Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Analisis Peran Laki-Laki dan Perempuan dalam Novel Manjali dan Cakrabirawa Karya Ayu Utami

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan secara fisik maupun peran di masyarakat. Dilihat secara fisik, perbedaan tersebut sangat terlihat dari tidak samanya struktur tubuh laki-laki dan perempuan. Biasanya, laki-laki lebih memiliki tubuh yang lebih besar dibandingkan perempuan. Begitu juga sebaliknya, perempuan biasanya memiliki bentuk tubuh yang kecil dibandingkan laki-laki. Selain itu, perempuan juga mempunyai buah dada yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Ditinjau lebih dalam, perbedaan laki-laki dapat terlihat pula dari ada beberapa fungsi organ yang hanya dimiliki oleh jenis kelamin tertentu. Misalnya, laki-laki mempunyai penis dan testis untuk menghasilkan sperma, sedangkan perempuan mempunyai vagina, sel telur, dan rahim. Dari perbedaan fungsi organ tersebut saja, laki-laki dan perempuan telah dibedakan perannya di masyarakat.

Tidak hanya sampai disitu saja, perbedaan laki-laki dan perempuan dapat dilihat pula dari faktor eskternal, yaitu peran di masyarakat. Adanya konstruksi di masyarakat tentang pembagian peran laki-laki dan perempuan membuat adanya penyempitan ruang gerak bagi laki-laki maupun perempuan untuk berkembang. Hal tersebut juga membuat laki-laki dan perempuan tidak maksimal dalam melakukan perannya di masyarakat. Hal tersebut disebabkan adanya keterpaksaan dan pencitraan yang dilakukan untuk diterima di masyarakat. Kontruksi pembagian peran yang berkembang di masyrakat adalah laki-laki memiliki peran mencari nafkah, sedangkan perempuan mengurus rumah. Padahal, tidak semua laki-laki mau dan memiliki kemampuan mencari nafkah. Begitu pula dengan perempuan, tidak semua perempuan sanggup dan mau mengurus pekerjaan rumah.

Namun, adanya globalisasi, keterbukaan, dan kontak dengan masyarakat negara lain membuat kontruksi masyarakat di Indonesia tersebut sudah mulai mengalami pergeseran. Meskipun tidak bisa dipungkiri kontruksi tersebut masih melekat erat dengan masyarakat, khusunya daerah pedesaan, tetapi konstruksi yang mengikat tersebut secara perlahan mulai mengendur dengan sendirinya. Kebutuhan hidup yang semakin mahal dan gaji yang tidak terlalu banyak mendesak masyarakat untuk melakukan hal yang lebih daripada sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya masing-masing. Kaum perempuan yang dulu dikonstruksikan hanya mengurus pekerjaan rumah juga tidak tega melihat hanya suami yang bekerja dan mendapat uang yang sedikit. Adanya desakan ekonomi tersebut menjadi salah satu faktor penyebab pergeseran konstruksi di masyarakat. Kaum perempuan juga mulai mencari pekerjaan untuk menambah pundi-pundi pendapatan keluarganya. Meskipun demikian, beban pekerjaan rumah masih ditanggung oleh kaum perempuan walaupun sudah ikut mencari tambahan uang dengan bekerja.

Faktor lain pula yang menyebabkan kontruksi peran laki-laki dan perempuan di masyarakat mengendur adalah faktor penerimaan pendidikan yang tinggi yang diterima oleh kaum perempuan. Pendidikan yang bisa diperoleh oleh siapapun asal memiliki kemampuan tersebut membuat banyak kaum perempuan yang meraih jenjang pendidikan tertinggi. Pendidikan yang telah diperoleh perempuan tersebut membuat perempuan tidak mau terkungkung hanya berkutat di rumah. Perempuan merasa bahwa jika sudah memperoleh jenjang pendidikan tinggi dengan susah dan ujung-ujungnya hanya mengurus rumah, maka kemampuan dan kerja keras selama ini akan sia-sia belaka. Karier dan kemampuan yang mapan dan dapat menghasilkan pendapatan yang lumayan atau bahkan dapat lebih besar dibandingkan laki-laki membuat kaum perempuan tidak mau melewatkan kesempatan tersebut begitu saja.

Adanya pergeseran dan perubahan konstruksi masyarakat di Indonesia mengenai laki-laki dan perempuan membuat penulis ingin mengetahui hal apa saja terkait kontruksi masyarakat yang telah mengalami perubahan. Tentu saja, kontruksi masyarakat tersebut tidak terlepas dari strereotipe yang berkembang dan hidup di dalam masyarakat itu sendiri. Aturan tidak tertulis tetapi mengikat masyarakat tersebut dapat terlihat dalam sebuah karya sastra, seperti novel, puisi, maupun drama. Hal tersebut disebabkan biasanya karya sastra mencirikan mengenai hal yang sedang terjadi atau tumbuh di masyarakat. Dari karya sastra juga kita dapat melihat berbagai pandangan manusia tentang permasalahan yang ada di masyarakat. Pandangan seseorang tentang hal apa yang sedang dirasakan dan pendapat mengenai hal yang ada disekitarnya dapat dijumpai dengan jelas di sebuah novel. Dalam novel, pengungkapan dan penggambaran pandangan tokoh sangat jelas terlihat dibandingkan puisi dan drama. Hal itu disebabkan puisi dan drama biasanya menggungkapkan dan menggambarkan sesuatu secara tersirat.

Oleh karena itu, penulis akan mencari tahu perubahan konstruksi masyarakat di Indonesia dilihat dari sebuah novel. Novel yang penulis pilih untuk melihat perubahan konstruksi masyarakat tentang laki-laki dan perempuan tersebut adalah novel yang berjudul Manjali dan Cakrabirawa karya Ayu Utami. Hal ini disebabkan dalam novel ini sangat terlihat perubahan konstruksi masyarakat menganai laki-laki dan perempuan. Tidak hanya dalam dialog yang ada dalam novel, tetapi pemikiran tokoh utama juga dapat menjadikan data untuk melihat gambaran perubahan konstruksi masyarakat di Indonesia. Untuk lebih memudahkan penulis dalam melakukan analisis, maka penulis akan mempersempit bahasan yang akan dicari. Dalam makalah ini, penulis akan melihat perubahan konstruksi masyarakat tentang laki-laki dan perempuan dilihat berdasarkan peran laki-laki dan perempuan itu sendiri.

Dalam mencari peran jenis kelamin, penulis akan melihat peran tersebut dari Sex Role Inventory yang dikemukakan oleh Bem. Dalam hal ini, penulis ingin melihat perubahan konstruksi peran jenis kelamin dari Sex Role Inventory yang dikemukakan Bem sesuai dengan konstruksi masyarakat Indonesia. Sebelum menganalisis, penulis juga akan memaparkan tokoh dan latar dari novel Manjali dan Cakrabirawa terlebih dahulu. Hal tersebut disebabkan keterlibatan unsur eksternal dalam karya sastra tidak terlepas dari unsur instrinsiknya. Pada tulisan ini pula, pusat kajian akan terfokus dalam tokoh Marja, Parang Jati, dan Yuda. Tokoh lain yang terdapat dalam novel dan bukan termasuk tiga orang yang telah disebutkan sebelumnya tidak akan dijadikan data analisis melalui pendekatan gender.

1.2  Pengertian Jenis Kelamin dan Peran

Ada dua istilah penting dalam makalah ini, yaitu jenis kelamin dan peran. Istilah jenis kelamin untuk menunjuk pada karakteristik yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan yang diartikan secara eksklusif secara biologis. Laki-laki memiliki penis dan memproduksi sperma, sedangkan perempuan memiliki vagina dan mempunyai sel telur. Laki-laki dan perempuan juga memiliki hormon berbeda yang mengatur fungsi-fungsi fisiologi dan psikologi tertentu. Itulah yang disebut dengan perbedaan jenis kelamin. Perbedaan jenis kelamin hanya berkaitan dengan ciri-ciri biologis, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui. Perbedaan tersebut tidak dapat diubah, misalnya, laki-laki tidak mungkin bisa menyusui. Sementara itu, perbedaan peran berhubungan dengan karakter dan peran sosial. Citra perempuan yang lembut, halus, permitif, dan emosional adalah askriptif gender. Demikian pula dengan pembagian kerja yang menempatkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga (domestic domain) dan laki-laki sebagai pencari nafkah (public domain). Hal tersebut juga menunjukkan adanya peran sosial berdasarkan peran. Perbedaan peran itu sebenarnya dapat diubah dan dibalik. Misalnya, ada laki-laki yang memiliki karakter feminin, lembut, dan halus. Sebaliknya, kita juga sering menemukan perempuan yang memiliki karakter maskulin, agresif, dan rasional.

Perilaku dan karakteristik yang dipengaruhi oleh budaya dan pembelajaran merupakan definisi dari peran (Unger, 1979 dikutip dari Benjamin 1987:135). Jenis kelamin menunjuk pada karakteristik yang ditentukan scara biologis dan berkaitan dengan dimensi laki-laki versus perempuan. Peran mengarah pada karakteristik penting pada lingkungan yang kuat dan berkaitan dengan dimensi yang berkaitan dengan sifat maskulin versus feminin (Stewart and Lykes, 1985 dikutip dari Benjamin 1987:135). Kemampuan untuk melahirkan anak adalah sifat yang berkaitan dengan jenis kelamin. Sementara itu, kemampuan untuk membesarkan anak secara tradisional dikaitkan dengan peran. Maskulinitas dan femininitas adalah stereotype yang didasarkan atas perbedaan biologis, tetapi hal tersebut juga tidak melekat sejak lahir. Maskulinitas dan femininitas menunjuk pada perbedaan peran, yaitu keadaan individu yang lahir secara biologis sebagai laki-laki dan perempuan yang kemudian mendapat pencirian psikologis sebagai laki-laki dan perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan femininitas, serta pemisahan dalam lingkungan pekerjaan. Perbedaan tersebut dilegitimasi oleh nilai-nilai dan norma-norma budaya masyarakat. Dengan demikian, apa yang disebut perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan hanya terkait dengan perbedaan identitas mental dan posisi sosial yang dapat dipertukarkan dan saling menggantikan. Hal tersebut dimaksudkan perempuan pun bisa memiliki identitas yang maskulin dan dapat pula memiliki posisi sosial yang unggul di ranah publik. Hal tersebut juga terjadi pada  laki-laki yang dapat berperan di ranah domestik dan mempunyai identitas mental yang feminin.

1.3  Peran Jenis Kelamin

Hurlock (1984: 456) mengartikan peran jenis kelamin sebagai: “Patterns of behavior for members of the two sexes approved and accepted by the social group with which the individual is identified”. Lerner (1983) mendefinisikan sex role sebagai seperangkat perilaku yang ditetapkan secara sosial bagi orang-orang dengan kelompok jenis kelamin tertentu. Donalson dan Gullahorn (1977) menyatakan bahwa peran jenis kelamin mengikutsertakan apa yang dipercayai oleh kultur tentang perilaku yang berbeda dan karakteristik tertentu orang yang diasosiasikan merupakan anggota dari tiap jenis kelamin. Menurut Corsini (1987), peran jenis kelamin merupakan sekumpulan atribut, sikap,  kepribadian dan perilaku yang dianggap sesuai untuk masing-masing jenis kelamin.

Bem (1978) menyatakan ada dua model orientasi peran jenis kelamin berdasarkan psychological well being, yakni model tradisional dan model nontradisional. Model tradisional berpandangan bahwa maskulinitas dan feminitas dipandang sebagai titik-titik yang berlawanan dalam satu kontinum yang bipolar. Model nontradisional dimulai tahun 1970-an ketika sejumlah penulis (antara lain Bem, 1974; Constantinople, 1973, dan Spence, Helmrich & Stapp, 1974, dalam Bass, 1990) menyatakan bahwa maskulinitas dan feminitas lebih sesuai dikonseptualiasikan terpisah dan merupakan dimensi yang independen. Berdasarkan konsep ini, Bem (1978) menyatakan terdapat empat klasifikasi kepribadian berdasarkan respons seseorang terhadap skala maskulinitas dan feminitas pada Bem Sex Role Inventory (BSRI), yaitu:

(1) Sex-typed, yakni seorang laki-laki yang mendapat skor tinggi pada maskulinitas dan mendapat skor yang rendah pada feminitas. Pada perempuan, mendapat skor yang tinggi pada feminitas dan mendapat skor yang rendah pada maskulinitas.

(2) Cross-Sex-Typed, yakni laki-laki yang memperoleh skor tinggi pada feminitas, namun memperoleh skor yang rendah pada maskulinitas. Sebaliknya pada perempuan memiliki skor yang tinggi pada maskulinitas dan skor yang rendah pada feminitas.

(3) Androginy, yakni laki-laki atau perempuan yang mendapat skor tinggi pada maskulinitas dan pada feminitas.

(4) Undifferentiated, yaitu laki-laki atau perempuan yang memperoleh skor rendah baik pada maskulinitas maupun feminitas.

BAB 2

ISI

2.1 Ringkasan cerita Novel Manjali dan Cakrabirawa Karya Ayu Utami

Novel Manjali dan Cakrabirawa adalah novel karya Ayu Utami yang diterbitkan pada tahun 2010. Novel ini menceritakan perjalanan liburan seorang mahasiswi dari kota bernama Marja yang dititipkan oleh pacarnya, Yuda,  kepada Parang Jati, sahabat Yuda di kaki Gunung Lawu, Jawa Timur. Penitipan Marja tersebut juga merupakan sebuah siasat yang dibuat Yuda untuk mengelabui Parang Jati. Hal tersebut disebabkan ketidaksukaan Parang Jati terhadap militer. Padahal, Yuda pada saat itu sedang menjadi guru latihan militer karena keahliannya dalam memanjat tebing. Tidak ingin sahabatnya marah dan mengetahui fakta yang sebenarnya, Yuda mengirimkan Marja untuk memperkuat kebohongan kepergiannya.

Selain berlibur dan memegang amanah rahasia Yuda, Marja juga ikut dalam penelitian sebuah penemuan candi peninggalan Raja Airlangga yang sedang digali dan diteliti oleh Parang Jati. Ada dugaan bahwa candi tersebut adalah makam Calwanarang, dukun teluh terkenal pada masanya. Uniknya, nama putri dari dukun teluh tersebut bernama Manjali yang juga merupakan nama belakang Marja. Meskipun tidak mengerti tentang dunia arkeologi dan sejarah, Marja tetap berusaha ingin tahu melalui Parang Jati. Keingintahuan Marja membuka wawasan sejarah, terutama sejarah Indonesia. Namun, kebersamaan Marja dan Parang Jati tersebut membuat Marja merasakan kelembutan mata malaikat yang jatuh dari langit dari Parang Jati. Entah apakah Marja hanya ingin  merasakan hawa nafsu yang sedang menyelimuti pikirannya atau memang perasaan suka terhadap Parang Jati. Pastinya, sejak awal bertemu Marja telah terpikat dengan pesona Parang Jati hingga menimbulkan fantasi untuk melakukan hal yang sering dilakukannya bersama Yuda.

Status pacaran yang sedang dipegangnya bersama Yuda juga tidak membuat Marja malu untuk membuka hati dan tubuhnya kepada Parang Jati. Obsesi birahi Marja pun terpenuhi di tengah liburannya tersebut walaupun belum mencapai klimaks. Parang Jati yang pemalu dan penuh pertimbangan semakin membuat Marja mengagumi Parang Jati dibandingkan Yuda. Pengkhianatan yang dilakukan Marja dan Parang Jati terhadap Yuda tidak membuat Marja menyesal. Sementara itu, di tengah liburannya pula Marja menemukan hal-hal ganjil yang terjadi berulang kali. Cerita-cerita tentang sejarah, gaib, dan pertemuannya dengan seorang nenek tua yang tinggal di belakang kuburan membuat liburan Marja mempunyai makna. Belakangan diketahui bahwa semua cerita yang didengar Marja memiliki hubungan satu sama lain sehingga ada misi yang harus diselesaikan. Tidak hanya cerita tentang sejarah, gaib, dan kejadian yang menimpa Marja saja yang mempunyai hubungan. Bahkan, kepergian Yuda berlatih bersama militer pun memiliki keterkaitan dengan berbagai peristiwa yang terjadi di kaki Gunung Lawu tersebut.

Cerita Calwanarang hingga pemberontakan G 30 S PKI dan Gerwani membuka tabir yang baru bagi Marja dan ternyata mempunyai kaitan dengan nenek tua yang ditemuinya tersebut. Keberadaan candi dan kejadian yang kebetulan terus menerus itu pun menguak satu sisi dari nenek tua yang masih belum terpecahkan. Kebetulan yang terus terjadi membuat Marja memiliki andil untuk memecahkannya. Pertanyaan besar yang dihinggapi nenek tua tentang keberadaan makam suaminya yang seorang tentara Cakrabirawa dan anak yang dilahirkannya di penjara dan sampai sekarang belum ditemuinya tersebut membentuk rantai yang tak terpisahkan dengan fakta-fakta yang ditemukan Marja. Perlahan tetapi pasti jawaban dari pertanyaan besar nenek tua tersebut dapat dipecahkan oleh Marja.

Sementara itu, latihan bersama militer yang disembunyikan dari Parang Jati mengenalkan Yuda kepada Musa Wanara. Angkatan militer tersebut sangat gigih dan bekerja keras dalam latihan. Ia pula yang berjasa membuat surat dan  mengantarkan Yuda meminta maaf dan izin untuk ujian ulangan kepada para dosen. Hal tersebut juga membuat Yuda mengetahui kesukaan Musa Wanara terhadap Cakrabirawa yng katanya terdapat dalam candi Calwanarang. Niat jahat pun muncul untuk mengambil benda yang menurut Musa sakti tersebut.

Akhirnya, berdasarkan beberapa kejadian dan kebetulan yang sering terjadi di kehidupan Marja, Yuda, dan Parang Jati terkuak sebuah fakta mengenai lokasi makam suami nenek tua yang berada di dalam candi yang sedang digali. Kehadiran Musa Wanara di candi yang berada di kaki bukit Gunung Lawu juga membuka fakta bahwa Musa adalah anak dari nenek tua yang ditemui Marja. Meskipun demikian, sikap Musa yang anti dari hal-hal berbau PKI dan Gerwani akan membuat Yuda agak kesulitan untuk memberitahukan dan mempertemukan Musa dengan ibu kandungnya tersebut.

2.2 Analisis Unsur Instrinsik dalam Novel Manjali dan Cakrabirawa

2.2.1 Tokoh dan Penokohan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, unsur ekstrinsik tidak terlepas dari unsur instrinsiknya.  Sebelum melakukan analisis terkait peran dan karakteristik laki-laki dan perempuan dalam novel Manjali dan Cakrabirawa, penulis akan memaparkan sedikit tentang tokoh dan penokohan dalam novel ini telebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar pembaca mengetahui garis besar isi dari novel Manjali dan Cakrabirawa. Sudjiman (1992:23) mengemukakan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa di dalam suatu cerita. Tokoh-tokoh peristiwa dalam suatu cerita dapat terjalin karena peristiwa atau kejadian yang terjadi merupakan hasil dari hubungan para tokoh.

Di dalam novel Manjali dan Cakrabirawa terdapat tokoh sentral dan tokoh bawahan. “Tokoh sentral adalah tokoh yang memegang peran pimpinan” (Sudjiman, 1986:61), sedangkan tokoh bawahan adalah “tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung kedudukan tokoh sentral.” (Grimes, 1975:43). Namun, dalam bagian ini penulis tidak akan memaparkan pembagian tokoh sentral dan tokoh bawahan. Penulis hanya akan memaparkan sikap, sifat, dan peran dari tiga tokoh yang menjadi pusat data analisis. Hal tersebut disebabkan bagian ini hanya bersifat menjelaskan dan tidak mendalam. Bagian yang akan diperdalam adalah bagian analisis memalui pendekatan gender. Tokoh yang akan dijelaskan pada bagian ini adalah Marja, Parang Jati, dan Yuda.

Marja adalah mahasiswi jurusan Seni Rupa di Institute Teknologi Bandung (ITB) yang berdomisili di Jakarta. Ia merupakan perempuan yang agresif, memiliki imajinasi yang liar, dan juga kekanak-kanakan. Perempuan kota ini memiliki kekasih bernama Yuda. Meskipun telah memiliki kekasih, Marja tidak menutupi kesukaannya terhadap sahabat pacarnya yang bernama Parang Jati. Berikut adalah salah satu kutipan yang menjelaskan sifat yang dimiliki oleh Marja.

“Tapi malam ini ia membayangkan kecupan lembut pada dahinya dari Parang Jati. Ucapan selamat malam yang meruntuhkan tanggul pertahanan. Ia inginkan ciuman hangat tanpa gigitan. Pelukan yang erat dan embun haru pada mata . dua tubuh telanjang tanpa jarak pandangmenjelma objek bagi yang lain. Ia inginkan persatuan yang dalam dan sederhana.” (Manjali dan Cakrabirawa, 2010:45)

Dari kutipan tersebut terlihat bahwa Marja memiliki imajinasi yang bisa dibilang liar dengan sahabat pacarnya sendiri, yaitu Parang Jati. Padahal, Marja telah memiliki pacar bernama Yuda. Kebiasaan Marja dan Yuda dalam berhubungan walaupun belum menikah membuat keinginan tersebut timbul pula dengan lawan jenis lainnya. Orientasi seksual yang dimiliki Marja terlihat begitu besar. Selain itu, kutipan di atas juga menjelaskan sifat agresif yang dimiliki Marja. Pemikiran Marja tersebut sudah menjelaskan sifat dan sikap yang dimilikinya.

Lain halnya dengan Parang Jati. Laki-laki yang merupakan sahabat Yuda, pacar Marja ini memiliki sifat baik, sabar, dan pintar. Kebaikan hati Parang Jati juga terlihat dari ketidakberatan kehadiran Marja ikut dalam penelitian yang sedang digeluti. Padahal, bisa saja Parang Jati menolak Marja ikut serta di kaki bukit Gunung Lawu tersebut. Apalagi dengan kehadiran Marja dapat membuat beban Parang Jati meningkat. Tidak hanya sibuk menggali dan meneliti candi, Parang Jati juga harus menjaga Marja. Meskipun demikian, Parang Jati tidak menggap hal tersebut sebagai beban. Kebaikan kesabaran, dan kepintaran Parang Jati dapat terlihat dalam kutipan berikut ini.

”Marja, kamu harus ikut Kurus logika, ya? Satu. Ada yang dinamakan luas pengertian. Nah, pengertian kita sekarang tak seluas daerah yang seharusnya kita sisir. Dua. Ada pernyataan negative dan ada pernyataan positif. Jika hasil pencarian kita negatif, maka kita tidak bisa mengambil kesimpulan positif. Jika kita tidak menemukan ibu itu, maka kita tidak bisa menyimpulkan bahwa ibu itu adalah hantu. Sebab, barangkali ibu itu tinggal di tempat yang luput dari penyisiran kita.”(hlm. 124)

Kutipan di atas menjelaskan bahwa Parang Jati memiliki sifat baik, sabar, dan pintar. Perkataan Marja yang entah manja atau malas berpikir tersebut ditanggapi Parang Jati dengan lembut dan masuk akal. Penjelasan Parang Jati di atas juga dapat memperlihatkan wawasan yang dimiliki luas dan tidak merendahkan Marja. Tidak hanya itu, terlihat pula bahwa Parang Jati memiliki sikap kalem dan tidak gampang emosi walaupun sebenarnya tidak menyetujui pendapat Marja sebelumnya. Semua itu tetap berusaha dijelaskan menggunakan akal dan tidak asal.

Tokoh terakhir yang menjadi data analisis adalah Yuda. Selain menjadi pacar Marja, Yuda juga merupakan mahasiswa yang aktif dan memiliki keahlian di bidang panjat tebing. Keahlian Yuda akan panjat tebing tidak diragukan lagi dengan adanya penawaran latihan gabungan militer. Di latihan gabungan militer tersebut, Yuda menjadi salah satu guru yang mengajarkan panjat tebing kepada anggota militer. Yuda sendiri memiliki sikap yang memiliki perhatian kepada orang di sekitarnya, tidak terlalu memikirkan hal-hal yang aneh-aneh, dan santai. Hal tersebut dapat terlihat dari kutipan di bawah ini.

“Tapi Yuda selalu bisa berkata, persetan, segalanya bisa dibereskan nanti. Ia juga senang membuat ketegangan itu jadi semacam taruhan dari dalam diri sendiri: rahasia bocor atau tidak bocor. Jati akhirnya tahu, atau tidak tahu. Apa taruhannya, kita bereskan nanti.” (hlm.52)

Berdasarkan kutipan di atas, Yuda memiliki perhatian kepada orang di sekitarnya. Hal itu terlihat dari adanya pikiran mengenai rahasianya dengan Parang Jati. Meskipun demikian, Yuda tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan dengan santai akan melihat nanti apakah rahasianya bocor atau tidak. Sikap santai Yuda tersebut lebih terlihat dari menggampangkan sesuatu hal, tetapi hal tersebut tidaklah terlalu buruk pula. Hal tersebut disebabkan tidak ada gunanya juga memikirkan hal yang belum tentu terjadi.

2.3 Analisis Peran Laki-laki dan Perempuan dalam Novel Manjali dan Cakrabirawa

Bem (1978) menyatakan bahwa terdapat empat klasifikasi kepribadian berdasarkan respons seseorang terhadap skala maskulinitas dan feminitas pada Bem Sex Role Inventory (BSRI). Namun, dalam novel Manjali dan Cakrabirawa penulis hanya melihat satu tipe yang dapat menggambarkan peran laki-laki dan perempuan. Tipe yang sesuai dengan novel karya Ayu Utami ini adalah tipe yang pertama, yaitu sex-typed.  Maksud dari tipe ini adalah tipe yang menggap bahwa seorang laki-laki akan mendapat penilaian tertinggi dengan menjunjung aspek maskulinitas dari dalam diri yang dimilikinya. Pada tipe ini seorang laki-laki yang menjunjung aspek feminitas akan dinilai rendah oleh masyarakat. Hal tersebut disebabkan adanya konstruksi masyarakat yang menyebabkan adanya pemaksaan jika pada kenyataan tidak sesuai.

Dalam hal ini, aspek maskulinitas masih dijunjung pada tokoh laki-laki dalam novel, yaitu Yuda dan Parang Jati. Hal tersebut dapat terlihat dalam kutipan berikut ini.

“Matahari turun telah tiba di pucuk tebing. Senja membangkitkan hawa dingin. Sebentar lagi kabut Gunung Burangrang mungkin turun. Latihan pemanjatan air terjun hari itu telah selesai. Yuda memandangi para prajurit yang berkemas untuk kembali ke perkemahan. (hlm.52)

Kutipan di atas menjelaskan bahwa Yuda telah selesai melakukan latihan pemanjatan air terjun dengan para prajurit militer. Hal tersebut menegaskan bahwa laki-laki melakukan kegiatan yang menantang dan penuh risiko. Olahraga ekstrim memang cocok dilakukan oleh laki-laki. Kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga dan menghasilkan banyak keringat tersebut identik dengan laki-laki. Dalam hal ini, anggapan maskulinitas ditunjukkan dengan kegiatan yang sedang digeluti. Hal-hal yang membahayakan, menantang, dan berat dapat diasosiasikan kepada hal-hal yang berbau maskulinitas. Hal tersebut juga dapat diperkuat dengan kutipan di bawah ini.

“Matanya turun dari puncak candi itu kepada orang-orang di bawahnya, yang sedang membersihkan arca Syiwa Bhairawa. Ia memandangi Parang Jati dan merasa sendu.” (hlm. 82)

Berdasarkan kutipan di atas diketahui bahwa Parang Jati merupakan arkeolog yang sedang membersihkan arca Syiwa Bhairawa yang baru ditemukan dari hasil penggalian. Pekerjaan sebagai seorang arkeolog tersebut terlihat sebagai faktor maskulinitas. Hal-hal yang berbau lapangan, kotor, dan tidak biasa membuat peran laki-laki terlihat jelas. Pada kutipan tersebut pula, Marja hanya memandangi Parang Jati dan pekerja lainnya membersihkan arca. Padahal, bisa saja jika Marja ingin ikut membersihkan arca. Namun, adanya konstruksi di masyarakat membuat Marja hanya memandangi laki-laki yang sedang menjalankan perannya itu.

Selain dari faktor kegiatan yang sedang ditekuni, maskulinitas juga dapat terlihat dari faktor bentuk tubuh Yuda dan Parang Jati. Bentuk tubuh yang bagus dan tidak buncit membuat konstruksi di masyarakat dalam novel merupakan sebuah maskulinitas yang dimiliki seorang laki-laki. Biasanya, anggapan maskulinitas yang dilihat dari bentuk tubuh laki-laki disebut dengan macho. Terlebih lagi, bila laki-laki memiliki otot yang terlihat dalam tubuhnya. Anggapan maskulinitas pasti akan melekat pada diri laki-laki tersebut. Anggapan yang demikian pula dapat terlihat dalam kutipan di bawah ini.

“Dan ia menyadari betapa beda Yuda, kekasihnya, dan Jati, sahabatnya. Yuda yang kasar, sinis, dan liar, sementara Jati yang halus, sopan dan perenung, meskipun keduanya sama bertubuh pejal, sama tabah menanggung siksaan tebing dan sama tulus.” (hlm.44)

Kutipan di atas menjelaskan Marja mendeskripsikan kedua laki-laki, yaitu Parang Jati dan Yuda tidak hanya dari sifatnya saja, tetapi juga dari tubuh yang dimiliki oleh keduanya. Tubuh yang pejal menandakan bahwa bentuk tubuh Parang Jati maupun Yuda bagus. Bentuk tubuh yang bagus tersebut diasumsikan dengan tubuh yang memiliki otot sehingga terlihat pejal. Bentuk tubuh yang bagus dan memiliki otot ini merupakan sebuah anggapan maskulinitas yang terdapat dalam diri seorang laki-laki. Faktor tersebut membuat pandangan Marja sebagai seorang perempuan menilai lebih dari maskulinitas yang dimiliki Parang Jati dan Yuda.

Hal sebaliknya juga berlaku bagi perempuan. Dalam novel ini, perempuan yang memiliki aspek feminitas akan mendapat penilaian tertinggi oleh suatu masyarakat. Konstruksi masyarakat menyebutkan bahwa aspek feminitas yang terdapat dalam diri perempuan menambah nilai lebih dari perempuan tersebut. Namun, jika seorang perempuan tersebut menjunjung aspek maskulinitas, maka perempuan tersebut dianggap atau mempunyai nilai yang rendah di masyarakat. Salah satu contoh bentuk dari aspek feminitas adalah sikap manja yang dilakukan oleh Marja kepada Parang Jati. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut ini.

“Parang Jati memandangi ia lagi, menaksir-naksir adakah gadis itu sedang manja atau sedang malas berpikir” (hlm.124)

Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa Marja menunjukkan sikap manja kepada Parang Jati. Sikap manja tersebut tidak lantas diartikan negatif oleh Parang Jati. Konstruksi masyarakat di dalam novel yang menempatkan nilai tertinggi untuk perempuan yang menunjukkan aspek feminitas  membuat Marja menonjolkan sikap manja tersebut. Padahal, sikap manja tersebut tidak baik bila dibiarkan berlarut-larut. Seorang perempuan juga harus bisa mandiri dan tidak boleh terlalu bergantung terhadap orang lain. Namun, peran perempuan dalam novel ini lebih menekankan aspek feminitas yang identik dengan sikap lembut, lemah, dan manja. Terlebih lagi, dalam novel ini aspek feminitas juga ditunjukkan dengan uraian air mata yang keluar dari Marja. Air mata tersebut keluar karena tidak adanya pembelaan dari pihak manapun dan tidak bisanya Marja mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Berikut kutipannya.

“Marja mulai terisak di bahu Parang Jati. Perasaan muramnya hari itu memuncak. Hal yang pling menakutkan dari peristiwa itu adalah hilangnya rasa percaya.” (hlm.92)

Dari kutipan tersebut terlihat bahwa Marja terisak saat masalah yang dihadapinya tidak mendapat dukungan dari orang di sekitarnya. Awalnya Marja ingin tidak manja dan mau mandiri dengan membeli pembalut sendiri di kota. Namun, konstruksi masyarakat yang menganggap bahwa laki-laki harus melindungi perempuan yang sering diidentikan sebagai makhluk lemah membuat Marja tidak boleh berpergian sendirian. Hal tersebut disebabkan bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi dan takut ada sesuatu yang mengharuskan adanya perlindungan dari makhluk yang dianggap kuat, yaitu laki-laki. Pada akhirnya, perempuan yang ingin berkembang dengan tidak mengindahkan konstruksi atau peran jenis kelaminnya di masyarakat akan mendapat tekanan dari lawan jenisnya dan masyarakatnya. Hal tersebut dapat terlihat dari kutipan berikut ini.

“Parang Jati tampak sedikit marah. Mata bidadarinya digantikan oleh mata seorang ayah yang menemukan kembali anak nakalnya. Ia berkacak pinggang di dasar tambang penolong, membiarkan Marja yang menghampiri. Ia tak mau datang menyambut.” (hlm.88)

Kekhawatiran Parang Jati akan keselamatan Marja membuat Parang Jati harus tampak sedikit marah terhadap Marja. Selain adanya beban yang ditanggung Parang Jati kepada sahabatnya yang menitipkan kekasihnya tersebut, Parang Jati juga merasa bahwa perannya sebagai makhluk kuat yang memiliki aspek maskulinitas tidak terpenuhi. Sebagai seorang laki-laki, peran menjaga makhluk lemah merupakan hal penting dan jika tidak terpenuhi akan memunculkan anggapan bahwa laki-laki tersebut tidak dipercaya. Oleh karena itu, Parang Jati berlaku sedikit marah terhadap Marja. Kondisi masyarakat memengaruhi sikap laki-laki dan perempuan.

Tidak hanya itu, dari kutipan di atas juga dapat terlihat bahwa perempuan yang ingin berusaha mendiri dengan tidak manja dan tidak menggantungkan diri dengan orang lain tidak akan bisa terbebas dari kesalahan selama peran laki-laki dan perempuan tersebut tidak berubah. Konstruksi peran perempuan yang harus mendapat perlindungan dan pengawalan dari laki-laki mau tidak mau mengharuskan perempuan meminta perlindungan. Padahal, jika perempuan tersebut bisa menjaga diri dengan baik dan bisa mengerjakan segala sesuatunya tanpa menggantungkan orang lain akan memudahkan beban yang ditanggung oleh lawan jenisnya. Laki-laki tidak merasa keberatan dengan beban yang harus ditanggungnya itu. Bahkan, beban tersebut dirasa sebagai suatu kehormatan karena aspek maskulinitas dari dalam diri laki-laki tersebut diakui masyarakat. Berikut ini kutipan yang menjelaskan bahwa Marja mempunyai niat untuk mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain yang malah menyalahkan dirinya memilih keputusan tersebut.

“Dalam kemurungan yang aneh, Marja memutuskan untuk tidak menganggu Parang Jati. Ia tidak ingin manja kali ini. Ia tidak ingin bergantung dengan orang lain. Barangkali itu adalah resistensi dari perasaannya yang dalam. Ia tak tahu. Ia tak peduli.” (hlm.83)

Niatan baik yang tumbuh dari dalam diri Marja tidak serta merta membuat masyarakat menerima perubahan tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Bem, masyarakat dengan tipe ini tidak mempunyai nilai lebih dari seorang perempuan yang menjunjung aspek maskulinitas. Kemandirian dan tidak bergantung terhadap orang lain dalam novel ini juga merujuk kepada aspek maskulinitas. Hal tersebut menyebabkan kedua sikap tersebut yang diambil Marja malah memperlihatkan kepada masyarakat bahwa dirinya tidak mendapat nilai lebih dan malah kebalikannya. Jika kontruksi masyarakat akan peran laki-laki dan perempuan sudah melekat, maka akan sulit bagi laki-laki maupun perempuan untuk mengubah pemikiran dan anggapan tersebut. Jika tetap dilakukan, laki-laki atau perempuan tersebut akan disalahkan walaupun belum tentu salah dan terjadi hal yang tidak diinginkan.

BAB 3

PENUTUP

 

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa novel Manjali dan Cakrabirawa tidak memiliki perubahan konstruksi masyarakat terkait peran laki-laki dan perempuan. Hal tersebut terlihat dari masih kental dan melekat erat dalam tokoh yang terdapat dalam novel ini dan beberapa kejadian yang ada. Meskipun novel ini diterbitkan pada tahun 2010, tetapi pengarang masih menggunakan pola konstruksi lama dalam novel yang ditulisnya. Pola kontruksi masyarakat terkait laki-laki perempuan ini pun sesuai dengan tipe pertama dalam Sex Role Inventory yang dikemukakan oleh Bem. Dalam novel ini, seorang laki-laki akan mendapat penilaian tertinggi dengan menjunjung aspek maskulinitas dari dalam diri yang dimilikinya. Pada tipe ini seorang laki-laki yang menjunjung aspek feminitas akan dinilai rendah oleh masyarakat. Hal tersebut disebabkan adanya konstruksi masyarakat yang menyebabkan adanya pemaksaan jika pada kenyataan tidak sesuai.

Aspek maskulinitas tersebut ditunjukkan dengan kegiatan yang dilakukan laki-laki dalam novel, seperti memanjat tebing dan melakukan penelitian arkeologi dari penggalian. Tentu saja, aspek maskulinitas tersebut melekat dengan tokoh Parang Jati dan Yuda. Selain itu, aspek maskulinitas juga terlihat dari bentuk tubuh yang memiliki otot. Laki-laki yang memiliki bagian tubuh yang bagus dan memiliki otot biasanya disebut dengan laki-laki macho. Anggapan yang sama juga dirasakan oleh perempuan. Dalam novel ini, perempuan yang memiliki aspek feminitas akan mendapat penilaian tertinggi oleh suatu masyarakat. Konstruksi masyarakat menyebutkan bahwa aspek feminitas yang terdapat dalam diri perempuan menambah nilai lebih dari perempuan tersebut. Namun, jika seorang perempuan tersebut menjunjung aspek maskulinitas, maka perempuan tersebut dianggap atau mempunyai nilai yang rendah di masyarakat.

Aspek feminitas yang ditunjukkan Marja dalam novel ini adalah sikap manja, tidak mandiri, lemah, dan bergantung dengan orang lain. Namun, hal sebaliknya juga pernah dilakukan oleh Marja yang pada akhirnya membuat dirinya bersalah karena telah melakukan hal tersebut. Peran laki-laki dan perempuan dalam tipe ini susah untuk diubah karena sudah melekatnya pemikiran tersebut di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Bem, S. L. (1978). Bem Sex-Role Inventory: Professional Manual. Palo Alto, CA: Consulting Psychologists Press, Inc.

Donalson, E. & Gullahorn, J. E. (1977). Women: A Psychological Perspective. New York: John Wiley & Sons

Hurlock, E. B. (1984). Child development. Tokyo: McGraw Hill International Book Co.

Lerner, R. M., & Hultsch, D. F. (1983). Human Development: A life Span Perspective. Toronto: McGraw Hill Book Co.

Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Utami, Ayu. 2010. Manjali dan Cakrabirawa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia .

Wahyudi, Ibnu. et. al.  2003. Membaca Sastra. Depok: Indonesiatera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2014 by in Makalah.
%d bloggers like this: