Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Mazhab Jerman dan Perancis dalam Dialektologi

Dalam buku Dialektologi: Sebuah Pengantar, Ayathaedi membagi masa perkembangan dialektologi sesudah 1875 menjadi dua aliran atau mazhab, yaitu mazhab Jerman dan Perancis. Mazhab Jerman mempunyai ciri-ciri menggunakan metode pupuan sinurat dalam penelitian mencari variasi bahasa. Metode pupuan sinurat adalah metode dengan mengirimkan daftar tanyaan kepada informannya. Untuk mencegah kekeliruan mengisinya, disertakan pula penjelasan terkait penelitian yang sedang dilakukan. Latar belakang informan juga didapat dari pengarahan informan untuk menuliskan nama, petunjuk jelas tentang tempat lahir, dan adat istiadat yang dilakukan di balik halaman jawaban. Tidak hanya itu, daftar tanyaan dalam penelitian awalnya hanya berisi 40 kalimat sederhana dan berkembang menjadi 180 kata serta 12 kalimat. Kemudian, penelitian juga meluas dengan mencari faktor kesejarahan. Hasil dari penelitian tersebut kemudian dipetakan menjadi peta bahasa.

Kelebihan mazhab ini adalah penelitian dapat dilakukan dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan mazhab yang lain. Hal ini disebabkan penelitian dilakukan dengan menyebarkan daftar tanyaan. Pengumpulan daftar tanyaaan juga dapat mempermudah penelitian di daerah yang sangat luas. Mazhab ini juga menghasilkan atlas bahasa, atlas folklore, dan atlas toponimi. Namun, kekurangan mazhab ini adalah hasil penelitian dianggap tidak mencerminkan keadaan yang ada karena pengalihtulisan secara fonetis tidak dilakukan. Padahal, hal tersebut sangat penting dalam kajian kebahasaan. Selain itu, informasi mengenai keadaan tempat, latar belakang informan dan lain sebagainya tidak begitu detail karena informan tidak mempunyai patokan yang jelas terkait pengisian hal tersebut. Dengan kata lain, bisa dikatakan muncul jawaban yang tidak sesuai dengan kehendak peneliti sehingga harus mengulang atau mencari informan kembali. Kemudian distribusi daftar tanyaan bisa saja tidak tepat sasaran karena daftar tanyaan dititipkan dan bukan diantarkan langsung oleh peneliti.

Berbeda dengan mazhab Jerman, mazhab Perancis mempunyai ciri-ciri menggunakan metode pupuan lapangan. Cara kerja metode tersebut adalah dengan melakukan obrolan langsung dengan target informannya. Metode pupuan lapangan ini pun mengarahkan kepada pembuatan peta bahasa. Selain itu, pemilihan tempat berdasarkan peranannya sebagai pusat sebaran bahasa, pusat kegiatan ekonomi modern, daerah kegerejaan, dan desa yang memperlihatkan ciri kepurbaan. Kemudian daftar tanyaan yang diajukan dalam penelitian awalnya adalah 200 kata dan berkembang menjadi 100 kalimat sederhana. Sementara itu, mazhab ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan mazhab ini adalah hasil penelitian dapat menggambarkan keadaan yang ada karena menggunakan sistem wawancara langsung. Lalu tidak adanya kesalahan mengartikan pertanyaan karena peneliti yang mewawancarai informan secara langsung dan dapat mengulang jika informan kurang paham. Pengalihtulisan secara fonetis dapat dilakukan. Hal tersebut disebabkan penelitian langsung dilakukan oleh peneliti yang mengerti pengalihtulisan secara fonetis sehingga data lebih akurat. Kekurangan mazhab ini adalah membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan penelitian karena hanya peneliti yang melakukan wawancara, sedangkan tempat yang diteliti banyak.

Jika dikaitkan dengan Indonesia, mazhab yang cocok diterapkan di negara agraris ini adalah mazhab Perancis. Hal tersebut disebabkan mazhab perancis menggunakan metode pupuan lapangan. Metode tersebut menggunakan wawancara langsung kepada informannya. Meskipun membutuhkan waktu yang lama, tetapi hasilnya akan memperlihatkan kondisi kebahasaan yang ada karena dilakukan langsung oleh peneliti. Jika menyebarkan daftar tanyaan, maka sudah dipastikan tidak akan berjalan. Hal tersebut disebabkan tidak semua orang mengerti maksud penelitian dan bisa saja tidak tepat sasaran. Bahkan, bisa saja informan tersebut buta huruf sehingga perlu bantuan orang yang mengerti tulisan. Selain itu, letak geografis Indonesia yang luas dan berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya tidak memungkinkan pendistribusian daftar tanyaan. Bahasa juga bisa menjadi kendala karena tidak semua masyarakat mengerti bahasa Indonesia, terutama masyarakat di daerah terpencil.

DAFTAR PUSTAKA

Ayathaedi. 1983. Dialektologi: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 15, 2013 by in Linguistik.
%d bloggers like this: