Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Laporan Bacan Sejarah Perkembangan Dialektologi

Berdasarkan buku Dialektologi: Sebuah Pengantar[1], Ayatrohaedi membagi perkembangan dialektologi menjadi dua masa, yaitu masa sebelum 1875 dan masa sesudah 1875. Pada masa sebelum 1875, tulisan mengenai dialek masih dikaitkan dengan tulisan dalam bidang bahasa bandingan dan filologi. Awalnya, untuk mengetahui batas-batas bahasa dan dialek dilakukan metode pupuan lapangan, yaitu metode yang mengumpulkan data secara langsung atau lisan. Namun, ada pula metode pupuan sinurat, yaitu metode yang mengumpulkan data dengan mengirimkan daftar tanyaan kepada informan. Kemudian berkembang pula penelitian kaidah fonetik yang dilanjutkan dengan pembuatan peta bahasa untuk memperoleh gambaran kedudukan dialek yang satu dengan yang lainnya. Pada masa sesudah 1875 terdapat dua aliran, yaitu aliran Jerman dan aliran Perancis.

Aliran Jerman ini diprakarsai oleh filsuf bernama Gustav Wenker yang mengumpulkan bahan dengan mengirimkan daftar tanyaan kepada guru di daerah Renia dan memperlihatkan hasilnya dalam peta. Dalam penelitiannya, Wenker juga meminta informannya menuliskan nama, petunjuk jelas tentang tempat lahir, serta adat istiadat yang dilakukan di balik halaman jawaban. Hasilnya, peta bahasa Wenker banyak mendapat kritik karena metode yang digunakan tidak mencerminkan kenyataan yang ada. Hal tersebut disebabkan metode pupuan lapangan secara ilmiah jauh lebih bernilai daripada pupuan sinurat. Tidak hanya masalah metode, fokus perhatian telah merambah mengenai keterkaitan sejarah, dunia kebahasaan, dan penambahan kosakata data.

Pada aliran Perancis lebih menekankan pada kaidah fonetik dengan menggunakan metode pupan lapangan dan metode pupuan sinurat sudah tidak lagi digunakan. Perluasan dari masa sebelumya adalah menelaah naskah tua dan membandingkan bahasa masa kini dengan bahasa masa lampau yang terkubur dalam naskah tua. Pemilihan tempat penelitian berdasarkan peranannya sebagai pusat sebaran bahasa, pusat kegiatan ekonomi, daerah kegerejaan, dan desa yang memperlihatkan ciri-ciri kepurbaan. Penelitian geografi dialek Perancis ini dilatarbelakangi oleh seruan Gaston Paris yang dilakukan oleh Gillieron dengan bantuan Edmond Edmont.


[1] Ayatrohaedi. 1983. Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 9, 2013 by in Linguistik.
%d bloggers like this: