Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Laporan Bacaan Dari Sastra Peranakan Ke Sastra Indonesia

Kedatangan etnis Tionghoa ke Indonesia tidak hanya mempengaruhi kehidupan masyarakat etnis Tionghoa itu sendiri, tetapi juga berbagai aspek lainnya, seperti ekonomi, budaya, sastra, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, keterkaitan etnis Tionghoa terhadap aspek sastra menarik untuk ditinjau lebih jauh. Berawal dari imigrasi massal yang dilakukan etnis Tionghoa ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia membuat etnis terbesar di dunia ini harus meleburkan diri dengan masyarakat setempat. Peleburan dengan masyarakat setempat tidak hanya sebatas dalam hal bahasa, tetapi juga pasangan hidup. Hal tersebut membuat etnis Tionghoa di Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu Tionghoa Totok dan peranakan Tionghoa. Tionghoa Totok merupakan masyarakat etnis Tionghoa yang masih asli keturunan Tionghoa atau tidak ada perkawinan dengan etnis lain. Sebaliknya, peranakan Tionghoa merupakan keturunan masyarakat Tionghoa yang telah melakukan perkawinan dengan masyarakat pribumi di Indonesia.

Perbedaan Tionghoa Totok dan peranakan Tionghoa juga dapat terlihat dalam penggunaan bahasa. Tionghoa Totok masih menggunakan bahasa Mandarin untuk berkomunikasi, sedangkan peranakan Tionghoa tidak bisa berbahasa Mandarin dan menggunakan bahasa Melayu dalam kesehariannya. Keadaan peranakan Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Mandarin tersebut memunculkan kekhawatiran akan hilangnya identitas asli keturunan ini. Oleh karena itu, mulai bermunculan karya sastra Tiongkok seiring dengan berkembangnya pula percetakan dan surat kabar Melayu. Karya sastra dari negeri Tiongkok, seperti novel, cerita silat, maupun syair diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Kategori yang paling dominan dalam cerita Tiongkok adalah roman sejarah. Selain menerjemahkan cerita Tiongkok ke dalam bahasa Melayu, ada pula cerita yang disadur dan dikarang langsung oleh orang peranakan Tionghoa. Karangan orang peranakan Tionghoa inilah yang kemudian disebut sastra Melayu Tionghoa.

Dalam perkembangan sastra Melayu Tionghoa dibagi menjadi dua periode, yaitu sebelum Perang Dunia II dan pasca-Perang Dunia II. Sebelum Perang Dunia II penulis peranakan banyak yang berasal dari profesi wartawan. Penulis peranakan yang terkenal, seperti Kwee Tek Hoay dengan Drama di Boven Digoel , Lie Kim Hok dengan Bintang Tujuh, Thio Tjin Boen dengan Tjerita Njai Soemirah, dan masih banyak lagi. Sebagian besar tema yang diangkat oleh penulis peranakan Tionghoa pada periode ini adalah pandangan orang peranakan Tionghoa dalam menyikapi perkawinan campuran, perantauan, dan ideologi politik Tionghoa di Indonesia. Masalah perkawinan campuran etnis Tionghoa dengan pribumi awalnya memunculkan ketidaksetujuan yang ditandai oleh roman Tjerita Oey Se, tetapi pendapat tersebut berubah dengan adanya roman Tjerita Njai Soemirah. Ideologi politik Tionghoa pun terlihat dari tempat karya sastra tersebut dimuat. Orientasi pandangan politik Tionghoa ada yang ke Tiongkok, Hindia Belanda, dan Indonesia. Orang peranakan Tionghoa sangat produktif dalam menulis dan hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya jumlah karya sastra yang beredar. Biasanya, orang peranakan Tionghoa menulis tentang masyarakat peranakan, tetapi ada juga orang peranakan Tionghoa yang menulis latar belakang masyarakat pribumi, seperti Boeat Apa Ada Doenia.

Periode pasca-Perang Dunia II ditandai dengan kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini, orang peranakan Tionghoa lebih banyak menghasilkan karya sastra berupa cerita pendek atau cerpen dibandingkan novel. Hal tersebut disebabkan banyaknya majalah dan surat kabar yang bermunculan. Meskipun demikian, ada juga novel yang dihasilkan oleh orang peranakan Tionghoa. Bahkan, ada novel yang ditulis dari kalangan kedokteran, yaitu Mira Widjaja dengan Merpati Tak Pernah Ingkar Janji dan Marga Tjoa dengan Karmila. Nuansa cerita pada periode ini adalah detektif, spionase, satire, dan nasionalisme Indonesia. Meleburnya orang peranakan Tionghoa dengan pribumi telah membuat karya sastra pada periode ini tidak kentara jika ditulis oleh orang peranakan Tionghoa. Latar tempat tidak berorientasi di negeri Tiongkok lagi, tetapi perkotaan di Indonesia. Akibatnya, pada tahun 1965 terjadi perdebatan mengenai apakah sastra peranakan Tionghoa masih hidup karena sastra Melayu Tionghoa menjadi sastra Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Suryadinata, Leo. 1996. Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 16, 2014 by in Sastra.
%d bloggers like this: