Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Sterilisasi Jalur Transjakarta Masih Belum Steril

Banyak Pelanggar Belum Dapat Denda Maksimal

Jakarta, Senin (25/11) Polda Metro Jaya mulai memberlakukan denda maksimal sebesar Rp500 ribu bagi kendaraan roda dua dan Rp1 juta bagi kendaraan roda empat yang menerobos jalur Transjakarta. Meskipun demikian, masih banyak pengendara roda dua maupun roda empat yang masuk jalur Transjakarta.

Kondisi jalur bus Transjakarta yang seringkali kosong, sedangkan jalan umum macet membuat banyak pengemudi menerobos jalur bus Transjakarta. Polisi yang berjaga pun sering tidak terlihat sehingga dengan enaknya pengemudi masuk jalur bus Transjakarta untuk mempersingkat waktu perjalanan.

Di beberapa jalan, seperti jalan Semanggi bus Transjakarta juga ikut mengalami kemacetan di jalur khususnya sendiri. Bus Transjakarta tersebut harus rela mengantre dengan kendaraan pribadi. Apalagi banyaknya motor mempersempit ruang gerak bus Transjakarta.

Bahkan, tidak jarang bus Transjakarta turun ke jalan umum untuk menghindari kemacetan. Kondisi ini terjadi karena beberapa jalur bus Transjakarta sama dengan jalur masuk tol dalam kota. Kendaraan yang ingin memasuki jalan tol pun terpaksa memadati jalur bus Transjakarta.

Dengan adanya kondisi yang demikian, sudah tidak kentara lagi mana pelanggar dan bukan pelanggar. Pengendara motor juga cerdik memanfaatkan situasi tersebut dengan masuk jalur bus Transjakarta. Padahal, hanya mobil yang akan masuk jalan tol.

Terlebih lagi, polisi yang berjaga hanya mengatur lalu lintas di persimpangan jalan. Tidak ada tindakan tegas dan penilangan membuat pengendara motor dengan leluasa masuk jalur Transjakarta.

Walaupun begitu, dengan adanya sterilisasi jalur bus Transjakarta dan denda maksimal jumlah pelanggaran jalur bus Transjakarta lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

“Jumlah pelanggaran di jalur transjakarta berkurang, sedangkan perjalanan transjakarta menjadi lebih lancar,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto.

Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, sebagian pelanggaran dilakukan pengendara sepeda motor yang mencapai 6.486, mobil pribadi 1.176, angkutan umum 732, dan kendaraan beban 140.

Data tersebut masih belum ditambah dengan angka penerobos yang masih lolos dari pengamatan polisi. Bagi pelanggar yang tertangkap harus mengikuti persidangan di pengadilan tempat kejadian. Namun, jumlah denda yang diberikan kepada pelanggar masih belum maksimal.

Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, misal, denda masih berlaku di bawah Rp100-200 ribu untuk mobil dan motor. Alasannya, untuk memberi efek jera tidak harus memberikan denda maksimal bagi para pelanggar. “Kami telah lipat gandakan dari biasanya, tak harus maksimal,” ujar Humas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Achmad Dimyati.

Sebelumnya sempat dikabarkan, denda penyerobot jalus bus Transjakarta sebesar Rp500 ribu bagi pelanggar motor dan denda Rp1 juta bagi pelanggar mobil. Namun, kenyataannya, di persidangan hanya Rp 100-200 ribu. Kepala Subdirektorat Penegakan Hukum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Hindarsono mengatakan saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan sejumlah instansi lain terkait nominal denda.

Masih belum ada ketegasan kebijakan dari aparat penegak hukum membuat aturan akan hanya jadi aturan yang tetap akan dilanggar oleh pengguna jalan. Jika aturan denda maksimal masih belum diterapkan, masyarakat tidak akan takut dan patuh.

Menurut Jokowi, warga luar negeri bisa disiplin setelah pemerintah menegakkan aturan dan sanksi yang berat. “Di Singapura semua orang takut melanggar karena dendanya besar,” kata gubernur DKI Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2014 by in Artikel.
%d bloggers like this: