Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Jakarta, Gili Trawangan, Lombok, dan Bali II

Saat kami sedang bersantai tiba-tiba ada orang yang menanyakan kami perihal penginapan di Gili Trawangan. Jujur saja, kami belum melakukan reservasi penginapan manapun di Pulau Gili Trawangan. Keberuntungan pun mengiringi langkah kami. Orang yang menanyakan perihal penginapan tersebut pun menawarkan penginapan di Gili Trawangan dengan harga Rp550.000,00 untuk dua malam (harga setelah melakukan penawaran dan perdebatan panjang). Harga tersebut dirasa murah karena bulan Agustus adalah high season orang bule ke pulau ini. Harga penginapan pun menjadi dua kali lipat dari bulan atau musim lainnya. Terlebih lagi, satu kamar penginapan tersebut bisa diisi oleh tujuh orang.

Image

Orang yang telah dikirimkan Tuhan untuk melancarkan perjalanan liburan semester ini adalah saudaranya Pak Holki (Sebenernya kami mencatat nomor telepon genggam dan nama pemilik penginapan, tetapi salah satu telepon genggam yang kami gunakan untuk menyimpan nomor tersebut rusak). Untuk mengetahui nomor dan nama pemilik penginapan di Gili Trawangan ini bisa menghubungi Pak Holki 081915988389. Harga juga masih bisa ditawar disebabkan penginapan saudaranya Pak Holki tersebut terbilang baru dan belum jadi seutuhnya. Begitu sampai di kamar penginapan, secara bergantian kami menyegarkan diri setelah seharian melewati beberapa lautan. Rencana melihat matahari tenggelam pun harus direlakan untuk mengumpulkan tenaga. Pemilik penginapan pun menyarankan kami menghadiri Full Moon Party pada pukul 12.00 WITA. Acara tersebut adalah acara bulanan dan menjadi acara yang sayang dilewatkan jika datang ke Pulau Gili Trawangan. Sebagian besar diantara kami sebenarnya tidak menyukai acara pesta miras tersebut, tetapi rasa keingintahuan yang besar dan ingin mengisi waktu menikmati liburan, maka kami memutuskan menghadiri acara tersebut. Saking niatnya kami menghadiri acara kumpul bule tersebut, kami menyempatkan tidur terlebih dahulu supaya tidak terlalu lelah untuk melakukan aktivitas di pagi harinya.

Image

Sesuai dengan nama acara, tempat ajep-ajep tersebut ditemani oleh bulan yang menerangi secara penuh. Wisatawan mancanegara beramai-ramai memadati pinggir pantai di salah satu kafe dengan tidak disertai pakaian. Untuk pria kebanyakan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek, sedangkan untuk perempuan memakai pakaian serba kekurangan. Tidak terlalu mengherankan jika di pinggir pantai banyak sekali pasangan yang memadu kasih, seperti berciuman. Bahkan, banyak juga yang melakukan hubungan intim di pinggir pantai. Mental untuk melihat pemandangan seperti itu harus dipersiapkan agar tidak kaget ketika berada di Gili Trawangan. Dominasi bir bintang sebagai minuman yang paling banyak dibawa membuat bule laki-laki banyak kencing di pasir pantai dan melakukan hal-hal yang aneh, tetapi tidak anarki. Hal yang sangat membuat kami tidak nyaman adalah ketika kami menikmati pantai dan melihat atraksi api yang disuguhkan oleh pengelola kafe, banyak bule laki-laki yang kencing di belakang kami dengan jarak yang dekat. Tentu saja hal tersebut membuat bau tidak sedap tercium oleh kami. Hal tersebut juga membuat kami harus pindah posisi berkali-kali menghindari tempat kencing sembarangnnya bule laki-laki.

Ketika waktu telah mendekati subuh (21/10/13), kami mendekati tempat penginapan. Tidak jauh dari tempat penginapan terdapat masjid yang bisa dibilang besar untuk kami beribadah pagi. Setelah itu kami menunggu matahari terbit di pinggir pantai dekat masjid. Puas melihat matahari terbit, kami tidur untuk melepas lelah. Sekitar pukul 10.00 WITA kami bangun dan mengisi hari dengan snorkeling di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air seharga Rp100.000,00 (sudah termasuk pelampung dan alat snorkeling). Dari banyaknya peserta snorkeling, hanya kami wisatawan lokal yang memakai pelampung. Meskipun agak malu karena semua wisatawan asing tidak ada yang memakai pelampung, tetapi kami tetap percaya diri memakai pelampung untuk menyelamatkan diri di tengah lautan lepas. Kegiatan pertama kali melihat terumbu karang selama hidup di dunia membuat kami berdecak kagum terhadap panorama alam bawah laut Indonesia bagian Tengah ini.

Image

Image

Image

Setelah lelah seharian mengagumi keindahan bawah laut Indonesia, kami langsung menuju penginapan untuk menyegarkan badan. Sayangnya, olahraga air yang kami coba tadi terlalu banyak menghabiskan tenaga sehingga tidak ada satu pun diantara kami yang melanjutkan untuk melihat matahari tenggelam. Padahal, hari itu adalah hari terakhir kami bermalam di Gili Trawangan. Sekitar pukul 08.00 WITA, kami berjalan santai menuju pasar malam. Di Gili Trawangan, pasar malam yang dimaksud adalah kumpulan pedagang yang menyajikan makanan murah. Bagaimana tidak, di pulau yang didominasi orang asing ini kebanyakan kafe dengan harga yang tidak bisa dibilang murah. Dengan harga Rp17.000,00 kami dapat makan ayam goreng dan minum es teh manis. Meskipun ayam satu potong yang besar harus dibagi menjadi dua porsi, tetapi kami masih dapat merasakan “kenyang”. Kami pun berlam-lama menikmati malam terakhir di pulau yang menakjubkan ini. Tidak mau melewatkan momen berharga dan belum tentu dapat terulang, maka kami menelusuri jalan dari ujung kanan hingga ujung kiri pulau. Banyak hal yang bisa dilihat dari penelusuran jalan malam kami. Selain kami dapat melihat bermacam-macam bentuk kafe, kami juga dapat melihat berbagai bentuk penginapan yang sangat berbeda jauh kelasnya dibandingkan penginapan kami. Tidak hanya itu, adanya kawasan konservasi penyu juga menjadi salah satu tempat yang menarik kami kunjungi. Kami dapat melihat telur penyu yang masih dalam pasir pantai hingga penyu yang sudah hampir siap dilepas ke laut.

Rabu pagi (22/10/13) kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan panjang menuju Pulau Lombok. Harga tiket perahu Gili Trawangan-Lombok sebesar Rp15.500,00. Penyebrangan pertama dilakukan pada pukul 08.00 WITA, jadi harus dipastikan kalau sebelum jam 8 harus sudah ada di tempat tiket perahu. Hal tersebut dimaksudkan agar waktu rencana perjalanan tidak molor atau terganggu. Apalagi dengan sistem penyebrangan yang menunggu penumpang penuh akan dapat membuat waktu yang telah direncanakan menjadi jauh perbedaannya. Kami pun mengalami hal yang demikian walaupun kami hanya telat 10 menit dari jadwal penyebrangan pertama. Untungnya, tidak sampai satu jam perahu kami telah penuh penumpang sehingga waktu yang telah kami rencanakan tidak terlalu molor. Begitu sampai di Pulau Lombok kami harus jalan terlebih dahulu hingga ke depan jalan besar untuk bertemu dengan Pak Holki. Hal tersebut disebabkan dari Pelabuhan Bangsal tidak boleh ada kendaraan pribadi atau kendaraan umum yang masuk hingga ke bibir pantai Pelabuhan Bangsal. Sebagai gantinya, banyak sekali jasa andong atau dokar yang siap mengantarkan wisatawan dari Pelabuhan Bangsal menuju jalan besar. Namun, melihat jarak dari Pelabuhan Bangsal hingga jalan besar tidak terlalu jauh dan menghemat biaya juga, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki.

Image

ImageImage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 23, 2013 by in Catatan Perjalanan.
%d bloggers like this: