Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Eksistensi Bahasa Remaja di Indonesia

Variasi bahasa yang terdapat di Indonesia sangat banyak jumlahnya. Meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, tetapi tidak semua percakapan dituturkan menggunakan bahasa persatuan tersebut. Bahkan, ada pula variasi bahasa yang telah dibukukan menjadi kamus.

Variasi bahasa tersebut dapat dibedakan menjadi beberapa faktor, seperti penggunaannya dan penuturnya. Faktor penggunaannya dapat dilihat dari penggunaan bahasa itu, alat komunikasi yang dipakai, dan situasi bahasa tersebut digunakan. Lain pula dengan faktor penuturnya yang menyangkut aspek usia, pendidikan, jenis kelamin, tingkat, golongan, status, dan kelas sosial.

Salah satu variasi bahasa berdasarkan faktor penuturnya adalah slang. Menurut ahli bahasa Chaer dan Agustina, slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus, tidak bertahan lama, dan lebih umum digunakan oleh kawula muda. Biasanya, slang dapat diartikan juga sebagai bahasa kelompok tertentu di luar aspek suku bangsa.

Slang atau bisa dikatakan sebagai bahasa rahasia tersebut sudah ada sejak lama. Beberapa puluh tahun yang lalu kita mengenal bahasa prokem yang dipakai oleh remaja di Jakarta. Padahal, bahasa prokem berawal dari bahasa rahasia yang dipakai oleh kalangan bromocorah pada tahun ’50-an. Namun, seiring berkembangnya waktu bahasa prokem menjadi sangat populer di kalangan remaja.

Bahasa prokem juga telah menjadi ciri khas tersendiri bagi bahasa Ibukota. Penggunaan kata nyokap, bokap, gua, elo, dan lain sebagainya adalah kata umum yang sering dituturkan dalam bahasa prokem. Bisa dikatakan pula kedudukan bahasa prokem hampir sama dengan bahasa daerah. Meskipun, bahasa prokem hanya terbatas terhadap kata-kata tertentu saja.

Selain itu, ada pula bahasa gaul yang menggantikan kedudukan bahasa prokem di Ibukota. Bahasa baru tersebut dipopulerkan oleh kalangan artis. Berbeda dengan bahasa prokem, bahasa gaul ini tidak hanya dituturkan oleh kalangan remaja. Kalangan dewasa juga ikut memakai bahasa baru tersebut walaupun hanya golongan tertentu saja pada tingkatan ini.

Meskipun bahasa prokem telah kalah pamor dengan bahasa gaul, tetapi bahasa prokem masih tetap digunakan. Hal yang membedakan adalah frekuensi bahasa prokem yang digunakan oleh remaja tersebut. Jika sebelum ada bahasa gaul frekuensi bahasa prokem tinggi, maka setelah adanya bahasa gaul frekuensi bahasa prokem menjadi rendah.

Faktor penutur yang mempopulerkan bahasa juga ikut memengaruhi berkembangnya bahasa tersebut. Dalam hal ini, bahasa gaul diperkenalkan oleh kalangan artis sehingga muncul perbedaan kelas sosial pemakai bahasa. Orang beranggapan bahwa bahasa gaul adalah bahasa kelas menengah atas sehingga bahasa ini melesat dan banyak digunakan.

Pemakaian bahasa gaul juga membuat kelas sosial seseorang menjadi meningkat. Meskipun orang yang memakai bahasa gaul belum tentu termasuk ke dalam kelas menengah atas, tetapi dengan pemakaian bahasa tersebut membuat orang tersebut lebih diterima masyarakat. Penerimaan tersebut membuat status yang diperoleh juga berubah.

Kehebatan bahasa elit ini juga ditunjukan dengan adanya kamus bahasa gaul. Pembuatan kamus bahasa gaul dilakukan oleh Debby Sahertian yang berprofesi sebagai artis. Tentu saja, pembuatan kamus ini menandakan banyak sekali kosakata bahasa gaul yang digunakan.

Penggunaan bahasa gaul ini ditandai dengan bentuk rujukan dari berbagai bahasa, sumber, maupun etnisitas. Misalnya, kata sayonara mempunyai arti saya. Kata sayonara sendiri diambil dari bahasa Jepang.

Tidak hanya itu, ada pula bahasa alay yang menghebohkan masyarakat. Biasanya, bahasa alay digunakan oleh remaja golongan menengah bawah. Hal ini disebabkan kecenderungan penutur yang menggunakan bahasa alay adalah remaja golongan menengah bawah.

Bahasa alay sendiri berasal dari bahasa tulisan yang menggabungkan huruf dengan angka. Kecenderungan bahasa ini adalah mengganti huruf vokal dengan angka yang bentuk tulisannya mirip. Misalnya, kata lagi menjadi l4g1. Gaya penulisan semacam ini tumbuh di media, seperti telepon genggam.

Penyebaran bahasa alay juga tidak melesat, seperti bahasa gaul. Remaja kalangan menengah atas mengaku tidak menggunakan bahasa alay karena adanya perbedaan status tersebut. Meskipun demikian, bahasa alay sering dijadikan bahan lelucon bagi remaja kalangan menengah atas. Secara tidak langsung, remaja kalangan menengah atas juga memakai bahasa alay tersebut walaupun mereka tidak mau mengakuinya.

Sebenarnya, perkembangan variasi bahasa dari waktu ke waktu akan terus mengalami pembaharuan. Remaja sebagai produsen variasi bahasa akan terus mengeksplorasi bahasa disesuaikan dengan perkembanagan zaman. Namun, hal tersebut tidak perlu menjadi kekhawatiran karena variasi bahasa tersebut akan memudar dengan sendirinya.

Memudarnya variasi bahasa tersebut disebabkan tingkat kebutuhan pemakaian bahasa yang juga berubah. Remaja akan naik tingkat menjadi dewasa dan di tingkat tersebut variasi bahasa yang diciptakan tidak lagi digunakan. Pemakaian bahasa di tingkat dewasa mengharuskan orang untuk menuturkan bahasa Indonesia baku.

Seorang ahli Linguistik bernama Chambers juga mengungkapkan bahwa masa dewasa adalah tahap yang mewakili kehidupan krusial selama meningkatkan standardisasi dan jangkauan bahasa setelah remaja. Pada masa ini orang akan beralih dari bahasa gaul atau alay ke dalam bahasa baku karena adanya tuntutan pekerjaan untuk menyambung hidup. Biasanya, pada tahap dewasa bahasa menunjukan jenis pekerjaan yang sedang digeluti pemakai bahasa tersebut.

Jika seseorang memakai bahasa Indonesia baku, maka dapat diprediksi orang tersebut menggeluti pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Perbedaan selanjutnya bukan dari bahasa, tetapi pendidikan yang membedakan jabatan dari pekerjaan tersebut. Namun, jika seseorang memakai bahasa Indonesia informal atau nonformal, maka dapat dipredikasi orang tersebut menggeluti pekerjaan yang tidak terlalu banyak menghasilkan uang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 29, 2013 by in Artikel.
%d bloggers like this: