Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Jakarta, Gili Trawangan, Lombok, dan Bali III

Hari pertama jalan-jalan di Pulau Lombok kami ditemani Pak Holki, saudara pemilik penginapan di Gili Trawangan. Jasa keliling Lombok seharian atau selama 10 jam adalah Rp300.000,00 dengan menggunakan mobil angkutan umum semacam mikrolet, tetapi pintu masuknya dari belakang, bukan dari samping. Kami yang telah melakukan riset destinasi wisata berunding terlebih dahulu dengan Pak Holki sebelum memulai jalan-jalan. Ternyata, tempat destinasi wisata yang kami pilih posisinya berada jauh dari satu tempat ke tempat lain dan memakan waktu yang lama pula. Belum lagi kami harus mencari hotel murah di kawasan Mataram. Sebenarnya Pak Holki tidak keberatan mengantarkan kami ke tempat wisata yang jaraknya jauh-jauh, tetapi hal tersebut akan berdampak kepada kuantitas destinasi wisata yang akan kami datangi. Dari awal perjalanan kami telah memutuskan untuk lebih memprioritaskan kuantitas destinasi wisata sehingga kami memlih tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi banyak. Oleh karena itu, berdasarkan keputusan bersama kami akan mengunjungi Karang Bolong, tempat oleh-oleh Lombok, tempat makan khas Lombok, dan Taman Narmada di hari pertama ini.

Image

Sungguh luar biasa pemandangan di pinggir pantai Pulau Lombok ini. Meskipun cuaca sangat terik sekali dan agak gersang, tetapi jalanan yang mengitari pinggir pantai Pulau Lombok ini tidak kalah cantik dengan Gili Trawangan. Sepanjang perjalanan menuju destinasi wisata kami yang pertama, yaitu Karang Bolong, kami pun tidak luput melihat kecantikan alam Pulau Lombok ini. Karang Bolong adalah sebuah karang yang dibawahnya bolong. Di atas karang tersebut terdapat Pura, tempat sembahyang umat Hindu Lombok. Untuk masuk ke area ini, teman kami yang berhalangan tidak diizinkan masuk dan kami yang diperbolehkan masuk juga harus memakai ikat pinggang berupa kain seharga Rp5.000,00. Kebetulan tempat ini sedang sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang yang hendak bersembahyang dan beberapa orang berseragam khas umat Hindu yang sangat ramah memberikan sapaan kepada kami. Bertempat di pinggir pantai Lombok, Pura yang bertingkat ini menawarkan pemandangan yang bagus dan tidak bisa didapatkan di Jakarta, terutama untuk para photo hunter.

Image

Image

Kemudian perjalanan kami lanjutkan ke pusat oleh-oleh khas Lombok. Hampir sama seperti outlet Dagadu di Yogyakarta, outlet yang kami lupa namanya ini banyak menawarkan berbagai kerajinan dengan penanda khas Lombok, seperti gantungan kunci, baju, daster, sandal, kain tenun, dan masih banyak lagi. Melihat budget kami yang minim, hanya sebagian dari kami yang membeli buah tangan di toko yang bisa dibilang besar dan banyak pegawainya ini. Tujuan berikutnya adalah toko mutiara yang dekat sekali dengan toko oleh-oleh sebelumnya. Melihat bentuk toko yang begitu mewah dan ekslusif ini hanya sebagian dari kami yang turun untuk melihat-lihat berbagai jenis mutiara dan sebagian lagi tetap berada di dalam mobil. Mutiara yang dijual di tempat ini memiliki berbagai variasi warna, bentuk, dan harga. Terdapat dua jenis mutiara yang dijual, yaitu mutiara air laut dan mutiara air tawar. Mutiara air laut memiliki harga yang mahal dengan hitungan gram, seperti emas. Meskipun demikian, mutiara air laut ini memiliki nilai investasi pula layaknya emas sekitar Rp300.000,00/gram. Sebaliknya, mutiara air tawar memiliki harga minimal Rp50.000,00/butir. Mutiara bisa dibeli dalam bentuk gelang, kalung, atau cincin sesuai dengan budget dan keinginan. Hal yang membedakan toko ini dengan penjual mutiara lainnya adalah adanya sertifikat yang diberikan setiap pembelian mutiara walaupun hanya satu butir. Dari toko ini pula kami mengetahui cara membedakan mutiara palsu atau bukan. Menurut salah satu pegawai toko tersebut, mutiara yang asli jika digigit akan terasa pasirnya dan bentuknya oval bukan bulat.

Posisi matahari yang sedang berada persis di atas bumi membuat kami harus makan siang sebelum kami semua pingsan di jalan. Pak Holki pun menyarankan untuk makan di rumah makan Yeni Murad Lesehan di Jalan Sudirman Gegutu Timur Rembiga (alamat yang terdapat dalam nota pembelian). Menu makanan kami adalah ayam bakar taliwang (makanan khas Lombok), plecing kangkung, plecing jamur, dan nasi satu bakul. Sambal di Pulau Lombok sangat pedas entah karena mengikuti nama pulau, yaitu Lombok yang artinya cabai atau memang penghasil cabai. Biaya yang harus kami keluarkan untuk makan siang adalah Rp127.000,00. Namanya juga backpacker jadi total biaya itu dibagi tujuh sehingga satu orang diantara kami hanya membayar Rp17.000,00. Tempat yang terdiri dari beberapa saung-saung di atas kolam ikan ini pun cukup membuat kami rileks sejenak. Jika tidak terkendala waktu, kami ingin berada dalam saung yang asri ini lebih lama lagi. Dengan keadaan ngantuk berat kami tetap melanjutkan perjalanan menuju Taman Narmada.

Image

Image

Tidak lama dari rumah makan, kami sampai di Taman Narmada. Tiket masuk Taman Narmada sebesar Rp5.000,00. Kami dibantu dengan pemandu wisata mengelilingi kompleks bekas kerajaan pindahan dari Bali ini. Pada bagian depan kompleks, kami melihat rumah raja, pendopo atau bale-bale kerajaan, dan bangunan peninggalan kerajaan lainnya yang masih kokoh berdiri. Tempat yang menarik kami adalah satu bangunan yang bisa dibilang rumah dengan teras yang luas dan merupakan tempat bersantai raja. Di bangunan tersebut, kami dapat melihat pula sebuah kolam yang dahulu adalah tempat pemandian selir raja. Menurut pemandu wisata, raja memiliki puluhan selir dan semuanya mandi di pemandian tersebut. Bangunan itu memang sengaja dibuat raja agar raja dapat melihat selirnya mandi dan merupakan tempat untuk memilih selir mana yang akan bermalam dengannya.

Image

Di dekat kolam, terdapat satu bangunan yang di dalamnya terdapat sumber air suci. Konon katanya, barang siapa yang meminum air suci tersebut akan panjang umur dan awet muda. Awalnya, kami sempat tertarik untuk mencoba air suci tersebut, tetapi untuk mencicipi air suci tersebut kami harus membayar sebesar Rp10.000,00 dan melakukan ritual khas umat Hindu sebagai simbol penghormatan kepada penunggu air suci tersebut. Hal tersebut membuat kami mengurungkan niat karena selain berbayar kami juga harus melakukan ritual yang menurut salah satu diantara kami terbilang syirik atau bertentangan dengan kepercayaan kami. Sementara itu, nuansa Hindu memang masih kental di kawasan ini. Kekentalan nuansa Hindu tersebut juga dipengaruhi oleh adanya Pura di atas kolam. Untuk mencapai Pura tersebut, kami harus menaiki puluhan anak tangga. Pemandu wisata kami pun menuturkan bahwa Pura tersebut dibuat oleh raja sebagai pengganti ritual di Gunung Rinjani karena usia raja yang sudah tua. Umat Hindu memercayai bahwa di Indonesia ada tiga gunung yang dianggap suci, yaitu Gunung Gede, Gunung Semeru, dan Gunung Rinjani. Di tiga gunung tersebut, umat Hindu biasanya melakukan persembahan dengan memberikan beberapa sajian untuk menghormati alam. Posisi Pura yang berada di atas Taman Narmada ini membuat angin berhembus kencang menabrak kami. Meskipun kami tidak bisa masuk ke dalam Pura, kami tetap bisa menikmati keseluruhan pemandangan kawasan Taman Narmada.

Image

Image

ImageImage

Image

Setelah kumandang adzan ashar begitu nyaring terdengar di kawasan ini, kami menyudahi wisata keliling Lombok di hari pertama. Suara adzan yang kencang ternyata disebabkan oleh julukan pulau Lombok, yaitu pulau seribu masjid. Tidak sulit menemukan masjid di pulau ini. Kata Pak Holki, di satu desa terdapat 10 masjid, di satu kelurahan terdapat 10 desa, dan di satu kecamatan terdapat 10 kelurahan (belum termasuk musala). Bisa dibayangkan banyaknya masjid yang beridiri di pulau ini. Meskipun demikian, bentuk bangunan masjid di sepanjang jalan yang kami lihat menuju kota Mataram memiliki bentuk yang besar dan bagus dengan berbagai corak berbeda disetiap masjidnya. Kontras sekali dengan masjid di Jawa yang tidak semua sebagus masjid di Lombok. Sesampainya di kota Mataram kami langsung menuju Wisma Nusantara I di Jalan Suprapto No 28 dengan nomor telepon (0370) 623492. Tempat yang bisa dibilang hotel ini mematok harga paling murah sebesar Rp50.000,00/kamar/malam. Tentu saja, kami memilih kamar seharga gocap tersebut untuk bermalam di provinsi Nusa Tenggara Barat. Apalagi kami yang berjumlah tujuh orang bisa hanya menyewa satu kamar. Namun, kami harus menanggalkan rasa takut terlebih dahulu karena bangunan hotel yang terbilang lama dan hanya ada kami yang menyewa hotel.

Image

Besok paginya (23/10/13) kami tidak dijemput oleh Pak Holki, tetapi oleh Pak Ipul (081933131973). Keberuntungan mungkin sedang menyelimuti kami sepanjang perjalanan panjang ini. Hal tersebut disebabkan Pak Ipul ternyata mengendarai mobil Avanza yang terbilang bagus daripada hari sebelumnya yang hanya mobil angkutan umum. Terlebih lagi, harga jasanya juga sama, yaitu Rp300.000,00/hari. Pak Ipul yang belakangan diketahui adalah kepala sekolah dasar tersebut sangat ramah dan suka bercerita. Hal tersebut membuat perjalanan kami tidak terasa jauh walaupun sebenarnya dapat dikatakan jaraknya jauh. Destinasi wisata pertama di hari kedua jalan-jalan keliling Lombok ini adalah desa kain tenun. Disini, kami diperlihatkan cara membuat kain tenun khas Lombok. Hanya perempuan yang diperbolehkan mencoba menenun. Hal tersebut dilandaskan pada adanya mitos yang melarang laki-laki menenun. Jika ada ada laki-laki yang menenun, maka laki-laki tersebut tidak akan mempunyai istri dan anak. Menurut adat disana, laki-laki harus bertani dan perempuan harus menenun untuk meneruskan kelangsungan hidup. Kami pun akhirnya membeli kain tenun seharga Rp150.000,00, sudah termasuk kain dan selendang. Harga tersebut adalah hasil dari penawaran panjang dengan salah satu pegawai laki-laki di toko tersebut.

ImageImageImageImage

Selanjutnya kami mengunjungi Desa Sasak Sade. Di desa ini kami masih dapat menjumpai masyarakat Suku Sasak dengan keaslian rumah khasnya. Tiket masuk desa ini sebesar Rp3.000,00. Tidak hanya diajak berkeliling desa oleh salah satu keturunan Suku Sasak, kami juga mendapat beberapa informasi menarik dari desa yang masih menjaga keasliannya ini. Informasi yang kami dapat adalah laki-laki Suku Sasak berprofesi sebagai petani dan perempuan Suku Sasak berprofesi menenun kain. Kemudian semua rumah di desa ini memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Rumah yang memiliki tingkat dua ini mempunyai tempat untuk menerima tamu di tingkat pertama dan dapur bersandingan dengan tempat tidur di tingkat kedua. Uniknya, cara membersihkan rumah menggunakan kotoran sapi.  Hal tersebut dimaksudkan agar lubang lantai dapat tertutupi oleh kotoran sapi dan mengurangi debu yang menempel di lantai. Selain itu, setiap lima keluarga memiliki satu lumbung padi dengan ketinggian di atas tinggi rumah. Orang yang dapat mengambil dan menaruh padi lumbung padi tersebut hanyalah kepala keluarga. Informasi lainnya yang kami dapat adalah suku ini menganut agama Islam dan di dalam desa terdapat satu masjid.

Image

Image

Cara melamar gadis di desa ini juga dapat digolongkan sebagai cara yang tidak lazim. Pasalnya, laki-laki yang hendak melamar gadis harus menculik gadis tersebut dan menyembunyikannya di dalam rumah kediaman laki-laki. Orang tua sang gadis pun tidak serta merta panik atas hilangnya anak mereka. Orang tua sang gadis malah senang karena sang gadis akan dilamar. Setelah seminggu mendekam di kediaman laki-laki, sang gadis akhirnya kembali ke rumah orang tuanya bersama orang tua laki-laki. Di hari pernikahan, sang gadis dan laki-laki diarak keliling kampung supaya semua orang di desa tersebut tahu kalau sang gadis dan laki-laki tersebut sudah menikah. Sayangnya, desa yang tidak terlalu besar ini membuat kami tidak berlama-lama dan kembali melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta dan Tanjung An.

Image

Ketika berada di Pantai Kuta, maka kami kembali berdecak kagum melihat keindahan Indonesia bagian Tengah ini. Selain masih sepi pengunjung, warna hijau yang indah menghiasi warna laut pantai. Tidak lupa kami mengabadikan foto berkali-kali supaya tidak menyesal dikemudian hari. Setelah puas menikmati pemandangan yang sangat jarang kami temui ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Tanjung An. Lokasi Tanjung An tidak jauh dari Pantai Kuta. Hampir serupa dengan Pantai Kuta, Tanjung An juga memiliki air laut berwarna hijau. Namun, di Tanjung An kami dapat melihat terumbu karang tanpa harus menyelam. Terumbu karang tersebut dapat terlihat dengan jelas sehingga menambah kecantikan dari tempat wisata yang masih belum ramai ini. Saking kami menyukai tempat ini kami tidak ingin cepat-cepat untuk pulang walaupun posisi matahari semakin menurun. Kami pun memesan kelapa muda seharga Rp7.000,00 dan bermain kartu untuk menghabiskan waktu menunggu saat-saat matahari tenggelam. Namun, kami keinginan kami melihat matahari tenggelam harus direlakan karena waktu yang masih lama dan tidak enak dengan Pak Ipul yang harus menunggu lama pula.

Image

Image

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 23, 2013 by in Catatan Perjalanan.
%d bloggers like this: