Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Mengayuh Rezeki di Tengah Raksasa

Image

Cuaca yang terik menyengat dengan jalanan yang dipenuhi kendaraan bermuatan berat telah menjadi bagian hidup sehari-hari Pak Yono, tukang ojek sepeda di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Himpitan ekonomi yang mendesak mendorong pria berusia 60 tahun ini menawarkan jasa antar-jemput menggunakan sepeda tua yang terkenal zaman kolonial. Meskipun harus mengayuh sepeda diantara kendaraan pengangkut barang yang besar, Pak Yono tetap menjalankan perkerjaan dengan senang hati.

Dulu dengan bermodal nekat di masa muda, Pak Yono mencoba peruntungan nasib di Jakarta. Awalnya, ia melakoni perkerjaan sebagai tukang becak. Tidak adanya keahlian khusus dan pendidikan yang cukup membuat perantau dari Pemalang, Jawa Tengah ini tidak mempunyai pilihan lain selain menjadi tukang becak. Setidaknya, rezeki di Jakarta lebih besar dibandingkan dengan di kampung. “Di Jakarta masih bisa dapet uang mau jadi apa aja. Kalau di kampung susah dapet uangnya,” kata Pak Yono.

Setelah empat tahun menetap di Jakarta, Pak Yono memutuskan kembali lagi ke kampung. Uang yang didapat selama mengadu nasib di Jakarta dibuat untuk modal dagang sembako di rumahnya. Sementara itu, ia juga mencari tambahan dana dengan bekerja di PT. Tekmako, sebuah perusahaan tekstil di Semarang. Di pabrik tersebut, Pak Yono bekerja sebagai pembungkus kain bagian departemen gorden. Pekerjaan itu dilakukan selama 20 tahun.

Dari pekerjaan sebagai buruh pabrik tekstil, Pak Yono bisa membeli sepetak sawah dan menghidupi istri serta ketiga anaknya. Namun, Tuhan mempunyai kehendak lain. Perusahaan tekstil PT. Tekmako harus gulung tikar menghadapi krisis moneter yang melanda negara ini. Hal tersebut berimbas kepada ketidakstabilan kantong pendapatan keluarga Pak Yono.

Tidak kuat menanggung beban keluarga dan sulit mencari pekerjaan di kampung membuat Pak Yono harus kembali merantau ke Jakarta. Ia harus rela berpisah dengan istri dan anaknya. Sawah peninggalan masa keemasan keluarga Pak Yono pun harus diurus oleh sang istri. Meskipun sawahnya tidak luas, hasil yang didapat dari bercocok tanam dapat membuat dapur rumah tetap mengebul. Sementara itu, uang simpanan yang tersisa sewaktu bekerja menjadi buruh pabrik dibelikan Pak Yono sepeda ontel sebagai modal bekerja di ibukota.

“Saya kembali ke Jakarta pas jaman Gus Dur jadi presiden. Udah melamar pekerjaan di pabrik-pabrik gak juga diterima. Sampai melamar jadi kuli bangunan juga saya ditolak dan tidak ada yang mau menerima. Daripada gak dapet uang mending saya ngojek aja,”ujar pria yang memakai topi dengan nada pasrah.

Di Jakarta, Pak Yono mengontrak satu kamar bersama lima orang temannya. Sama seperti Pak Yono, teman-temannya juga adalah perantau, tetapi dari daerah yang berbeda. Profesi yang ditekuni teman-temannya pun hampir serupa, seperti tukang becak, kuli bangunan, supir taksi, tukang kebun, dan satpam. Biaya yang harus dikeluarkan dalam satu bulan untuk mengontrak satu kamar adalah Rp300 ribu. Untungnya, biaya tersebut dibebankan kepada enam orang sehingga satu orang tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu besar. Dapat dibayangkan betapa sempitnya satu kamar yang tidak terlalu luas harus diisi oleh enam orang karena keterbatasan biaya.

Sehari-hari, Pak Yono mulai tiba di pangkalan ojek di depan Polres Jakarta Utara sekitar jam setengah sebelas hingga jam empat sore. Setelah itu, ia beristirahat pulang ke kontrakan dan kembali ke pangkalan sekitar jam delapan hingga sebelas malam. “Paling banyak penumpang justru pas malem soalnya angkot udah mulai jarang. Apalagi sekarang jalanan macet jadi banyak pegawai kantoran yang baru sampai malem,” ucap Pak Yono.

Dari pekerjaan sebagai tukang ojek sepeda, biasanya Pak Yono mendapatkan penghasilan bersih sudah termasuk makan sekitar Rp30 ribu. Pendapatan bersih terbanyak selama ini yang pernah diperoleh sekitar Rp80 ribu walaupun hal tersebut jarang terjadi. Kesederhanaan hidup yang dijalankan Pak Yono dengan pendapatan yang sedikit mampu menyekolahkan anaknya hingga SMK.

Kini, putra sulungnya sudah bekerja sebagai buruh pabrik perusahaan Mayora di daerah Cibitung. Putra keduanya tidak mengikuti jejak ayah dan kakaknya merantau, tetapi bekerja sebagai pegawai restoran di kampung, sedangkan anak terakhirnya masih kelas 1 SMK.

Susahnya mencari rezeki untuk bertahan hidup dirasakan benar oleh Pak Yono. Daerah Tanjung Priok yang terkenal dengan pelabuhan menyebabkan kendaraan besar dan bermuatan berat banyak berkeliaran di jalan. Sepeda ontel yang kecil pun harus berhadapan dengan truk dan bus yang besar untuk mengantarkan penumpang ke tempat tujuan. Rasa takut dan khawatir sudah dihilangkan jauh-jauh dari pikiran Pak Yono. Jika rasa tersebut tidak ditinggalkan, maka hal yang dipetaruhkan adalah nasib dirinya dan keluarganya di kampung.

Terlebih lagi jika musim hujan datang. Pak Yono yang hanya mempunyai satu jas hujan tipis untuk penumpang harus merelakan dirinya berbasah-basahan menerobos hujan. Perjuangan tidak hanya itu, Pak Yono juga harus lebih berhati-hati jika malam tiba. Biasanya, kecepatan kendaraan besar dan berat tersebut lumayan kencang di malam hari. Hal tersebut disebabkan keadaan jalan yang sepi sehingga banyak pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi.

“Saya sih yang penting dapet penumpang. Mau jauh mau dekat akan saya antar asal ongkosnya sesuai,” tutur Pak Yono. Niat yang tulus disertai kemauan dan usaha memperlancar rezeki yang didapatkannya. Bahkan, Pak Yono pernah mengantarkan penumpang ke daerah Marunda. Daerah yang sangat jauh walaupun di tempuh memakai motor sekalipun. Belum lagi, Pak Yono harus berjuang menahan bau asap kendaraan dan menerjang kerikil kecil yang berterbangan di jalan.

Perjuangan yang berat tersebut harus puas di bayarkan dengan kisaran harga Rp5 ribu untuk jarak dekat dan Rp20 ribu untuk jarak jauh tergantung daerahnya. Harga tersebut terkadang masih suka ditawar oleh penumpangnya. Namun, Pak Yono tidak mengeluh atas hal tersebut.

Banyak hal yang dapat diambil dari hidup Pak Yono. Ketekunan dan kerja keras Pak Yono perlu diteladani. Meskipun tidak mempunyai keterampilan, Pak Yono tidak memilih jenis pekerjaan. Semua itu dilakukan demi anak dan istri di kampung. Pekerjaan apapun akan dilakukan asal halal sudah menjadi prinsip hidup Pak Yono.

Pria bermata redup dengan pakaian sedikit lusuh itu akan terus berjuang demi keluarga yang saat ini tidak bersamanya. Alam yang semakin tidak bersahabat juga tidak akan menjadi penghalang Pak Yono mencari rezeki. Selama tubuh kurus dengan kulit hitam tersebut masih kuat bekerja, maka sepeda tua itu akan terus dikayuh mengantarkan penumpang ke tempat tujuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2014 by in Artikel.
%d bloggers like this: