Sekelumit Pikiran

Tak Menentu

Laporan Bacaan Latar Sosiologis Sastra Melayu Tionghoa

Dalam buku Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, Jacob Sumardjo menyebutkan bahwa peranakan Tionghoa di Indonesia telah menyumbangkan begitu banyak karya sastra dalam bahasa Melayu rendah. Di usia jenis kesusastraan Melayu Tionghoa yang kurang lebih satu abad tersebut, Claudine Salmon mencatat bahwa penulis peranakan telah menghasilkan 3.005 karya. Karya sastra yang paling banyak dihasilkan adalah novel dan cerita pendek yang berjumlah 1.398 karya. Padahal, keturunan Tionghoa di Indonesia hanya 175.000 orang, sedangkan penduduk Indonesia berjumlah 16.233.000 orang. Hal tersebut sangat disayangkan karena penulis pribumi yang memiliki jumlah paling banyak tidak mampu menghasilkan karya yang banyak seperti karya peranakan Tionghoa.

Secara historis, penyebaran keturunan Tionghoa di Indonesia didominasi oleh imigran asal Hokkien yang menempati Jawa Barat dan Jawa Timur. Biasanya, keturunan Tionghoa asal Hokkien berasal dari golongan menengah. Hal tersebut berbeda dengan imigran asal Konghu yang berasal dari golongan menengah ke bawah. Karya sastra peranakan Tionghoa sebagian besar berasal dari Jawa, maka ada dugaan bahwa kebanyakan penulis kesusastraan ini adalah keturunan suku Hokkien. Latar belakang keturunan Hokkien yang berasal dari golongan menengah ini membuat keturunan ini memiliki kepedulian terhadap kebudayaan dan pendidikan. Oleh karena itu, untuk melestarikan pendidikan kebudayaan nenek moyang, keturunan ini membuat karya sastra yang sekaligus dijadikan ajang bisnis yang menguntungkan.

Hal tersebut tidak terlepas dari ideologi sosial keturunan Tionghoa yang berdasarkan Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme. Tidak heran jika fungsi dasar kesusastraan keturunan ini adalah pendidikan, sukses dagang, keterpelajaran, dan sikap materialistis. Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat bahwa sebagian besar karya sastra peranakan Tionghoa bersifat didaktis, humoristis, dan informatif kejadian penting semasa itu. Sifat didaktis adalah sifat karya sastra sebagai teladan agar pembaca menghindari hidup yang tidak baik.

Namun, identitas peranakan Melayu Tionghoa semakin lama semakin kendur dan hingga akhirnya menghilang. Hal tersebut ditandai dengan adanya keputusan menteri 6 Juli 1966 yang mendorong keturunan Tionghoa masuk ke sekolah berbahasa Indonesia. Dengan adanya peraturan demikian, bahasa Melayu Tionghoa yang dituturkan peranakan Tionghoa ikut tergerus pula. Peranakan Tionghoa hanya bisa berbahasa Indonesia dan tidak bisa lagi menggunakan bahasa Melayu Tionghoa. Dalam hal ini, bahasa Melayu Tionghoa dan bahasa Indonesia berbeda sehingga kesusastraan Melayu Tionghoa pun ikut menghilang. Padahal, sejak adanya kesadaran identitas Tionghoa dengan didirikannya sekolah Tionghoa  tersebut banyak karya sastra yang lahir.

Hilangnya identitas Melayu Tionghoa juga ditandai dengan Kemerdekaan Indonesia. Penulis Tionghoa yang tidak pernah menyangkut persoalan politik ini harus berbenturan ideologi dengan golongan elite terpelajar Indonesia. Perbedaan dapat terlihat dari ideologi golongan elite terpelajar yang membutuhkan karya sarat informasi, problematik, dan menantang tanggapan intelektual pembacanya. Hal tersebut yang membuat karya sastra dari penulis Tionghoa cenderung digolongkan ke dalam sastra populer karena bersifat didaktis. Jarang sekali karya penulis Tionghoa yang masuk ke dalam golongan sastra Indonesia modern.

DAFTAR PUSTAKA

Jacob Sumardja. Latar Sosiologis Sastra Melayu Tionghoa. Dalam Suryadinata, Leo. 1996. Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 6, 2014 by in Sastra.
%d bloggers like this: