Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Review Pementasan Teater Pagupon “The Sphinx Apple” Karya O.Henry

Image

Pada suatu malam, terdapat lima penumpang kereta kuda dan kusirnya terpaksa menghabiskan malam di sebuah rumah tak berpenghuni dan terbengkalai. Lima penumpang tersebut adalah Nona, Hakim, Pengusaha, Penjual, dan Bukan Siapa-Siapa. Dari keenam orang tersebut, hanya ada satu wanita, yaitu nona. Wanita tersebut begitu disanjung dan dihormati oleh kelima pria tersebut. Tak heran, Nona mendapat perlakuan yang sedikit berbeda, terutama dari Hakim. Mungkin, kedudukan Hakim yang bisa dibilang tinggi menjadi alasan pria lainnya tidak mengelak. Semua orang yang terpaksa bermalam di rumah atau pondok kayu tersebut pun terheran. Pasalnya, tidak ada orang yang merawat atau menghuni pondok tersebut. Tetiba, Kusir mengingat bahwa pondok tersebut adalah rumah milik seorang bernama Red. Kusir juga mengungkapkan bahwa kabar tentang Red telah menyebar luas. Kabarnya, pemilik pondok kayu tersebut mengalami gangguan kejiwaan dan dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa.

Beragam spekulasi pun mengisi ruang imajinasi setiap orang yang berada di pondok kayu tersebut. Sementara itu, Penjual menemukan sebuah apel di dekat posisi duduknya. Semua mata langsung menatap sebuah apel yang ditemukan penjual. Apel tersebut merupakan makanan satu-satunya yang dimiliki keenam orang tersebut. Maka dari itu, apel tersebut layak menjadi rebutan sebagai pengisi perut. Hakim langsung mengusulkan sebuah kompetisi untuk dapat memakan apel tersebut. Kompetisinya adalah semua pria bercerita tentang kronologi Red, pemilik pondok, sampai mengalami kejiwaan dengan gambaran masing-masing. Cerita yang masuk akal dan logis akan memenangkan apel tersebut. Hakim pun menunjuk Nona sebagai penilai cerita. Apel tersebut pun langsung diberikan kepada Nona supaya tidak ada yang mendahului memakannya.

Dimulai dari Kusir, cerita dimulai dengan penggambaran yang berbeda-beda. Penutup cerita adalah Bukan Siapa-Siapa. Dari kelima pria tersebut, semua menggambarkan bahwa Red mengalami kejiwaan karena perilaku Red sendiri. Semua kebodohan dan kegagalan yang dialami Red adalah salah pria tersebut. Bahkan, kelima pria tersebut pun menyalahkan sejenisnya sendiri. Begitu Bukan Siapa-Siapa menyelesaikan cerita mengenai Red, Hakim memanggil Nona untuk menyampaikan hasil kompetisi cerita. Namun, Nona ternyata telah tertidur. Hal yang di luar dugaan pun terjadi. Apel yang menjadi rebutan lima pria tersebut terjatuh dari genggaman Nona. Akhirnya, lima pria menelan kekecewaan karena apel tersebut telah dimakan oleh Nona.

Cerita di atas adalah cerita pendek “The Sphinx Apple” karya O.Henry. Cerita tersebut dipentaskan oleh Teater Pagupon, Universitas Indonesia pada hari Sabtu, 31 Agustus 2013. Bertempat di @america, Pacific Place, produksi ke-88 ini sukses dibawakan oleh Cindy Audilla sebagai Nona, Hapis Sulaiman sebagai Hakim, Anas Prambudi sebagai Kusir, Dimas Wahyu sebagai Pengusaha, Victor Saut sebagai Penjual, dan Agung Suharjanto sebagai Bukan Siapa-Siapa. Teater Pagupon adalah teater yang didirikan pada Desember 1984 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rawamangun (sekarang, Fakultas Ilmu Pengetahua Budaya, Universitas Indonesia). Pembentukan Teater Pagupon dilandasi oleh kebutuhan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, akan wadah untuk menampung ekspresi kesenian, khusunya seni pertunjukkan. Teater Pagupon juga menjadi tempat mempraktikkan pengetahuan dan kemampuan analisis mahasiswa terhadap karya sastra, terutama drama. Sebelum pementasan “The Sphinx Apple”, Teater Pagupon telah mementaskan “Bulan Bujur Sangkar” di Auditorium Gedung IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Pementasan yang disutradarai oleh Dania Sunarto ini dapat menambah pemahaman tentang perspektif yang tengah beredar di masyarakat. Perspektif tentang wanita adalah makhluk suci dan agung yang tidak akan melakukan kesalahan sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Sekarang, pria dan wanita sama-sama mempunyai kemungkinan untuk melakukan kesalahan. Entah, pria yang berada di dalam cerita yang bodoh atau kelima pria tersebut yang terbelenggu pandangan mengenai wanita. Pesan moral yang dapat diambil adalah jangan terlalu mengagungkan sesuatu secara berlebihan karena dapat saja sesuatu yang diagungkan tersebut membuat kecewa. Dalam cerita di atas, wanita begitu diagungkan dan terlihat dari cerita kelima pria yang tidak menyalahkan wanita dalam kehidupan Red. Selain itu, wanita diagungkan dapat terlihat juga dari tidak adanya pikiran bahwa Nona akan memakan apel. Padahal, semua orang pasti lapar.

Cerita di atas dipentaskan dengan latar belakang Amerika tahun 1900-an. Setting tersebut terlihat dari kostum para pemain yang sangat memperlihatkan tahun terjadinya cerita. Setting panggung adalah ruangan di dalam rumah atau pondok kayu. Properti yang terdapat di panggung hanya ada kursi untuk duduk. Panggung di @america yang canggih membuat perapian di dalam rumah divisualisasikan dengan menggunakan layar. Bahkan, pada saat para pemain bercerita tentang Red, di belakang pemain terdapat layar yang menggambarkan pemikiran cerita pemain tersebut. Kemewahan tempat tersebut memudahkan penonton menginterpretasikan cerita.

2 comments on “Review Pementasan Teater Pagupon “The Sphinx Apple” Karya O.Henry

  1. cindyaudilla
    December 2, 2014

    Sphinx Apple, bukan Spinx.:)

    • IKO
      January 16, 2015

      terima kasih ya Cindy atas koreksinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 24, 2013 by in Artikel.
%d bloggers like this: