Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Keterkenalan Tokoh Ruhut Sitompul dalam Berita “Serangan Balik Bang Poltak” di Koran Tempo

Image

Seorang wartawan harus mempertimbangkan nilai berita ketika hendak menulis berita. Nilai berita tersebut memainkan peran penting dalam sebuah cerita berita. Nilai berita juga harus berhubungan dengan gagasan dominan tentang bagaimana masyarakat bekerja, apa yang dianggap penting, dan apa yang dianggap menarik bagi audiens[1]. Menurut Kusumaningrat, unsur-unsur nilai berita adalah aktualitas (timeliness), kedekatan (proximity), keterkenalan (prominence), dampak (consequence), dan human interest. Dalam hal ini, nilai berita yang akan diangkat adalah nilai keterkenalan. Nilai tersebut menyangkut tokoh terkenal (prominent names) karena akan menarik pembaca. Dalam ungkapan jurnalistiknya personages makes news dan news about prominent persons make copy. Nama-nama terkenal ini tidak harus diartikan orang saja, dapat pula tempat terkenal, peristiwa terkenal, dan situasi terkenal yang memiliki nilai berita tinggi.

Pada Koran Tempo edisi Rabu, 25 September 2013 dalam rubrik nasional terdapat berita yang nilainya atas keterkenalan tokoh. Keterkenalan tokoh tersebut dapat terlihat dari judul berita, yaitu “Serangan Balik Bang Poltak”. Judul yang provokatif tersebut membuat nilai berita semakin tinggi. Nilai berita tersebut menjadi tinggi karena judul yang diberikan mengundang tanya dan penasaran  masyarakat akan perilaku apa yang akan dibuat oleh Ruhut Sitompul. Terlebih lagi, tokoh yang diperbincangkan adalah Ruhut Sitompul, anggota DPR RI dan sekaligus anggota Partai Demokrat. Nama Ruhut terkenal sejak dia bermain sebagai tokoh pongah Poltak yang mengaku Raja Minyak dari Tarutung di sinetron Gerhana. Selain itu, gaya berbicara yang sangat kental dengan suku Batak ini menambah keidentikkan Ruhut sebagai sebutan Bang Poltak yang memang dari Batak. Ketenaran nama Poltak, pada sinetron Gerhana lebih melekat di masyarakat daripada Ruhut Sitompul. Oleh sebab itu, Koran Tempo menyebutkan Bang Poltak sebagai sebutan karena sebutan tersebut sudah sangat akrab dengan dri Ruhut Sitompul.

Berita yang bisa dikatakan sebagai jurnalisme sastrawi ini juga menjadi menarik dibaca karena adanya tokoh yang dikenal masyarakat. Tokoh Ruhut Sitompul menjadi menarik karena kiprahnya yang sering membuat kontroversi. Ruhut Sitompul merupakan seorang loyalis Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan dikenal sebagai mantan pengacara kondang sebelum akhirnya menjadi anggota DPR pusat melalui daerah pemilihan (dapil) Sumut 3 pada tahun 2009. Semasa masih menjadi pengacara, Ruhut sudah banyak dikenal publik sebagai sosok yang lantang dan nyeleneh dalam berbicara apalagi dengan lawan kliennya termasuk saat dia berseteru dengan sesama pengacara, yaitu Hotman Paris Hutapea.Mantan pemeran Poltak dalam sinetron Gerhana inipun tetap menjadi sorotan media setelah menjadi anggota DPR karena ucapannya yang nyeleneh termasuk saat beliau bertengkar dengan politisi PDIP, Gayus Lumbun ketika mereka sama-sama menjadi anggota panitia khusus (pansus) kasus Bank Century yang menyeret nama wakil presiden Boediono dan mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Ruhut yang saat itu ditugaskan partainya untuk menjadi pemecah suasana sidang yang kerap memojokkan kedua orang tersebut, justru menjadi bulan-bulanan politisi lain sehingga dia tidak bisa menahan emosi saat beradu argumen dengan gayus lumbun dan melontarkan kata-kata tidak wajar sehingga mengundang banyak protes dan komentar miring dari kalangan masyarakat.

Semenjak kejadian tersebut, kehadiran Ruhut selalu membawa berita menarik karena tindakan dan komentar yang dilakukan tidak terduga atau bisa dikatakan tidak seperti kebanyakan anggota DPR lainnya. Sikap arogan, nyeleneh, dan gaya berbicara keras yang dimiliki Ruhut membuat banyak spekulasi untuk diperbincangkan. Hal tersebut dikarenakan Ruhut adalah seorang anggota DPR RI. Anggota DPR adalah wakil rakyat yang memperjuangkan aspirasi rakyat dan seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat. Sikap yang ditampilkan Ruhut di depan media tersebut mendapat perhatian masyarakat karena tidak sesuai dengan kedudukan dan posisinya di DPR. Jika Ruhut hanya seorang pengacara, maka sikapnya tersebut tidak akan menjadi sorotan publik.

Dalam hal ini, berita yang berjudul “Serangan Balik Bang Poltak” mengandung unsur drama yang kelanjutannya sangat dinantikan oleh masyarakat. Isi beritanya adalah penunjukkan Ruhut menjadi Ketua Komisi III DPR RI yang banyak mendapat penolakan dari fraksi-fraksi lainnya. Hal tersebut disebabkan ketidakterimaan fraksi-fraksi lain karena sikap dan perbuatan Ruhut yang dinilai kurang baik sehingga tidak pantas menjadi Ketua Komisi III DPR RI. Sikap dan perilaku Ruhut yang kurang baik tersebut adalah pengakuan masa lalu Ruhut yang melakukan kumpul kebo dan tidak mengakui anaknya sebelum menjadi anggota DPR. Meskipun demikian, Ruhut juga membantah tudingan miring yang dihujatkan kepada dirinya. Ciri khas Ruhut yang arogan tersebut membuat berita menarik dan orang ingin mengetahui sikap apa lagi yang akan dilakukan Ruhut terhadap tudingan miring tersebut. Sikap arogan yang tidak terduga dan sering memunculkan kontroversi adalah hal yang ditunggu pembaca dan memiliki nilai berita tinggi. Hal tersebut disebabkan perkembangan berita tersebut masih terus akan diikuti oleh pembaca hingga adanya penyelesaian mengenai pengangkatan Ruhut sebagai Ketua Komisi III DPR RI.


[1] Sardar, Ziauddin. 2008. Membongkar Kuasa Media. Jogjakarta: Resist Book.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 1, 2013 by in Artikel.
%d bloggers like this: