Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Jakarta, Gili Trawangan, Lombok, dan Bali I

Bulan Agustus tidak hanya menjadi momen istimewa umat muslim yang merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Bulan urutan kesepuluh dalam hitungan masehi tersebut juga tidak hanya menjadi bulan bertemu sanak saudara dan kerabat terdekat yang merantau. Lebih dari itu semua, bulan Agustus menjadi bulan paling mendebarkan dan dinantikan oleh mahasiswa yang ingin melepas penat perkuliahan yang memusingkan jiwa dan raga. Pasalnya, bulan tersebut merupakan bulan ke-3 libur semester genap yang paling lama, khususnya bagi mahasiswa UI. Lebih spesifiknya, mahasiswa tersebut adalah Iko, Arga, Evi, Manda, First, Liny, dan Hana.

Selain itu, setelah melewati semester empat dengan terengah-engah atau bisa dibilang lolos dari semua mata kuliah wajib jurusan yang menyiksa, kami berencana untuk berlibur melepas semua kekusutan yang terdapat dalam pikiran. Liburan ini telah lama menjadi agenda yang sudah dijadwalkan dari semester sebelumnya. Sebelum menentukan destinasi wisata, kami melakukan riset terlebih dahulu di dunia maya. Dengan budget minim dan banyaknya kuantitas destinasi yang ingin dituju, maka kami memutuskan berlibur ke Gili Trawangan, Pulau Lombok, dan Pulau Bali. Estimasi dana yang kami siapkan di awal adalah Rp1.500.000,00 dengan tenggat waktu 10 hari perjalanan.

Pada bulan Agustus minggu ke-3, kami memulai perjalanan panjang menuju dua pulau yang belum pernah kami datangi sebelumnya. Sebutan backpacker pantas kami sandang melihat budget dan jalur perjalanan yang akan kami tempuh. Perjalanan kami diawali menggunakan kereta Majapahit (18/10/13) seharga Rp100.000,00 rute Jakarta-Malang (untungnya, kereta Majapahit sedang ada potongan harga). Kereta Majaphit berangkat dari Stasiun Senen pukul 15.15 WIB dan tiba di Malang pukul 07.43 WIB di hari berikutnya. Tiket yang telah kami beli h-3 bulan tersebut sangat amat tidak mengecewakan. Meskipun kategori kereta termasuk ke dalam kategori kelas ekonomi, tetapi beda sekali dengan kategori ekonomi di kereta lainnya. Bahkan, menurut kami kereta tersebut adalah kereta eksekutif karena sangat nyaman dan pendingin ruangan yang sangat dingin. Hal tersebut kontras dengan kereta dari Malang menuju Banyuwangi.

Image

Esok harinya (19/10/13) kami tiba di Malang dan dilanjutkan dengan bertamu sekaligus menjemput salah satu teman kami, yaitu Hana. Ia adalah teman kami yang berdomisili di Malang dan rumahnya sempat menjadi tempat penampungan ketika kami liburan ke Gunung Bromo dan Pulau Sempu di liburan semester sebelumnya. Pada pukul 14.45 WIB kami pun sudah kembali berangkat menuju Banyuwangi menggunakan kereta Tawang Alun kelas ekonomi AC seharga Rp50.000,00. Seperti yang sudah diutarakan di atas, keadaan kereta Tawang Alun begitu kontras dengan kereta Majapahit. Kereta ekonomi yang disulap menjadi ekonomi AC ini hanya ditambahkan pendingin ruangan yang biasa ada di rumah. Keadaan kereta yang tertutup dan pendingin ruangan yang sangat tidak terasa membuat kondisi ruangan dalam kereta menjadi ungkep atau pengap. Rasanya kami ingin membuka kaca jendela yang telah tertutup rapat tersebut untuk mengundang angin senja masuk menembus tubuh kami secara bertubi-tubi. Ditambah lagi dengan kondisi kereta yang sering berhenti lama dan banyaknya pedagang masuk kereta menambah ketidaknyamanan menggunakan transportasi massal yang murah tersebut. Untungnya, kami selalu bersenda gurau sehingga ketidaknyamanan dan waktu berlalu begitu saja.

Image

Hampir delapan jam lamanya kami berada dalam kereta antarkota tersebut dan tiba di Stasiun Banyuwangi pada pukul 22.27 WIB. Sesampainya di stasiun, kami langsung memanfaatkan colokan charger gratis yang telah disiapkan oleh Dinas Perhubungan. Sementara melakukan isi baterai alat komunikasi, sebagian diantara kami melakukan ibadah umat muslim dan makan malam yang telah kami siapkan dari Jakarta dengan penambahan lauk dari Malang. Bekal makan yang kami siapkan adalah sambal teri kering dan abon untuk disandingkan dengan nasi putih yang akan kami beli di setiap destinasi yang dilewati. Hal tersebut disebabkan budget traveling yang paling banyak adalah makan sehingga kami perlu melakukan penghematan dari sisi ini. Tidak hanya itu, kami juga banyak membawa makanan ringan untuk mengganjal perut yang kosong di perjalanan.

Image

Melihat kondisi stasiun yang sudah sangat sepi atau malah hanya kami dan petugas penjaga stasiun yang masih tersisa, maka kami tidak berlama-lama melanjutkan berjalan kaki menuju Pelabuhan Ketapang. Jarak stasiun dan pelabuhan sangat dekat kemudian kami langsung membeli tiket kapal feri untuk menyebrang ke Pelabuhan Gilimanuk. Tanpa menunggu, kami langsung diarahkan petugas menaiki kapal feri yang sudah siap diberangkatkan. Pelayanan penyebrangan kapal feri selama 24 nonsetop ini membuat waktu perjalanan kami tidak terbuang terlalu banyak.  Tiket kapal pun murah hanya sebesar Rp6.500,00 dengan durasi penyeberangan sekitar satu jam.

Kira-kira sekitar pukul 01.30 kami tiba di Pulau Bali (20/10/13). Ciri khas arsitektur Bali sangat terlihat dari gapura selamat datang yang ada di Pelabuhan Gilimanuk. Sayang, kami tiba di pulau andalan wisata negara Indonesia di saat matahari belum menerangi bumi sehingga hanya deretan lampu jalanan yang menyambut kedatangan kami di Pulau Dewata ini. Perjalanan kami dilanjutkan dengan menaiki bus  rute Pelabuhan Gilimanuk-Pelabuhan Padang Bai seharga Rp50.000,00. Perawakan orang Bali yang sangar dengan kulit eksotisnya ditambah wewangian khas umat Hindu membuat kami tidak berhasil menawar harga bus. Bahkan, kami semua bisa dikatakan takut dan tidak menindaklanjuti penawaran harga setelah penolakan secara langsung di pertanyaan pertama oleh kernek bus. Meskipun diliputi rasa takut atas kemistisan pulau Bali (karena keadaan jalanan dan bus yang gelap juga), sebagian dari kami bergegas tidur dan sebagian lagi menikmati perjalanan dini hari.

Sekitar pukul 09.00 WITA kami sampai di pelabuhan paling timur Pulau Bali, yaitu Pelabuhan Padang Bai. Harga tiket kapal penyebrangan ke Pulau Lombok sebesar Rp40.000,00. Tidak seperti menyebrang dari Pulau Jawa ke Pulau Bali, penyebrangan dari Pulau Bali ke Pulau Lombok memakan waktu 4 jam lamanya. Kondisi cuaca yang cerah tidak membuat kondisi ombak juga baik. Entah mengapa ombak di pagi hari tersebut sangat besar sehingga kapal tidak bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Hal tersebut juga berdampak pada kondisi badan kami yang belum makan pagi walaupun kami tidak ada yang mabuk laut. Sebagian besar dari kami masuk angin karena angin di kapal tersebut sangat kencang. Kebetulan pula, kapal yang sedang kami naiki terbilang bagus sehingga kami sempat mengabadikan momen di atas kapal.

Image

Walaupun hanya berbekal riset dari dunia maya, kami tetap melangkah optimis menapaki Pelabuhan Lembar. Awalnya, kami hendak menunaikan ibadah di musala terdekat sambil mencari tahu angkutan kota yang tersebut di dunia maya. Namun, ada beberapa deretan mobil dengan beberapa laki-laki paruh baya yang menawarkan jasa sewa mobil. Meskipun kami tetap melangkah menjauh dari suara persuasif tersebut, suara tersebut terus membuntuti kami. Mungkin, pengendara mobil kijang yang membuntuti kami sedang membutuhkan uang secepatnya sehingga harga Rp350.000,00 dikeluarkan dari mulutnya dengan rute Pelabuhan Lembar-Pelabuhan Bangsal. Setelah mengetahui harga tersebut kami langsung bergegas menuju mobil kijang. Setidaknya, harga tersebut sesuai dengan riset kami sebelum memulai perjalanan panjang ini sehingga tidak over budget.

Sesampainya di Pelabuhan Bangsal, kami bergerak cepat membeli tiket perahu menuju Pulau Gili Trawangan. Pasalnya, jadwal perahu terakhir yang menyebrang sekitar pukul 16.00 WITA dan kami tiba di pelabuhan tersebut pukul 15.30 WITA. Tiket perahu dari Pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan sebesar Rp15.500,00. Sambil menunggu penumpang perahu penuh, kami bersantai di pinggir pantai melihat hamparan laut biru berkilauan yang luas. Pulau Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Menuk pun terlihat dari pinggir pantai ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 23, 2013 by in Catatan Perjalanan.
%d bloggers like this: