Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Hubungan Bahasa, Kelas Sosial, dan Usia dalam Masyarakat

  1. Pendahuluan

Revolusi Industri di Inggris pada akhir abad ke-18 mempengaruhi segala aspek dari tatanan sosial, politik, dan ekonomi, khususnya masyarakat Eropa. Hal tersebut bermula dari perubahan struktur ekonomi di Inggris. Perubahan tersebut adalah perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industrialisasi modern. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perdagangan internasional, kolonialisme, dan penemuan alat baru. Perubahan yang terjadi adalah perbedaan pola kerja, struktur sosial, dan standar hidup. Perubahan tersebut membuat adanya penamaan kaum kapitalis dan kaum proletar. Marx menyebutkan bahwa kaum kapitalis adalah orang yang mempunyai alat produksi atau bisa dikatakan sebagai pemilik pabrik, sedangkan kaum proletar adalah orang yang menjual tenaga kerjanya kepada kaum kapitalis atau bisa dikatakan sebagai buruh (Giddens 2001: 284). Karl Marx memulai teori tentang kelas berdasarkan keadaan masa revolusi industri di Inggris. Pada masa tersebut pemilik pabrik atau kaum kapitalis melakukan eksploitasi secara berlebihan kepada buruh atau kaum proletar. Selain itu, pemilik pabrik juga melakukan kontrol yang sangat ketat kepada buruh sehingga memunculkan kesenjangan dan pemisahan kelas.

Hubungannya dengan Sosiolinguistik adalah pemisahan kelas di Inggris membuat perbedaan berbicara pada tingkatan dialek atau aksen. Misalnya, di Inggris ada anggapan bahwa bahasa daerah perkotaan sering diidentikan dengan kelas pekerja. Tidak hanya itu, perbedaan penempatan kelas yang didasarkan kepada faktor ekonomi dan budaya tersebut juga membuat adanya perbedaan gaya berbicara di masing-masing kelas. Hal tersebut membuat adanya penerimaan pengucapan yang seragam dari tiap kalangan. Misalnya, pengucapan yang seragam dari kalangan elit, seperti kapitalis, pemilik tanah, pegawai negeri sipil, dan aristokrat atau kaum bangsawan. Kalangan elit tersebut menyeragamkan pengucapan yang berbeda dari kalangan lainnya yang tidak mempunyai kekuatan ekonomi dan budaya. Perbedaan bahasa tersebut dapat dilihat lebih dalam berdasarkan faktor kelas sosial dan usia pemakai bahasa tersebut. Hal tersebut disebabkan dalam sosiolinguistik masyarakat dibedakan berdasarkan gender, usia, dan kelas sosial. Namun, dalam tulisan ini kami tidak akan memuat perbedaan bahasa berdasarkan gender karena pembahasan tersebut akan dijelaskan pada bab yang berbeda.

II.    Bahasa dan Kelas Sosial

Menurut Milroy dan Gordon (2003:40), pembagian kelas sosial pernah digunakan dalam penelitian linguistik oleh beberapa peneliti, antara lain Labov (1966), Wolfram (1969), Trudgill (1974), Macaulay (1977), dan Chambers (1995). Beberapa peneliti itu menggunakan pembagian kelas sosial yang berbeda-beda. Dalam tulisan ini akan diulas pembagian kelas sosial dari Labov dan Chamber. Tahun 1966, William Labov menerbitkan hasil penelitiannya tentang tutur kota New York yang berjudul The Social Stratification of English in New York City (Lapisan Sosial Bahasa Inggris di Kota New York). Labov, dalam penelitiannya membuktikan bahwa seseorang individu dari kelas sosial tertentu, umur tertentu, dan jenis kelamin tertentu akan menggunakan variasi bentuk tertentu dalam situasi tertentu. Tidak hanya itu, Labov juga membagi kelas sosial menjadi empat kelas, yaitu kelas menengah bawah, kelas pekerja, kelas menengah, dan kelas menengah atas.

Aksen atau dialek berkaitan dengan anggapan sosial di masyarakat. Berdasarkan penelitian Labov, kelas pekerja tidak mengucapkan [r], seperti pada kata guard dan bird. Hal tersebut berbanding terbalik dengan anggapan sosial di masyarakat bahwa orang akan mengucapkan [r] dalam situasi formal. Berdasarkan hal tersebut, bisa dikatakan bahwa kelas menengah atas akan mengucapkan [r]. Sementara itu, kelas menengah kebawah mengucapkan [r] dalam situasi formal. Dari semua kelas sosial, hanya kelas pekerja yang tidak mengucapkan [r] dalam situasi formal. Namun, intensitas pengucapan [r] paling banyak dilakukan oleh kelas menengah kebawah. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa kelas menengah kebawah ingin dilihat sebagai kelas yang lebih tinggi sehingga masyarakat kelas menengah kebawah tersebut mengucapkan [r]. Anggapan kelas menengah kebawah yang harus mengucapkan [r] untuk setiap ucapan membuat perbedaan semakin terlihat. Padahal, kelas menengah atas mengucapkan [r] tidak untuk semua ucapan.

Selain Labov, Chambers juga memaparkan pembagian kelas sosial yang berkaitan dengan penelitian bahasa. Menurut Chambers, pembagian kelas sosial dapat ditentukan oleh beberapa variabel. Salah satunya adalah pekerjaan. Berdasarkan pekerjaan, Chambers (2003:42) membagi kelas sosial menjadi tiga, yaitu masyarakat kelas sosial atas, menengah, dan bawah. Masyarakat kelas sosial atas adalah orang-orang yang bekerja sebagai pengusaha, direktur, dan penerima warisan kekayaan. Masyarakat kelas sosial menengah adalah orang-orang yang bekerja sebagai ahli dan kepala bagian. Masyarakat kelas bawah adalah orang-orang yang bekerja sebagai buruh, pembantu, penjaga toko, dan pekerja kasar lainnya yang mengandalkan kekuatan serta tenaga saja.

III. Bahasa dan Usia

Berbeda dengan gender, etnis, atau kelas sosial, usia mendapatkan perlakuan sebagai fakta biologis dengan berbagai kategori pembicara dan melawan segi lain dari identitas yang dikeluarkan. Usia dapat dikatakan sebagai ukuran pokok dari identitas personal atau sosial sebagai gender dan etnis yang kita miliki. Sebagian besar masyarakat meyakini bahwa usia dapat memengaruhi apa yang kita harus lakukan dan apa yang tidak harus kita lakukan. Usia juga menentukan kapan kita bisa sekolah, menikah, bekerja, menaiki kendaraan, dan lain sebagainya. Bahkan, kita mampu memperkirakan usia seseorang dari kualitas suara dan perilaku linguistiknya. Misalnya, suara laki-laki akan bertambah berat seiring bertambahnya usia.

Sama seperti kelas sosial, perhatian utama usia dalam sosiolinguistik adalah variasi bahasa atau perubahan bahasa. Usia dapat juga sebagai perangkat metodologi yang dapat digunakan untuk mengukur perbedaan sosiolinguistik di tiap kelompok usia, seperti dialek atau aksen yang dapat berubah di masyarakat. Hubungan usia pembicara di masyarakat akan selalu berubah tergantung tahap kehidupan. Dalam hal ini, tahap kehidupan dibagi menjadi empat tahap, yaitu masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan usia tua. Pada masa kanak-kanak ada kecenderungan masih kurang memahami dengan baik akuisisi dari kompetensi sosiolinguistik. Hal tersebut disebabkan anak masih memperoleh pola dengan kontruksi fonologi dan tata bahasa. Pada saat pola kontruksi fonologi dan tata bahasa sudah diperoleh barulah pada tahap selanjutnya memperoleh pola konstruksi pragmatis dan sosiolinguistik. Paynes’s (1980) menyebutkan bahwa sebelum usia 8 atau 9, anak mampu memperoleh pergeseran vokal tertentu, tetapi bukan yang diperlukan untuk mengtahui leksikal. Sama dengan Payne’s, Chambers (1992) juga menemukan bahwa anak usia 9 tahun yang pindah dari Kanada ke Inggris akan mampu mengetahui pertentangan antara vokal tertentu, sedangkan anak usia di atas 13 tahun akan sulit memahami pertentangan vokal tertentu tersebut.

Menurut Chambers (2003: 194), masa remaja adalah masa berinovasi dalam perubahan secara linguistik. Contoh dari pendapat Chambers ini kami hubungkan dengan bahasa gaul dan bahasa alay di Indonesia. Bahasa gaul dan bahasa alay berkembang dan dipakai di kalangan remaja. Perbedaan bahasa gaul dan bahasa alay adalah anggapan sosial dan kelas sosial pemakai bahasa tersebut. Bahasa gaul lebih diidentikkan dipakai oleh kalangan menengah atas, sedangkan bahasa alay sering diidentikan dipakai oleh kalangan menengah bawah. Contoh bahasa gaul yang sering digunakan adalah pengucapan gue, elo, bokap, dan nyokap. Berbeda dengan bahasa gaul, perbedaan bahasa alay dengan bahasa Indonesia adalah bahasa alay menggabungkan huruf dan angka pada bentuk tulisan dan mengubah huruf pada kata-kata dalam bentuk lisan. Misalnya, kata apa diganti menjadi 4p4 dalam bentuk tulisan dan mengubah kata semangat menjadi cemungut dalam bentuk lisan.

Selanjutnya, masa dewasa adalah tahap yang mewakili kehidupan krusial selama meningkatkan standardisasi dan jangkauan linguistik setelah remaja. Selain itu, masa dewasa juga dapat dikatakan sebagai tahap kehidupan yang paling dieksplorasi dan masa yang memperlihatkan perbedaan dengan orang yang lain. Biasanya hal ini terlihat dari jenis perkerjaan yang dipakai oleh orang tersebut. Pada masa ini juga orang akan beralih dari bahasa gaul atau alay ke dalam bahasa baku karena adanya tuntutan pekerjaan untuk menyambung hidup. Pada masa tua, pendekatan bahasa sering dikaitkan dengan perspektif klinik. Hal tersebut disebabkan efek kehilangan pendengaran dan lain sebagainya. Tentu saja, kemampuan berbahasanya juga tidak akan sama dengan masa dewasa. Terlebih lagi, pada masa tua ada perpindahan kegiatan sebagai individu dan kelompok usia.

IV. Keterkaitan Bahasa, Kelas Sosial, dan Usia dalam Masyarakat Indonesia

Dalam buku An Introduction to Sociolinguistics, Holmes tidak menjelaskan keterkaitan bahasa, kelas sosial, dan usia. Beliau hanya membagi keterkaitan bahasa dengan kelas sosial dan bahasa dengan usia. Oleh karena itu, kami akan menjelaskan keterkaitan bahasa, kelas sosial, dan usia. Menurut kami, kelas sosial dan usia memengaruhi pemerolehan bahasa di masyarakat. Orang yang mempunyai kedudukan tinggi yang sedang masa dewasa akan mempunyai bahasa yang lebih baik daripada orang yang bekerja sebagai tukang becak yang sedang masa dewasa pula. Begitu pula dengan perbandingan bahasa anak berusia 10 tahun dari kelas menengah atas dan orang berusia 40 tahun dari kelas menengah kebawah. Anak berusia 10 tahun dari kelas menengah atas akan lebih baik bahasanya dibandingkan orang berusia 40 tahun dari kelas menengah kebawah. Hal ini disebabkan adanya keterkaitan bahasa, kelas sosial, dan usia. Selain itu, hal tersebut juga disebabkan lingkungan anak usia 10 tahun dari kelas menengah atas yang mengucapkan bahasa dengan baik sehingga anak tersebut mendapatkan pemerolehan bahasa yang baik, sedangkan orang berusia 40 tahun dari kelas menengah bawah akan mengucapkan bahasa yang kurang baik karena lingkungannya juga mengucapkan bahasa yang kurang baik.

Selain lingkungan, keterkaitan bahasa, kelas sosial, dan usia berkaitan dengan tingkat pendidikan. Dalam hal ini, anak berusia 10 tahun dari kelas menengah atas pasti mendapatkan pendidikan dengan mutu yang baik sehingga pemerolehan bahasa anak berusia 10 tahun tersebut akan baik dan meningkat seiring bertambahnya tingkat pendidikan yang diperoleh. Hal tersebut berbeda dengan orang yang berusia 40 tahun dari kelas menengah bawah yang bisa saja tidak mendapatkan pendidikan formal sehingga orang tersebut hanya mendapatkan pemerolehan bahasa dari lingkungan yang bahasanya kurang baik. Bahkan, jika anak usia 10 tahun dari kelas menengah atas dibandingkan dengan orang berusia 10 tahun dari kelas menengah bawah bisa saja bahasa anak usia 10 tahun akan lebih baik daripada orang berusia 40 tahun. Padahal, seharusnya jika dilihat dari usia orang 40 tahun akan baik dalam berbahasa, tetapi adanya perbedaan kelas sosial juga membuat pemerolehan bahasa yang baik tidak didapatkan oleh orang tersebut.

Faktor terakhir berkaitan dengan bahasa, kelas sosial, dan usia adalah jaringan sosial. Jaringan sosial adalah keterkaitan orang dengan orang lain yang menyebabkan mereka saling berinteraksi satu sama lain dalam konteks tertentu. Konteks disini bisa diartikan dengan pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Misalnya, orang berusia 40 tahun yang bekerja sebagai tukang becak, maka jaringan sosialnya adalah sesama tukang becak dan penumpang becak yang biasanya juga berasal dari golongan menengah kebawah. Hal tersebut disebabkan kelas menengah atas tidak akan mau menaiki becak karena adanya sarana berupa mobil kecuali dalam keadaan terdesak. Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa bahasa tukang becak yang kurang baik dibanding kelas lainnya tidak akan berubah karena tidak mempunyai jaringan sosial dari kelas lainnya.

V.    Penutup

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa kelas sosial dan usia memengaruhi pemerolehan bahasa seseorang. Keterkaitan ketiganya dapat dilihat berdasarkan lingkungan, tingkat pendidikan dan jaringan sosial. Orang yang mempunyai lingkungan, tingkat pendidikan, dan jaringan sosial yang berasal dari kelas menengah kebawah akan berbeda dengan kelas menengah atas walaupun usia kelas menengah kebawah lebih tua dan kelas menengh keatas lebih muda dan sebaliknya. Kemudian berdasarkan teori kelas sosial dan bahasa terdapat dua penggolongan dari dua ahli, yaitu Labov dan Chambers. Labov membagi kelas menjadi kelas menengah bawah, kelas pekerja, kelas menengah, dan kelas menengah atas, sedangkan kelas bawah, menengah, dan atas. Dari segi usia, tahap kehidupan dibagi menjadi empat tahap, yaitu masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan usia tua.

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifiyani, Fini Rayi. 2011. Penerapan Kesantunan dalam Pertuturan yang Dikaitkan dengan Pembagian Kelas Sosial pada Sinetron Islam KTP. Skripsi Sarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Chambers, J.K. 2003. Sociolinguistic Theory. Oxford: Blackwell Publishing.

Janet, Holmes. 2008. An Introduction to Sociolinguistics: Third Edition. UK: Pearsoned Educational Limited.

Labov, William. 2001. Principle of Linguistic Change: Social Factors. Oxford: Blackwell Publishing.

One comment on “Hubungan Bahasa, Kelas Sosial, dan Usia dalam Masyarakat

  1. Pingback: Hubungan Kelas Sosial dalam Masyarakat | retnofitrii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 3, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: