Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Laporan Bacaan Bab Gaya dan Strategi Pembelajaran

Brown dalam buku Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa memaparkan pengertian istilah proses, gaya, dan strategi. Proses dapat diibaratkan manusia dengan kecerdasan normal menjalani satu tingkat tipe tertentu dalam pembelajaran. Selain itu, proses juga dapat dikaitkan dengan hubungan respons stimulus yang digerakkan oleh imbalan dan hukuman. Kemudian gaya adalah karakteristik umum yang berkenaan sebagai pembeda individu dengan orang lain. Metode khusus untuk mendekati masalah untuk meraih tujuan tertentu, rancangan tersusun untuk mengendalikan, dan memanipulsi informasi tertentu dapat disebut strategi.

Setelah memahami istilah proses, gaya, dan strategi, maka penjelasan dapat dilanjutkan dengan melihat secara spesifik beberapa gaya dan strategi pembelajaran bahasa kedua. Cara belajar mengatasi masalah yang tergantung kepada hubungan antara kepribadian dan kognisi yang terhubung pula dengan konteks pendidikan dan memerhatikan faktor afektif dan fisiologis disebut sebagai gaya pembelajaran. Skehan (1991, h.288) mendefinisikan pula gaya pembelajaran sebagai sebuah kecenderungan umum, sukarela atau tidak untuk melakukan pemrosesan informasi dalam sebuah cara tertentu. Keterkaitan dengan bahasa kedua, gaya pembelajaran memberikan variabel yang penting dalam pemerolehan bahasa kedua.

Gaya pembelajaran yang pertama dibahas adalah gaya indepedensi bidang. Gaya tersebut dicontohkan dengan kemampuan untuk menemukan buku berwarna semasa kecil. Sebaliknya, depedensi bidang adalah kecenderungan untuk tergantung pada bidang total sehingga bagian-bagian yang melekat dalam bidang itu tidak mudah dikenali. Sementata itu, bidang total itu terlihat lebih jelas sebagai bentuk gabungan. Field independent atau indepedensi bidang (FI) dapat membedakan bagian-bagian dari keseluruhan, berkonsentrasi pada sesuatu hal, atau menganalisis variabel terpisah. Namun, kebanyakan FI membuat pandangan sempit dan hanya melihat bagian-bagian dan bukan hubungan dengan keseluruhan. Misalnya, Anda tidak bisa melihat hutan karena adanya pohon-pohon. Berbeda dengan Field Independent, Field Dependent atau dependensi bidang (FD) melihat gambar keseluruhan, pemandangan yang lebih luas, konfigurasi umum dari sebuah masalah, kode, atau peristiwa. Oleh karena itu, FI dan FD diperlukan untuk masalah kognitif dan afektif.

Perbedaan FI dan FD dapat pula dilihat dari berbagai sudut. FD dihasilkan dari masyarakat otoriter atau agraris, sedangkan FI dihasilkan dari masyarakat demokratis, industri, dan kompetitif dengan norma pengasuhan yang longgar. Tidak hanya itu, orang FI cenderung lebih independen, kompetitif, dan percaya diri, sedangkan orang FD lebih bersosialisasi, menyatukan diri dengan orang di sekitar, memahami perasaan dan berempati. Abraham (1985) mendapati bahwa pembelajar FI lebih baik dalam pelajaran deduktif, sedangkan gaya FD lebih berhasil dengan rancangan pelajaran induktif.

Semua hal tersebut bila dikaitkan dengan bahasa kedua menjadi dua hipotesis yang bertentangan. Pertama, dapat disimpulkan bahwa FI terkait dengan pembelajaran kelas yang melibatkan analisis, perhatian kepada rincian, dan kemampuan mengikuti latihan, dril, dan aktivitas terfokus lain. Biasanya keberhasilan gaya FI dapat terlihat dari tes tertulis dan wawancara lisan. Kedua, gaya FD meliputi asosiasinya dengan empati, jangkauan sosial, dan kemampuan memahami pemikiran orang lain. Gaya FD tersebut akan menghasilkan pembelajaran sukses dalam aspek komunikatif bahasa kedua. Meskipun tidak ada yang menyangkal kelogisan hipotesis kedua, tetapi sedikit sekali bukti empiris sehingga tidak adanya tes nyata FD. Kedua hipotesis tersebut berurusan dengan dua jenis pengajaran yang berbeda. Jenis pertama menyiratkan komunikasi tatap muka alami dan jenis kedua melibatkan aktivitas kelas, seperti latihan, tes, dan seterusnya.

Gaya pembelajaran berikutnya adalah dominasi otak kiri dan kanan. Otak kiri diasosiasikan dengan pikiran logis analistis, dengan informasi matematis, dan pemrosesan linier. Sementara itu, otak kanan menangkap dan mengingat citra visual, rabaan, dan auditoris. Danesi (1988) menyebutkan bahwa metode lama di kelas tidak cukup merangsang bahasa terhadap proses otak kanan. Krashen, Seliger, dan Harnett (1974) menyatakan bahwa pembelajar bahasa kedua yang dominan otak kiri menyukai gaya deduktif dan yang dominan otak kanan lebih berhasil dalam lingkungan kelas yang induktif. Tidak hanya itu, Stevick (1982) juga menyebutkan bahwa pembelajar bahasa kedua yang dominan otak kiri lebih baik saat memproduksi kata-kata terpisah, mengumpulkan hal-hal spesifik dari bahasa, menjalankan urutan pengerjaan, dan berurusan dengan abstraksi, klarifikasi, pelabelan, dan penyusunan ulang. Lain halnya dengan pembelajar yang dominan otak kanan terlihat lebih baik saat menghadapi citra keseluruhan, generalisasi, metafora, reaksi emosional, dan ekspresi artistik.

Toleransi ambiguitas adalah gaya kognitif seseorang yang bersedia menerima ide dan dalil yang bertentangan dengan sistem kepecayaan atau pengetahuan seseorang. Sosok toleran ambiguitas dapat mempertimbangkan dan menyerap dalil-dalil yang berlawanan dengan dirinya. Selain toleran ambiguitas, ada juga istilah yang dikenal dengan intoleransi ambiguitas. Intoleransi ambiguitas ini adalah orang-orang atau mereka yang tidak bisa menerima dalil-dalil yang berlawanan dengan kepercayaan dan pengetahuan yang mereka anut.

Ada kekurangan dan kelebihan dari gaya toleransi ambiguitas. Kelebihan dari sesorang yang memiliki toleransi ambiguitas adalah dapat dengan mudah mempertimbangkan sejumlah kemungkinan, inovasi dan kreatifitas. Pikiran dan emosinya tidak terganggu oleh ambiguitas dan ketidakpastian. Dalam mempelajari bahasa kedua, banyak informasi yang berlawanan, seperti banyak kata yang berlawanan dari kata asli dan aturan yang inkonsisten dapat diterima dengan mudah oleh toleransi ambiguitas ini. Namun, kekurangan dari toleransi ambiguitas ini adalah orang dapat menjadi lembek sehingga akan menerima begitu saja setiap dalil yang disodorkan dan ketika memasukan data yang dibutuhkan ke dalam stuktur pengorganisasian kognitif tidak akan efisien. Selain itu, toleransi terhadap ambiguitas yang berlebihan akan menghambat dan mencegah ide bermakna.

Tindakan intoleransi terhadap ambiguitas juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan dari intoleransi ambiguitas adalah seseorang akan terjaga dari kelembekan yang dijelaskan di atas, menutup jalur kemungkinan yang tidak akan memberikan harapan, menolak sepenuhnya bahan yang kontradiktif, dan berurusan dengan keberadaan sistem yang harus dibangun. Kekurangan dari gaya intoleransi ambiguitas akan memunculkan pikiran kaku, dogmatis, keras, dan terlalu sempit untuk menjadi kreatif.

Dalam kepribadian, kita memiliki dua kecenderungan kognitif, yaitu reflektif dan impulsif. Reflektif adalah kecenderungan seseorang membuat tebakan cepat atau untung-untungan dalam menjawab pertanyaan. Dalam kasus yang sama, orang yang reflektif cenderung membuat keputusan lebih lambat dan penuh perhitungan. Kelebihan yang dimiliki dari orang yang reflektif adalah cenderung membuat kesalahan lebih sedikit dibanding orang yang impulsif karena lebih memperhitungkan keputusan. Sementara itu, kelebihan dari orang yang impulsif adalah orang yang impulsif akan menjadi pembaca yang cepat sehingga lebih cepat memahami.

Dimensi gaya pembelajaran yang menonjol dalam situasi ruang kelas formal adalah kecondongan pembelajaran visual, auditoris, dan kinestetis. Pertama, kecondongan pembelajaran visual adalah pembelajaran yang condong menyukai tabel, gambar dan informasi grafis lainnya. Kedua, kecondongan pembelajaran auditoris adalah pembelajaran dengan sistem ini lebih senang mendengar ajaran dan audiotape. Ketiga, kecondongan pembelajaran kinestetis adalah biasanya pembelajar kinestetis akan memperlihatkan kesukaan pada demonstrasi dan aktivitas fisik yang melibatkan pergerakan tubuh. Pembelajaran yang paling berhasil adalah memanfaatkan pembelajaran visual dan auditoris.

Dalam sebuah penelitian tentang pembelajaran dewasa ESL, Joy Reid (1987) menemukan faktor yang mempengaruhi kecondongan subjek dalam gaya visual auditoris, yaitu faktor gender, lamannya waktu tinggal di suatu daerah, bidang studi akademis, dan tingkat pendidikan. Temuan penelitian tentang gaya pembelajaran ini menggarisbawahi pentingnya mengenali berbagai kecondongan pembelajar. Oleh sebab itu, guru harus lebih peka pada bahasa dan budaya para murid dalam setiap kegiatan kelas.

Gaya pembelajaran berikutnya adalah otonomi, kemafhusan, dan tindakan yang merupakan tiga konsep yang berkaitan dalam setiap pemikiran tentang peran gaya dan strategi dalam pembelajaran bahasa kedua. Otonomi adalah sebuah konsep yang melaukukan pengajaran dengan membiarkan pembelajar melakukan hal-hal, seperti memulai produksi lisan, memecahkan masalah di kelompok kecil, berlatih bentuk bahasa secara berpasangan, dan berlatih menggunakan bahasa di luar kelas. Proses pengembangan kesadaran otonomi di dalam diri pembelajar mensyaratkan penggunaan strategi, seperti yang dilakukan oleh seorang peneliti Wenden (1992). Keterkaitan dengan konsep otonomi adalah tuntutan kepada pembelajar untuk menjadi mafhum dalam proses pembelajaran. Dalam konsep ini diharapkan pembelajar dapat memahami kecenderungan gaya, kekuatan, dan kelemahan yang dimiliki.

Konsep yang terakhir adalah tidakan, yaitu sebuah pemahaman yang jika tidak diseimbaingi dengan tindakan akan menjadi sebuah hal yang relatif tidak berguna. Ketika para pembelajar sudah manjadi paham akan kecenderungan gaya, kekuatan, dan kelemahan diharapkan dapat mengambil langkah atau tindakan yang tepat dalam berbagai bentuk strategi yang tersedia. Jadi, sebelum melakukan sebuah strategi kita harus memahami atau menyadari sendiri agar dapat mengambil langkah yang strategis dan tepat.

Strategi adalah serangan spesifik yang ditujukan kepada masalah tertentu dan sangat bervariasi di dalam diri setiap individu untuk memecahkan masalah yang dihadirkan oleh masukan dan keluaran bahasa kedua. Chamot (2005:112) mendefinisikan strategi secara cukup luas sebagai proses yang memudahkan tugas pembelajaran yang bersifat sadar dan digerakkan oleh tujuan. Pemerolehan bahasa kedua telah membedakan jenis strategi menjadi dua, yakni strategi komunikasi dan strategi pembelajaran. Strategi komunikasi adalah strategi yang berhubungan dengan pengeluaran. Strategi ini berhubungan dengan bagaimana kita secara produktif mengungkapkan makna dan pesan kepada orang lain. Sementara itu, strategi pembelajaran adalah sebuah strategi yang terkait dengan proses penerimaan dan penyimpanan pesan dari orang lain.

Biasanya, strategi pembelajaran dibagi lagi menjadi tiga kategori utama, yaitu metakognitif, strategi kognitif, dan sosioafektif. Metakognitif adalah suatu istilah yang digunakan dalam teori pemrosesan informasi untuk menunjukkan fungsi “eksekutif”. Strategi ini melibatkan perencanaan belajar, pemikiran tentang proses pembelajaran yang sedang berlangsung, pemantauan produksi dan pemahaman seseorang, dan evaluasi pembelajaran setelah sebuah aktivitas selesai (Purpura, 1997). Strategi kognitif lebih terbatas pada tugas pembelajaran yang spesifik dan melibatkan pemanfaatan yang lebih langsung terhadap materi pembelajaran itu sendiri. Strategi ini meliputi repetisi, melacak ulang, penerjemahan, mengelompokkan, mencatat, deduksi, rekombinasi, pencitraan, representasi auditoris, mengingat kata baru dengan menggunakan kata kunci, kontekstualisasi, elaborasi, transfer, dan melakukan interferensi. Strategi yang terakhir adalah strategi sosioafektif. Strategi sosioafektif ini adalah strategi yang berkenaan dengan aktivitas mediasi sosial dan interaksi dengan hal lain.

Pada beberapa tahun terakhir, penelitian strategi telah mengembangkan teori tentang strategi pembelajaran bahasa yang berupaya menguatkan atau membantah beberapa pertanyaan yang sudah muncul. Salah satu caranya adalah dengan mempertimbangkan empat keterampilan, yaitu membaca, menulis, mendengar, dan berbicara. Dalam hal strategi pembelajaran, lebih banyak melibatkan keterampilan mencerna apa yang didengar dan apa yang dibaca. Dalam hal ini, gender merupakan sebuah variabel penting dalam penggunaan strategi pembelajaran dan strategi komunikasi. Maubach dan Morgan (2001) melaporkan bahwa di antara pembelajar usia SMA di Perancis dan Jerman, pembelajar laki-laki melibatkan strategi berbicara yang lebih berisiko dan spontan, sedangkan pembelajar perempuan menggunakan strategi perencanaan dalam tugas tertulis secara lebih efektif.

Faerch dan Kasper (1983a:36) mendefinisikan strategi komunikasi sebagai rencana secara sadar untuk memecahkan masalah dalam peralihan sebuah tujuan komunikatif tertentu. Klasifikasi Dörnyei adalah basis praktis yang tepat untuk penjelasan lebih lanjut tentang strategi komunikasi. Berikut adalah strategi yang diadaptasi dari Dörnyei (1995:58). Strategi yang pertama adalah strategi penghindaran. Strategi ini adalah sebuah strategi komunikasi lazim yang bisa dipecah ke dalam subkategori. Beberapa jenis strategi penghindaran, yakni penghindaran sintaksis atau leksikal, penghindaran fonologis, dan penghindaran topik. Pada penghindaran topik, seluruh topik pembicaraan mungkin dihindari sepenuhnya karena pembicara merasa tidak mampu untuk menyatakannya.

Strategi yang kedua adalah strategi kompensatoris. Dalam strategi ini adanya penyampaian tidak langsung (circumlocution), yaitu menggambarkan atau mencontohkan tindakan objek yang dimaksud. Misalnya, menyebut alat pembuka botol untuk kotrek. Selain itu, terdapat pula aproksimasi yang merupakan penggunaan istilah alternatif yang mengungkapkan makna leksikal sasaran sedekat mungkin. Misalnya, kapal untuk perahu layar. Strategi kompensatoris yang ketiga adalah permintaan tolong langsung kepada lawan bicara untuk dapat menyebutkan kata yang tepat agar dapat mengungkapkan makna yang dimaksud oleh si pembicara. Selain itu, kemungkinan mereka akan melontarkan tebakan dan meminta verifikasi dari pembicara mahir atas ketepatan tebakannya.

Instruksi berbasis strategi dalam tatarannya terbagi atas tiga cara, yaitu mengenali gaya strategi pembelajar, memasukan instruksi berbasis strategi ke kelas bahasa, dan menstimulasikan tindakan strategi di luar kelas. Menurut McDonough instruksi berbasis strategi adalah pekerjaan peneliti dan guru atas penerapan strategi pembelajaran maupun komunikasi di ruang kelas. Menurut Cohen (1998), Style and Strategies-based Instruction (SSBI) menekankan kaitan produktif antara gaya dan strategi. Selain itu, Chamat menyimpulkan instruksi eksplisit jauh lebih efektif dibandingkan sekadar meminta murid menggunakan satu atau lebih strategi untuk memahami proses pembelajaran diri sendiri. Manfaat yang dirasakan murid dalam instruksi berbasis strategi adalah dapat memahami strategi dalam belajar, membuat lebih efektif, dan tidak merasakan kesulitan dalam belajar dengan menggunakan strategi.

Cara untuk membantu pembelajar mengenali gaya, kecondongan, kekuatan, dan kelemahan dalam belajar bahasa ialah kuesioner dan daftar strategi. Kuesioner ialah pengecekan diri sendiri di mana pembelajar merespon berbagai pertanyaan, dengan skala setuju dan tidak setuju. Alat yang banyak dipakai oleh pembelajaran untuk mengenali strategi adalah daftar strategi untuk pembelajaran bahasa atau Strategy Inventory for Language Learning (SILL). Mengenali strategi yang disukai pembelajar dalam satu hal merupakan langkah logis untuk membuat daftar strategi. SILL berfungsi sebagai instrumen untuk membuka berbagai kemungkinan bagi pembelajar, tetapi guru harus memikul tanggung jawab pengawasan sehingga para pembelajar terbantu dalam menjalankan strategi-strategi tertentu dalam prakteknya.

Metode SBI yang dilakukan di kelas berbeda-beda. Guru bisa manjadi lebih peka terhadap kecondongan murid, menawarkan nasihat ringan, dan spontan mengenai strateg yang bermanfaat di dalam dan luar kelas. Strategi yang digunakan pada dasarnya diselaraskan dengan guru sebagai fasilitator, yaitu memberikan kiat, petunjuk, dan cerita pribadi guru. Strategi lainnya adalah dengan cara membantu murid dalam mengunakan hasil dari kuesioner dan melakukan kegiatan diskusi dalam kelompok, tabulasi informal, pemberian saran, hingga pencapaian kesepakatan. Opsi lain yang digunakan oleh guru bahasa adalah menyatukan kepahaman strategi dan latihan ke dalam pedagogi mereka dalam cara-cara yang lebih formal.

Kepahaman gaya dan tindakan strategi tidak dibatasi oleh ruang kelas. Pembelajaran yang berhasil mewujudkan cita-cita kemahiran dengan motivasi untuk memperluas pembelajaran melampaui batasan kelas. Ruang kelas adalah kesempatan bagi pembelajar untuk memulai perjalanan menuju sukses dan menyadari bahwa di luar jam kelas ada belasan jam yang bisa dipakai untuk berlatih penggunaan makna bahasa baru. Kita harus banyak belajar dalam mencipkatan teknik praktis mengajar, bagaimana mengenali gaya pembelajar. dan menggunakan strategi secara efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Brown, H. Doughlas. 2008. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa: Edisi Kelima. Jakarta: Kedutaan Besar Amerika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 13, 2013 by in Linguistik.
%d bloggers like this: