Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Stereotip Perempuan dalam Puisi Perempuan Menumbuk Padi

  1. Pendahuluan

Di Indonesia banyak sekali anggapan sosial di masyarakat yang secara tidak langsung dapat merugikan perempuan maupun laki-laki. Anggapan tersebut ada yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif. Biasanya, anggapan sosial masyarakat di Indonesia membuat citra positif terhadap laki-laki dan negatif pada perempuan. Meskipun tidak semua citra positif pasti identik dengan laki-laki dan negatif identik dengan perempuan, tetapi bisa juga sebaliknya. Misalnya, masyarakat Indonesia menganggap bahwa laki-laki lebih kuat daripada perempuan sehingga perempuan dikategorikan sebagai manusia yang lemah. Hal tersebut memunculkan citra positif bagi laki-laki dan negatif bagi perempuan. Anggapan sosial tersebut secara tidak langsung juga memunculkan ketidakadilan dan diskriminasi gender.

Dalam Women’s Studies Encyclopedia menjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki–laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Hillary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex And Gender : An Introduction mengartikan gender sebagai harapan–harapan budaya terhadap laki–laki dan perempuan (cultural expectations for woman and men). H. T. Wilson mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif sebagai akibat mereka menjadi laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dan dikonstruksikan oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman.

Hal yang perlu diperhatikan dalam memahami konsep gender adalah ketidakadilan dan diskriminasi gender serta kesetaraan dan keadilan gender. Ketidakadilan dan diskriminasi gender melahirkan merginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan, dan beban sosial. Dalam tulisan ini, penulis ingin melihat salah satu bentuk ketidakadilan dan diskriminasi gender, yaitu stereotype. Salah satu bentuk ketidakadilan dan diskriminasi gender tersebut akan dilihat berdasarkan salah satu karya sastra berupa puisi. Hal tersebut disebabkan penulis ingin melihat apakah karya sastra berupa puisi juga ikut terpengaruh oleh anggapan sosial masyarakat atau stereotip yang membuat ketidakadilan dan diskriminasi gender. Selain itu, penulis juga ingin melihat anggapan sosial yang seperti apa yang terdapat dalam puisi. Oleh karena itu, penulis memilih puisi Perempuan Menumbuk Padi karya M.R Dajoh karena puisi tersebut mempunyai nilai anggapan sosial masyarakat.

II.  Puisi Perempuan Menumbuk Padi Karya M.R Dajoh

Blek-blok, blek-blok

Berjam-jam menumbuk padi,

Ia menyanyi sedikit-sedikit,

supaya kuat menumbuk padi,

supaya lupa tulang sakit,

disakiti alu berat!

Blek-blok, blek-blok!

Tiap hari menumbuk padi,

Alu berat melompat-lompat.

Sangat lelah menumbuk padi,

menjadi beras amat lambat,

alu terlalu amat berat!

Blek-blok, blek-blok!

Kekuatan menumbuk padi,

kekuatan berkurang-kurang,

Kesusahan menumbuk padi,

kesusahan menggarang-garang,

Aduhai!

Kemiskinan itu terlalu berat!

III.             Ketidakadilan dan Diskriminasi Gender

 Ketidakadilan dan diskriminasi gender merupakan kondisi tidak adil akibat dari sistem dan struktur sosial di dalamnya baik perempuan maupun laki-laki menjadi korban dari sistem tersebut. Pembedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan dapat terlihat melalui perbedaan sikap dan perilaku. Hal tersebut menimbulkan ketidakadilan yang telah mengakar dari sejarah, budaya, dan struktur sosial masyarakat. Ketidakadilan gender berasal dari keyakinan dan kebiasaan yang telah lama dilakukan sehingga sering dilakukan tanpa disadari. Ketidakadilan gender tidak hanya merugikan perempuan, tetapi laki-laki juga bisa terkena ketidakadilan gender. Meskipun demikian, ketidakadilan gender lebih banyak dialami oleh perempuan.

Bentuk ketidakadilan gender dimanifestasikan dalam bentuk marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan, dan beban kerja. Marginalisasi adalah proses peminggiran atas perempuan atau laki-laki yang disebabkan karena jenis kelaminnya. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender. Misalnya, banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat program pembangunan, seperti intensifikasi pertanian yang hanya memfokuskan pada petani laki-laki. Perempuan dipinggirkan dari beberapa jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih banyak memerlukan keterampilan yang biasanya dilakukan laki-laki. Sebaliknya, banyak lapangan pekerjaan yang memerlukan kecermatan yang menutup kemungkinan bagi laki-laki karena laki-laki dianggap kurang teliti dalam pekerjaan yang memerlukan kecermatan dan kesabaran. Selain itu, ada pula anggapan bahwa pekerjaan identik dengan jenis kelamin tertentu, seperti profesi sekretaris, perawat, dan guru kanak-kanak yang sering diidentikkan dilakukan oleh perempuan. Perbedaan tersebut juga dapat terlihat dari besarnya gaji yang diterima.

Subordinasi adalah keyakinan dan perilaku yang menunjukkan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap penting dibandingkan jenis kelamin lainnya. Anggapan bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan adalah salah satu contoh subordinasi. Selain itu, banyak sisi yang menempatkan perempuan dibawah laki-laki, seperti tradisi, tafsir agama, dan aturan birokrasi. Bentuk ketidakadilan gender selanjutnya adalah stereotip atau biasa disebut pelabelan. Stereotip ini sering memunculkan anggapan negatif dan melahirkan ketidakadilan. Dalam hal ini, pandangan terhadap perempuan bahwa tugas dan fungsinya melaksanakan tugas di rumah adalah ketidakadilan gender. Label kaum perempuan sebagai ibu rumah tangga akan sangat merugikan perempuan yang ingin aktif di birokrasi, bisnis, dan lain sebagainya.

Kekerasan sering disebabkan dari perbedaan peran yang muncul dalam berbagai bentuk. Kata kekerasan merupakan terjemahan dari kata violence yang artinya adalah suatu serangan fisik maupun nonfisik yang dialami perempuan maupun laki–laki. Dalam hal ini, perempuan sering menjadi korban kekerasan karena adanya anggapan bahwa perempuan lebih lemah daripada laki-laki. Anggapan tersebut muncul karena perbedaan fisik laki-laki dan perempuan. Padahal, belum tentu perempuan lebih lemah daripada laki-laki. Namun, sebagian besar laki-laki lebih kuat daripada perempuan sehingga sering adanya kekerasan perempuan. Terakhir, beban kerja (double burden) adalah suatu bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender berupa beban kegiatan yang harus dipikul lebih banyak oleh salah satu jenis kelamin. Misalnya, perempuan yang bekerja di luar rumah pasti juga akan mengerjakan pekerjaan rumah. Hal tersebut disebabkan adanya beban kerja yang dibebankan kepada perempuan karena adanya ketidakadilan tersebut.

IV.             Stereotip Perempuan dalam Puisi Perempuan Menumbuk Padi

Puisi yang berjudul Perempuan Menumbuk Padi adalah puisi yang bercerita tentang perempuan yang kesehariannya menumbuk padi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menumbuk padi dirasakan berat karena tidak menghasilkan uang yang banyak. Namun, kebutuhan hidup dan terbatasnya pekerjaan membuat perempuan tersebut menumbuk padi. Kegiatan yang dilakukannya adalah akibat dari kemiskinan yang diderita perempuan tersebut. Jika dicermati lebih mendalam, puisi Perempuan Menumbuk Padi mempunyai beberapa anggapan sosial yang melekat pada pola pikir masyarakat. Namun, anggapan sosial tersebut membuat stereotip atau pelabelan pada jenis kelamin tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stereotip adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Dalam puisi tersebut, stereotip diberikan kepada perempuan. Stereotip atau pelabelan pada puisi tersebut ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif.

Stereotip tentang perempuan yang bersifat positif dalam puisi Perempuan Menumbuk Padi terlihat pada kutipan berikut:

Blek-blok, blek-blok

Berjam-jam menumbuk padi,

Ia menyanyi sedikit-sedikit,

supaya kuat menumbuk padi,

supaya lupa tulang sakit,

disakiti alu berat!

Pada kutipan di atas memperlihatkan perempuan tidak mengenal lelah. Hal tersebut terlihat karena perempuan mampu menumbuk padi selama berjam-jam. Tidak hanya itu, perempuan yang melakukan kegiatan menumbuk padi terlihat menikmati kegiatannya dengan melakukannya sambil bernyanyi. Kesan yang timbul adalah perempuan dalam melakukan segala sesuatunya dengan tidak berat hati. Kemudian kutipan di atas juga memperlihatkan baha perempuan mampu bekerja dalam kondisi apapun. Hal tersebut disebabkan adanya larik yang mengungkapkan bahwa perempuan tetap menumbuk padi walaupun perempuan tersebut menderita sakit tulang.

Selain stereotip positif, dalam puisi Perempuan Menumbuk Padi terdapat pula stereotip negatif mengenai perempuan. Stereotip negatif tersebut dapat terlihat pada kutipan berikut:

Blek-blok, blek-blok!

Tiap hari menumbuk padi,

Alu berat melompat-lompat.

Sangat lelah menumbuk padi,

menjadi beras amat lambat,

alu terlalu amat berat!

Kutipan di atas mempelihatkan bahwa perempuan adalah manusia lemah. Hal tersebut disebabkan adanya larik yang mengungkapkan bahwa perempuan menumbuk padi dengan sangat lelah. Padahal, kegiatan menumbuk padi adalah kegiatan yang tidak terlalu berat karena kegiatan beratnya adalah bertani yang dilakukan oleh laki-laki. Hal tersebut membuat kinerja perempuan dinilai lambat. Stereotip lambat tersebut merugikan perempuan karena tidak semua perempuan lambat. Lagipula, dalam kutipan di atas sangat wajar kegiatan menumbuk padi menjadi lambat karena perempuan telah lelah. Terakhir, stereotip negatif dapat terlihat pada kutipan berikut:

Blek-blok, blek-blok!

Kekuatan menumbuk padi,

kekuatan berkurang-kurang,

Kesusahan menumbuk padi,

kesusahan menggarang-garang,

Aduhai!

Kemiskinan itu terlalu berat!

Pada kutipan di atas terlihat bahwa perempuan terbelenggu oleh kemiskinan. Hal tersebut disebabkan faktor pekerjaan yang dilakukan perempuan. Perempuan dalam kutipan di atas melakukan kegiatan menumbuk padi. Pekerjaan menumbuk padi yang tidak terlalu susah tersebut membuat penghasilan yang diperoleh perempuan juga sedikit. Hal tersebut tentu berbeda dengan laki-laki yang bertani karena akan memperoleh penghasilan yang lebih besar karena pekerjaannya juga tergolong berat.

 

V.                Penutup

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Puisi Perempuan Menumbuk Padi mempunyai salah satu bentuk ketidakadilan dan diskriminasi gender, yaitu stereotip. Pada puisi tersebut stereotip yang berkembang adalah stereotip tentang perempuan. Meskipun demikian, stereotip perempuan ada yang bersifat postif dan negatif. Stereotip postifnya memandang perempuan sebagai manusia yang tidak kenal lelah, tidak berat hati melakukan pekerjaannya, dan mampu bekerja dalam situasi sulit. Stereotip negatifnya adalah perempuan dianggap lemah, lambat dan terbelenggu kemiskinan.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dajoh, M.R. 1963. Pujangga Baru: Prosa dan Puisi. Jakarta: Gunung Agung.

Lips, Hillary M. 1993. Sex and Gender: An Introduction. London: Myfield Publishing Company.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 9, 2013 by in Makalah.
%d bloggers like this: