Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Metode Whole Language dan Communicative Language Teaching

No.

Hal-hal yang dilaporkan

Whole Language

Communicative Language Teaching

1.

Teori Bahasa

Definisi teori ini dikemukakan oleh Brenner (1990) yang berpendapat bahwa “Whole Language” adalah cara mengajar prapembaca, membaca dan keterampilan bahasa lainnya melalui keseluruhan proses yang melibatkan bahasa, menulis, berbicara, mendengarkan cerita, mengarang cerita karya seni, bermain drama, maupun melalui cara-cara yang lebih tradisional. Communicative Language Teaching berasal dari perubahan pada tradisi pengajaran bahasa di Inggris pada akhir tahun 1960 dan kemunculannya dipertegas oleh:

  1. Kegagalan Audio Lingual Method yang menghasilkan penutur bahasa asing atau bahasa kedua yang baik dan fasih tetapi tidak mampu menggunakan bahasa yang dipelajari dalam interaksi yang bermakna.
  2. Pandangan Chomsky tentang kreatifitas dan keunikan kalimat sebagai ciri dasar sebuah bahasa

2.

Teori Belajar

– Melibatkan lingkungan dan pengalaman nyata yang dialami anak-anak.- Penyampaian menyeluruh dan melibatkan berbagai disiplin ilmu.- Menggunakan pendekatan tematik, programnya disusun berdasarkan pendekatan fungsional dan memperhatikan perkembangan anak, baik perkembangan fisik, sosial-emosi, dan mental intelektual. Fokus metode ini pada dasarnya adalah elaborasi dan implementasi program dan metodologi yang menunjang kemampuan bahasa fungsional melalui partisipasi pembelajaran dalam kegiatan-kegiatan komunikatif serta tidak hanya sekadar mengetahui sistem kaidah-kaidah gramatikal (fonologi, sintaksis, kosakata, dan semantik)

3.

Tujuan Pengajaran

Mengintegrasikan seluruh keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis) dan komponen kebahasaan (tata bunyi, tata bentuk, tata kalimat, dan tata makna) serta penggunaan multimedia yang dikaitkan dengan pengalaman lingkungan dan pengembangan fisik, sosial, mental, intelektual dan emosi anak. – Menjadikan kompetensi komunikatif (communicative competence) sebagai tujuan pengajaran bahasa dan untuk mengembangkan teknik-teknik serta prosedur pengajaran ketrampilan bahasa yang didasarkan atas aspek saling bergantung antara bahasa dan komunikasi.- Kompetensi komunikatif mencakup kompetensi gramatika, sosiolinguistik, dan strategi. Kemampuan komunikatif berbahasa (communicative language ability) meliputi pengetahuan atau kompetensi dan kecakapan dalam penerapan kompetensi tersebut dalam penggunaan bahasa yang komunikatif, kontekstual, dan sesuai.

4.

Peran peserta/siswa/pemelajar

– Bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pelajari dan mendapat dukungan penuh dalam mengembangkan dan memenuhi tujuan pembelajarannya.- Memecahkan berbagai persoalan dan mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan.- Mengembangkan kemampuan berbicara dan dituntut aktif Dalam pengajaran bahasa komunikatif, siswa memiliki peran yang lebih banyak. Suksesnya suatu aktivitas bergantung kepada siswa yang melakukan aktivitas tersebut. Selain itu, siswa juga menjadi lebih banyak bicara daripada guru dalam sebuah aktivitas.

5.

Peran guru/instruktur/pengajar

– Peran guru di kelas whole language  hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru.- Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.- Guru di kelas whole language menghargai perbedaan di antara para pembelajar

– Meskipun para guru di kelas whole language bertanggung jawab terhadap pertumbuhan para pembelajar, tetapi mereka tetap memiliki kewenangan dalam merencanakan, mengorganisasikan, dan memilih sumber-sumber belajar yang diperlukan oleh pembelajar.

– Guru membantu pembelajar dengan berbagai cara yang dapat memberi motivasi kepada mereka dalam belajar bahasa.- Guru menjadi orang yang memfasilitasi, berpartisipasi dalam aktivitas, mengatur dan menjadi sumber informasi, dan membimbing dalam aktivitas.

6.

Peran materi

– Materi diberikan sebagai umpan menggali kemampuan berbahasa anak.- Setiap aktivitas, pengalaman, atau unit memiliki kesepakatan dalam pengembangan linguistik dan sekaligus kognitif. Bahasa dan pikiran berkembang, tetapi pada saat yang bersamaan pengetahuan dan konsep dikembangkan disamping skema dibangun.- Menyusun, menciptakan, dan menemukan pemecahan terhadap berbagai persoalan secara aktif.

– Mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa dalam konteks yang bermakana. Misalnya, berbicara dengan guru dan kelompok, bermain peran, bercerita, membawa sesuatu dari rumah dan menceritakannya di kelas.

Materi yang digunakan dalam pengajaran komunikatif adalah materi text-based, materi task-based, dan realia. Materi text-based adalah buku cetak yang digunakan di kelas. Materi text-based adalah materi yang digunakan dalam simulasi, role play game, di luar buku cetak. Realia adalah materi yang diambil dari kehidupan nyata yang penggunaan awalnya bukan untuk belajar mengajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 22, 2013 by in Linguistik.
%d bloggers like this: