Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Budaya Telat Membawa Rezeki

Budaya telat tidak selalu memiliki dampak negatif. Di sisi lain, budaya telat membawa dampak positif bagi sebagian orang, seperti Pak Mursanih, tukang ojek di kawasan Universitas Indonesia (UI). Beliau mendapatkan keuntungan yang lebih, terutama waktu pagi akibat banyaknya mahasiswa UI yang telat. Bahkan, budaya telat ini memberikan sumbangsih terbesar dalam penghasilan tukang ojek di pangkalan stasiun UI.

Memang, budaya telat telah lama menjadi kebiasaan yang sulit terhindarkan dari waktu ke waktu. Banyak faktor yang membuat mahasiswa telat, yaitu faktor rumah jauh, transportasi umum, seperti kereta atau bus yang mengalami keterlambatan, atau bangun kesiangan. “Dari dulu sampai sekarang pasti ada mahasiswa yang telat,” ujar Pak Mursanih. Beliau juga menambahkan sebagian besar mahasiswa yang telat didominasi oleh mahasiswa baru karena jadwal kuliahnya masih pagi.

Jika dilihat dari waktu, pukul 08.00 adalah waktu yang tidak terlalu pagi untuk masuk kuliah. Pasalnya, banyak sekolah menengah yang menerapkan jam masuk pukul 06.30. Jika mulai sekolah menengah pertama sudah terbiasa masuk pagi, berarti para pelajar sudah memiliki kebiasaan untuk bangun pagi. Seharusnya, rutinitas tersebut tidak mudah hilang setelah masuk perguruan tinggi.

Meskipun demikian, budaya telat tidak dirasakan sebagai hal yang harus diperbaiki bagi tukang ojek di kawasan UI. Kehidupan mereka sangat terbantu dengan adanya budaya telat di kalangan mahasiswa. Tukang ojek yang akrab disapa Pak Kimung ini mengungkapkan bahwa penghasilan kotor yang diperoleh dari pekerjaannya adalah Rp100.000,00/hari. Setengah dari penghasilannya didapat karena adanya budaya telat yang telah mengakar di kalangan mahasiswa.

“Meskipun ada bus kuning, mahasiswa yang sudah telat pasti memakai jasa kita karena lebih cepat, terutama fakultas yang jauh,” tambah Pak Kimung. Beliau juga menjelaskan bahwa tidak hanya fakultas yang jauh saja yang memakai jasa ojek. Bahkan, mahasiswa dari fakultas yang dekat dengan stasiun UI, seperti FISIP dan FIB juga banyak yang memakai jasa ojek. Sebagian besar mahasiswa yang memakai jasa ojek disebabkan desakan waktu walaupun ada juga mahasiswa yang memang malas jalan kaki atau malas menunggu bus kuning.

Kisaran harga yang ditetapkan oleh Pak Kimung juga bervariatif tergantung tujuan fakultasnya. Untuk fakultas yang jauh dari stasiun UI, seperti Fakultas Teknik, FMIPA, dan Vokasi Pak Kimung mematok harga sebesar Rp7.000,00, sedangkan untuk fakultas yang dekat dari stasiun UI, seperti FISIP dan FIB tarifnya sebesar Rp5.000,00.

Pak Kimung menjelaskan bahwa puncak arus penumpang terjadi di pagi hari. Di atas pukul 09.00 frekuensi penumpang menurun. Terlebih lagi, adanya sistem giliran di pangkalan stasiun UI membuat Pak Kimung hanya mendapat sedikit penumpang di siang hari. Arus penumpang mulai ramai kembali di sore hari, bertepatan pulang kerja pegawai kantor. “Biasanya pegawai kantor banyak yang kecapekan setelah naik kereta sehingga memutuskan menggunakan jasa ojek untuk ke rumahnya,” ujar Pak Kimung. Namun, tetap saja hal tersebut tidak dapat mengalahkan frekuensi penumpang di pagi hari.

Banyaknya mahasiswa berjenis kelamin perempuan di UI ternyata juga ikut menambah banyaknya pundi-pundi uang tukang ojek di kawasan UI. Menurut Pak Kimung, penumpang yang sering menggunakan jasa ojek di pagi hari adalah perempuan. Secara tidak langsung, perempuan banyak yang menjadi pengikut budaya telat. Meskipun tidak menutup kemungkinan laki-laki juga banyak yang menjadi pengikut budaya telat, tetapi tidak menggunakan jasa ojek.

Pekerjaan sebagai tukang ojek ini telah dilakukan Pak Kimung selama 12 tahun. Bermodalkan sepeda motor, beliau mencari nafkah di kawasan UI untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan tiga anaknya. “Lumayan bisa menyekolahkan anak,” kata pria berusia 44 tahun ini. Pekerjaan tersebut tidak hanya menjadi tumpuan utama bagi keluarga Pak Kimung, tetapi juga oleh sebagian besar tukang ojek di kawasan UI.

Tanpa disadari budaya telat turut membantu perekonomian keluarga tukang ojek di kawasan UI. Semua itu membentuk mata rantai yang tidak dapat terpisahkan. Sementara itu, banyak dosen yang berupaya agar budaya telat tidak lagi mengakar di kalangan mahasiswa. Misalnya, tidak memperbolehkan mahasiswa masuk kelas jika sudah telat dan hukuman lainnya. Jika cara memberantas budaya telat tersebut efektif, maka perekonomian tukang ojek di kawasan UI akan mendapatkan imbasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 14, 2013 by in Artikel.
%d bloggers like this: