Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Jakarta, Gili Trawangan, Lombok, dan Bali IV

(24/10/13) Hari Sabtu pagi menjadi hari terakhir kami berada di pulau Lombok. Dengan diantar kembali oleh Pak Holki dari penginapan ke angkutan umum yang mengarah ke Pelabuhan Lembar, kami bersemangat menuju Pulau Bali. Untungnya, Pak Holki memberlakukan tarif normal angkutan umum walaupun beliau harus menjemput ke penginapan yang bukan rute sebenarnya. Untuk jasa antar Pak Holki dan naik angkutan umum menuju Pelabuhan Lembar kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp15.000,00. Sebenarnya, kami ingin diantar oleh Pak Ipul dari penginapan ke Pelabuhan Lembar, tetapi karena beliau sudah ada acara lain jadinya kami harus naik angkutan umum yang telah diberitahukan sebelumnya. Tidak disangka, Pak Holki tiba-tiba menelpon kami dan hendak mengantarkan kami menuju angkutan umum yang mengarah ke Pelabuhan Lembar. Kebaikan hati Pak Holki dan orang-orang Lombok, seperti Pak Abdurahman Saleh 081907085539 (pemilik Wisma Nusantara I) dan Pak Ipul membuat kami tidak akan pernah bosan mengunjungi Pulau Seribu Masjid ini. Bahkan, kami akan terus mempromosikan pulau ini kepada kerabat dan sanak saudara kami di Jakarta. Saat tiba di Pelabuhan Lembar, kami langsung dihampiri oleh sekumpulan calo yang menawarkan tiket kapal ferry. Sensasi menjadi artis sehari pun kami rasakan di pelabuhan ini. Kami terus diikuti dari awal kami sampai di pelabuhan hingga mau masuk ke dalam pelabuhan. Tidak kuasa menahan tawaran bertubi-tubi dan harga yang tidak jauh berbeda dengan beli di loket resmi, maka kami memutuskan membeli tiket kapal di calo seharga Rp40.000,00 (di loket resmi harganya Rp38.000,00). Kami pun harus bersabar selama empat jam lamanya untuk menapaki Pulau Dewata.

Image

Image

Perjalanan yang kami tempuh dari Pulau Lombok ke Pulau Bali adalah 4 jam. Sekitar pukul 02.00 WITA kami sampai di Pelabuhan Padang Bai. Setibanya di pulau yang terkenal dengan tarian kecaknya ini kami langsung menuju musala terdekat selagi menunggu jemputan Mas Anto dan menyantap makanan yang telah dibeli sewaktu pagi hari. Setelah makanan telah habis disantap, Mas Anto tak kunjung datang dan salah satu diantara kami menelpon beliau. Awalnya, beliau berkata bahwa beliau sedang ada tamu dari Amerika dan sedang mengantar ke bandara untuk pulang. Hal itu membuat kami harus menunggu lebih lama sekitar pukul 04.00 WITA. Kami tidak bermasalah dengan hal tersebut karena kami juga ingin beristirahat dari suasana laut yang memabukan. Namun, hingga pukul 05.00 WITA Mas Anto tak kunjung datang. Salah satu diantara kami kembali menelpon Mas Anto, tetapi lama sekali diangkat dan sekalinya diangkat beliau memberikan pernyataan yang menurut kami “menggantung”.

Melihat warna langit yang semakin kehitaman, kami memutuskan untuk bertanya kepada supir yang biasa mengangkut wisatawan. Harga yang dipatok sekitar 400ribu untuk mengantar ke daerah Kuta. Harga tersebut kami rasa mahal karena menurut keterangan Pak Zainuddin, Mas Anto bersedia mengantarkan kami dengan harga 350ribu seharian. “Apalagi ini hanya dari Pelabuhan Padang Bai ke Kuta yang tidak membutuhkan waktu seharian pasti bisa lebih murah lagi,” pikir kami. Tidak puas, kami menuju luar Pelabuhan Padang Bai dengan harapan harga akan lebih murah. Di luar pelabuhan tidak tampak bus yang mengantarkan kami dari Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Padang Bai. Kata orang yang kami tanya, bus itu hanya sampai jam 3 sore. Melihat ada angkutan umum berwarna biru, kami langsung bertanya kepada supirnya. Dengan bisik-bisik, supirnya bilang 350ribu sampai Kuta tapi masih mengangkut penumpang lainnya dan kami harus berjalan ke ujung gang pelabuhan dulu supaya preman berkedok supir pengangkut wisatawan tidak mengetahui. Harga yang masih mahal dan terkesan ribet kami pun menolak dan kembali menunggu Mas Anto di dalam pelabuhan.

Entah kenapa Mas Anto susah sekali dihubungi. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 06.00 WITA, tetapi Mas Anto belum juga sampai. Akhirnya, kami memutuskan untuk mencoba ke luar pelabuhan dan berharap ada angkutan umum yang bisa ditawar murah. Tiba-tiba kami dihadang oleh satu orang Bali yang mengatakan kalo tidak ada kendaraan lain yang berani lewat sini. Kami pun agak dipaksa memakai jasa orang tersebut. Dengan dalih menunggu jemputan kami menunggu di pinggir jalan dengan orang bule yang sedang kebingungan juga. Bukannya orang tersebut pergi, orang tersebut malah bilang kalau tidak akan ada orang yang berani menjemput ke pelabuhan ini. Jika ada yang nekat, mobil yang menjemput akan dipecah dan dirusak oleh orang-orang sekitar sini. Hal tersebut sudah pernah terjadi menurut perkataan orang tersebut. Sementara itu, kami menanyakan harga jasa antar kepada bule dan bule pun bilang kalau harganya mahal dan tidak sesuai dengan travel book yang sedang dipagangnya. Tidak tanggung-tanggung, harga jasa antar untuk bule dipatok 1juta. Keadaan yang sudah mulai tidak kondusif dengan pemaksaan yang semakin lama semkin mengancam keselamatan, maka kami terpaksa menaiki mobil kijang reot yang di dalamnya terdapat dupa dan sesajen yang menyengat hidung. Untungnya, orang yang memaksa tersebut mau dengan harga 350rb dari Pelabuhan Padang Bai ke Kuta. Meskipun sebagian diantara kami diliputi rasa takut dan kecewa, tetapi seenggaknya kami tidak over budget banget.

Di tengah perjalanan menuju Kuta, tetiba Mas Anto menelpon kami. Beliau meminta maaf berulang kali karena tidak jadi menjemput kami dan menceritakan alasan kenapa tidak menjemput. Benar saja, Mas Anto tidak jadi menjemput karena takut dengan preman Pelabuhan Padang Bai. Seperti yang dikatakan orang yang mencegat kami di luar pelabuhan, Mas Anto juga menceritakan kejadian penjemput yang nekat ke pelabuhan. Kemudian Mas Anto tetap berniat mau menjemput kami walaupun takut dan meminta kami menunggu karena Mas Anto merasa kasihan dengan kami yang masih bocah. Namun, keadaan yang tidak memungkinkan membuat beliau tidak jadi menjemput disamping terkendala dengan mobil. Ternyata juga, mobil untuk menjemput itu bukan mobil Mas Anto, tetapi mobil sewa. Jadi, Mas Anto juga harus memastikan ke rental mobil jika ingin menjemput dan mengantar keliling wisatawan. Harga jasa antar yang murah juga disebabkan pemilik rental mobil sudah percaya dengan Mas Anto sehingga harga sewa mobil bisa murah sekali. Di penghujung telepon, Mas Anto memastikan kalau besok bisa mengantarkan kami berkeliling Bali.

Sesampainya di Kuta, kami makan di restoran cepat saji asal Amerika yang lambangnya mentereng sekali di Jalan Pantai Kuta ini. Dengan membawa koper dan tas besar kami duduk di restoran yang ramai tersebut sambil memesan makanan dan merencanakan strategi pencarian hotel. Kami yang berjumlah tujuh orang dipecah menjadi empat bagian. Satu orang diantara kami menunggu di McD untuk menjaga barang bawaan dan masing-masing dua orang berkeliling jalan popies satu, jalan popies dua dan jalan popies tiga. Pukul 10.00 WITA kami yang berkeliling berkumpul kembali dengan rekomendasi hotel yang murah. Setelah menyampaikan laporan berkelilingnya, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di hotel Maharani II Jalan Pantai Kuta, Gang Wina Cottage (telp. 0361-756439). Pertimbangan kami memutuskan menginap di hotel ini adalah harga hotel yang murah, yaitu 300rb/malam dan satu kamar boleh diisi oleh tujuh orang. Selain itu, harga tersebut sudah termasuk kamar yang memakai AC dan air hangat. Lagi-lagi, keberuntungan sedang bersama kami ikut jalan-jalan walaupun dari McD harus berjalan agak jauh menuju hotel.

Image

Hari Minggu (25/10/13) pukul 08.00 WITA kami berjalan menuju pantai Kuta yang berada tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Di pantai Kuta kami melihat hamparan pantai yang sangat luas dari ujung kiri ke ujung kanan. Hampir sama seperti pantai Ancol, pantai ini memiliki garis pembatas untuk perenang. Melihat pantai yang terkenal ini kami biasa saja. Mungkin karena kami sudah melihat keindahan pantai yang luar biasa di Gili Trawangan sehingga pantai Kuta yang terkenal menjadi biasa saja. Tidak lupa kami berfoto-foto untuk mengenang tempat ini sekaligus mengeksiskan diri. Untuk menghemat waktu, setelah mngabadikan gambar kami makan di pinggir pantai dengan lauk nasi campur. Hampir sama seperti makanan di Lombok, nasi campur ini ada nasi campur ayam, nasi campur ati ampela, dan nasi campur telur. Harga nasi campur pun murah sebesar 7ribu.

Image

Image

Pukul 10.00 WITA kami dijemput oleh Mas Anto dengan mobil Daihatsu Terios. Destinasi wisata pertama di Bali adalah Tanah Lot. Ternyata, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat sampai ke Pura di tengah laut tersebut dari Pantai Kuta. Sesuai kesepakatan, jika ingin mendapatkan destinasi yang banyak maka kami harus bisa mengatur waktu di setiap tempat wisata. Setelah ditimbang-timbang pula dengan Mas Anto, kami diberikan waktu sekitar dua jam untuk melihat seluruh isi Tanah Lot. Tiket masuk Tanah Lot sebesar Rp11ribu/orang. Saat baru memasuki pintu depan tempat wisata ini, kami tidak langsung disuguhi oleh pemandangan Tanah Lot itu sendiri. Posisinya yang berada di selatan Pulau Bali dengan pemandangan hamparan laut membuat mata kami juga dimanjakan oleh pesona bentuk tanah yang langsung berhadapan dengan laut tersebut. Disana juga ternyata mempunyai Pura selain Pura yang berada di tengah laut. Pura lain yang bukan merupakan Pura utama dari Tanah Lot ini berada berjauhan dan berlawanan. Hal unik yang kami jumpai di Tanah Lot ini adalah kami bertemu kembali dengan rombongan bule yang kami jumpai di Gili Trawangan. Meskipun tidak bertegur sapa karena memang tidak berkenalan langsung pada saat di Gili dan hanya sekadar tahu, tetapi kami merasa bahwa liburan kami adalah liburan ala bule. Bagaimana tidak, tempat destinasi dan urutan wisata yang kami pilih sama dengan pilihan liburan bule. Hal tersebut semakin menambah kepuasan akan liburan kami ini yang hemat biaya.

Image

Image

Image

Image

Bisa dibilang, tempat wisata ini memiliki luas yang tidak sedikit. Cuaca panas tidak menghalangi langkah para wisatawan berkeliling. Tak terkecuali kami, mengingat waktu yang begitu cepat berlalu kami terus melanjutkan ke Pura utama Tanah Lot yang berada di tengah laut. Jika dilihat jarak Pura dan batas pulau tidak begitu jauh. Ombak yang kencang juga membuat posisi wisatawan tidak bisa jauh-jauh dari pasir pinggir laut. Puas dengan keindahan Tanah Lot, kami bergegas keluar kompleks ini. Di bagian pintu keluar menuju parkiran mobil, berderet aneka buah tangan khas Bali. Seakan diarahkan untuk membeli, jalanan sepanjang pintu keluar menuju parkiran mobil dipadati penjual. Jarak yang ditempuh untuk keluar dari godaan mengeluarkan uang berlebih dari anggaran juga bisa dibilang jauh. Namun, mepetnya waktu dan harus mendapat destinasi wisata yang banyak membuat kami tidak tergoda. Kami memang tidak berencana membeli oleh-oleh di sembarang tempat. Kami sudah merencanakan untu membeli oleh-oleh di Pasar Sukowati dan pusat oleh-oleh lainnya di keesokan hari.

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan menuju Uluwatu. Disini kami diharuskan membayar Rp15ribu sebagai tiket masuk. Sebelum memasuki wisata Uluwatu, kami yang memakai celana pendek diharuskan memakai kain berwarna ungu. Di dekat pintu masuk, terdapat sebuah pos yang menyediakan kain berwarna ungu. Bahkan, di pos tersebut tidak hanya menyediakan kain, tetapi juga memakaikannya kepada para wisatawan. Tentu saja, cara memakai kain tersebut tidak seperti orang mau salat. Kain berwarna ungu tersebut mempunyai dibentuk lipatan khas Bali. Dengan memakai kain tersebut, saya merasa benar-benar sedang berada di Bali dan tidak menyesal hanya memakai celana pendek. Setelah itu, kami melintasi pepohonan yang bisa dibilang rindang dengan banyaknya monyet yang berkeliaran dan menggantung dimana-mana. Rasa khawatir pun menyelimuti kami yang tidak terbiasa dengan kehadiran monyet di sekeliling kami. Pasalnya, banyak yang bilang kalau monyet tersebut akan mengambil barang-barang yang menggantung ataupun dipakai wisatawan, seperti kalung, dan kacamata. Aksi monyet yang sudah bisa dibilang mendunia tersebut juga diperkuat dengan adanya bapak-bapak yang berada di pintu masuk menawarkan jasa pemandu wisata dengan jaminan bisa memakai kacamata ataupun kalung dengan tidak diambil oleh monyet.  Sama seperti Tanah Lot, wisata Uluwatu ini juga menghadirkan pemandangan tebing ujung Pulau Bali dan Pura di sudut paling dalam dan atas tempat ini. Meskipun tidak dapat masuk di Pura, kami cukup puas dengan pemandangan yang begitu indah disana. Cuaca panas dan terik juga membuat kami menghabiskan banyak tenaga untuk berjalan. Saran untuk para wisatawan yang akan berjalan-jalan ke Bali adalah bawa dan pakai topi jika berkeliling. Hal tersebut disebabkan jika tidak memakai topi dan sedang tidak enak badan akan merasa pusing karena mendapat sinar matahari langsung. Tentu saja, hal tersebut tidak baik bagi kesehatan.

Image

Image

Image

Setelah menelusuri semua jalur yang terdapat di wisata Uluwatu ini, kami melanjutkan perjalanan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK). Tiket masuk GWK sebesar Rp40ribu. Hari yang sudah semakin sore dan tenaga yang sudah banyak dikeluarkan membuat kami harus mengisi perut terlebih dahulu sebelum memulai menelusuri tempat ini. Hal tersebut didukung oleh food court yang berada persis di depan pintu masuk GWK. Harga makanannya pun standart dan tidak terlalu mahal. Untuk makan siang, masing-masing dari kami membayar sebesar Rp15ribu dengan pilihan makanan yang berbeda. Enaknya jika jalan-jalan bareng teman-teman dan memesan makanan berbeda adalah kita dapat mencoba semua jenis makanan yang dipesan oleh teman kita. Kemudian kami pun mulai menjelajahi tempat wisata ini setelah merasa kenyang. Sayangnya, bagian tebing-tebing tinggi yang sering kami lihat sebagai lokasi syuting di FTV harus ditutup untuk umum. Hal tersebut disebabkan akan adanya perhelatan besar yang mampu menyewa bagian tebing-tebing tinggi tersebut. Keberuntungan tidak selalu menyelimuti kami, tetapi kami tidak lantas sedih. Selain tebing-tebing tinggi menjulang, ada bagian dari GWK yang masih bisa ditelusuri. Banyaknya batu penjelas mengenai asal mula GWK juga tidak luput dari penglihatan kami. Sejarah Ramayana begitu kental dan terasa nyata di tempat ini. Ada baiknya para wisatawan yang hendak berlibur ke Bali membaca kisah Mahabarata dan Ramayana terlebih dahulu. Hal tersebut dimaksudkan agar para wisatawan dapat menikmati wisata budaya selain wisata pemandangan alam.

Image

Image

Pusat dari tempat wisata GWK ini adalah patung dari Dewa Wisnu dan burung garuda kendaraan Dewa Wisnu. Dua patung tersebut terletak di dua tempat yang berbeda. Patung pertama yang kami lihat adalah patung Dewa Wisnu. Meskipun patung tersebut belum 100% jadi dan utuh, tetapi gambaran utuhnya sudah dapat terlihat. Di bagian kompleks patung Dewa Wisnu tersebut juga terdapat sebuah pendopo yang di atasnya ada replika patung GWK yang utuh. Salah satu pegawai GWK yang kami tanya juga mengatakan bahwa pengerjaan patung masih belum selesai karena adanya hambatan di dana. Beberapa waktu lalu katanya sudah ada investor yang mau memberikan modal dan tinggal menunggu waktu saja untuk dilanjutkan kembali. Patung Dewa Wisnu dan burung garuda nantinya akan dijadikan satu. Selain itu, ada pula air suci yang dapat diminum oleh para wisatawan secara gratis. Namun, adanya ritual yang harus dilakukan sebelum mendapatkan air suci tersebut membuat kami tidak jadi meminum air suci tersebut. Menurut salah satu diantara kami, ritual memohon doa dengan tata cara Hindu tersebut sudah termasuk salah satu perbuatan sirik, tetapi tidak ada yang tahu benar atau tidak. Setidaknya, kami sudah melakukan tindakan pencegahan. Entah apa hal tersebut juga yang membuat air suci tersebut tidak ramai dikunjungi wisatawan.

Image

Image

Di dekat pendopo tersebut terdapat pula jasa melukis sketsa wajah secara gratis. Awalnya, kami kira kata gratis yang ada di dekat bapak-bapak tersebut hanya bohong semata. Bagaimana kami tidak mengira demikian, tidak ada wisatawan yang memakai jasa tersebut ditengah padatnya wisatawan. Ternyata, jasa tersebut benar-benar gratis. Salah satu diantara kami ada yang mencoba menanyakan dan memakai jasa tersebut. Gambar sketsa wajah yang dihasilkan pun bagus dan mirip dengan aslinya. Tidak lama setelah memakai jasa skestsa wajah, di kompleks patung Dewa Wisnu berkumpul para penari Bali yang menunjukkan tarian khas. Tarian gratis tersebut menambah kepuasan berada di tempat ini walaupun tidak lama. Setelah itu, kami menuju gedung teater tempat penampilan tari kecak. Waktu pertunjukkan yang masih 30 menit lagi itu pun kami manfaatkan untuk melihat tarian Bali di dekat gedung teater dengan iringan gamelan Bali dan salah satu diantara kami ada yang memakai jasa kutek gratis. Harga tiket yang mahal tidak terasa mahal dengan banyaknya fasilitas yang diberikan di tempat ini. Puncak dari kunjungan kami adalah melihat penampilan tari kecak. Kisah Rama dan Sinta mengiringi tari kecak tersebut. Kisah tersebut sama dengan sendratari Ramayana di Candi Prambanan, Yogyakarta. Jika diperbandingkan, kisah Rama dan Sinta yang disuguhkan versi tari kecak dan sendratari lebih bagus sendratari. Pasalnya, pada tari kecak ada beberapa pemain kecak yang tidak serius dan asal-asalan, sedangkan pada sendratari semua pemain begitu serius dan menarik hati wisatawan.

Image

Image

Image

Image

Image

Selesainya pertunjukkan tari kecak juga mennadai selesainya kunjungan kami di GWK ini. Sekitar pukul 19.00 WITA kami meninggalkan kompleks GWK dan kembali menuju hotel. Sebelum kembali ke hotel, kami pun diajak berkeliling Bali sebentar oleh Mas Anto. Di dekat toko Joger, kami makan malam dengan nasi campur langganan Mas Anto. Benar saja, harga nasi campur tersebut murah dan kami hanya mengeluarkan uang sebesar Rp5ribu. Lalu kami pun diantarkan kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, ada yang langsung berbenah untuk tidur dan ada pula yang jalan-jalan. Saya termasuk dari salah satu diantara kami yang berjalan-jalan menikmati hari terakhir berada di daerah Kuta. Kami berjalan-jalan melewati jalan popies hendak menuju Jalan Legian. Tidak jauh dari tempat kami menginap dan hanya menempuh 15 menit dengan jalan kaki kami sampai di Jalan Legian. Sepanjanga jalan dipenuhi oleh kafe-kafe hiburan malam para bule. Kami pun teringat tragedy bom Bali di tempat ini. Jelas saja banyak bule yang meninggal. Sepenglihatan kami juga pengunjung kafe kebanyakan bule-bule dan jarang ada orang lokal. Kami pun melewati Monumen Bom Bali dan tidak mengabadikan gambar. Hal tersebut disebabkan besok kami akan mengunjungi tempat ini lagi dengan personil jalan-jalan yang lengkap. Jalan-jalan malam itu pun kami lanjutkan menuju pusat oleh-oleh bernama Krisna. Nama yang diambil dari nama salah satu dewa itu ramai dipadati pengunjung walaupun jam menunjukkan pukul 01.00 WITA. Setelah memanjakan mata dan berbelanja sedikit, kami pulang ke hotel dan melepas lelah untuk mengumpulkan tenaga berjalan-jalan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 2, 2014 by in Catatan Perjalanan.
%d bloggers like this: