Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Review Public Lecture “Islam And Multikulturalisme In The Global World”

Kuliah umum ini menghadirkan Prof. DR. Robert Hefner, seorang professor bidang antropologi Universitas Boston. Beliau menyampaikan bahwa ada tiga aspek yang akan disampaikan pada kuliah umum ini. Pertama, beliau akan membahas mengenai refleksi umum. Pada aspek ini beliau akan menyampaikan terlebih dahulu asal-usul multikulturalisme. Kedua, beliau akan menyampaikan tantangan multikulturalisme itu sendiri. Khususnya, Asia Tenggara.  Terakhir, beliau akan menyampaikan mengenai Islam dan multikulturalisme di Indonesia.

Ada pendapat dari salah satu pemikiran barat yang terkenal mengenai sebuah negara, yaitu John Stuard Mill. Ia menyampaikan bahwa negara terbentuk atas dasar yang sama dalam hal etnis, bahasa, dan nasionalisme. John Stuard Mill juga berpendapat bahwa tidak ada kewarganegaraan yang bersifat multikulturalisme. Pendapat ini tentu saja sangat berbenturan dengan kondisi Indonesia. Kemudian setelah perang dunia, terdapat pendapat mengenai negara. Saat itu ada pendapat bahwa kewarganegaraan bisa didirikan atas dasar mejemuk, Pendapat setelah perang dunia ini merupakan sebuah opini yang berbeda dengan pemikiran sebelumnya. Meskipun kewarganegaraan sudah bisa didirikan atas dasar kemajemukan, tetapi di saat yang sama muncul pula permasalahan mengenai etnis, agama, dan lain sebagainya.

Setelah memaparkan perkembangan mengenai pemikiran sebuah negara, maka Prof. DR. Robert Hefner melanjutkan membahas tantangan multikulturalisme. Tantangan ini muncul dari adanya kewarganegaraan yang bersifat majemuk. Kemajemukan tersebut juga melahirkan permasalahan. Permasalahan tersebut membuat suatu tantangan dalam hal demokrasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan bahwa bagaimana bila warga negara semakin majemuk. Multikulturalisme tersebut sebenarnya mempunyai makna bahwa keberagaman tidak hanya ditolerir saja, tetapi juga harus diterima oleh masyarakat. Hal ini disebabkan mentolerir dan menerima merupakan hal yang berbeda.

Asia Tenggara memiliki peranan penting dalam hal pembentukan multikulturalisme. Namun, terdapat keanehan multikulturalisme yang berkembang. Asia tenggara merupakan contoh dari multikulturalisme itu sendiri dan hal ini dipelajari oleh orang barat. Multikulturalisme yang sedang dipejari oleh orang barat tersebut berkembang menjadi pluralisme. Meskipun Asia Tenggara sudah terbentuk atas dasar majemuk, tetapi masih saja terdapat keanehan yang terjadi. Keanehan tersebut adalah adanya pembagian kerja menurut ras dan etnis tertentu.

Hal yang menarik dari melayu adalah adanya upaya menggali tradisi Islam yang meminjam multikulturalisme. Indonesia sebagai salah satu negara muslim telah mempunyai pendidikan mengenai Islam sejak abad ke-19. Pendidikan Islam tersebut dilihat dari berkembangnya pula Madrasah atau pondok pesantren. Penyebaran Madrasah beriringan dengan penyebaran jiwa nasionalisme saat itu. Nasionalisme merupakan hal yang tak asing lagi oleh warga Madrasah. Dengan adanya pengetahuan nasionalisme di Madrasah, maka hal ini memunculkan pandangan bahwa Indonesia telah memiliki realitas politik yang maju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 3, 2013 by in Artikel.
%d bloggers like this: