar dari halaman lain. Sampul naskah berasal dari karton tebal berwarna coklat tua dengan warna bagian depan lebih pudar. Naskah ini memiliki halaman pelindung. Naskah ini tidak tercantum tanggal dan tempat penyalinan. Keterangan mengenai kepemilikan naskah ini dan bagaimana cara memperoleh naskah ini tidak ada. Tidak ada keterangan mengenai penggunaan naskah ini.

Penulisan naskah ini cukup jelas. Tidak ada tanda koreksi dan pungtuasi. Ada banyak rubrikasi pada kosakata-kosakata doa, konjungsi, atau kata yang dipentingkan. Tidak ada hiasan huruf, gambar, dan hiasan tepi. Laminasi tidak ada pada naskah ini tetapi ada lubang pada naskah. Lubang ini disebabkan oleh kutu. Tidak ada koreksi dalam naskah. Hanya ada catatan pinggir.

4. Naskah C (W.185)

Naskah ini memiliki ukuran 33cm x 20 cm. Jumlah halaman seluruhnya adalah 60 halaman. Halaman yang ditulis berjumlah 55 halaman dengan dua halaman kosong di depan dan tiga halaman kosong di belakang. Namun, dalam katalogus Perpustakaan Nasional Republik Indonesia disebutkan terdapat 109 halaman. Di tiap halaman, ditulis sembilan belas baris.

Kondisi naskah masih sangat baik dan tulisannya pun cukup jelas. Namun, entah mengapa di mikro film tulisannya agak samar (halaman satu dan dua tidak terbaca). Kondisi kuras pada naskah ini juga masih cukup baik sehingga lembaran kertas masih terjilid rapi. Di setiap halaman naskah tidak terdapat kecacatan maupun lubang. Huruf yang digunakan adalah jawi (Arab-Melayu).

2.3       Perbandingan Naskah

            Naskah Kalilah dan Daminah yang akan dibahas oleh penulis adalah naskah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan penulis dalam menjangkau naskah-naskah yang tersimpan di Belanda dan Perancis. Naskah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional berjumlah sebelas naskah. Namun, penulis hanya akan membandingkan tiga naskah dengan kode Ml 135, Br 146, dan W 184.  Hal tersebut didasarkan kondisi ketiga naskah masih baik dan mudah terbaca sehingga dapat memudahkan penulis dalam membandingkan naskah. Perbandingan akan dilakukan berdasarkan persamaan dan perbedaan ketiga naskah. Naskah dengan kode Br 146 adalah turunan naskah dari Ml 135. Hal tersebut membuat kedua naskah tersebut mempunyai kemiripan. Hal tersebut berbanding terbalik dengan naskah dengan kode W 184 yang sangat berbeda dengan naskah Ml 135 dan Br 146.

Aspek perbandingan naskah yang akan dilihat adalah kondisi fisik naskah, susunan cerita, lima halaman awal naskah, lima halaman akhir naskah, iluminasi, cap kertas, dan tokoh yang muncul. Berikut ini perbandingan naskah Ml 135, Br 146, dan W 184 yang tersimpan di Perpustakaan Nasional:

No.

Aspek Pembanding

Naskah Ml 135

Naskah Br 146

Naskah W 184

1. Kondisi Fisik Naskah –  Kondisi naskah memprihatinkan apabila dibandingkan dengan dua naskah yang lain.

–  Terdapat kertas-kertas yang sudah berlubang di bagian tengah sehingga mempengaruhi tingkat kesulitan pembacaan teks.

–   Terdapat beberapa jahitan sampul naskah yang sudah terlepas.-  Kondisi naskah masih bagus dengan sampul yang rapi.

–  Terdapat beberapa halaman yang sudah terlepas dari jahitan.

–  Terdapat lubang di beberapa bagian kertas karena kutu. Namun demikian, kecacatan tersebut tidak mempengaruhi pembacaan teks.-   Kondisi naskah masih bagus. Sampul naskah masih rapi, tulisan naskah cukup besar sehingga mudah dibaca dan ditransliterasi.

–   Adapun kecacatan kertas hanya terdapat di bagian tepi kertas dan tidak mempengaruhi pembacaan  teks.2.Susunan ceritaCerita berbingkai diawali oleh kisah Kalilah dan Daminah kemudian kisah Raja Gagak, kisah kura-kura, dan terakhir kisah Abu Sabar.Cerita berbingkai diawali oleh kisah Kalilah dan Daminah kemudian dilanjutkan kisah pemburu dengan rusa dan babi, kisah Amir Arab dan Amir Ajam, kisah ular tua yang mengabdi pada katak, dan kisah Abu Sabar.Teks diawali oleh pengantar penyalin sebelum masuk ke cerita berbingkai. Kemudian, dilanjutkan kisah Raja Sugadarma yang di dalam kisah tersebut terdapat kisah lain (kisah dua saudagar, kisah tikus, kekek dan kura-kura, kisah tukang cukur, kisah Kalilah dan Daminah, serta kisah suami istri) yang membentuk sebuah cerita berbingkai.3.Nama tokoh yang muncul–    Barzaghan

–    Kalilah dan Daminah

–    Setrubah dan Barubah

–    Abu Sabar-     Barzaghan

–     Kalilah dan Daminah

–     Setrubuh dan Bazrubah

–     Amir Ajam

–     Amir Arab

–     Raja Bipakala

–     Abu Sabar-     Raja Sugadarma

–     Kalilah dan Daminah4.Kemunculan kisah Kalilah dan Daminah dalam teksKisah Kalilah dan Daminah muncul di bagian pertama cerita berbingkai.Kisah Kalilah dan Daminah muncul di bagian pertama.Kisah Kalilah dan Daminah muncul di bagian keempat dalam cerita berbingkai Raja Sugadarma.5.Kalimat Pembukabismillahirrahmanirrahim/ wabihi nastain bilahi adalah fakir mengarang  surat ini maka disebutlah segala nama-nama binatang di dalamnya supaya mudah segala saudara-saudara yang selama mengkhabarkannya dia dan yang menengarnya  mengambil  ibadah akan mafhumnya atas yang ada makin itu[h]bismillahirrahmanirrahim/ wabihi nastain bilahi adalah fakir mengarang  surat ini maka disebutlah segala nama-nama binatang di dalamnya supaya mudah segala/ saudara-saudara yang selama m-kh-b-ny dia dan yang m-n-ng-r-ny  m-ng-m-b-l  ibadah akan m-m-f-hu-n-ny atas yang ada makin itu[h]Bismillahirrahmanirrahim/

Bahwa ini hikayat yang dinamai p-n-j-t-n-t-n-d-r-n yang amat/ indah-indah karangannya yang telah dipatut oleh segala pendeta seperti/ mutiara yang telah terpilih oleh Jauhari adanya./6.Kalimat Penutup maka ada seorang hambanya, yaitu namanya Abraha anak rajaRajalah ia dan segala kerjanya raja Abu Sabar itu berbaik-baik segala rakyatnya//Telah tamatlah hikayat/ yang amat indah-indah karangannya dalam negeri Malaka kepada empat belas hari/ Rajab Al-Makram kepada tarikh seribu dua ratus lima puluh (1250) asa, yaitu/ kepada empat hari bulan Numbara tahun masehi seribu delapan/ ratus tiga puluh lima (1835), yaitu kepada selikur hari bulan/ Afasi tahun manamda pada sangat yang sempurna.//7.Lima halaman awal naskah– Lima halaman awal naskah diawali oleh halaman pengantar berupa identitas penyalin yang ditulis dalam aksara latin disertai cap kertas.

– Teks bagian awal tersebut berkisah tentang Kalilah dan Daminah.

– Kondisi naskah lima halaman awal masih bagus, tetapi terdaat lubang-lubang kecil di kertas bagian pojok bawah sebelah kanan yang diperkirakan akibat kutu.- Lima halaman awal naskah bercerita mengenai kisah Kalilah dan Daminah.

– Kondisi naskah pada lima halaman awal masih bagus dan belum terdapat kecacatan kertas yang berdampak pada kesulitan pembacaan teks.- Lima halaman awal naskah berisi pengantar dan sedikit kisah awal dari Raja Sugadarma.

– Kondisi naskah lima halaman awal masih bagus dan belum terdapat kertas yang rusak atau cacat.

-Iluminasi bingkai terdapat pada halaman pertama bagian pengantar teks.8.Lima halaman akhir naskahLima halaman akhir bercerita tentang Abu Sabar.Lima halaman akhir naskah bercerita tentang Abu Sabar.Lima halaman akhir naskah menceritakan kisah Raja Sugadarma9.Iluminasi di bagian awal dan akhir teksTidak ada iluminasi.Tidak ada iluminasi.Terdapat ilmunasi berupa bingkai kotak pada bagian awal,  bingkai garis pada tiap halaman selanjtunya, dan bingkai kotak pada halaman akhir.10.Cap kertas di halaman awal teks.Terdapat cap kertas di bagian halaman awal setelah halaman pelindung yang berupa tanda pengenal penyalin naskah.Tidak terdapat cap kertas.Tidak terdapat cap kertas.

2.4 Metode Edisi Teks

Naskah yang akan diteliti oleh penulis adalah naskah Hikayat Kalilah dan Daminah dengan kode Ml. 135, Br. 146, W. 185, dan W. 184. Naskah Ml. 135 dan Br. 146 merupakan dua naskah yang memiliki kemiripan. Hal tersebut disebabkan naskah dengan kode Br. 146 adalah naskah salinan dari Ml. 135. Naskah dengan kode W.184 berbeda dengan naskah dengan kode Ml. 135 dan Br. 146. Naskah W.184 memiliki kemiripan dengan W.185.

Metode edisi teks yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode landasan. Metode landasan digunakan apabila menurut tafsiran ada satu atau segolongan naskah  yang  unggul kualitasnya dibandingkan dengan naskah-naskah  yang diperiksa. Pemeriksaan dilihat dari segi kelengkapan struktur, usia, kondisi, dan bahasa sehingga diperoleh naskah yang mengandung paling banyak nilai keunggulan.

Penulis memutuskan untuk menjadikan naskah W. 184 sebagai naskah dasar yang akan disunting karena naskah ini dinilai baik dari segi kondisi, kelengkapan struktur, dan bahasa. Selain itu, naskah W 184 memiliki kemiripan dengan naskah W. 185, seperti naskah Ml. 135 dan Br. 146. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk mengangkat naskah ini ke dalam penelitian.

BAB III

SUNTINGAN NASKAH HIKAYAT KALILA DAN DAMINA

  3.1 Ringkasan Naskah Hikayat Kalila dan Damina

Hikayat ini merupakan hikayat yang berasal dari bahasa Hindu yang dipindahkan ke bahasa Melayu di Malaka oleh seorang fakir bernama Abdullah bin Abdul Qadir Mansyi pada dua puluh hari jumadil akhir atau tanggal 10 Oktober. Hikayat ini selesai ditulis pada tanggal 14 Rajab tahun 1835 Masehi. Hikayat ini menjadi haluan bagi orang yang bijaksana dan berakal. Hikayat ini mengandung pengajaran bagi orang berakal. Hikayat ini terdiri dari lima bagian. Kisah hikayat ini dimulai pada cerita yang empunya cerita ini negeri yang bernama Padaliparum. Raja dari negeri tersebut bernama Sugadarma. Raja negeri Padaliparum mempunyai empat anak yang dungu dan bebal tidak menerima nasihat orang. Hal tersebut akan merusak citra keturunan raja di negeri tersebut. Raja meminta mejelis orang yang berakal untuk mengajarkan anaknya. Orang yang bersedia mengajarkan anak raja adalah seorang Brahmana yang bernama Suma Sanama. Ia menceritakan hikayat-hikayat yang dapat dijadikan pelajaran kepada anak-anak raja.

Hikayat pertama menceritakan kedua saudagar yang bersahabat. Namun, saudagar tersebut ada yang berkhianat kepada saudagar yang satunya. Pelajaran yang dapat diambil dari hikayat tersebut adalah barang siapa yang mengakali, maka akan diakali pula oleh orang lain. Kemudian Suma Sanama bercerita tentang seekor tikus, kijang, kekek, dan kura-kura yang bersahabat. Mereka saling membantu ketika temannya sedang kesusahan. Suma Sanama juga bercerita tentang tukang cukur yang memukul tiga orang pengemis. Pada akhirnya, tukang cukur tersebut diperkasa oleh raja. Hal tersebut memperlihatkan ketidakperkasaan dalam melakukan pekerjaan. Setelah itu, istri dari Suma Sanama ikut menceritakan sebuah kisah yang memperlihatkan keperkasaan dalam melakukan pekerjaan. Hal tersebut dilakukan agar anak-anak raja mengetahui perbuatan yang baik dan buruk. Setelah mendengarkan kelima hikayat tersebut, keempat anak raja menjadi berhati lembut, menurut segala naihat dan menolakkan segala kejahatan dunia dan akhirat. Serta menurut ibadah. Raja pun senang melihat keempat anaknya telah berakal, bijaksana, budiman, dan setiawan. Akhirnya, Suma Sanama mendapatkan harta yang sangat banyak karena telah menyelamatkan keturunan raja dari keterbelakangan.

3.2 Pertanggungjawaban Transliterasi

Penyuntingan teks Hikayat Kalila dan Damina dilakukan untuk mempermudah pembaca yang tidak mengenal dan tidak bisa membaca aksara Jawi dalam membaca teks Hikayat Kalila dan Damina ini. Penulis melakukan transliterasi, membuat koreksi, dan catatan untuk mempermudah pembacaan. Dalam mentransliterasi naskah Hikayat Kalila dan Damina, penulis melakukannya dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip berikut.

  1. Transliterasi teks berpedoman pada EYD (Ejaan yang Disempurnakan).
  2. Nomor halaman teks dituliskan sebelum transliterasi di sebelah kiri.
  3. Tanda […] digunakan untuk menandai penghilangan huruf yang tidak sesuai dengan EYD.
  4. Contoh: ti[y]ada
  5. Tanda (…) digunakan untuk menandai penambahan huruf yang seharusnya diperlukan.
  6. Contoh: men(d)engar
  7. Tanda garis miring (/) digunakan sebagai penanda pergantian baris dalam naskah.
  8. Tanda (//) digunakan untuk menandakan penrgantian halaman.
  9. Kata ulang dari naskah yang ditulis dengan (٢) ditransliterasikan sebagai reduplikasi yang biasa digunakan dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

  1. Penggunaan huruf kapital untuk nama orang dan nama tempat
  2. Kata-kata yang ditulis dengan (ﻕ) dan (ﮎ) dalam transliterasi ditulis dengan huruf <k>
  3. Kata-kata yang ditulis dengan (ع) dan (ء) ditransliterasikan sebagai <a’> dan <a>.
  4. Kata-kata yang tidak dapat ditransliterasikan oleh penulis bukan karena kerusakan kertas atau tulisan yang sudah tidak terbaca ditransliterasikan dengan hanya menulis konsonannya.

Contoh: p-n-j-t-n-t-n-d-r-n

  1. Kata-kata yang tidak terbaca sama sekali karena keterbatasan kosakata tidak ditulis dan diganti dengan titik-tiitk panjang (….…………)

3.3 Transliterasi Hikayat Kalila dan Damina (W. 184)

 

Halaman 1-5

Bismillahirrahmanirrahim/[2]

Bahwa ini hikayat yang dinamai p-n-j-t-n-t-n-d-r-n yang amat/ indah-indah karangannya yang telah dipatut oleh segala pendeta seperti/ mutiara yang telah terpilih oleh Jauhari adanya./

Syahdan maka adalah hikayat ini asalnya/ daripada bahasa Hindu, maka dipindahkan oleh fakir lillahi/ taala Abdullah bin Abdul Qadir Mansyi kepada bahasa/ Melayu dalam negeri Malaka, yaitu dengan tolong seorang/ sahabatku yang bijaksana dalam bahasa itu yaitu….//

tambi matu berapa patra kepada tirang sanat (1241) kepada/ dua puluh hari bulan Jumadil Akhir yaitu kepada tahun/ masehi sanat (1834) kepada dua belas hari bulan Oktober/ dan Hindu menanda kepada delapan likur hari bulan/

Kalau sesungguhnya adalah dalam hikayat ini beberapa/ kisa(h) dan ibarat, yaitu akan menjadi haluan bagi/ segala orang yang bijaksana dan berakal, maka adalah/ diumpamakan pikir hikayat ini seperti suatu teman//

yang amat permai lagi dengan indah-indah perbuatannya. Maka adalah di dalamnya itu beberapa polesan bua(h)-buahan yang amat lezat cita/ rasanya dan beberapa bunga-bungaan yang amat harum ba[h]unya. Maka berkehendaklah beberapa man(u)sia[3] masuk ke dalam/ taman itu. Akan tetapinya, di antara mereka itu adalah orang yang bijaksana dan orang bebal. Bermula/ adapun orang yang bijaksana itu apabila ia masuk ke dalam taman itu, maka terlihatlah kepadanya segala pohon buah-buah/[h]an dan bunga-bungaan itu. Maka teringanlah ia lalu diambilnyalah buah-buah[h]an itu dimakannya. Maka diketahuinyalah akan/ lezat rasa buah itu serta dipersuntingkannya bunga-bungaan itu dengan beberapa suka citanya sebab mendapat/ perkara yang indah-indah itu. Keluarlah ia dari dalam taman itu. Maka apabila ia bertemu dengan segala sahabatnya, maka/ bertanyalah mereka itu sekalian kepadanya, “Apakah faedahnya engkau masuk ke dalam taman itu?” Maka dijawab/ oleh orang yang bijaksana itu, katanya “Hai sahabatku, telah kulihat segala ajaib dan khasiat/ dalamnya serta aku memakan buah-buah[h]an yang terlalu lezat rasanya dan kupersuntingkan bunga-bungaan yang terlalu harum/ ba[h]unya.” Maka suka cita mereka itu sekalian. Maka masing-masing pun hendak masuk ke dalam taman itu../

Sebermula adapun orang yang bebal itu apabila ia masuk ke dalam itu serta ia melihat buah-buah[h]an/ dan bunga-bungaan dalam taman itu lalailah serta dengan malasnya hendak tidur serta heranlah ia akan dirinya dengan/ tercenganglah ia ke sana ke mari tiadalah ia [ia] hendak mengambil buah-buah[h]an dan bunga-bungaan itu…./

Maka dengan hal yang demikian itu keluarlah ia dari dalam taman itu dengan [h]aman tangannya serta dengan lapar/ dahaganya. Maka bertamulah ia dengan segala sahabatnya, maka bertanyalah mereka itu, “Apakah faedahnya engkau masuk ke dalam/ taman itu?” Maka jawabnya, “Suatupun tiada aku peroleh dalamnya adalah halku dengan lapar dahagaku.” Maka niscayalah//

Segala sahabat ……………………………………….. itu. Syahdan maka/ demikian ibaratnya bagi orang yang berakal itu niscaya kisa(h)kanlah segala ceritera[4] dan hikayat. Maka/ diperolehnyalah faedahnya ….. “Hai segala saudara aku yang membaca hikayat ini dan yang men(d)engarkan dia/ hendaklah kiranya tuan-tuan menurut kelakuan orang yang bijaksana itu supaya adalah engkau itu beroleh faedah/ ceritera ini karena kecualinya kebanyakan orang muda-muda pada zaman ini sebab suka men(d)engar lagu hikayat sahaja/ ada pula yang men(d)engar itu sebab hendak tertawa sahaja./

[5]Bahwa sesungguhnya hikayat ini dikarangkan pandu bagi segala binatang melainkan ibaratnya dan kisa(h)nya/ itu atas man(u)sia juga maka sebab itu hendaklah engkau ambil ibarat itu atas dirimu. Maka sebab perkara yaitu sebuah/ itulah telah fakir berjangka-jangkaan dengan hikayat dan ceritera-ceritera[6] itu sehingga asyiklah hatiku sebab/ merasai lezat cita kisa(h) dan ibaratnya itu. Maka kuasahkanlah diriku menterjemahkan bahasa itu/ ke dalam bahasa Melayu, jikalau kurang pahamku sekalipun dan sangat pengetahuanku. Kalau muda(h)-mudahan dengan/ tolong Allah supaya memberi manfaat akan segala saudaraku bagi barang siapa yang sudi membaca dan/ men(d)engarkan dia. Maka jikalau dikiranya khilaf atau tersalah daripada bahasa itu hurufnya melainkan telah haraplah/ fakir akan ampun dan maaf tuan-tuan karena bukan fakir ini ahli bagi yang demikian.//

bahwa ini hikayat p-n-j-t-n-d-r-n, yaitu yang dinamai oleh orang Melayu hikayat/ Kalila Damina./

Alkisah maka diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini. Maka adalah dua ekor serigala, seekor/ bernama Kalila dan seekor bernama Damina. Bermula adalah terbahagi hikayat ini atas lima bahagian, yaitu/ akan menjadi pengajaran kepada orang yang berakal. Maka diceriterakan oleh yang empunya ceritera ini bahwa adalah sebuah/ negeri yang bernama Padaliparum. Maka raja yang memerintahkan negeri itu bernama Sugadarma. Maka adalah raja itu berputra/ orang laki-laki. Adapun anak raja itu terlalu sangat dungu lagi dengan bebalnya tia(da) menerima nasihat orang. Maka dari/ sebab yang demikian maka paduka ayahanda sangatlah murkanya akan anaknya itu karena seolah-olah ia hendak menghilangkan/ dan merusakkan keturunan raja-raja yang dahulu kala. Maka titah baginda, “Jikalau anak yang demikian itu ……./ sekalipun, tiadalah memberi faedah padaku, maka jikalau kiranya ada seorang anak yang berbahagia niscaya/ berguna pada aku. Maka apakah dosanya yang telah kuperbuat dari dahulu kalanya maka kuperoleh anak yang demikian?” Setelah raja berpikir-pikir yang demikian itu serta dengan duka citanya di atas tahta kerajaan di hadapan segala menteri/ hulubalang, rakyat sekalian, tentara sayid-sayid, dayang-dayang, bi(n)ti-bi(n)ti perma(i)[ra]s(u)ri, ia mengeluar katanya, “Wahai/ sia-sialah kehidupanku sekian lama ini sebab anak yang dungu lagi tiada berakal ini keempatnya. Maka/ adakah di dalam majelis orang yang berakal yang boleh mengajarkan anak-anakku ini?” Maka adalah…./ dalam antara majelis itu seorang Brahmana yang bernama Suma Sanama berangkat serta berdatang sembah kepada raja, katanya,//

Halaman 86-90

engkau ambil kayu, pukul olehmu.” Maka barang perkataan niscaya diberinya. Setelah sudah maka jikalau budak itu dilihatnya seorang pun/ tiada. Maka apabila pagi-pagi hari pergilah ia mandi, serta disucikannya[7] rumahnya, lalu bercukurlah ia. Maka dipegangnya/ tongkatnya, duduklah dimuka pintunya. Maka apabila tengah hari betul datanglah tiga orang meminta sedekah. Maka oleh budak/ itu dipukulnya. Maka orang itu setelah itu dipukulnya pula orang yang bertiga itu. Maka suka citalah mereka itu melihat.. ../ kanak-kanak itu, lalu diberinyalah harta terlalu banyak akan kanak-kanak itu sehingga menjadi kayalah budak itu.. .. ../ Tetapi segala hal ihwal itu semuanya dilihat oleh tukang cukur itu. Setelah itu, pulanglah ia pun kerumahnya./ Maka pergilah ia mandi dan menyucikan rumahnya, serta bercukur kepalanya, lalu memegang suatu tongkat,.. ../ duduklah dimuka pintunya. Maka lalulah tiga orang meminta orang sedekah, maka dipukulah akan mereka itu. Gemparlah/ orang mengatakan tukang cukur itu memukul orang meminta sedekah. Maka berteriaklah ketiga mereka itu….[8]/ ditangkap oleh segala hamba raja akan tukang cukur itu, dibawanya kehadapan raja, maka diperkasa oleh raja….[9]/ akan dia. Setelah itu titah raja akan dia, “Jikalau demikian kelakuan tukang cukur cilaka itu, bawalah akan dia/ sulaka[10].” Demikianlah ceriteranya orang yang tiada dengan perkasa barang suatu pekerjaannya, dan lagi.. ../ kata istri Brahmana itu kepada suaminya, “Maukah tuan hamba menengar hikayat orang dengan perkasanya kepada/ barang suatu pekerjaanya?” Maka jawab Brahmana itu, “Bagaimanakah ceriteranya wahai istriku?” Maka kata istrinya,/ “Ada sebuah negeri, maka dalam negeri itu ada seorang saudagar terlalu luwes bergayanya, dan ada kepadanya istri terlalu/ elok rupanya dan lagi ada seorang anak laki-laki kecil. Maka berpikirlah saudagar itu, Baiklah aku berlayar/ ke negeri lain.” Maka m-s-t-b-lah sekali perkakasnya akan berlayar. Maka berpesanlah ia kepada istrinya, katanya//

“Hai kekasihku peliharakanlah anak kita ini baik-baik dan peliharakan pula dirimu dari pada fitnah dina ini.” Kemudian/ ia berpesan pula kepada anaknya, katanya, “Hai anakku, jikalau engkau bertemu dengan benda yang mulia-mulia, jikalau barang berapa/ harganya sekalipun belilah olehmu dan berniaga[11] engkau.” Maka saudagar itu pun berlayarlah. Hat(t)a berapa/ lamanya maka kanak-kanak itu pun besarlah dan tahulah ia berniaga dan berjual beli. Alkisah[12]……/ maka dalam negeri itu juga adalah seorang  Brahmana, lalu istri dengan seorang anak laki-laki. Adapun anaknya itu/ telah pandailah kepada segala jenis ilmu dan kepandaiannya maka suka citalah hati ibu bapa(k)nya sebab meliat anaknya/ telah pahamlah segala jenis ilmu itu. Maka adalah pada tiap-tiap hari datang bapa(k)nya ke rumahnya, disuruhnya juga anaknya itu membaca surat dan belajar ilmu. Maka dilihatnya anaknya ada mengaji. Maka marahlah[13] juga ia……/ disuruhnya mengaji. Maka marahlah anaknya itu lalu pergilah ia mendapatkan ibunya, serta katanya, “Hai/ ibuku, tiadalah tertahan lagi hamba akan kelakuan bapaku itu pada tiap hari ia marah. Daripada…./ hamba diam disini, biarlah hamba membuangkan diri ke negeri lain. Maka ibuku katakanlah kepada bapa(k)ku itu….”/ Kemudian maka naiklah anaknya itu ke atas rumahnya, lalu bersembunyi serta berpikir dalam hatinya, “Barang dia../ upikku. Aku bunuh juga akan bapa(k)ku itu, baharulah puas hatiku. Hat(t)a[14] maka bapa(k)nya itupun/ pulanglah kerumahnya, lalu dipanggilnya akan istrinya, katanya, “Manakah anak kita itu? Sudahkah ia makan?”../ Maka jawab istrinya, “Janganlah engkau bertanyakan anak itu, sebab engkau membuat gaduh serta marah akan dia../ sehari-hari. Telah sudahlah ia membuangkan dirinya ke mana-mana.” Maka apabila didengar oleh Brahmana akan perkataan../ istrinya itu, maka duka citalah dalam hatinya terlalu sangat seraya menampar-nampar dadanya. Katanya, “Wahai biji mataku//

dan buah hatiku, apakah sayangnya[15] ia membuangkan dirinya itu? Maka kata istrinya, “Bagaimanakah engkau membuat…./ aniaya akan dikau tiap-tiap hari engkau marah akan dia.” Maka jawab suaminya, “Adakah engkau ketahui dalam hatiku/ ini? Adakah ibu bapa(k) itu membuat aniaya akan anaknya? Maka apabila kita memuji[16] anak sendiri, niscaya binasalah../ kelak akhirnya.” Maka segala perkataan ibu bapa(k)nya didengar oleh anaknya dari atas rumah itu. Maka pada ketika[17] itu../ juga turunlah ia serta menyembah[18] kaki bapa(k)nya. Maka didekap oleh bapa(k)nya serta ciumnya[19] kepala anaknya itu sambil….[20]/ menangis berbagai-bagai bunyian. Maka jawab anaknya, “Wahai[21] bapa(k)ku, adalah pada hatiku hendak membunuh bapa(k)ku../ juga. Maka sekarang bagaimankah daya boleh aku menghilangkan dosa itu?” Maka kata bapa(k)nya, “Jikalau engkau hendak/ menghilangkan dosamu itu, pergilah engkau ke rumah mantumu itu. [Pergilah engkau ke rumah mantumu] dan kerjakanlah pekerjaannya supaya disaksikannya[22]/ akan dikau, niscaya hilanglah dosamu.” Maka diperbuatlah oleh anaknya seperti perkataan bapa(k)nya itu. Setelah dua/ tiga bulan lamanya ia diam kepada rumah mantunya itu, maka suatu hari disindir oleh mantunya akan dia dengan/ berbagai-bagai perkataan. Maka kata istrinya, “Baiklah tuan hamba pergi mencari supaya lepas dari pada perkataan/ ibu bapa(k)ku itu.” Maka oleh anak Brahmana itu dibuatnyalah suatu surat lalu disuruhnya jual kepada istrinya./ Maka oleh istrinya itu diberikannya ke tangan saudaranya, disuruhnya jual seraya katanya, “Adapun harganya/ surat ini seribu dinar.” Lalu dibawanyalah[23] surat itu masuk ke dalam negeri. Maka beberapa orang hendak…./ membeli surat itu, apabila didengarnya harganya tiadalah ma[h]u dibelinya. Lalu dibawanya surat itu di kedai/ anak saudagar yang telah berlayar itu. Maka adalah pada hari itulah anak saudagar itu memulai membuka kedai,/ maka dibawalah oleh orang surat itu kepadanya. Maka apabila dilihat oleh anak saudagar itu akan surat itu teringatlah//

ia akan pesan bapa(k)nya, “Barang bendanya yang mulia-mulia itu, belilah olehmu.” lalu ditanyanyalah harganya. Maka jawab orang/ itu, “Seribu dinar.” Maka dibelilah oleh anak saudagar akan surat itu. Setelah itu, maka disampulnya dengan kain/ sutra yang mulia-mulia lalu dibawanya ke tempat tidurnya digantungnya./

Sebermula[24] maka bapa(k)nya itu pun kembalilah ia dari pada pelayarannya. [25]Pada malam hari sampailah/ ke rumahnya, lalu ia masuk ke dalam biliknya, dilihatnya ada seorang laki-laki tidur dengan istrinya. Maka/ cemburuanlah[26] hatinya seraya berpikir bahwa sesungguhnya ini lah kejahatan istriku ini. Lalu dihunusnya pedangnya/ hendak diperangnya[27] kedua mereka itu. Maka terkenalah pedangnya itu kepada tali surat yang tergantung itu. Lalu, putuslah jatuh kehadapannya. Maka dipungutlah surat itu lalu dilihatnya adalah tersurat[28] dalam[29] dengan huruf/ yang besar katanya, “Barang siapa membuat suatu pekerjaan dengan tiada perkasa, niscaya dibelakang kelak ia../ akan menyesal adanya.” Maka sudah dibacanya surat itu maka digantungkannya pula lalu ia keluar. Maka hari pun/ sianglah. Lalu keluarlah istrinya itu mendapatkan suaminya dengan anaknya itu pun datanglah menyembah…./ kaki bapa(k)nya. Maka bertanyalah saudagar itu kepada istrinya, “Siapakah laki-laki ini[30]?” Maka jawab istrinya, “Inilah/ anak yang tuan hamba tinggalkan dahulu itu.” Maka oleh saudagar itu segala hal ihwal[31] pada malam itu semuanya/ diceriterakannya kepada istrinya. Maka dipanggilnyalah[32] anaknya itu, lalu ditanyanya “Di mana datang surat ini tergantung/ di atas tempat tidur itu?” Maka jawab anaknya, “Tatkala bapa(k)ku berlayar dahulu itu, bapa(k)ku berpesan,/ barang  benda yang mulia dibawa orang, belilah olehmu.” Maka sebab itulah hamba beli surat ini seribu dinar. Maka/ [maka] jawab bapa(k)nya, “Sejahteralah atasmu, hai anakku, maka sebab surat itulah[33] terpelihara jiwa kamu keduanya..”//

Maka suka citalah saudagar itu kedua laki istri anaknya sekalian selama-lamanya. Demikianlah hikayatnya/ perkasa atas sesuatu hal itu, maka apabila didengar oleh anak-anak raja yang keempat akan hikayat yang kelima/ perkara itu menjadi lembutlah hatinya, serta menurut segala nasihat dan pengajaran orang serta menolakkan/ segala kejahatan dunia akhirat. Maka selamatlah anak-anak raja itu turun temurun menggantikan kerajaan/ ayahanda.” Maka apabila dilihat oleh Brahmana Suma Sanama akan kelakuan anak-anak raja itu telah menurutlah ibadat/ dan kisa(h) hikayat itu suka citalah hatinya, lalu dibawanyalah kepada ayahnya. Maka raja pun suka citalah, sebab/ melihat anaknya telah berakal bijaksana serta budiman lagi setiawan adanya. Maka diberinyalah harta/ terlalu banyak akan Brahmana itu dengan tiada terkira-kira adanya. Wallahu ’alam[34]. Telah tamatlah hikayat/ yang amat indah-indah karangannya dalam negeri Malaka kepada empat belas hari/ Rajab Al-Makram kepada tarikh seribu dua ratus lima puluh (1250) asa, yaitu/ kepada empat hari bulan Numbara tahun masehi seribu delapan/ ratus tiga puluh lima (1835), yaitu kepada selikur hari bulan/ Afasi tahun manamda pada sangat yang sempurna.//

3.4 Daftar Kata yang Tidak Lazim Digunakan

3.4.1 A Malay-English Dictionary (R. J. Wilkinson, C. M. G)

  1. Faedah: Ar. Profit; utility; advantage whether financial or otherwise, e.g. aku telah mendapat f. ilmu itu (I have reaped profit from my studies), Ht. Abd 18; and ta’—f. mainan mata, buat sakit hati sendiri (of what use are loving glances; bitterness is all they bring), Mal. Pant 185. Also (coll.) paedah. (Halaman 310)

Kutipan pada teks:

“bertanyalah mereka itu sekalian kepadanya, “Apakah faedahnya engkau masuk ke dalam taman itu?” Maka dijawab/”

  1. Sanat: Ar. Year (of calendar or era), e.g. Year of the Hegira (halaman 1014)

Kutipan pada teks:

tambi matu berapa patra kepada tirang sanat (1241) kepada/ dua puluh hari bulan Jumadil Akhir yaitu kepada tahun/ masehi sanat (1834) kepada dua belas hari bulan Oktober/ dan Hindu menanda kepada delapan likur hari bulan/ “

  1. Bebal: (Joh.) Dull; doltish; stupid; (Ked.) surly; cross-grained; (Min.) hot-headed; hasty. Barang salah b.-nya hendak-lah tuan ajari: will you, Sir, kindly instruct his folly and ignorance. Orang yang b., yang tiada berbatu uji di-tangan-nya: a dull-witted man who has not the touchstone of knowledge in his hands; Ht. Abd. Also (Min.) babal. (halaman 96)

Kutipan pada teks:

Sebermula adapun orang yang bebal itu apabila ia masuk ke dalam itu serta ia melihat buah-buah[h]an/”

  1. Kedai: Tam. Shop. Etym., a wayside shop of thatch, in contr. To a town store (gudang), market (pajak), or bazaar-booth (barang, warong). Now used of small shops in contr. to godowns; even (Kel.) of a market. (halaman 525)

Kutipan pada teks:

Maka adalah pada hari itulah anak saudagar itu memulai membuka kedai”

  1. Hunus: I. Drawing off. Of unsheating weapons, the act being regarded as one of drawing the shenth off the blade; drawing a ring off a finger (menghunus chinchin). In the Pulau Tujoh hunus = chabut (pull out); and is used even in the sense of <royalty> or <percentage>, see chabut. (halaman 415)

Kutipan pada teks:

Lalu dihunusnya pedangnya/ hendak diperangnya[35] kedua mereka itu.”

  1. Setiawan: [Skr. S a t y a w a n t; adj. of s a t y a = (Mal.) setia, q.v] Loyal; constant; faithful. (halaman 1094)

Kutipan pada teks:

Maka raja pun suka citalah, sebab/ melihat anaknya telah berakal bijaksana serta budiman lagi setiawan adanya”

  1. Perkasa: Skr. Brave; gallant; skilled in war (Mal. Annals 141, 147). Gagah p.: strong and martial. Terlalu sa-kali p-nya: they behaved very gallantly indeed; Hg. Tuah 36. Also (by faulty etymology) perkuasa: Ind. Jaya, Raj. Sul. 3 (halaman 890)

Kutipan pada teks:

Demikianlah ceriteranya orang yang tiada dengan perkasa barang suatu pekerjaannya”

  1. Hulubalang: Etym, from hulu (head) and baling (of soldiery), i.e. military officer,= (Min.) dubalang. Name given to professional soldiers in general, in general, in contr. to civil officials (menteri), officers in command (penglima) and conscript militis (rayat). For their professional character, ef. Di-pileh pula empat orang petunan yang berasal, dijadikan hulubalang (he picked out four men of tun rank and good birth to be his guardsmen), Hg. Tuah 18. This is the root meaning. But, there are local meanings as well: (acheen) territorial Chief; (Pk.) Chief of the second rank, one of the <Eight> (h.yang delapan) who are mostly feodal or territorial Chiefs in contr. to the four <Court> Chiefs (empat di-balai); (Min.) a hereditary title suggesting decent from a warrior-caste, the other two classes of gentrybeing priestly (malim) or official (menteri).  (halaman 414)

Kutipan pada teks:

Setelah raja berpikir-pikir yang demikian itu serta dengan duka citanya di atas tahta kerajaan di hadapan segala menteri/ hulubalang, rakyat sekalian, tentara sayid-sayid, dayang-dayang, bi(n)ti-bi(n)ti perma(i)[ra]s(u)ri, ia mengeluar katanya, “Wahai/”

  1. Dayang: I. Girl; damsel; maid at court. Dayang-dayang: girl-attends on Malay courtladies. Awang dan d.: <boys and girls>, <lasses and lads> – as the audience spoken to; Sh. May, 2, Sh. Dag. 4. See also yang, dang, ken. (halaman 263)

Kutipan pada teks:

Setelah raja berpikir-pikir yang demikian itu serta dengan duka citanya di atas tahta kerajaan di hadapan segala menteri/ hulubalang, rakyat sekalian, tentara sayid-sayid, dayang-dayang, bi(n)ti-bi(n)ti perma(i)[ra]s(u)ri, ia mengeluar katanya, “Wahai”

  1. Hata: (Ar. Hatta) Wll then; next. A conjunctive word used by Malays to open a new paragraph. H. berapa lamanya: well, after some time had elapsed (the story goes on). (Halaman 401)

Kutipan pada teks:

Hat(t)a berapa/ lamanya maka kanak-kanak itu pun besarlah dan tahulah ia berniaga dan berjual beli.”

  1. Tambi: Boy, as a term used when addressing young Tamils; whence it has come to mean and sometimes even any young Tamil. (halaman 1158)

Kutipan pada teks:

“tambi matu berapa patra kepada tirang sanat (1241) kepada/”

  1. Matu: a variant (Lang. Buana 64) of mutu (halaman 750)

Kutipan pada teks:

tambi matu berapa patra kepada tirang sanat (1241) kepada/”

  1. Binti: I. Daughter of; e.g. Halimah binti Mat (Halimah daughter of Mat,-to distinguish her from others of the same personal name). see bint.

II. Burong binti-binti: the Malayan kingfisher, Alcedo meninting. Also (Ked.) bebinti; and burong tinting sungai. (halaman 144)

Kutipan pada teks:

“Setelah raja berpikir-pikir yang demikian itu serta dengan duka citanya di atas tahta kerajaan di hadapan segala menteri/ hulubalang, rakyat sekalian, tentara sayid-sayid, dayang-dayang, bi(n)ti-bi(n)ti perma(i)[ra]s(u)ri, ia mengeluar katanya, “Wahai/”

  1. Titah: I. A ruling prince’s word (which has the force of a command); royal utterance. Applied to anything that a Sultan says and not confined to commands [cf. Sund. nitah (to command)]; in S. Malaya extended to the utterences of a raja bergelar, and in compliment applied to the words of any raja; also (Min.) to commands of a Chief. (halaman 1228)

Kutipan pada teks:

“Setelah itu titah raja akan dia, “Jikalau demikian kelakuan tukang cukur cilaka itu, bawalah akan dia/”

3.4.2        Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga

  1. Faedah: /faédah/ n 1 guna; manfaat; 2 sesuatu yg menguntungkan; untung; laba (halaman 312)
  2. Dayang: gadis pelayan di istana; 2 kl anak perempuan, gadis; (halaman 242)
  3. Hulubalang:  kepala laskar; pemimpin pasukan; kepala negeri (distrik); prajurit pengawal; polisi desa; dubalang (halaman 412)
  4. Derma: pemberian (kpd fakir miskin dsb) atas dasar kemurahan hati; bantuan uang dsb (kpd perkumpulan sosial dsb): orang kaya sebaiknya mau memberi — kpd fakir miskin; (halaman 256)
  5. Sanat: tahun  Islam atau Hijriah ditentukan berdasarkan perhitungan peredaran bulan (halaman 992)
  6. Bebal: sukar mengerti; tidak cepat menanggapi sesuatu (tidak tajam pikiran); bodoh; (halaman 118)
  7. Hunus: mencabut (pedang, keris, dsb) dr sarungnya: sambil membacakan mantra, pendeta itu ~ kerisnya kemudian mencelupkannya ke dl air suci. (halaman 413)
  8. Setiawan: angat setia; penuh kesetiaan; orang yg setia (halaman 1056)
  9. Perkasa: kuat dan tangguh serta berani; gagah berani: Hang Tuah terkenal sbg seorang hulubalang Melayu yg –; kuat dan berkuasa; hebat; keras (halaman 861)
  10. Kedai: bangunan tempat berjualan (makanan, dsb) (halaman 524)
  11. Hat.ta: lalu…; sudah itu lalu…; maka…; (halaman 393)
  12. Titah: kata; perintah (biasanya dari raja) yang harus dipatuhi (halaman 1200)
  13. Binti: anak perempuan (biasa dipakai untuk keterangan nama orang) : Siti Aisyah – Abu Bakar (halaman 154)
  14. Matu: ukuran untuk menentukan ketulenan emas (halaman 724)
  15. Tambi: (1) panggilan kepada laki-laki Keling yang masih muda (yg artinya adik laki-laki) (halaman 1130) (2) pelayan; jongos; kacung; pesuruh kantor

BAB IV

ANALISIS NASKAH HIKAYAT KALILA DAN DAMINA

 

4.1 Pengantar

            Hikayat Kalila dan Damina merupakan cerita berbingkai. Hal ini disebabkan adanya cerita di dalam cerita. Dalam Hikayat Kalila dan Damina tokoh yang diceritakan berupa manusia dan hewan. Tokoh manusia yang diceritakan adalah tokoh raja, anak raja, majelis, orang tua, tukang kayu, budak, dan tukang cukur. Tokoh hewan yang diceritakan adalah kura-kura, serigala, babi, tikus, dan singa. Penulis menganalisis empat naskah Hikayat Kalila dan Damina dengan kode Ml. 135, Br. 146, dan W. 184, dan W. 185. Fokus penulis dalam analisis ini adalah kepada nilai moral dalam amanat.

 

4.2 Analisis Amanat dalam Naskah Kalila dan Damina

Hikayat Kalila dan Damina merupakan hikayat yang mempunyai banyak cerita. Di dalam setiap ceritanya selalu terdapat amanat yang berbeda, tetapi mengusung inti persoalan yang sama, yaitu mengajarkan pembaca dan pendengar menjadi orang yang bijaksana. Hikayat Kalila Damina kode Ml. 135 memuat isi yang sama dengan Hikayat Kalila dan Damina kode Br. 146. Hal tersebut disebabkan Hikayat Kalila dan Damina kode Br. 146 adalah naskah salinan dari Ml. 135. Hal tersebut sama dengan Hikayat Kalila dan Damina kode W.184 dan W. 185. Kedua naskah tersebut memuat isi yang sama, tetapi terdapat beberapa perbedaan. Misalnya, perbedaan tersebut terlihat dari adanya kata pengantar penyalin pada Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184, tetapi Hikayat Kalila dan Damina kode W. 185 tidak terdapat kata pengantar penyalin. Oleh sebab itu, dalam melakukan analisis nilai moral dalam amanat penulis mengambil data dari Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184 dan Ml. 135. Hal tersebut didasarkan kelengkapan naskah dibandingkan naskah W. 185 dan Br. 146. Penulis hanya mentransliterasi lima halaman tengah, lima halaman awal, dan lima halaman akhir. Bagian atau cerita yang ada di tiap naskah berbeda. Meskipun demikian, ada pula bagian atau cerita yang sama. Bagian atau cerita yang berbeda tersebut dapat menjadi pelengkap pada naskah yang lainnya.

Amanat yang terdapat dalam Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184 terdapat dalam kata pengantar penyalin dan cerita-cerita di dalamnya. Dalam kata pengantar penyalin terdapat amanat berikut:

“Hai segala saudara aku yang membaca hikayat ini dan yang men(d)engarkan dia/ hendaklah kiranya tuan-tuan menurut kelakuan orang yang bijaksana itu supaya adalah engkau itu beroleh faedah.” (Hikayat Kalila dan Damina W. 184: 4)

Kutipan di atas adalah amanat yang diberikan oleh penyalin kepada pembaca maupun pendengar Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184 untuk mengikuti perbuatan orang yang bijaksana dalam cerita. Hal tersebut diberitahukan penyalin agar pembaca dan pendengar memperoleh manfaat dari Hikayat Kalila dan Damina kode W.184 ini. Hal tersebut juga perlu diberitahukan untuk mengarahkan orang berperilaku bijaksana dan tidak mencontoh orang yang jahat dalam cerita. Kemudian amanat juga terdapat dalam cerita-cerita di dalam Hikayat Kalila dan Damina. Cerita yang terdapat dalam Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184 adalah cerita tentang dua orang saudagar bersahabat. Berikut amanat yang terkandung dalam cerita:

“Barang siapa yang mengakali,/ kelak ia juga masuk ke dalamnya” (Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184: 42)

Kutipan amanat di atas mengajarkan pembaca atau pendengar Hikayat Kalila dan Damina untuk tidak berbuat curang. Dalam cerita diberikan contoh bahwa orang yang berbuat curang akan mendapatkan kerugian tersendiri. Kerugian tersebut akibat dari perbuatan curang orang lain pula. Jadi, orang yang berbuat curang akan mendapatkan kecurangan dari orang lain. Selain itu, terdapat pula cerita tentang budak dan tukang cukur. Berikut kutipan amanat yang terkandung dalam cerita tersebut:

“Demikianlah ceriteranya orang yang tiada dengan perkasa barang suatu pekerjaannya” (Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184: 86)

Berdasarkan kutipan di atas, pembaca dan pendengar Hikayat Kalila dan Damina diberikan contoh cerita tentang orang yang tidak benar dalam melakukan pekerjaannya. Cerita budak dan tukang cukur ini menceritakan tukang cukur yang memukul budak. Akhirnya, tukang cukur diperkasa oleh raja. Hal tersebut memperlihatkan bahwa orang yang melakukan hal yang tidak benar akan mendapatkan hukumannya. Pada hikayat ini tidak hanya menampilkan tokoh baik, tetapi menampilkan tokoh yang buruk pula. Hal tersebut dimaksudkan agar pembaca dan pendengar dapat mengentahui sifat baik dan buruk.

Berbeda dari Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184, kode Ml. 135 mempunyai cerita tentang persahabatan terdapat pada kisah anak Barzaghan yang berusaha menyelamatkan lembu peliharaannya yang terjatuh dan terjebak di hutan. Namun, lembu itu ditinggalkan. Si lembu bernama Setrubuh itu selamat dan menjalin persahabatan dengan raja singa. Cerita bergulir menceritakan sepasang saudara serigala Kalila dan Damina yang bijaksana, tetapi menjadi jahat karena kedengkian dalam hatinya. Berikut kutipannya:

“…dengarkan pula surat hikayat/ peri mengatakan du[w]a ekor serigala di[y]am kepada raja singa itu seekor namanya Kalila seekor namanya Damina/ keduanya budiman terlalu bijaksana sempurna bicaranya pada barang pekerjaannya adapun akan Damina/ itu terlebih budiman cara khikmat dan daya banyak padanya tetapi ti[y]ada member manfaat/ kerana  dengki dna luka padanya hati…” (Hikayat Kalila dan Damina kode Ml. 135: 8)

Cerita selanjutnya adalah cerita mengenai kera usil yang akhirnya mati tersepit kayu. Cerita ini mengandung amanat bahwa hendaknya orang yang baik tidak perlu mencampuri urusan orang lain. Berikut kutipannya:

“…oleh karena itu maka segala/ orang yang budiman itu hendaklah jangan membicarakan yang bukan pekerjaannya itu ti[y]ada harus/ dikerjakan niscaya mudharat kepada dirinya…” (Hikayat Kalila dan Damina kode Ml. 135: 9)

Cerita pada akhir naskah mengenai Abu Sabar menyampaikan amanat bahwa kita harus selalu bersabar menghadapi ujian hidup dan takdir dari Tuhan karena Tuhan selalu adil membalas kebajikan dan kejahatan di dunia.

BAB V

KESIMPULAN

 

Naskah Kalila dan Damina tersebar tidak hanya di Indonesia, tetapi di berbagai negara. Berdasarkan penelusuran melalui beberapa katalog naskah, penulis menemukan naskah Hikayat Kalila dan Damina tersimpan di empat negara, yaitu Indonesia, Belanda, Prancis, dan Malaysia. Naskah Hikayat Kalilah dan Daminah yang tersimpan di Indonesia berjumlah sebelas naskah. Naskah tersebut tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Menurut penelitian Haniah, (1976: 4), Hikayat Kalila dan Damina berasal dari India yang terkenal, yaitu Pancatantra. Cerita ini disalin berulangkali ke dalam berbagai bahasa hingga mengalami timbulnya banyak varian dan variasi. Di dalam bahasa Melayu ditemukan empat versi (Haniah, 1976: 6). Versi tersebut adalah Hikayat Kalila dan Damina yang pernah disebut Werndly dalam buku tata bahasanya tahun 1736. Hikayat ini diterbitkan oleh J.R.P.F. Gonggrijp. Kemudian Hikayat Pancatanderan yang diterjemahkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dari versi Tamil tahun 1835. Versi Tamil ini dianggap berasal dari versi yang tertua. Selain itu, ada pula Dalam atau Segala Cerita dan Dongeng yang Telah Dikarangkan oleh Hakim Lokman, diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh J.R.P.F. Gonggrijp (Batavia, 1886). Terakhir, Hikayat Kalila dan Damina, diterjemahkan dari versi Arab (Ibn al Muqaffa) yang masing-masing dibuat oleh Ismail Jamil (1964) dan Haji Khairuddin (1964).

Hikayat Kalila dan Damina merupakan hikayat yang mempunyai banyak cerita. Di dalam setiap ceritanya selalu terdapat amanat yang berbeda, tetapi mengusung inti persoalan yang sama, yaitu mengajarkan pembaca dan pendengar menjadi orang yang bijaksana. Penulis mengambil data dari Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184 dan Ml. 135. Hal tersebut didasarkan kelengkapan naskah dibandingkan naskah W. 185 dan Br. 146. Hikayat Kalila dan Damina kode W. 184 terdapat dalam kata pengantar penyalin dan cerita-cerita di dalamnya. Dalam kata pengantar, penyalin memberikan amanat untuk mengikuti perbuatan orang yang bijaksana dalam cerita. Hal tersebut juga perlu diberitahukan untuk mengarahkan orang berperilaku bijaksana dan tidak mencontoh orang yang jahat dalam cerita. Kemudian dalam cerita tentang dua orang saudagar bersahabat yang mengajarkan pembaca atau pendengar Hikayat Kalila dan Damina untuk tidak berbuat curang. Dalam cerita diberikan contoh bahwa orang yang berbuat curang akan mendapatkan kerugian tersendiri. Kerugian tersebut akibat dari perbuatan curang orang lain pula. Jadi, orang yang berbuat curang akan mendapatkan kecurangan dari orang lain.

Selain itu, terdapat pula cerita tentang budak dan tukang cukur. Cerita budak dan tukang cukur ini menceritakan tukang cukur yang memukul budak. Akhirnya, tukang cukur diperkasa oleh raja. Hal tersebut memperlihatkan bahwa orang yang melakukan hal yang tidak benar akan mendapatkan hukumannya. Pada hikayat ini tidak hanya menampilkan tokoh baik, tetapi menampilkan tokoh yang buruk pula. Hal tersebut dimaksudkan agar pembaca dan pendengar dapat mengentahui sifat baik dan buruk. Pada naskah Kalila dan Damina kode Ml. 135 mempunyai cerita tentang persahabatan terdapat pada kisah anak Barzaghan yang berusaha menyelamatkan lembu peliharaannya yang terjatuh dan terjebak di hutan. Namun, lembu itu ditinggalkan. Si lembu bernama Setrubuh itu selamat dan menjalin persahabatan dengan raja singa. Cerita bergulir menceritakan sepasang saudara serigala Kalila dan Damina yang bijaksana, tetapi menjadi jahat karena kedengkian dalam hatinya. Cerita selanjutnya adalah cerita mengenai kera usil yang akhirnya mati tersepit kayu. Cerita ini mengandung amanat bahwa hendaknya orang yang baik tidak perlu mencampuri urusan orang lain. Cerita pada akhir naskah mengenai Abu Sabar menyampaikan amanat bahwa kita harus selalu bersabar menghadapi ujian hidup dan takdir dari Tuhan karena Tuhan selalu adil membalas kebajikan dan kejahatan di dunia.

Dari uraian di atas terlihat bahwa naskah Hikayat Kalila dan Damina merupakan naskah yang berisi cerita yang mengajarkan amanat kebijaksanaan. Pembaca dan pendengar diberikan contoh dalam cerita yang terdapat dalam naskah. Contoh yang diberikan dalam sisi positif dan negatif. Hal tersebut dapat memudahkan pembaca dan pendengar untuk mengetahui watak baik dan buruk. Kemudahan dalam memahami naskah ini juga terdapat dalam amanat yang disampaikan secara tersurat. Setiap cerita memuat amanat tersurat di akhir cerita sehingga tidak ada salah tafsir terhadap cerita tersebut. Pembaca dan pendengar diarahkan kepada satu kesimpulan yang telah dibuat oleh pengarang.

DAFTAR PUSTAKA

Howard, Joseph H. 1966. Malay Manuscript; a Bibliographical Guide. Kuala Lumpur: Universitas Malaya.

Jazamuddin Baharuddin. 1969. Katalog Naskah-Naskah Lama Melayu di Dalam Simpanan Muzium Pusat Jakarta Jilid II. Malaysia: Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.

Juynboll, H.H. 1899. Catalogus van de Maleische en Sundaneesche Handschriften der Leidsche Universiteits-bibiliotheek. Leiden: Boekhandel en Drukkerij Vorheen E. J. Brill.

Museum Nasional (Inventaris Koleksi).

Noegraha, Nindya, dkk. 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid IV Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Ecole Francaise D’etreme-Orient.

Ronkel, Van. 1909. Catalogus der Maleische Handschriften, in het Museum van Hetbataviaasch Genootschap  van Kunsten en Wetenschappen. Batavia: Albrecht.

Tim Pelaksana Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Nasional Bidang Permuseuman. 1972. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Departemen P dan K. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Nasional Dirjen Kebudayaan.


[1] Ditulis dalam skripsinya yang berjudul Hkayat Indra Bangsawan: Suntingan Teks serta Kajian Bentuk dan Gaya Penulisan Penyalin di halaman 8.

[2] Dalam naskah W. 185 halaman 1-3 tidak terbaca.

[3] Dalam naskah W. 185 tertulis manusia.

[4] Dalam naskah W. 185 tertulis citra

[5] Dalam naskah W.185 halaman empat sudah masuk cerita.

[6] Dalam naskah W.185 tertulis citra2

[7] Dalam naskah W.185 tertulis menyucikan

[8] Dalam naskah W.185 tertulis lalu

[9] Dalam naskah W. 185 tertulis dan

[10] Dalam naskah W. 185 tertulis sulakan

[11] Dalam naskah W. 185 tertulis bertanya

[12] Dalam naskah W. 185 tertulis Syahdan

[13] Dalam naskah W. 185 tertulis dikerasinnya

[14] Dalam naskah W. 185 tertulis Arkian

[15] Dalam naskah W. 185 tertulis sebabnya

[16] Dalam naskah W. 185 tertulis memuja-muja

[17] Dalam naskah W. 185 tertulis waktu

[18] Dalam naskah W. 185 tertulis menyembahka[ka]n

[19] Dalam naskah W. 185 tertulis diciumnya

[20] Dalam naskah W. 185 tertulis ia

[21] Dalam naskah W. 185 tertulis Waha(i)

[22] Dalam naskah W. 185 tertulis disukakannya

[23] Dalam naskah W. 185 tertulis dibawalah

[24] Dalam naskah W. 185 tertulis Syahdan

[25] Dalam naskah W. 185 tertulis Hat(t)a

[26] Dalam naskah W. 185 tertulis cemburu

[27] Dalam naskah W. 185 tertulis diparangnya

[28] Dalam naskah W. 185 tertulis surat

[29] Dalam naskah W. 185 tertulis dalamnya

[30] Dalam naskah W. 185 tertulis itu

[31] Dalam naskah W. 185 tertulis ihwalnya

[32] Dalam naskah W. 185 tertulis dipanggillah

[33] Dalam naskah W. 185 tertulis inilah

[34] Dalam naskah W. 185 tertulis Wallahu alam bis shawab

[35] Dalam naskah W. 185 tertulis diparangnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 4, 2013 by in Filologi.
%d bloggers like this: